Kamis, 01 Maret 2012

Islam dan Laboratorium Pendidikan Anak

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel yang menceritakan tentang sejarah hidup Ibnu Khaldun. Dia adalah salah satu ilmuwan muslim ternama yang pernah dilahirkan Islam. Sejarawan baik timur maupun barat mengakui sumbangsih beliau dalam dunia ilmu pengetahuan, terutama dalam kajian ilmu-ilmu sosial.

Saya membaca, ternyata Ibnu Khaldun tidak hanya ahli ilmu sosial, tetapi beliau juga ahli ilmu-ilmu agama, astronomi, matematika, dan filsafat. Beliau telah melahirkan karya-karya di bidang-bidang itu. Ini sungguh luar biasa. Bandingkan saja dengan ilmuwan-ilmuwan zaman sekarang, cenderung lebih spesialis.

Apakah menjadi seorang spesialis salah? Tentu tidak. Tapi menjadi salah jika kita hanya berkutat pada satu bidang saja. Yang benar adalah, kita menguasai satu bidang, tapi jangan mengabaikan bidang yang lain. Menurutku, ilmu baik sosial, eksak, maupun agama memiliki kaitan integral antara satu dengan yang lain. Parailmuwan saat ini mulai mendiskusikan masalah ini. Kajian ekonofisika (gabungan dari ilmu ekonomi dan fisika), ekonometri (gabungan dari ilmu ekonomi dan matematika), bioetika (gabungan dari ilmu biologi dan etika), biopsikologi (gabungan dari ilmu biologi dan psikologi), dan sebagainya, mulai banyak dibicarakan dan didiskusikan.

Jika demikian, tentu para ilmuwan dan ulama kita telah mendahului pembahasan ini. Pemikiran mereka lebih jernih dan hasil kajian mereka lebih berbobot dan mendalam. Tidak heran jika karya-karya mereka telah menjadi rujukan selama berabad-abad lamanya. Menggabungkan kajian sosial, eksak, dan agama, adalah sebuah keniscayaan. Dan, tampaknya, pemikiran kita akan jauh lebih arif dan bijaksana jika kita mulai mempelajari banyak subjek ilmu pengetahuan. Saya pernah membaca bahwa Imam Abu Hanifah berkata, jika memperbaiki sandal adalah ilmu pengetahuan, maka saya akan mempelajarinya.

Ah, saya begitu iri dengan para ulama-ulama besar di zaman dulu. Imam Syafi’i selain dikenal ahli fikih, beliau menguasai bahasa Arab Badui (fushah) dengan sangat baik karena beliau mempelajarinya langsung dari orang-orang Arab Badui. Tidak heran, karya sastra beliau berupa syair-syair begitu sangat indah. Penguasaan bahasa Arab murni membuatnya mampu memahami dalil-dalil keagamaan dengan sempurna. Keterampilan berbahasa pulalah yang membuat karya-karya beliau banyak dibaca orang dari dulu hingga sekarang.

Imam Abu Hanifah adalah mujtahid dan pendiri mazhab Hanafi. Kedudukan beliau setara dengan Imam Syafi?i dalam mengeluarkan fatwa-fatwa seputar fikih. Apa yang menjadi kelebihan Imam Abu Hanifah dibanding dengan Imam-Imam yang lain? Dunia bisnis yang beliau jalani. Sehingga, beliau dikenal sebagai seorang pengusaha sukses, turut mewarnai pemikiran beliau dibidang ilmu ekonomi Islam. Muridnya seperti Imam Abu Yusuf dikenal sebagai penulis Kitab al-Kharaj, yang membahas seputar ekonomi Islam.

Imam Ibnu Taimiyah adalah ulama terkemuka yang mendalami banyak ilmu pengetahuan di zamannya. Beliau telah mempelajari ilmu-ilmu agama, filsafat, logika, sastra, dan ilmu-ilmu sosial dengan sempurna, sehingga beliau mampu membedah ke semua cabang ilmu pengetahuan itu dengan sangat baik. Beliau memilih ilmu-ilmu agama sebagai sandaran beliau dalam menimbang dan menilai sesuatu, sebagaimana juga dilakukan Imam al-Ghazali. Kritikan keduanya terhadap filsafat dikenal sangat tepat sasaran, sehingga pada gilirannya para ulama punya amunisi untuk menghantam kesesatan filsafat. Bagi keduanya, kita boleh mempelajari ilmu A, B, C, D, tapi jangan sampai ilmu itu menyelewengkan akidah kita. Kita harus punya basic keagamaan yang kuat baru kemudian mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Oleh karena itulah, jika kita membaca buku-buku sejarah Islam klasik, akan kita temui bahwa pendidikan awal ilmuwan muslim adalah ilmu-ilmu agama, bukan langsung dijejali dengan ilmu-ilmu diluar itu. Pada akhirnya, mereka mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk dari ilmu-ilmu yang mereka pelajari.

Bagaimana dengan keadaan saat ini? Kita dan anak-anak kita yang notabene belum menguasai ilmu-ilmu keagamaan dengan baik, langsung disuruh untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang mungkin saja jika diteliti bertentangan dengan agama kita. Kita menelannya begitu saja seperti halnya botol kosong yang kemudian terisi air.

Di dalam Islam, kita sangat didorong untuk terus belajar sampai maut memisahkan jiwa dari raga kita. Dalil-dalil tentang keutamaan ilmu sangat banyak. Dalil-dalil ini ibarat cambuk yang membuat orang yang terkena menjadi lebih “gila” dalam menuntut ilmu. Ini artinya, agama memberikan dorongan yang sangat besar agar kita lebih rajin mengeksplorasi ilmu pengetahuan dengan lebih mendalam.

Bagiku, adalah sangat beruntung punya orangtua yang mempunyai kesadaran menyekolahkan anak-anaknya — di awal masa pendidikannya — pada sekolah-sekolah keagamaan. Misalnya murid yang mampu menguasai bahasa Arab, menguasai tajwid, tahsin, dan hafal al-Quran 30 juz, kemudian menguasai dasar-dasar keagamaan dengan baik. Ilmu-ilmu itu akan menjadi bekal baginya kelak, agar hidup mereka tidak melenceng dari garis yang telah ditentukan-Nya.

Alhamdulillah, saat ini saya sudah mempunyai dua orang anak. Anak adalah amanah Allah yang harus saya didik dan besarkan dengan nilai-nilai yang Allah ridhai. Anak saya ini ibarat “laboratorium kimia” yang diolah, diperbaiki, dididik sehingga menghasilkan generasi rabbani.

Mengapa Jodohku Tak Kunjung Datang?

Jodoh oh jodoh. Mengapa engkau tak kunjung datang menghampiri. Segenap usaha telah kulakukan. Ke sana kemari. Mengikuti banyak sekali biro jodoh. Tapi tetap tak ada yang berjodoh denganku. Mengapa orang sepertiku tak segera mendapatkannya. Padahal banyak yang lebih jelek dan lebih miskin dariku sudah mendapatkannya. Apa yang salah dalam diriku? Wahai jiwa berbicaralah padaku. Usia ini terus bertambah. Di sini aku gelisah, tak menentu arah. Bisikan padaku kata-katamu yang penuh kejujuran itu.

Sahabat, jodoh, kelahiran, rezeki, dan kematian merupakan wewenang Allah. Setiap hamba seharusnya berserah diri menerima takdir itu. Jika pun dia berusaha dan mendapatkan jodohnya, semua itu ada dalam wewenang Allah, bukan hasil usahanya sendiri. Imam Ibnu A’thaillah berkata, “Rehatkanlah dirimu dari mentadhbir (yakni bersusah payah dan merasa risau di dalam mengatur keperluan-keperluan hidup). Apabila sudah ada yang lain daripadamu yang mendirikannya bagimu (yakni ia sebenarnya telah diatur oleh Allah Ta’ala), janganlah engkau mendirikannya pula untuk dirimu sendiri.”

Mari kita introspeksi diri, apakah kita ikut-ikutan mengatur sesuatu yang bukan wewenang kita di dalamnya? Selama ini engkau sudah berusaha tapi kenyataannya belum berhasil kemudian tampaklah diwajahmu gurat kesedihan dan ketidaksabaran. Engkau merasa bahwa engkau mengandalkan usaha itu dan engkau yakin dengan usaha itu. Padahal usaha-usaha itu menjadi tidak berguna jika Allah tidak menghendakinya. Mengapa engkau yakin kepada usaha itu, tetapi tidak yakin kepada Allah? Mengapa engkau tidak yakin terhadap Allah terlebih dahulu sebelum engkau memulai usaha itu? Mengapa engkau melalaikan-Nya, walau sedikit saja, sementara engkau lebih berfokus diri pada usahamu? Bukankah hal ini artinya engkau telah berlaku syirik pada-Nya? Naudzubillahi minzalik.

Sebaik-baik hamba adalah yang segera menyadari kesalahannya, yang dengannya dia menapaki hidup baru, ibarat menanam bunga di bukit nan subur. Semerbak harum mewangi sekitarnya. Pesona akan terlihat dan terpancar. Alamlah yang akan menjadi saksinya. Mari bersabar, berserah diri kepada-Nya. Jangan mengatur apa yang bukan seharusnya engkau mengatur di dalamnya. Allah tahu mana yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Maka, mulailah dari sini sebelum memulai yang lain.

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (QS. ath-Thur: 48)

Salah Paham Tentang Dzikir

Ada anggapan sebagian orang, jika orang yang berdzikir tidak mampu menghentikan perbuatan maksiatnya, maka artinya orang itu belum berdzikir. Jika seorang koruptor berdzikir, artinya koruptor itu belum berdzikir.

Menurut saya, bila ada orang awam membaca pendapat seperti itu, yang tadinya mau berdzikir bisa-bisa menjadi tidak berdzikir. Hanya gara-gara takut belum bisa menghentikan perbuatan maksiatnya. Akhirnya dzikir menjadi momok yang menakutkan baginya, bukan sebuah keasyikan dan meraih manfaat yang besar di dalamnya. Kasus ini sama seperti orang yang berpendapat, jilbabkan dulu hati sebelum menjilbabkan diri. Karena hati belum berjilbab juga, akhirnya orang tersebut tidak berjilbab hingga matinya. Padahal perintah berjilbab itu lebih ditujukan pada menutup aurat, sedangkan masalah hati adalah urusan dia dengan Allah. Mudah-mudahan saja dengan berjilbab, hati dan perbuatannya akan lebih baik lagi daripada sebelumnya, sebagaimana fisiknya yang sudah mengikuti perintah Allah.

Ketika muslimah sudah berjilbab, tidak mungkin dia berada di tempat-tempat maksiat. Karena jilbab itu membuat malu dirinya hingga akhirnya dia menjauh dari tempat-tempat seperti itu atau dia melepaskan jilbabnya untuk memperturutkan nafsu syahwatnya. Jika begini, mana yang lebih mulia, mana yang lebih bisa menjaga diri, dan mana yang lebih bersih hatinya?

Baik, mari kita kembali ke topik semula, yaitu meluruskan kesalahpahaman tentang dzikir. Saya merasa terpanggil untuk meluruskannya, salah satunya dengan analogi jilbab di atas. Berikut saya sajikan tanya jawab imajiner tentang dzikir. Semoga bermanfaat.

Apakah manfaat dzikir?

Dzikir secara bahasa artinya mengingat. Sedangkan definisi syara’ menegaskan bahwa dzikir berarti mengingat Allah. Berdzikir bisa dengan lisan maupun hati. Lebih afdhol adalah dengan lisan dan hati. Tapi jika tidak bisa keduanya sekaligus, jangan ditinggalkan semuanya. Lakukan yang mudah kita lakukan di awal kita berdzikir. Karena pada hakikatnya dzikir itu memiliki manfaat yang sangat besar bagi orang-orang yang berdzikir. Cukup kiranya saya sebutkan beberapa di antaranya, misalnya dzikir itu dapat memberikan ketenteraman pada hati, memberikan pahala yang besar, menjauhi segala kemaksiatan dan kemunafikan, dan sebagainya.

Jika seorang penjahat berdzikir tapi kemudian dia berbuat maksiat, apakah dzikir itu tidak berguna baginya? Apakah lebih baik baginya untuk tidak berdzikir agar tidak mengotori makna dzikir itu sendiri?

Dzikir, sebagaimana yang saya sebutkan di atas memiliki banyak manfaat dan semua manfaat itu dapat kita temukan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadits. Tidak ada ketentuan bahwa penjahat tidak boleh berdzikir, yang boleh itu orang yang hatinya sudah bersih dan perbuatannya sudah baik. Perintah itu ditujukan kepada setiap muslim baik tua maupun muda, pria maupun wanita, hingga penjahat dan alim ulama. Maka, setiap ibadah yang sudah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, siapapun orangnya akan mendapat manfaat yang besar di dalamnya.

“Maka kalau sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.” (QS. Ash-Shaffat 143 – 144)

Artinya, kalau saja Nabi Yunus bukan orang yang banyak berdzikir, niscaya dia akan berada di dalam perut ikan paus hingga hari kiamat. Banyak berdzikir, mengeluarkan orang yang berdzikir dari kesulitan hidup yang dialaminya. Seorang ahli maksiat yang tidak berdzikir, niscaya hidupnya akan berada di perut maksiat hingga hari kiamat.

Syaikh Said Hawwa dalam bukunya, Jalan Ruhani, mengatakan teruslah berdzikir sekalipun pada saat awal dzikir, kita belum merasakan ketenteraman hati. Hingga pada akhirnya nanti, Allah akan memberikan ketenteraman pada hatimu yang sudah merupakan janji-Nya. “Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar’Ra’d: 28)

Syaikh Maulana Zakariyya Al-Kandhalawy dalam kitabnya yang berjudul Fadhail Amalmenyebutkan sebuah kisah, sebagai berikut: Mulla Ali Qari berkata, “Seorang murid telah mengeluh kepada gurunya dengan berkata, ‘Aku telah berdzikir, tetapi hatiku tetap lalai’. Gurunya menjawab, ‘Hendaklah kamu teruskan dzikir itu dan bersyukurlah kepada Allah yang telah melimpahkan taufik kepada anggota tubuhmu (lidahmu) untuk menyebut-Nya. Sedangkan untuk kehadiran hati, maka berdoalah kepada Allah Swt..”

Dikisahkan, pada suatu ketika ada orang bertanya kepada Buya HAMKA, “Pak Kyai, ada orang yang rajin shalat tapi kok masih berbuat maksiat, orang yang lain tidak rajin shalat tapi baik hati. Apakah itu artinya shalat itu tidak bermanfaat?” Buya HAMKA menjawab, “Anakku, kalau orang rajin shalat tapi masih maksiat, dia akan lebih banyak berbuat maksiat jika meninggalkan shalat. Sedangkan orang yang tidak rajin shalat tapi baik hati, dia akan jauh lebih baik jika rajin mengerjakan shalat.”

Di dalam kisah ini terlihat, dzikir dan shalat ditempatkan pada tempat yang semestinya, tidak ditempatkan pada suatu tempat yang menakutkan, sehingga orang tidak berani mengerjakan shalat hanya gara-gara masih berbuat maksiat. Pada akhirnya shalat tidak dikerjakan, maksiat jalan terus. Jika shalat tidak lagi dikerjakan maka tiang iman sudah runtuh. Selamat jalan ketaatan dan selamat datang kemaksiatan!

Jadi, apakah yang harus dikerjakan bagi ahli maksiat yang berdzikir?

Berdzikirlah sebanyak-banyaknya. Sesungguhnya dalam hidup ini sering kita lalui dengan proses dan proses itu membutuhkan waktu yang kadang tidak sebentar. Sekali dia berdzikir mungkin dia belum merasakan kelezatannya. Kemudian dia berdzikir lagi, mulailah terasa manfaatnya. Dia berdzikir lagi mulai ada maksiat yang dijauhkannya walaupun tidak semuanya. Terus menerus dia berdzikir hingga ia merasakan kenikmatan di dalamnya, menangis ketika mengingat-Nya, bertaubat di jalan-Nya, senang berbuat baik, dan menjauhi kemaksiatan.

Batu yang keras sekalipun akan berlubang bila di tetesi air sedikit demi sedikit dan terus-menerus. Hati yang keras sekalipun akan luluh dengan cahaya dzikir yang terus menyeruak masuk ke dalamnya. Jangan berhenti berdzikir walaupun engkau belum merasakan kenikmatan di dalamnya. Jangan berhenti berdzikir walaupun masih ada kemaksiatan yang engkau lakukan. Teruslah berdzikir hingga segala kemaksiatan terjauhkan.

Mereka Tidak Beradab

Orang yang paling berbahaya adalah orang yang tidak beradab. Karena tanpa adab, manusia hampir tak ada bedanya dengan binatang. Dengan sifat kebinatangan itu, ia melakukan pengrusakan, penghancuran, dan penghinaan.

Mungkin pada mulanya seseorang tidak beradab pada tataran yang luas, tetapi kemudian melebar hingga ke yang kecil. Misalnya saja, dia tidak lagi mempermasalahkan makan dengan menggunakan tangan kanan atau kiri. Baginya sama saja. Sebab keduanya adalah pemberian Tuhan. Ketika disodorkan hadits Nabi yang memerintahkan untuk menggunakan tangan kanan, dia menolak. Baginya, yang penting substansinya.

Demikianlah. Padahal hadits tersebut bersifat universal. Sungguh tidak beradab jika seseorang makan dengan tangan kiri sementara dengan tangan itu juga ia membersihkan kotoran di kemaluan dan duburnya. Atau seseorang yang membersihkan piring dengan celana dalam, sekalipun celana dalam itu baru dibelinya. Karena kita sebelumnya sudah mengenal adab dan sopan santun, sehingga kita mengatakan tindakan itu sebagai tindakan tidak beradab.

Ada pula orang yang berani mengatakan dirinya seorang Nabi, setan, dan malaikat. Menurut mereka pada hakikatnya mereka mendakwahkan sebaliknya. Benarkah? Jika mereka ingin berdakwah, contohlah dakwahnya orang-orang saleh, kecuali mereka hanya mencari sensasi dan popularitas semata.

Tingkatan adab (ta’dib) lebih tinggi daripada ilmu (ta’lim), karena orang yang beradab sudah pasti orang yang berilmu. Tetapi orang yang berilmu belum tentu orang yang beradab. Buktinya? Apa kurang pintarnya orang Yahudi, tetapi ternyata Allah mencap mereka sebagai “Keledai yang membawa kitab-kitab”. (QS. al-Jumu’ah: 5). Kecerdasan mereka tidak disyukuri dan digunakan di jalan yang Allah ridhai. Kerancuan dan kerusakan ilmu disebabkan karena mereka mengabaikan adab ini. Mereka bergelar Profesor Doktor tetapi kelakuannya menyimpang. Anehnya, mereka tetap dijadikan rujukan ilmu pengetahuan.

Sementara di dalam Islam, kita mengenal integralisme. Para ulama dan Ilmuwan muslim adalah orang-orang yang menguasai agama sekaligus ilmu-ilmu keduniaan. Mereka adalah orang yang taat menjalankan perintah agama sekaligus orang yang sangat pakar di masing-masing bidangnya. Di dalam ilmu hadits dikenal istilah jarh wat ta’dil. Yaitu ilmu yang meneliti keadaan perawi hadits. Jika seorang perawi dikenal sering berdusta, berbuat maksiat, dan perbuatan buruk lainnya, otomatis perawi tersebut tidak diterima.

Saat ini bermunculan orang-orang yang berpandangan liberal. Mereka menyerap ilmu-ilmu Barat begitu saja tanpa adanya proses penyaringan dan penolakan. Memang, tidak ada yang salah jika kita mempelajari pemikiran orang-orang Barat, tapi bukan berarti kita harus ikut-ikutan kemana saja mereka melangkah. Bahkan sampai ke jurang pun, oke-oke saja. Orang yang bertaklid, kata Syaikh Yusuf al-Qaradhawi, tak ada bedanya dengan binatang yang dicucuk hidungnya. Kemana pun sang majikan menyeretnya, binatang itu pasti mengikutinya.

Karena falsafah pemikiran Barat dan Islam jauh berbeda, orang liberal memandang Islam dari kacamata pemikiran Barat. Karena dunia Barat saat ini sedang berada “di atas”, lantas mereka memandang Islam saat ini rendah, hina, sedang sakit. Kemudian mereka berpaling pada Barat dan meninggalkan Islam yang “sakit” itu. Padahal yang sakit itu umatnya, bukan Islam; yang harus diperbaiki itu umat, bukan Islam. Islam dari dulu hingga kiamat tetap mulia dan agama yang paling benar.

***

Sudah menjadi rahasia umum jika landasan pemikiran Barat adalah materialisme. Sekalipun saat ini banyak di antara pemikir Barat menyuarakan spritualisme. Tetapi spiritualisme yang mereka maksud adalah bukan agama. Mereka berpendapat bahwa seorang Albert Camus yang ateis itu adalah seorang spritualis. Spritualisme mereka adalah nama lain dari “bagian terdalam pada diri manusia.” Memang, agama, menurut mereka, memberikan saham bagi keberlangsungan spiritualitas manusia, tetapi tidak semuanya. Mereka membuang beberapa bagian dari ajaran agama yang menurut mereka bertentangan dengan “spiritualisme”. Mereka hanya mengambil mana yang baik menurut pemikiran mereka, tidak hanya dari satu agama, tetapi dari seluruh agama kemudian disatukannya. Inilah yang mereka maksud dengan spiritualisme.

Sedangkan menurut Islam, spiritualisme tidak bisa dipisahkan dari agama. Apa yang ada di dalam agama (baca: Islam) adalah sepenuhnya baik untuk manusia. Jika manusia belum menemukan kebaikan di dalamnya, karena akal manusia terbatas kemampuannya. Jadi, intinya, pemikir-pemikir Barat hampir tidak pernah bergeser dari pemikiran pendahulu-pendahulunya. Mereka tetap condong pada materialisme sekalipun mereka kerap berbicara spiritualisme.

Jika sudah menyentuh definisi materialisme, ia akan membawa kita pada pemahaman bahwa dunia ini secara absolut di atur oleh undang-undang materi. Dengan demikian, ia menafikan adanya Allah (wujudullah). Sehingga para ilmuwannya sering mengatakan, “Sains tidak bisa membuktikan Tuhan itu ada atau tidak ada.” Padahal bukti-bukti keberadaan Allah melalui sains sudah sangat banyak. Tapi, kenyataan itu selalu mereka pandang skeptis. Jadilah mereka memasuki sebuah lingkaran ketidakpastian selama-lamanya. Dan dengan sendirinya mereka memproklamirkan pandangan mereka: Kebenaran itu relatif, termasuk kebenaran agama.

Mereka bukanlah pengusung kebebasan sejati. Yang mereka usung adalah gaya kebebasan kelompok mereka sendiri. Jika ada suatu kelompok yang tertindas dan kelompok tersebut tidak sesuai dengan ideologi pemikiran mereka, mereka tidak akan membelanya. Mereka membela Amerika yang dizalimi oleh para teroris dan ekstrimis, tetapi mereka enggan membela saudara-saudara mereka di Palestina, Irak, Afghanistan yang notabene jauh lebih di zalimi. Bahkan mereka menuduh para mujahidin sebagai teroris dan berpikiran sempit. Mereka tidak ubahnya corong bagi para kapitalis kolonialis. Oleh karena itu, tidak bisa disalahkan jika ada orang yang menuduh mereka sebagai antek-antek kapitalis kolonialis.

***

Membaca berita di Sabili No. 9 Thn. XV tentang seorang dosen di sebuah Universitas Islam yang melecehkan hadits Nabi dan umat Islam, sepertinya bukan hal yang baru. Karena berita-berita pelecehan yang hampir sejenis, kerap dilakukan oleh orang-orang liberal. Dan hal ini sudah menjadi tipikal mereka, yaitu tidak beradab pada agamanya sendiri. Orang-orang liberal bisa saja mengatakan bahwa itu hak mereka mengatakan atau melakukan pelecehan itu. Hak mereka menginjak-nginjak kitab suci. Tentu saja terserah meraka mengatakannya seperti itu, tapi mereka harus menyadari bahwa kewajiban itu ada di atas hak. Dan kewajiban kita terhadap orang lain adalah menghormatinya. Artinya, kebebasan itu ada batasnya. Tidak seenaknya saja orang mengatakan ini itu kecuali orang itu tidak beradab alias binatang.

Ketekunan Memberikan Hasil Memuaskan

Allah Swt. berfirman bahwa Dia beserta orang-orang yang sabar. Sabar yaitu ketekunan yang paling esensial. Ketekunan menghasilkan kekuatan dan kekuatan memberikan ketekunan.

Kisah Sakaki, ilmuwan abad ke-7 H, sangatlah menarik. Pada usia tiga puluhan, ia mulai belajar. Gurunya tidak yakin akan kesuksesannya. Tapi ia gigih belajar dan menampakkan keteguhan yang luar biasa. Lalu untuk mengetahui kecerdasan dan daya tangkapnya, sang guru mengajarkan masalah sederhana kepadanya, yaitu masalah fikih Syafi’i yang mengatakan bahwa kulit anjing dianggap suci bila disamak.

Akhirnya Sakaki banyak mengulangi kata-kata itu. Dengan semangat dan gembira, ia siap menerima pelajaran. Keesokan hari, sang guru bertanya kepada Sakaki di tengah keramaian murid, “Wahai Sakaki, sebutkanlah masalah kemarin.”

Dengan cepatnya Sakaki menjawab, “Anjing berkata, ‘Kulit guru dianggap suci bila disamak’.” Seketika itu gemuruh tawa guru dan murid-murid meledak keras. Namun jiwa bersih sang murid baru, Sakaki, tidak membuatnya gentar dengan kegagalan tes kali ini. Ia menjalani pendidikan dengan sang guru selama sepuluh tahun. Lantaran faktor usianya yang tua, maka proses belajarnya tidak membuahkan hasil yang memuaskan.

Pada suatu hari, Sakaki pergi ke sahara untuk menghafal pelajarannya. Sesampai di sana, ia menyaksikan tetes air hujan jatuh ke atas sebuah bongkahan batu hingga terlihat berlubang. Pemandangan di depan matanya membuat ia berpikir lalu berkata, “Hati dan jiwaku tidak lebih keras daripada batu ini. Sekiranya cucuran ilmu seperti air hujan mengucur di dalam hatiku, tentu dampaknya yang baik bisa membekas di masa tuaku ini.”

Kemudian Sakaki kembali ke kota dan giat belajar dengan penuh semangat. Karena konsisten dan keteguhannya, ia menjadi seorang pujangga Arab. Ia telah menulis sebuah buku tentang pengetahuan bahasa Arab di mana pada beberapa masa buku itu diajarkan di universitas-universitas Islam.

Air yang mengalir dari pegunungan, di perjalanan ia melintas bebatuan dan hambatan. Di hadapan itu semua ia menunjukkan perlawanan yang tangguh. Air, dengan setetes demi setetes dan terus menerus, bisa mengikis kekuatan hambatan. Dengan menganganya lubang-lubang kecil bekas tetesan, membuka sebuah jalan bagi air.

Para pelajar memerlukan kesabaran, ketabahan, keteguhan, dan konsisten yang melebihi orang lain. Karena masa depan ditentukan oleh apa yang mereka lakukan saat ini. Dengan kata lain, tanpa kesabaran, seseorang tidak bisa maju berkembang.

Hidup Seorang Mukmin Seperti Orang yang Sedang Berpuasa

Ketika Rasulullah Saw. baru pulang dari peperangan, beliau bersabda kepada para sahabatnya, “Selamat datang untuk kaum yang baru melaksanakan jihad kecil, dan tetap menghadapi jihad besar!” Salah seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, apa jihad yang besar itu?” Beliau menjawab, “Jihad melawan nafsu.”

Mengapa Rasulullah Saw. mengatakan seperti itu? Apa hikmah di balik hadits tersebut? Perjuangan melawan hawa nafsu adalah perjuangan yang paling berat. Karena hawa nafsu kita bertolak belakang dengan ketaatan kita kepada Allah. Apabila hawa nafsu kita berhasil kita kendalikan dengan baik, maka ia akan sangat bermanfaat untuk kita. Ia akan menuruti apa mau kita, bukan kita menuruti apa maunya. Ia akan menjadi budak kita, bukan kita yang menjadi budaknya.

Semua ibadah dan amal-amal saleh yang kita lakukan, pada hakikatnya melawan hawa nafsu. Hawa nafsu kita mengatakan, waktu shalat isya masih panjang, kita dapat mengerjakannya nanti. Namun setelah waktu itu hampir habis, hawa nafsu kita mengatakan, tenang saja, masih ada hari esok untuk bertobat. Tidur saja lagi. Demikianlah seterusnya sampai kita tidak mengerjakan shalat sekalipun.

Contoh ibadah lainnya adalah puasa. Puasa mendidik hawa nafsu untuk mau tunduk pada keinginan kita. Padahal, hawa nafsu itu liar. Jika saja kita tidak sabar menjalankan puasa, bisa-bisa kita membatalkannya sebelum waktu berbuka tiba. Oleh karena itu, bukan sembarang orang yang bisa berpuasa. Allah menjuluki mereka sebagai orang yang beriman. Artinya, orang yang tidak berpuasa selama tidak ada udzur syar’i, maka dia bukanlah orang yang beriman. Siapa orang yang beriman itu? Yaitu mereka yang telah diuji Allah dengan berbagai macam ujian dan cobaan dan mereka mampu melewatinya dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Ketika kita berpuasa, kita tidak makan dan minum, tidak berhubungan badan suami-istri dari shubuh sampai maghrib. Di tengah hari yang panas, rasa haus kita memberi sinyal untuk segera minum, namun karena kita berpuasa, kita mengabaikannya. Kita mengharapkan ridho Allah Swt.. Hari-hari kita, waktu demi waktu, jam demi jam di uji oleh Allah untuk melihat sampai sejauh mana perjuangan kita. Semakin kuat kita, semakin banyak amal saleh yang kita lakukan, semakin ikhlas kita, akan semakin nikmat dan lezat buah yang dihasilkan oleh perjuangan kita. Buahnya dengan jelas akan dirasakan ketika kita berbuka. Sungguh sangat nikmat sekali seteguk air yang mengalir di kerongkongan kita. Hati ini mensyukuri nikmat yang terasa besar itu. Nikmat itu terasa lebih besar dibandingkan ketika kita minum di saat kita sedang tidak berpuasa.

Hidup kita di dunia seperti siklus orang yang sedang berpuasa. Saat di alam ruh kita bersahur, saat di dunia kita berpuasa, dan ketika mati kita berbuka. Jika selama di dunia ini kita tidak “berpuasa”, berpuasa dari berbuat maksiat, berpuasa dari melakukan kezaliman, berpuasa dari melakukan hal yang tidak berguna, maka ketika kita mati, kita tidak akan merasakan kenikmatan yang abadi. Bahkan kita mendapatkan siksaan yang menyakitkan.

Rasulullah Saw. pernah bersabda, bahwa dunia ini adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir. Dan, akhirat adalah surga bagi orang mukmin, neraka bagi orang kafir. Orang mukmin yang berpuasa dari melihat hal yang diharamkan-Nya, di akhirat nanti akan mendapatkan bidadari-bidadari surga yang bermata jeli. Orang mukmin yang berpuasa dari minum khamr, di akhirat nanti akan mendapatkan khamr yang harum dan nikmat. Orang mukmin yang berpuasa dari melakukan hal yang tidak berguna, di akhirat nanti mendapatkan istana-istana surga. Selama kita berjuang melawan hawa nafsu, maka hasil yang akan kita dapatkan akan berbuah baik.

Siapa yang Memaksa-Nya Bersumpah?

Al-Ashmu’i berkisah: Dulu aku mengajar al-Quran di sebuah kampung Badui. Tiba-tiba aku dihadang oleh seorang Arab Badui penjarah yang di tangannya ada sebuah pedang. Ketika sudah mendekat untuk menarik bajuku, dia berkata, “Wahai orang kota, apakah yang menyebabkan kamu masuk ke kampung padang pasir?”

Aku menjawab, “Untuk mengajarkan al-Quran.”

Dia bertanya, “Apakah al-Quran itu?”

Aku menjawab, “Perkataan Allah.”

Dia bertanya, “Apakah Allah mempunyai perkataan?”

Aku menjawab, “Ya.”

Kemudian dia menyanyikan sebuah syair, aku menjawab dengan firman Allah, “Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan terdapat pula apa-apa yang dijanjikan kepadamu.” (QS. Adz-Dzariyaat: 22).

Kemudian dia melemparkan pedangnya dan berkata, “Aku minta ampun kepada Allah, rezekiku ada di langit, tetapi mengapa aku mencarinya di bumi?”

Setelah berlalu satu tahun, aku bertemu dengannya pada waktu melakukan thawaf. Dia bertanya, “Apakah kamu orang yang bertemu denganku setahun yang lalu?”

Aku menjawab, “Benar!”

Lalu dia menyanyikan sebuah syair lagi. Aku menjawab dengan firman Allah, “Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan.” (QS. Adz-Dzariyaat: 23).

Kemudian si Badui itu diam dan menangis seraya berkata, “Siapakah yang memaksa-Nya untuk bersumpah?” Dia terus mengucapkan kalimat ini hingga jatuh dan mati. Semoga Allah merahmatinya.

Kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi kita. Kita dapat merenungkan kondisi si Badui itu dengan jawaban yang diberikan Al-Ashmu’i berupa ayat-ayat al-Quran. Yaitu, banyak orang yang merasa bahwa apa yang dia dapatkan berasal dari usahanya sendiri. Oleh karenanya, kisah ini seolah merupakan cambuk bagi kita.

Siapakah yang memaksa-Nya untuk bersumpah seperti itu? Ya, tidak lain orang-orang yang merasa bahwa apa yang didapatkannya berasal dari usahanya sendiri. Merakamenganggap rezeki itu ada di bumi, padahal ia ada di langit. Allah-lah yang memberi kita rezeki. Allah-lah yang melapangkan jalannya rezeki dan Allah pula yang menyempitkannya. Segala sesuatu jangan dilihat dari hasil kerja keras kita semata, tetapi ingatlah Allah Yang Maha Memberi Rezeki. Kita tidak akan mendapat sepeser uangpun tanpa izin dari-Nya. Jika kita merasa usaha yang kita jalani tidak mendapatkan hasil yang positif, padahal kita sudah berikhtiar sekuat tenaga, sudahkah kita mengingat Allah? Seringkali kita menganggap remeh mengingat Allah, sehingga kita melalaikannya begitu saja. Padahal, mengingat Allah adalah urusan yang sangatmendasar. Rezeki itu ada dilangit bukan dibumi.

Janganlah seperti Qarun yang menganggap seluruh harta kekayaannya berasal dari hasil kerja kerasnya sendiri. Allah Maha Melihat dan Maha Mendengar apa yang dikatakan Qarun itu hingga akhirnya Dia membenamkan Qarun beserta harta kekayaannya ke dalam tanah.

Hal ini berguna sebagai pelajaran bagi umat-umat kemudian agar jangan seperti Qarun. Jangan memandang harta curian, korupsi, atau menjual barang-barang haram, sebagai sesuatu yang akan dirasakan kenikmatannya. Allah Swt. sangat membenci pekerjaan-pekerjaan itu. Kebencian Allah mengundang kemurkaan-Nya. Allah tidak akan membiarkan orang-orang zalim itu berbuat seenaknya. Allah akan menghukum mereka. Namun mata hati mereka sudah buta dari hukuman itu sehingga tidak membuat mereka sadar, malah mereka semakin terjerumus pada jurang yang lebih dalam lagi. Kelak Allah akan “membenamkan” diri mereka seperti Qarun. Allah akan membuat hidup mereka susah dan gelisah. Jika ada orangtua yang hidupnya susah dan gelisah, bisa jadi di masa mudanya ia gemar berbuat maksiat.

Bagi orang-orang yang ingin sadar, ingatlah keresahan dan kesulitan hidup; ingatlah tubuh ini sering sakit-sakitan; ingatlah istri dan anak yang sering melawan perintah suaminya; ingatlah rezeki yang tidak lancar; ingatlah sahabat yang semakin jauh darinya. Semoga ingatan-ingatan itu membuat mereka sadar dan kembali kepada Allah Swt..