Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Menulis. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Januari 2014

Pelajaran dari Menulis dengan Hati

Salah satu buku paling berkesan yang pernah saya tulis adalah buku berjudul "Agar Menjadi Wanita Penghuni Surga." Karena saya menulisnya dari hati dan saya merasa pada saat itu berada di puncak ruhiyah. Maka mengalirlah kata-kata yang indah dari alam bawah sadar saya. Beberapa orang pun, hampir seluruhnya akhwat, menelpon saya, menulis surat kepada saya, dan mengirim email kepada saya. Di antara mereka ada yang menangis setelah membacanya dan berharap buku itu menjadi momentum perubahan dirinya menjadi lebih baik. Yang lain ada yang sengaja menelpon saya dari jauh; Hongkong sekedar untuk curhat kepada saya. Yang paling menakjubkan adalah seorang ibu dari Kalimantan mengirimi saya sebuah hadiah berupa kalung mutiara sebagai tanda terimakasih kepada saya atas buku yang telah saya tulis. Allahu Akbar! Terus terang saya kaget mendapat sambutan seperti itu dalam sejarah hidup saya.

Akhirnya, di mana-mana saya dipanggil ustadz. Saya malu sekali dipanggil ustadz karena merasa belum menjadi seorang ustadz. Saya banyak dosa dan saya baru belajar. Saya bukan ustadz, saya penuliss yang hafal beberapa ayat Al-Qur'an saja. Tetapi entahlah, mereka tetap memaksa saya untuk mau dipanggil ustadz. Yang penting saya menyampaikan apa adanya tentang diri saya kepada mereka. Bila pada kenyataan apa yang saya tulis dan apa yang saya katakan mengandung kebenaran, semua itu datangnya dari Allah. Saya berdoa kepada Allah semoga tangan ini mampu menuliskan kebenaran-Nya dengan lancar dan akal ini mampu mencurahkan pengetahuan yang tepat dalam proses penyusunan buku itu.

Buku itu terbit pada tahun 2007. Walaupun terbit hanya sekali, buku itu telah menjadi kenangan terindah dalam karir kepenulisan saya. Saya belajar darinya tentang pentingnya menulis dari hati. Karena bahasa hati lebih menyentuh perasaan dan emosi seseorang meskipun orang itu berilmu tinggi atau jauh dari agama-Nya.

Selasa, 07 Januari 2014

Kiat Membuat Tulisan dengan Cepat

Pada suatu kesempatan saya bertemu dengan seorang teman. Dia bercerita kepada saya tentang suatu blog yang harus saya baca. Lalu dia menyebut sebuah blog yang tidak lain blog saya ini. Saya tersenyum mendengarnya. Saya berkata kepadanya jika pemilik blog itu adalah saya sendiri. Dia kaget mendengarnya karena tidak menyangka sebelumnya. Tidak menyangka saya memiliki ketrampilan dalam menulis dan tidak menyangka mampu menulis sebanyak ini. Memang di dunia nyata saya tidak banyak menggembar-gemborkan aktivitas saya ini karena menurut saya hal itu tidak penting. Biarlah orang mencari tahu siapa saya daripada saya mengasih tahu siapa saya ke orang-orang.

Kembali tentang pertemuan dengan teman saya itu. Teman saya bertanya kepada saya berapa hari saya membuat sebuah artikel. Saya jawab, bukan berapa hari tapi berapa jam. Bisa satu jam, dua jam, dan tiga jam. Tergantung seberapa panjang tulisan yang saya buat.

Pada kesempatan ini izinkan saya memberikan beberapa kiat bagaimana menulis sebuah artikel dengan cepat.

Pertama, membuat tulisan dengan cepat membutuhkan proses. Saya sudah menulis sejak masih duduk di bangku SMP. Artinya, proses tulis menulis saya sudah berlangsung 24 tahun lamanya. Selama rentang waktu itu saya sudah menulis banyak artikel dan beberapa jilid buku. Awalnya menulis lambat, agak cepat, semakin cepat, dan seterusnya. Jadi anda harus banyak menulis jika ingin menulis dengan cepat. Kalau belum apa-apa sudah malas menulis, hasilnya akan semakin lama anda peroleh.

Kedua, menulis cepat butuh konsentrasi. Saya agak kesulitan jika menulis ditengah situasi dan kondisi yang ramai. Saya paling senang menulis ditengah situasi dan kondisi yang sunyi dan biasanya hal itu saya dapatkan pada waktu tengah malam. Hal ini penting karena ketika sudah berkonsentrasi dalam menulis seolah dunia kita adalah diri kita dan apa yang sedang kita tulis. Ketika sudah masuk dalam kondisi ini, kita akan mampu membuat tulisan dengan cepat.

Ketiga, tulislah materi yang benar-benar anda kuasai dan pahami. Menulis materi yang tidak anda kuasai dan pahami hanya akan memperlambat kecepatan anda dalam menulis. Oleh karena itu, agar anda benar-benar dapat menguasai dan memahami apa-apa yang anda tulis, anda harus banyak membaca. Seorang novelis terkenal bernama Stephen King setiap harinya membagi waktu 3 jam untuk membaca dan 3 jam untuk menulis. Novelis kenamaan lainnya, Tom Clancy, mampu menulis 10 halaman setiap hari. Setiap pagi dia baca lagi tulisan itu untuk di evaluasi dan dikoreksi. Ketika ditanya bagaimana dia menulis, Tom Clancy menjawab, "Saya menulis sebagaimana Anda membaca."

Keempat, libatkan emosi anda dalam menulis. Imam Muhammad Abduh pernah menulis sebuah buku hanya dalam waktu sehari. Saat itu beliau sangat marah ketika ada seorang orientalis menjelek-jelekkan Islam. Beliau merasa terpanggil untuk meluruskan pemahaman yang menyimpang itu dengan segera! Begitupun yang pernah dialami Imam Ibnu Taimiyah pernah menulis sebuah buku hanya dalam satu kali duduk. Imam Hasan Al-Banna memberikan catatan-catatan kritik beliau terhadap buku Mustaqbal Tsaqofah fi Misr karya seorang tokoh sekuler Mesir, DR. Thaha Husain, yaitu ketika beliau dalam perjalanan naik kereta. Mereka mampu menulis cepat bukannya tanpa kualitas. Buktinya karya tulis mereka dijadikan rujukan baik ilmuwan maupun orang awam, dari dulu hingga zaman sekarang.

Kelima, anda harus punya alasan mengapa anda menulis sebelum anda mulai menulis. Misalnya, anda menulis karena ingin meluruskan penyimpangan yang terjadi, menulis untuk memotivasi hidup anda, menulis sebagai jalan mengevaluasi hidup anda, dan sebagainya. Temukanlah alasannya sehingga kemudian menjadikan anda mempunyai dorongan tambahan dan gambaran besar tentang apa yang ingin anda tulis.

Demikian lima kiat membuat tulisan dengan cepat. Kedepannya saya ingin membuat tulisan tentang kiat menjadi penulis produktif. Insya Allah. Semoga bermanfaat.

Minggu, 29 Desember 2013

Bersama Penulis Kitab Shaidul Khathir

Kitab ini berjudul "Shaidul Khathir" yang berarti lintasan pikiran. Ia seperti catatan harian yang penuh kebaikan. Gaya kepenulisannya indah, singkat, padat, dan berbobot. Mengalir deras penuh muatan ilmu. Banyak ulama menjadikannya sebagaiKitab rujukan dari Kitab yang mereka tulis, di antaranya La Tahzan karya DR. Aidh Abdullah Al-Qarni. Tak sungkan-sungkan, beliau berkata, kitab Shaidul Khathir adalah kitab terbaik yang pernah beliau baca. Termasuk saya, juga ingin memujinya, banyak mengulang kalimat-kalimatnya, dan banyak mengutipnya untuk saya jadikan renungan sehari-hari.

Siapakah penulis kitab ini? Tak ada salahnya bagi yang belum membaca buku ini, untuk mengenal beliau terlebih dahulu. Beliau dikenal dengan panggilan "Imam Ibnu Al-Jauzy". Silsilah beliau sampai kepada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq. Beliau adalah salah seorang ulama besar, mubaligh yang handal dan penulis yang sangat produktif. Beliau memiliki bakat yang sangat menonjol dalam hal pidato dan khotbah yang tidak banyak dimiliki oleh orang-orang semasanya. Yang hadir dalam majelisnya mencapai puluhan ribu orang. Setiap minggu sekali beliau mengkhatamkan membaca Al-Qur'an. Ditangan beliau lahir 2000 jilid buku, telah bertobat seratus ribu orang, dua puluh ribu orang di antaranya masuk Islam.

Al-Muwaffiq Abdul Latif berkata, Ibnu Al-Jauzy sangat tampan wajahnya, manis perangainya, merdu suaranya, teratur gerak-geriknya dan penuh pesona, suka humor. Majelisnya dihadiri seratus ribu orang lebih. Waktu-waktunya tidak pernah terbuang. Dia menulis empat puluh halaman sehari. Dia hampir tahu segala ilmu. Dalam bidang tafsir, dia termasuk ulama barisan depan; dalam bidang hadits pun dia termasuk Al-Huffadz; dalam bidang sejarah termasuk yang sangat luas cakrawalanya, di samping ahli fikih yang mumpuni, sedangkan dalam hal nasehat-nasehat berpantun tak diragukan lagi kekuatan kata-katanya.

Dalam kitab Tatimmatul Mukhtashor fi Akhbaril Basyar, Ibnul Warid mengatakan: “Bila lembaran-lembaran buku yang berhasil ditulis oleh Ibnul Jauzi dikumpulkan, lalu dikalkulasi dengan umur yang beliau miliki, maka ditetapkan bahwa beliau menulis dalam sehari sebanyak sembilan buah buku seukuran buku tulis.” Diceritakan juga bahwa bekas rautan pena Ibnul Jauzi dapat digunakan untuk memanasi air yang dipakai untuk memandikan mayat beliau, itupun masih tersisa.

Di antara tulisannya, Durratul Ikliil (buku sejarah 4 jilid), Fadhailul Arab, Syudud Al-Uquud, Al-Amtsal, Al-Manfaat fi al-Madzahib Al-Arba'ah (2 jilid), Al-Mukhtar min Al-Asy'ar (10 jilid), At-Tabshirah (berisi nasehat-nasehat 3 jilid), Ru'us Al-Qawariir (2 jilid), dan sebagainya. Selain ahli di bidang ilmu agama, sosial, dan humaniora, beliau juga pakar dibidang kedokteran dengan menulis kitab Al-Luqat sebanyak 2 jilid. Beliau sangat menjaga kesehatan dan dengan seksama memelihara perangainya serta menjaga kekuatan akalnya dan ketajaman otaknya dengan makanan-makanan bergizi.

Saat wafatnya, beliau di antar dengan iring-iringan ribuan manusia. Beliau meninggal pada hari jumat 13 Ramadhan 597 H.

Dari biografi singkat di atas, tidak mengherankan bila karya-karya beliau mempesona, sangat terasa ruhnya. Karena apa yang beliau katakan telah menyatu dalam diri beliau. Semoga Allah merahmati beliau dan memasukkannya ke dalam jannah-Nya.

Ya Allah, jadikanlah kami menjadi bagian orang yang mencintai para kekasih-Mu, membaca karya-karya mereka, merenungkan dan mengamalkan isinya. Jadikanlah ilmu yang telah mereka ajarkan kepada kami sebagai amal jariyah mereka di alam barzah dan alam akhirat nanti.

Rabu, 25 Desember 2013

Keutamaan Menulis

Sejarah dunia adalah sejarah orang besar.

Siapa yang mengenal Anne Frank? Dia hanya seorang gadis kecil. Tapi sejarah mencatat namanya sebagai tokoh yang mengubah dunia. Hanya karena dia menulis diary tentang pembantaian yang dia saksikan.

Bila sejarah tidak mencatat kita, biarkan kita menulis sejarah kita sendiri. Dan lihatlah apa yang akan terjadi. Nah!

Minggu, 22 Desember 2013

Inspirasi Tiada Henti

"Seperti listrik, inspirasi tak pernah berhenti mengalir. Kalau lampu dalam diri kita tidak menyala, itu karena saluran yang terganggu atau memang putus sama sekali. Maka, jika engkau ingin inspirasi itu hidup, siapkan jiwamu untuk menyambutnya." (Mohammad Fauzil Adhim)

Ya, mempersiapkan jiwa. Itulah kata kuncinya agar kita terus menerus memperoleh inspirasi. Tanpa kesiapan jiwa, sebanyak apapun informasi yang kita terima, tidak akan membekas dalam benak kita. Seperti halnya apa yang masuk telinga kiri keluar ke telinga kanan.

Jiwa yang siap ibarat tanah yang luas. Ia dapat menampung berbagai macam hal yang bermanfaat. Batas dan tepinya tidak kita ketahui karena saking luasnya. Bila benar apa yang dikatakan Einstein, kita baru menggunakan 5% saja dari kemampuan otak kita, maka kita akan menyadari betapa besarnya kapasitas otak kita dan betapa luasnya pengetahuan yang ada di alam semesta ini. Lalu, bagaimana dengan orang yang malas menggunakan otaknya?

Bagi jiwa yang selalu siap, situasi dan kondisi apapun bisa sangat menguntungkan bagi dirinya. Penderitaan dan sempitnya penjara bukanlah hambatan untuk menghasilkan sebuah maha karya. Bahkan, situasi dan kondisi itu adalah stimulan untuk menulis buku-buku hebat dan bermakna kuat. Imam Ibnu Taimiyah, misalnya, menulis sebagian besar buku Majmu Fatawa yang tebalnya 30 jilid ketika berada di dalam penjara. Prof. HAMKA menulis sebagian besar Tafsir Al Azhar ketika berada di dalam penjara. Begitupun dengan Sayyid Quthb yang menulis Tafsir Fi Zhilalil Quran, menulisnya ketika berada di dalam penjara.

Syaikh Muhammad Al Ghazali menulis buku Fiqh Sirah ketika berada dalam pengasingan di Madinah akibat diusir oleh pemerintah Mesir yang zalim pada saat itu. Begitupun dengan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi menulis buku Fiqh Zakat ditempat pengasingannya di Qatar.

Dahsyatnya, semua buku yang mereka tulis itu menjadi karya fenomenal dan rujukan berjuta-juta kaum muslimin. Majmu Fatawa adalah buku berisi kumpulan fatwa terbesar yang pernah ada. Tafsir Al Azhar, menurut seorang orientalis, adalah kitab tafsir terbaik yang pernah ditulis ulama asal Indonesia. Kitab ini menjadi rujukan kaum muslimin di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Thailand. Bahkan di beberapa pusat pendidikan Islam, kitab ini menjadi buku wajib bagi para santrinya.

Tafsir Fi Zhilalil Quran adalah tafsir Al Quran yang paling banyak dibaca aktivis pergerakan Islam saat ini. Sayyid Quthb menulis tafsirnya dengan bahasa yang sangat indah. Kemampuan sastranya mengalir bersama dengan semangat juangnya yang tinggi. Banyak kalangan menyebutkan, belum pernah ada orang menulis tafsir seperti yang dilakukan oleh Sayyid Quthb.

Kitab Fiqh Sirah karya Syaikh Muhammad Al Ghazali begitu khas. Dalam buku itu, beliau memadukan antara sejarah Nabi Muhammad dan pergerakan Islam saat ini. Sehingga karyanya ini menjadi salah satu rujukan utama aktivis Islam dalam disiplin ilmu Sirah Nabawiyah. Buku beliau ditulis di depan makam Rasulullah. Setiap kali mulai menulis, beliau menangis mengenang perjuangan agung Rasulullah Saw. Tulisannya mengalir deras bersamaan dengan derasnya airmata yang keluar. Membentuk kalimat-kalimat indah dan bermakna.

Sedangkan buku Fiqh Zakat karya Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dinobatkan oleh pemikir besar Islam, Imam Abul A'la Al Maududi, sebagai buku terbaik di abad ke-20. Dikalangan pemerhati zakat, buku ini menjadi buku rujukan wajib bagi mereka. Lihat saja buku-buku zakat yang ada sekarang pasti menjadikan Fiqh Zakat sebagai salah satu sumber rujukan utamanya.

Penderitaan bagi mereka adalah tambang kearifan dan kebijaksanaan. Dari sana muncul kata-kata yang tulus, makna yang mendalam, dan hakikat sebuah pengorbanan. Karena ia muncul dari jiwa yang merdeka. Jiwa yang tanpa dusta di dalamnya. Penderitaan mereka dalam berjuang adalah bukti pengorbanan yang sesungguhnya.

Kebalikannya bagi si pemilik jiwa yang sempit. Meskipun tinggal di dalam istana yang luas dan mewah, tidak membuatnya merasa nyaman dan tentram. Selalu saja baginya membuat-buat alasan untuk berhenti berkarya. Padahal alasan-alasan itu hanya diciptakan oleh dirinya sendiri. Alasan-alasan itu pada akhirnya memenjarakan dirinya pada penjara yang hakiki. Penjara yang membuatnya tidak bisa berimajinasi dan berpikir merdeka.

Jangan katakan tidak ada inspirasi. Tapi evaluasilah diri ini, sudahkah kita siap menyambut datangnya inspirasi. Jangan sampai gara-gara jiwa tidak siap, inspirasi itu menghilang begitu saja. Bukankah ini sama dengan kesia-siaan? Ketika jiwa kita sudah siap, insya Allah inspirasi yang kita peroleh tidak ada habis-habisnya. Nah!

Rabu, 18 Desember 2013

Meneladani Para Ulama dalam Membaca dan Menulis


Ketika menyaksikan deretan buku yang saya miliki, saya menjadi semakin kagum dengan para ulama penulis buku-buku itu. Terutama ulama-ulama zaman dulu semisal Imam Ath-Thabari, Imam Al-Ghazali, Imam Nawawi, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnu Al-Jauzy, Imam Ibnu Katsir, dan Imam Al-Qurthubi.

Mereka telah menulis ratusan hingga ribuan judul dan satu judulnya ada yang mencapai ratusan jilid buku. Imam Ath-Thabari, seorang ahli sejarah dan ahli tafsir terkemuka, membiasakan diri selama 40 tahun untuk menulis 40 lembar setiap hari. Setelah kematiannya, murid-muridnya menghitung apa yang ditulisnya setiap hari. Ternyata sejak beliau berusia baligh sampai meninggalnya, terhitung kurang lebih 14 lembar yang beliau tulis setiap hari.

Abu Ishaq asy-Syairazi telah menulis 100 jilid buku. Imam Ibnu Taimiyah menyelesaikan setiap buku dalam waktu satu minggu. Beliau pernah menulis satu buku penuh dalam satu kali duduk. Dan bukunya telah dijadikan referensi oleh lebih dari 1000 penulis.

Imam Ibnu al-Jauzy telah menulis 1000 judul buku dan satu bukunya ada yang mencapai 10 jilid. Kayu bekas penanya bisa dipakai untuk memanaskan air yang dipakai untuk memandikan jasadnya ketika meninggal.

Termasuk semangat yang menakjubkan pula adalah semangat Imam Ibnu Aqil yang telah menulis sebuah karya terbesar di dunia yaitu al-Funun. Tahukah Anda berapa jilid kitab tersebut? Sebagian mengatakan sebanyak 800 jilid dan ada yang mengatakan 400 jilid. Imam adz-Dzahabi berkata: "Belum pernah ada di dunia ini kitab yang lebih besar darinya. Seseorang pernah menceritakan kepadaku bahwa dia pernah mendapati juz yang empat ratus lebih dari kitab tersebut."

Bisa Anda bayangkan betapa banyaknya tempat untuk meletakkan buku yang mereka tulis. Tidak perlu memiliki buku dari semua ulama yang saya sebut, satu saja di antaranya. Apakah kita memiliki buku di atas seratus? Dua ratus? Tiga ratus? Mungkin akan ada yang menjawab, tidak! Saya hanya memiliki buku puluhan saja. Yang lain lebih parah lagi, hanya memiliki belasan buku.

Bagaimana kita bisa mengisi hari-hari dengan ilmu jika buku yang kita miliki saja hanya puluhan atau bahkan belasan? Bagaimana kita bisa lebih semangat beramal saleh jika kita tidak berdekatan dengan buku? Para ulama itu tidak mungkin mampu banyak menulis dan beramal kecuali mereka mengoleksi banyak buku untuk mereka baca.

Berikut ini beberapa fakta yang dahsyat betapa banyaknya para ulama membaca buku:
Seorang tabib datang mengobati Abu Bakar Al Anbari (ilmuwan Islam yang banyak menulis buku), ketika sakitnya sudah teramat kritis. Kemudian tabib itu memeriksa air seninya, lalu berkata: “Tuan telah melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh siapa pun, sebenarnya apa yang telah tuan lakukan?” Al-Anbari menjawab: “Aku baca setiap pekan sebanyak sepuluh ribu lembar.” (Washaaya wa Nasha’ih li Thalibil Ilmi, hlm. 14)

Syaikh Abdul Adim bercerita tentang Ishaq bin Ibrahim Al Muradi: “Saya belum pernah melihat dan mendengar orang yang lebih banyak kesibukannya, melebihi Ishak Al-Muradi. Beliau senantiasa terbenam dalam kesibukannya sepanjang siang hingga larut malam. Saya bertetangga dengan beliau. Rumah beliau dibangun setelah duabelas tahun rumahku berdiri. Setiap kali saya terjaga di keheningan malam, selalu terbias sinar lentera dari dalam rumahnya, dan beliau sedang sibuk dengan pencarian ilmu; bahkan sewaktu makan beliau selingi pula dengan membaca kitab-kitab.” (Imam Nawawi, Bustanul Arifin, hlm. 79)

Imam Asad bin Furat bercerita tentang dirinya yang berguru pada Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani: “Pada aktu itu aku tinggal di bangsal sebuah rumah yang atasnya didiami oleh Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani. Setiap kali beliau turun “memperdengarkan ilmu” kepadaku, dan beliau menaruh sebuah cawan berisi air di depannya. Kemudian beliau mulai membaca. Apabila malam semakin larut dan beliau melihatku terserang kantuk, maka beliau mengambil air dengan tangan beliau dan dipercikkan ke wajahku sehingga aku pun terjaga. Begitulah yang selalu kami lakukan tiap hari, sehingga aku memperoleh apa yang aku maksudkan, yakni bekal ilmu dari beliau.” (Adz Dzahabi,Tadzkiratul Huffadz, hlm. 21).

Imam Ibnu Aqil Al-Hanbali, seorang pakar bahasa berkata: “Sungguh tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat pun umurku, bahwa ketika mulutku sudah tidak aktif bermudzakarah atau munadzarah, dan penglihatanku tidak kugunakan untuk menelaah, maka aku tetap mengaktifkan pikiranku, di saat aku sedang istirahat.”(Thabaqatul Hanabilah, jilid 1, hlm. 146)

Imam Fakhruddin Ar Razi, seorang ahli filsafat, tafsir, logika, dan kedokteran berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku menyayangkan waktu yang hilang tidak disibukkan untuk menimba ilmu, dan bahkan waktu makan; karena waktu dan zaman teramat agung.” (Al Kanani, Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim, hlm. 72)

Istri Imam Zuhri berkata tentang suaminya (seorang ahli hadits ternama, guru para Imam Madzhab): “Demi Allah, sesungguhnya kitab-kitab ini sangat menyakitkan saya sebagai seorang istri, melebihi sakit hatiku bila dimadu dengan tiga orang istri.” (ibid, hlm. 32)

Imam Al Juwaini, guru dari Imam Al Ghazali berkata: “Aku biasa tidak tidur dan makan. Aku tidur hanya bila kantuk menguasaiku baik malam maupun siang, dan aku makan hanya bila aku berselera, pada waktu apa pun. Kelezatan dan hiburan adalah sewaktu mengingat-ngingat ilmu dan mencari faedahnya dari ilmu macam apa pun.” (Dr. Nashir bin Sulaiman Al-Umr, Al-Ilmu Dharurotun Syar’iyyah)

Ya, membaca dan menelaah ilmu telah menjadi kelezatan dan hiburan bagi mereka. Seperti sebuah buku yang berjudul "Andaikan buku itu sepotong pizza" atau apapun makanan yang kita sukai kita akan melahapnya sampai habis. Sampai sisa-sisa makanan pada jaripun ikut kita jilat.

Bila kita melihat sebuah buku yang menarik perhatian kita, jangan sungkan-sungkan untuk membacanya. Bila waktu kita sangat singkat di toko buku namun kita masih ingin membacanya, jangan pelit untuk membelinya. Bila dalam sebuah buku terdapat secercah cahaya hidayah, sungguh hidayah itu sangat mahal harganya. Buku adalah investasi bagi kita. Ia tidak meminta tetapi selalu ingin memberi. 

Jumat, 21 Juni 2013

Menulis Buku Motivasi Islami


Saya mempunyai banyak buku tentang motivasi yang ditulis oleh orang-orang barat, mulai dari karya Dale Carnegie, Zig Ziglar, Norman Vincent Peale, David Schwartz, Stephen R. Covey hingga John C. Maxwell. 

Sedangkan buku Islami yang membahas tema ini tergolong sedikit saya memperolehnya. Yang paling bagus mungkin Jadid Hayatak karya Syaikh Muhammad Al-Ghazali, La Tahzan karya DR. Aidh Al-Qarni, Nikmatilah Hidup Anda karya DR. Muhammad Al-Arifi, dan yang lebih klasik Shaidul Khatir karya Imam Ibnu Al-Jauzy. 

Apa kelebihan dan kekurangan dari buku-buku motivasi Barat?
1. Kelebihannya buku mereka banyak mengutip hasil riset ilmiah sehingga dapat meyakinkan pembaca untuk melakukan apa yang penulis katakan. 

2. Kelebihannya, mereka menulis apa yang mereka lihat dan rasakan sehari-hari, bukan sekedar teori atau kutipan yang berisi kata si fulan dan si fulan.

3. Kelebihannya, mereka memiliki keahlian menulis yang mungkin sudah terasah sejak mereka duduk dibangku sekolah.

3. Kekurangannya, hasil riset yang mereka kutip berasal dari negara mereka sendiri sedangkan buku mereka menyebar kemana-mana. Hasil riset tersebut terutama yang berhubungan dengan manusia dan adat istiadatnya kadang tidak cocok untuk diterapkan bagi pembaca di negara yang berbeda.

4. Kekurangannya, kadang nilai-nilai yang disampaikan penulis tidak sesuai dengan nilai-nilai Islami. Di antara penulis barat itu ada yang Kristen, sekuler, hingga ateis. 

Maka, umat Islam tampaknya sangat membutuhkan buku-buku motivasi yang Islami, yang ditulis dengan gaya modern, bukan sekedar teori atau kutipan belakan dari si fulan dan si fulan. Dengan demikian arahan yang disampaikan menyelamatkan secara menyeluruh bukan sebagian-sebagian.

Selasa, 19 Juni 2012

Menulis Apa yang Pernah Ditulis

Saya temukan sebuah pernyataan berikut ini di sebuah forum diskusi: “Saya tidak akan menulis tema yang pernah ditulis oleh orang lain.”

Di dalam hati saya berkata, Apakah menulis dengan tema yang sama otomatis isinya juga sama? Kalau sama persis berarti dia sedang menjiplak bukan sedang menulis. Kalau tidak sama, berarti dia punya kelebihan dari tulisan yang pernah dibuat. Kalau tulisannya lebih buruk daripada tulisan yang sudah ada, itu hanya masalah proses. Bukan masalah konten. Sedangkan konten tulisan kita adalah orsinil dari kita berdasarkan ilmu dan pengalaman yang kita miliki.

Alangkah sempitnya ilmu bila kita berhenti berkarya lantaran sebelumnya sudah ada karya dengan tema yang sama. Sejarah telah membuktikan para ilmuwan, para ulama, dan kaum cerdik pandai berlomba-lomba menulis buku atau kitab walaupun dengan tema yang sama. Misalnya, sudah berapa banyak ulama kita menulis kitab tentang tafsir, Sirah Nabawiyah, doa dan dzikir, fikih, atau cabang-cabang ilmu lainnya. Sudah sangat banyak sekali, bahkan tidak terhitung jumlahnya. Sewaktu pasukan Mongol menghancurkan Baghdad, jutaan buku dibuang ke sungai Tigris hingga sungai tersebut berubah warna menjadi hitam pekat. Hal ini menunjukkan warisan ilmu pengetahuan yang sangat melimpah yang pernah ditulis oleh para ilmuwan dan ulama.

Allah Swt. berfirman, “Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)."  (QS. Al-Kahfi: 109)

Menurut Imam Ibnu Katsir, maksud dari ayat ini adalah, seandainya air laut itu dijadikan tinta untuk digunakan menulis kalimat-kalimat Allah, hukum-hukum-Nya, ayat-ayat yang menunjukkan kekuasaan-Nya, niscaya akan habis air laut itu sebelum penulisan semuanya itu selesai.

Hikmah Allah sangat banyak hingga tak terhitung jumlahnya. Setiap orang berhak mendapatkan hikmah tersebut. Sebaliknya, bagi orang yang mempersempit dan mempersedikit hikmah Allah, menunjukkan orang tersebut belum memahami dan meyakini keagungan dan kebesaran Allah Swt. 

Oleh karena itu, jika kita memiliki kemampuan menulis pada tema yang pernah ditulis oleh orang lain dan kita ingin menuliskannya, maka menulislah. Karena hal itu adalah anugerah dari Allah, sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya, “Allah menganugerahkan al hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al-Baqarah: 269)   

Minggu, 17 Juni 2012

Belajar Menulis Cerita Anak

Hampir setiap hari saya membacakan buku bacaan anak kepada anak-anak saya. Karena sudah semua buku sudah saya bacakan, kadang saya mengulangnya kembali pada kesempatan berikutnya. Kalau sudah bosan membaca buku yang sama, saya membaca cerita-cerita yang terdapat dalam buku-buku remaja maupun dewasa. Hanya saja ketika membacanya, saya menggunakan gaya bahasa anak-anak.Sehingga anak saya bisa tidak bosan mendengarkannya dan mau menerimanya karena sesuai dengan kemampuan bahasa dan akal mereka.

Menurut situs melindahospital.com, manfaat membaca untuk anak, selain menambah pengetahuan, juga mengajarkan anak sejak dini agar bisa membaca lebih cepat. Jangan merasa terlalu dini untuk membacakan buku pada anak, hanya karena Anda menganggap sang anak masih belum mengerti apa yang dibacakan untuknya. Padahal di sisi lain, para ahli menganjurkan pada setiap orangtua untuk mulai membacakan buku sejak sang anak masih balita bahkan masih di dalam kandungan. Hal yang sepertinya sepele itu, ternyata dapat sangat berguna bagi perkembangan anak Anda serta menunjang kesuksesannya di masa depan. 

Setelah sekian lama membacakan buku-buku anak, lama kelamaan saya mulai berpikir, mengapa saya tidak menulis buku anak seperti ketika saya membacakannya kepada anak saya? Hal inilah yang membuat saya memutuskan untuk sedikit demi sedikit menulis cerita untuk anak. Saya sudah menulis banyak cerita, mulai dari cerita para Nabi, cerita Nabi Muhammad, cerita dinosaurus, cerita binatang, dan cerita-cerita lainnya yang tujuan awalnya adalah untuk dibacakan pada anak-anak saya. 

Untuk lebih memperbaiki kemampuan saya dalam bercerita dan menulis cerita anak, pada hari Rabu 13 Juni lalu saya mengikuti lokakarya tentang bacaan anak yang di adakan IKAPI JABAR. Pembicaranya adalah DR. Murti Bunanta. Beliau adalah doktor lulusan UI pertama yang desertasi doktoralnya membahas tentang sastra anak Indonesia. Karya tulis lebih dari seratus judul. Buku-buku beliau banyak mendapat penghargaan baik di dalam maupun diluar negeri dan sebagian di antaranya diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, seperti Amerika, Kanada, Jepang, dan Mongolia. Ketika saya mengikuti lokakarya itu, saya mendapatkan banyak sekali pelajaran dan pencerahan. Palajaran dan pencerahan itu berguna sekali untuk memperbaiki tulisan saya. 

Salah satu pesan DR. Murti yang saya dapatkan adalah, mampu mengajak anak bekerjasama tanpa menggurui. Ada satu contoh menarik tentang hal ini. DR. Murti menulis sebuah buku berjudul Tarian Pengusir Ular. Dikisahkan ada dua ekor katak kakak beradik. Yang satu bernama Sulung, sedangkan adiknya bernama Bungsu. Sulung dan Bungsu berusaha mengusir ular dengan cara menari. Namun ular tersebut tidak juga mau pergi. Kemudian Sulung dan Bungsu memanggil ayah dan ibunya untuk turut serta menari. Di sini Ibu Murti mengundang dua orang peserta lokakarya untuk tampil ke depan untuk menjadi ayah dan ibu dua ekor katak tersebut. Bila kedua anaknya menari sambil bersuara kung kung, orangtuanya menari sambil bersuara kong kong. Namun tetap saja si ular tidak mau pergi. Lalu keempatnya memanggil burung. Di sini ibu Murti kembali mengundang dua peserta untuk menjadi seekor burung. Burung ini bersuara kwak kwak. Tetap saja ular tersebut tidak pergi. Lalu dipanggillah Monyet. Monyet bersuara nguk nguk. Ketika mereka menari dengan bersuara yang berbeda-beda itu akhirnya ular pun pergi. 

Dari cerita ini, tampak sekali tidak ada kesan untuk menggurui anak. Anak melakukan apa yang seharusnya anak tersebut lakukan, bukan karena disuruh-suruh. Sebuah buku anak yang baik itu seperti itu. Cerita dalam buku tersebut menjadi sangat menyenangkan untuk dibaca oleh anak. Tidak heran bila buku Tarian Pengusir Ular mendapatkan penghargaan dari Polandia. 

Selain buku anak dapat menyenangkan anak, ia juga dapat mendidik. Yang dimaksud mendidik di sini adalah, mendidik pembaca tanpa terasa pembaca sedang "di didik", karena pengarang hanya memberi sebuah pengalaman dalam cerita yang membuat pembaca sadar apa yang menjadi pokok masalah yang diketengahkan pengarang. Pengarang sebaiknya hanya berbagi dan tidak bersifat menjadi pendidik yang serba tahu. 

Cerita yang baik juga akan mencerahkan pembacanya, baik tentang moral, keyakinan, ataupun tentang ilmu pengetahuan. Dengan catatan, bahwa pengarang tidak bersifat sok tahu, serba tahu. Karena bersifat mencerahkan maka pembaca akan merasa lega karena mungkin pengalaman yang dia baca dalam cerita dapat memberi sebuah pengertian bahwa pembaca tidaklah sendiri dengan persoalannya tetapi "orang lain" dalam cerita juga mempunyai persoalan yang sama dan ini sangat melegakan pembacanya.

Setelah membaca buku yang baik, pembaca akan mendapat stimulasi. Bila pembaca sedang sedih, dia akan merasa bahagia dan bersemangat kembali. Bila sedang sakit, dia akan mendapat semangat untuk berjuang melawan penyakitnya.

Buku anak seharusnya juga dapat menghibur pembacanya, bukan dalam arti humor yang membuat pembacanya tertawa terpingkal-pingkal, tetapi dia akan terhibur karena cerita yang bak selalu mengajarkan adanya "harapan" dalam situasi yang buruk sekalipun. Pembaca diajarkan untuk tidak berputus asa.

Bagi anak yang sakit, misalnya, mendengarkan cerita yang baik akan menenangkan karena dia dapat melepaskan dan melupakan penderitaannya serta fokus pada cerita.  

DR. Murti menjelaskan semua itu berikut contoh ceritanya. 

Akhirnya, saya pulang membawa ilmu yang sangat bermanfaat yang tidak hanya untuk diri saya, tapi juga untuk anak dan istri saya. 

Rabu, 06 Juni 2012

Pelajaran Menulis dari Imam Hasan Al-Banna

Sebagian ikhwah mengatakan jika Imam Hasan Al-Banna bukan seorang penulis yang produktif. Beliau produktif dalam mengkader da'i. Tapi saya pikir perkataan itu relatif. Ketika dihadapkan pada produktivitas ulama Timur Tengah dalam menulis, kemungkinan benar karena ulama-ulama disana produktif dalam menulis. Tapi jika dihadapkan dengan ulama Indonesia khususnya, yang saya pikir jarang menulis kecuali hanya segelintir ulama saja, maka bisa dipastikan Imam Hasan Al-Banna adalah seorang penulis yang produktif. 


Imam Hasan Al-Banna telah menulis buku dua buku bermutu yang dijadikan pegangan bagi aktivis Ikhwanul Muslimin; Al-Ma'tsurat dan Memoar Hasan Al-Banna. Selain itu, beliau sangat aktif menulis di media cetak seperti majalah dan surat kabar. Hal ini dapat kita baca dari keterangan yang disampaikan DR. Jumu'ah Amin Abdul Aziz dalam bukunya yang berjudul Pemikiran Hasan Al-Banna dalam Akidah dan Hadits. Berikut ini data-data yang berhasil dikumpulkan Dr. Jumu'ah:

1. Koran mingguan Ikhwanul Muslimin. Di dalam koran ini, beliau menulis masalah keislaman, politik, sosiologi dan juga moral. Beliau menulis pada koran ini selama lima tahun. 

2. Majalah Mingguan An-Nadzir. Di dalam majalah ini, Imam Hasan Al-Banna menulis lebih lebih dari 80 makalah tentang politik dan sosiologi dibawah naungan Islam. 

3. Majalah Al-Manar. Majalah ilmiah ini pada awal mulanya diawaki oleh Sayyid Rasyid Ridha. Namun setelah beliau wafat, majalah ini sempat vakum. Lalu, pihak keluarga Sayyid Rasyid Ridha meminta Imam Hasan Al-Banna untuk menghidupkan kembali majalah Al-Manar ini. Pada majalah ini, Imam Hasan Al-Banna menulis bagian pembukaan, tafsir Al-Qur'an, bidang fatwa, doktrin politik dunia Islam dan tentang muslimah. 

4. Majalah At-Ta'aruf. Di majalah ini, Imam Hasan Al-Banna menjabat sebagai editor pada bagian catatan pembuka, juga pada masalah-masalah fikih dan menjelaskan pandangan Al-Ikhwan demi reformasi di bidang politik dan sosial budaya pada waktu itu.

5. Majalah dwi-mingguan Ikhwanul Muslimin. Pada majalah ini, Imam Hasan Al-Banna telah menulis lebih dari seratus makalah dari berbagai tema syariat, pemikiran, sosial kemasyarakatan, politik, dan dakwah. 

6. Koran harian Ikhwanul Muslimin. Beliau telah menulis lebih dari 370 artikel tentang berbagai problematika. 

7. Majalah bulanan Asy-Syihab. Dalam majalah ini, Imam Hasan Al-Banna menulis sebagian tentan tafsir yang dimulai dari surat Al-Fatihah, juga tentang Ulumul Qur'an dan Musthalah Hadits.

8. Majalah Al-Fath. Majalah ini dipimpin oleh Syaikh Muhibbuddin Al-Khatib, seorang ulama yang sangat dihormati dikalangan salafy. Majalah ini memberi keleluasaan kepada Imam Hasan Al-Banna untuk menulis di dalamnya. Sehingga tulisan yang sempat ia tulis sebanyak 23 artikel.  

9. Selain majalah dan koran di atas, beliau juga menulis di majalah Syubbanul Muslimin.

Tulisan-tulisan di atas adalah yang dimuat di media cetak, belum lagi tulisan-tulisan beliau yang berisi khutbah dan risalah yang kemudian dibukukan oleh murid dan sahabat-sahabatnya.Belum lagi catatan-catatan yang beliau tulis yang belum dipublikasikan hingga kini. Jadi kalau dihitung-hitung ribuan tulisan yang telah beliau buat. Sangat banyak. Syaikh Muhammad Al-Ghazali yang merupakan murid Imam Hasan Al-Banna pernah mengunjungi perpustakaan milik gurunya itu. Buku-buku yang jumlahnya ribuan itu ternyata sebagian besar telah diberi catatan oleh Imam Hasan Al-Banna. Tidaklah mengherankan bila beliau memiliki wawasan keilmuan yang luas. Yang dengan wawasan itu, beliau membangun jamaah Ikhwanul Muslimin. Beliau juga menyempatkan diri mengisi waktu luang dengan menulis, misalnya ketika berada di dalam kereta. 

Ternyata Imam Hasan Al-Banna mempunyai kiat-kiat khusus dalam menulis tema-tema keagamaan. Berikut ini kiat-kiat bagaimana menulis tema-tema keagamaan yang telah saya  ringkas. Saya sedikit mengulasnya agar kiat-kiat itu semakin jelas dan mudah diaplikasikan dalam dunia kepenulisan kita:  

Pertama, sesungguhnya setiap zaman memiliki cara tersendiri di dalam penulisan yang sesuai dengan kerangka berpikir masyarakatnya dan cara mereka belajar. Pembaruan ini harus mengikuti pembaruan pemikiran manusia dan perubahan metodologi penulisan, pemikiran, dan kesimpulannya. Oleh karena itu, buku-buku yang diterbitkan pada masa Islam terdahulu memiliki ciri tersendiri yang berbeda dengan orang lain. Pada masa modifikasi pertama, penulisan lebih dititikberatkan pada penulisan matan dan sanad yang disertai dengan pembahasan sekilas tentang sebagian pendapat. Seperti yang dapat kalian lihat di dalam buku  Muwatha Mâlik karya Imâm Malik r.a., Musnad Imam Ahmad, dan buku-buku hadis pertama. Pada periode berikutnya, para pengarang dan ahli fikih lebih cenderung untuk meringkas hukum-hukum, mensistematiskan dan menjelaskan masalah-masalah yang konkret. Pembaca dapat melihatnya di dalam buku Al Umm karya Imam Asy Syafi’î dan Al Mabsûth karya as-Sarkhasî. Kemudian datang masa di mana para penulis lebih berkonsentrasi kepada menjelaskan hukum-hukum, memperbanyak penulisan cabang-cabang hukum, menjelaskan syarat-syarat dan pengecualian-pengecualian, sebagai bentuk kepercayaan kepada para pengarang dan penghormatan terhadap karya para ulama. Setelah itu datang masa catatan pinggir, notasi, dan keterangan. Dengan demikian, kita dapat melihat bahwa setiap masa memiliki ciri tersendiri. Ini adalah sunnatullah di dalam makhluk-Nya. Di dalam buku Mantsûr Al Hukm dinyatakan: “Jangan engkau memaksa anak-anakmu untuk mempelajari bahasamu, sebab mereka diciptakan untuk zaman selain zamanmu.”

Kedua, masa kita adalah masa-masa kebangkitan menulis dan ilmu pengetahuan. Bersamaan dengan semaraknya keinginan untuk menyusun, mengoreksi, mempermudah, dan menerjemah buku, ternyata ilmu-ilmu agama belum mendapatkan tempat di hati para pengarang. Kita masih banyak membaca buku-buku agama klasik. Kita belum mempersembahkan karya sedikitpun di zaman kita. Kita sampai sekarang masih mengekor kepada pendahulu-pendahulu kita. Oleh karena itu, peran kita terhadap ilmu-ilmu agama sangat sedikit. Sebab, metodologi penulisan, sistematika, dan gaya bahasanya sudah tidak sesuai dengan metodologi penelitian modern.

Hal itu berada di beberapa tempat dan akan kami sebutkan sebagian, misalnya:
1. Pada saat Anda ingin mengetahui hukum-hukum jual beli dan ingin membacanya di dalam buku-buku fikih kontemporer, maka Anda harus mengerahkan segenap tenaga dan waktu  yang lama agar sampai pada tempatnya. Demikian juga agar dapat mengoleksi hukum-hukumnya sebanyak mungkin.

2. Beberapa hukum muamalat kontemporer tidak terdapat di dalam buku-buku fikih induk. Misalnya, hukum bank, hukum jual beli nota tagih, dan hukum masalah-masalah lain yang berhubungan dengan agama dan fikih yang menyangkut kehalalan dan keharaman. Anda tidak akan mendapati hal-hal seperti ini di dalam ensiklopedia dan kitab-kitab. Permasalahan sudah cukup jelas, yaitu karena belum ditulis dan dibahas oleh ulama terdahulu. Oleh karena itu, kewajiban kita  adalah menyelesaikan masalah-masalah yang muncul pada saat ini dengan mengacu pada kaidah para ulama sebelumnya, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta’ala Meridhai mereka semua.

3. Membahas hukum-hukum yang tidak terdapat saat ini secara detail, seperti membuat contoh masalah-masalah perbudakan dalam jumlah yang besar, sehingga seolah-olah ilmu fikih dipenuhi dengan bab muamalah saja. demikian halnya membuat contoh timbangan dirham, penulisan ukuran takaran, timbangan dan jarak dengan istilah-istilah yang dapat kita samakan dengan istilah-istilah saat ini.

4. Apabila kaum muda bertanya kepada Anda tentang buku yang membahas akidah Islam secara ringkas, atau hukum-hukum ibadah, dengan metodologi yang selaras dengan akalnya, buku apa yang dapat Anda tunjukkan? Padahal, Anda tahu bahwa ia ingin mempelajari dan memahaminya dalam waktu singkat, karena begitulah cara ia belajar.

Saya tidak bermaksud meremehkan par ulama terdahulu. Tidak, sekali lagi tidak. Mudah-mudahan Allah Swt. membalas mereka dengan kebaikan karena melaksanakan perannya dengan baik. Mereka sudah menunaikan kewajiban untuk zamannya. Mereka telah menulis karya ilmiah yang sesuai dengan pemikiran-pemikiran di mana mereka hidup. Dan mereka juga telah meninggalkan warisan intelektual yang sarat dengan muatan hukum-hukum Islam yang terpercaya. Akan tetapi, maksud saya adalah untuk memotivasi para ulama kontemporer agar melayani agama sesuai dengan zaman mereka, dan menorehkan karya intelektual dengan metode yang dapat dicerna oleh akal dewasa ini, bukan dengan metode ulama-ulama klasik. Seorang alim yang berprofesi sebagai petani berkata, "Orang-orang sebelum kami telah menanam dan kami memakannya, sedangkan kami menanam agar dimakan oleh generasi setelah kami." 

Saya tidak menginginkan kita akan menjadi lingkaran (generasi) yang terlupakan dan tidak diketahui mata rantai masa-masa ilmu pengetahuan Islam. Anak cucu kita memahami sebagai generasi mandul yang tidak dapat berbuat apa-apa. Sebaliknya, mereka akan merindukan kenyataan di mana kita seperti lingkaran (generasi) kuat yang tersusun dari ilmu ulama-ulama salaf dengan gaya penyajian ulama-ulama khalaf.   

Komentar:
Benar sekali pendapat Imam Hasan Al-Banna di atas. Kita dapati dalam kitab-kitab klasik seperti Hadits Bukhari dan Hadits Muslim memuat hadits yang berulang disertai mata rantai perawi yang panjang. Sehingga semua itu tentu saja banyak memakan halaman buku. Kemudian para ulama kemudian seperti Imam Mundziri dan Imam Az-Zabidi meringkas dua kitab hadits itu. Yaitu dengan membuang hadits yang berulang dan memotong mata rantai perawi hingga sampai sahabat Nabi Saw. lalu Nabi Saw. Sehingga Kitab ringkasan ini benar-benar padat berisi dan hanya butuh satu jilid saja, misalnya dari sembilan jilid Kitab Hadits Bukhari. 

Kitab ringkasan ini sangat dibutuhkan oleh orang-orang masa kini khususnya orang-orang awam yang sibuk oleh pekerjaan namun sangat ingin mengetahui hadits Nabi. Kitab ringkasan ini sama sekali tidak mengurangi substansi hadits sehingga sangat layak untuk dijadikan rujukan dalam kehidupan sehari-hari. 

Menulis nama-nama perawi dalam sebuah tulisan keislaman yang bertujuan bukan dalam kajian ilmu hadits, menurut saya tidaklah perlu. Sehingga tulisan tersebut menjadi sangat membosankan. Apalagi bila banyak memuat hadits Nabi. Seolah kita hanya disuguhi nama-nama perawi hadits yang pada hakikatnya bukan pada tempatnya kita mengetahuinya. Bagi saya, para penulis cukup menulis penulis kitab haditsnya seperti HR. Bukhari, HR. Muslim, dan sebagainya. Kalaupun hadits yang dicantumkan dhaif, cukup kita katakan, misalnya HR. Thabrani ini dhaif. 

Maka, kita sangat membutuhkan buku-buku yang telah ditulis oleh ulama-ulama zaman dulu. Kita bersyukur para ulama khalaf berlomba-lomba menulis ringkasan dari kitab-kitab tersebut. Misalnya, Imam Ibnu Qudamah meringkas Kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin karya Imam Ibnu Al-Jauzy. Imam Al-Ghazali meringkas kitabnya sendiri, Ihya Ulumuddin. Said Hawwa juga telah meringkas kitab tersebut dengan judul Tazkiyatun Nafs. Dr. Nasib Ar-Rifa'i meringkas kitab Tafsir Ibnu Katsir. Dan sebagainya. Saya pikir para peringkas buku tersebut bukan ulama sembarangan. Mereka memang ahli dibidangnya. Lagi pula karya-karya ringkasan tersebut juga banyak di antaranya di tahqiq oleh para ulama lainnya, sehingga kitab-kitab ringkasan itu memang betul-betul diakui secara ilmiah. Jadi, jangan ragu bila kita merujuk pada kitab-kitab ringkasan. Insya Allah, kitab-kitab ringkasan itu tidak mengurangi esensi dari isi kitab aslinya. 

Kitab ringkasan akan sangat membantu kita membaca karya-karya ulama kita terdahulu yang tak terhitung banyaknya. Jika kita membaca kitab aslinya, maka kita tidak akan sanggup melakukannya disebabkan waktu yang pendek. 

Jadi, seorang penulis tema-tema keislaman di masa kini, hendaknya mempermudah bukannya memberatkan pembaca dengan istilah-istilah yang tidak mereka ketahui atau menyibukkan pembacanya pada hal-hal yang bukan substansi dari tulisan yang dibuat atau menyibukkan tentang apa yang tidak ada pada zaman sekarang.  

Senin, 04 Juni 2012

Bagaimana Caranya Agar Bisa Menulis

Ada seorang penulis pemula bertanya di sebuah forum. "Bagaimana caranya agar bisa menulis?" Begitu kira-kira pertanyaannya. Lalu di jawab oleh beberapa penulis senior. Di sini, saya ingin memberi penjelasan poin-poin penting yang disampaikan oleh beberapa penulis senior itu. Saya juga menambahkan beberapa poin dari yang yang sudah ada. Berikut ini cara agar bisa menulis:

Pertama, keyakinan berkreasi. Atau dengan kata lain, pede aja lagi. Kalau seorang penulis tidak mempunyai keyakinan dalam berkreasi maka dia akan kesulitan menghasilkan sebuah karya tulis. Biasanya mereka disandera oleh kata-kata, takut salah....takut ada yang mengkritik....takut ini dan takut itu yang sebenarnya hanya sebuah negatif thinking saja. Kalau dalam peperangan, belum apa-apa sudah kalah bertempur. Nah, penyakit tidak pede ini harus dihilangkan dan diganti dengan keyakinan penuh dalam berkreasi. Ingatlah bahwa Tuhan telah memberi kita kelebihan disamping kekurangan. Setiap orang berbeda-beda kelebihan dan kekurangannya. Setiap orang mempunyai spesifikasi tersendiri. Bahkan seorang anak kembar tidak identik kembar. Ada yang berbeda dari mereka. Jika kita selalu mengeluhkan kekurangan diri kita, itu tandanya kita tidak bersyukur kepada Allah. Oleh karena itu, menulislah dengan gaya yang ada dalam diri kita. Jangan pernah takut menerima kritikan orang. Ambil sisi positifnya guna menjadi cambuk untuk kita agar lebih baik lagi dalam menulis. Tentang poin ini, saya telah menulis artikel berjudul "Keyakinan Berkreasi".

Kedua, menulis, menulis, dan menulis.Mengapa seorang penulis disebut penulis? Karena mereka menulis. Menulis apa? Menulis apa yang mereka ketahui dan menulis apa yang mereka rasakan. Tulislah, pertama jangan terlalu memikirkan subjek tertentu. Coba tuliskan suara hatimu. Misalnya, "Kemarin aku melihat kecelakaan di jalan raya. Antara mobil dan motor. Aku melihat si pengendara motor terkapar dipinggir jalan dengan kepala berdarah. Orang-orang pun berbondong-bondong menyelematkannya. Ternyata di zaman sekarang masih ada orang yang punya sikap gotong royong pada sesama." dan bla bla bla. 

Ketika kita sudah masuk dalam alam menulis, kita akan menyatu dengan apa yang kita tulis. Awalnya mungkin sedikit susah, menulis apa ya? Tapi jangan pedulikan. Lanjut menulis! Sesungguhnya bisikan itu dari godaan setan yang terkutuk. Setelah mulai masuk ke alam menulis, mulai menulis satu-dua paragraf, kita akan mulai hanyut dalam dunia kita. Alam seolah berhenti bergerak, yang bergerak adalah kita! Alam diam, yang berbicara adalah kita! Sampai kita dapat menyelesaikan tulisan itu. Jangan pedulikan godaan untuk menyunting tulisan sebelum menyelesaikan tulisan itu. Karena hal itu hanya akan menghambat kreativitas kita dan mencerai beraikan kita dari alam kita. 

Setelah tulisan selesai kita buat, tinggal di baca lagi. Bisa beberapa kali. Kini kita memasuki dunia editing. Kita bisa menambah, mengurangi, dan memperbaiki tulisan kita. Hingga jadilah sebuah tulisan orsinil dari kita.Tapi jangan berlebihan untuk menyuntingnya hingga akhirnya tulisan itu tidak pernah terselesaikan. Kalau tidak punya ide untuk menyunting, lebih baik tulisan itu di endapkan dulu. Beri jeda agar pikiran kita fresh. Salah satu cara yang baik untuk menyunting tulisan adalah membacanya dengan suara keras. Biasanya irama tulisan yang sumbang akan terasa dengan cara seperti ini.  

Ketiga, publikasikan di blog. Setelah jadi sebuah tulisan, kalau sekiranya mau, publikasikan saja di blog. Mudah-mudahan saja akan banyak orang yang mengambil manfaat dari keberadaan tulisan kita. Artinya, pahala yang bisa kita dapatkan, mengalir terus untuk diri kita selama orang yang membaca tulisan kita merasakan manfaatnya. Dengan menulis di blog, dokumentasi tulisan kita nyata dan tersusun rapi. Karena asyik menulis, tidak terasa tulisan kita sudah sangat banyak; ratusan bahkan ribuan. Melihat tulisan-tulisan di blog biasanya akan menambah motivasi kita dalam menulis. Ternyata, kita adalah penulis produktif!

Keempat, belajar sambil jalan. "Saya belum pernah ikut pelatihan menulis, jadinya saya belum pernah menulis." Demikian kata seseorang yang bercita-cita ingin menjadi seorang penulis. Menurut saya, ini pemikiran yang salah. Seorang penulis tidak harus alumni pelatihan menulis. Kita bisa menulis kapan saja; hari ini atau esok tanpa harus ikut pelatihan menulis. Selama kita senang membaca, biasanya gaya bahasa si penulis buku atau si penulis artikel, akan kita tulis. Apalagi buku atau tulisan itu sangat kita sukai, sampai-sampai meresap ke dalam hati!! 

Kalau ingin bisa menulis, jangan tunggu harus ikut pelatihan menulis. Apalagi hanya ingin mengikuti pelatihan menulis yang berongkos mahal. Nunggu uangnya ada dulu. Atau beralasan karena tidak punya uang, tidak bisa menulis. Kalau tidak punya uang untuk ikut pelatihan, ya beli buku tentang menulis. Kalau masih juga tidak punya uang untuk beli buku, ya baca buku di perpustakaan atau pinjam sama teman. Menulis itu murah dan mudah.

Seiring bertambahnya ilmu dan wawasan atau belajar sambil jalan, biasanya tulisan kita akan semakin baik daripada tulisan yang kita buat sebelumnya. Silahkan membandingkan tulisan kita di waktu SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, hingga saat ini (kalau sudah lulus). Pasti perbedaannya sangat kentara. Betul, betul, betul?


Kelima, ngemil.Membuat tulisan yang panjang membutuhkan energi ekstra. Kadang membuat kita butuh istirahat.Atau semangat kita menurun. Tidak mengapa kita berhenti sejenak. Setelah itu lanjutkan lagi. Berhenti lagi. Lanjutkan lagi. Berhenti untuk membangkitkan kembali energi kita. Jika kita konsisten, sebuah tulisan yang panjang bisa kita buat. Imam Ibnu Jarir Ath-Thabari menulis kitab Tarikh-nya sebanyak 3000 halaman.Para ulama lain juga mampu menulis satu judul dengan tebal berjilid-jilid. Kita bisa saja seperti itu jika kita mau. Di mana ada kemauan di situ ada jalan.Tidak mungkin bagi mereka menghabiskan waktu hanya dalam sehari untuk menulis ribuan halaman itu. Tapi, mereka adalah penulis yang bersemangat sehingga mereka sangat produktif dalam berkarya.  

Nah, sahabat, demikianlah lima cara menulis. Di samping tulisan di atas, saya juga menulis tentang kiat menulis lainnya di rubrik menulis di blog ini. Mudah-mudahan tulisan-tulisan itu bermanfaat bagi para pembaca sekalian. 

Minggu, 20 Mei 2012

Mengapa Tidak Bisa Menulis?

Jika saya kehabisan ide untuk menulis, itu pertanda saya kurang dalam membaca. Maka, saya habiskan waktu saya dengan banyak membaca. Dari membaca, saya mendapatkan nutrisi baru sehingga saya dapat menulis kembali. Bila tiba masanya menulis, pasti saya bisa menulis. Bila belum, maka saya akan terus membaca.

Pada 1851, ahli filsafat Jerman, Arthur Schopenhauer menulis, “Membaca setara dengan pikiran menggunakan pikiran orang lain, bukan pikiran sendiri.” Dengan membaca, kita mampu menyelami pikiran orang lain dan menambahkan pemikiran serta pengalaman orang lain ke dalam pemikiran dan pengalaman kita sendiri.

Maka ketika kita selesai membaca, kita dapat membuat pertanyaan-pertanyaan. Pertanyaan tersebut kita catat dan bisa kita jawab sendiri berdasarkan pengetahuan yang kita miliki ditambah pengetahuan baru yang baru saja kita dapatkan. Dari sanalah muncul berbagai macam ide dan mendorong kita untuk dapat lebih maksimal dalam menulis. 




Jumat, 18 Mei 2012

Jangan Buang Tulisanmu!


Kadang setelah selesai menulis, saya melihat tulisan yang saya tulis itu buruk sekali sehingga saya tidak mempublikasikannya. Saya hanya bisa menyimpannya di lembaran-lembaran kertas atau di dalam file komputer saya. Tulisan itu jauh lebih banyak daripada tulisan yang saya publikasikan. Awalnya, saya berpikir, tulisan-tulisan itu tidak berguna sama sekali. Tetapi kemudian saya pertimbangkan untuk menyimpannya. Sayangnya sebagian ada yang hilang karena saya menganggapnya kurang bermanfaat. 

Di waktu senggang, saya membaca kembali tulisan itu, dan sel-sel otak kanan saya mulai mencari jaringan yang menghubungkan pada pengetahuan baru. Bila kondisi hati saya masuk ke dalamnya, saya merasa tulisan itu sangat layak untuk dikembangkan lagi. Akhirnya, tulisan yang tadinya satu atau dua halaman bisa menjadi tiga halaman. Atau bahkan lebih. Beberapa tulisan saya yang pernah dimuat di media cetak dan internet adalah tulisan yang saya simpan beberapa tahun sebelumnya. Luar biasanya, ketika saya memperbaikinya, tulisan itu langsung dimuat di sebuah surat kabar nasional. 

Dari pengalaman ini, saya kemudian menyimpulkan, janganlah memandang remeh tulisan yang kita buat sendiri. Karena gagasan yang ada di dalamnya sepenuhnya keluar dari dalam diri kita sendiri. Itulah jati diri kita. Itulah hakikat pengetahuan yang kita miliki. Tulisan itu tidak akan sama dengan tulisan orang lain dalam hal tata bahasanya. Jiwa kitalah yang memperidahnya. Jiwa kita akan menambah yang perlu atau mengurangi yang tidak perlu, atau bahkan kita mendapatkan gagasan lain diluar tulisan semula. Tulislah. Bila merasa kurang bagus, simpanlah! Bacalah tulisan itu diwaktu senggangmu. Libatkan dirimu ke dalamnya. Bila tulisan itu telah menyambung dalam jiwamu, maka ia akan datang memberikan sentuhan keindahan bagimu itu.  

Rabu, 02 Mei 2012

Tujuh Pendekar Pena Ikhwanul Muslimin

Umat Islam modern dianugerahi keberkahan dengan hadirnya jamaah Ikhwanul Muslimin.  Ketika umat Islam mulai mengendur semangatnya dalam memperjuangkan Islam, Ikhwanul Muslimin tampil dengan penuh semangat dan gagah berani. Jamaah ini membangunkan umat yang tertidur lelap dan menyadarkan mereka akan pentingnya melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh. Ikhwanul Muslimin dalam penelitian Dr. Ishaq Al-Husaini, peneliti dari Libanon, adalah organisasi Islam terbesar di dunia. Jama'ah ini memiliki cabang di hampir  negara walaupun kadang berbeda nama. Misalnya, An Nahdhah di Tunisia, Jamaah Al-Islah di Kuwait, Front Amal Islami di Yordania, PAS di Malaysia dan sebagainya. 

Dalam sejarahnya, Ikhwanul Muslimin melahirkan kader-kader handal dalam berbagai bidang. Imam Hasan Al-Banna walaupun sedikit menghasilkan karya tulis, mampu mengkader para penulis handal yang rela berkorban jiwa dan raga. Di antara mereka ada yang dipenjara, diusir dari negerinya, hingga dihukum mati. Meskipun di dalam penjara, misalnya Sayyid Quthb tetap menulis. Bahkan karyanya yang terkenal, Fizhilalil Qur'an draft ditulis di dalam penjara. Akal dan jiwanya terasa menyatu dalam karyanya itu. Sehingga beberapa ulama seperti Syaikh Manna Al-Qaththan dan Syaikh Aidh Al-Qarni memasukkan kitab itu dalam jajaran tafsir terbaik yang ditulis ulama kontemporer. 

Dalam tulisan ini, saya mencoba mengetengahkan tujuh pendekar pena paling terkenal dalam jamaah Ikhwanul Muslimin. Sengaja saya memberi judul "Pendekar Pena" mengingat pena-pena mereka ibarat senjata di medan jihad. Bahkan pena-pena mereka lebih tajam dari senjata itu sendiri. Berkat pena-pena merekalah mengantarkan mereka menuju kesyahidan. Sebagian lagi dipenjara dan dianiaya. Semoga Allah Swt. meridhai langkah saya ini. Semoga siapapun pembacanya mendapat suntikan semangat untuk terus berkarya, khususnya bagi mereka yang ingin memasuki dunia tulis-menulis.

Dr. Abdul Qadir Audah
Beliau adalah mantan hakim Mesir yang memilih bergabung dengan jamaah Ikhwanul Muslimin. Beliau diangkat menjadi wakil Mursyid Am. Beliau dikenal sebagai orator dan sarjana ilmu syariah yang mumpuni. 

Buku beliau yang terkenal At-Tasyri’ Al-Jina’i fil Islam Muqarrinan bil Qanun Al-Wadhi’ telah menjadi fenomena dan menciptakan perubahan yang besar pada pemikiran kaum intelektual di Mesir karena buku ini telah memperlihatkan keunggulan Undang-undang syariat atas undang-undang konvensional. Buku-buku yang beliau tulis menjadi rujukan para intelektual muslim kontemporer. Para mahasiswa syariah menjadikan karya-karya beliau sebagai rujukan  dalam menyusun skripsi, desertasi maupun tesis doktoral. 

Bersama Muhammad Farghali, Yusuf Thal’at, Ibrahim ath-Thib, Mahmud Abdul Lathif dan Handawi Duwair, beliau syahid (insya Allah) ditiang gantungan setelah membela yang haq melawan rezim diktator Gamal Abdun Naser.  

Karya-karya beliau yang lain, di antaranya: al-Islam wa Audha’una al-Qaanuniyah, al-Islam wa Audha’una as-Siayasiah, al-Islam baina Jahli abnaaihi wa ‘Ajzi Ulamaaihi, al-Maalu wa al-Hukmu fi al-Islam

Sayyid Quthb
Beliau dikenal sebagai pemikir Ikhwan nomer dua setelah Imam Hasan Al-Banna. Sebelum mengenal Ikhwan, beliau adalah sastrawan dan kritikus sastra jempolan. Karena prestasinya yang menonjol, pernah kuliah di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat justru beliau mendapat hidayah. Saya pernah mendengar penuturan langsung oleh almarhum KH. Rahmat Abdullah bahwa ketika terjadi pembunuhan Imam Hasan Al-Banna, rakyat Amerika Serikat bersuka cita dan merayakannya. Hal inilah yang mengantarkannya mengenal Harokah Ikhwan lebih dekat; siapa Hasan Al-Banna? Mengapa orang-orang kafir Amerika merayakan kematiannya? 

Beliau dianugerahi Allah pena yang tajam. Karyanya yang paling terkenal adalah Fizhilalil Qur'an, sebuah renungan terhadap Al-Qur'an sebanyak 11 jilid tebal. Karya ini layak diancungi jempol, selain karena bobot ilmiah dan nilai sastranya yang tinggi, juga karena sebagian besarnya ditulis di dalam penjara. Karya beliau ini telah banyak menyedot perhatian publik sehingga menjadi salah satu buku paling populer di Timur Tengah. 

Syaikh Khalil Al-Hamidi, sekretaris Al-Maududi, menceritakan, Tahun 1966, di Makkah Al-Mukarramah, tepatnya di Hotel Syabra, pemuda muslim Arab masuk menemui Ustadz Abul A'la Al-Maududi dan menyodorkan kepadanya buku Ma’alim fith Thariq karya Sayyid Quthb. Al-Maududi membaca buku tersebut semalam. Pagi harinya, ia berkata, "Sepertinya, saya sendiri yang menulis buku ini." Ustadz Al-Maududi heran melihat kedekatan pemikiran dirinya dengan pemikiran Sayyid Quthb. Beliau berkata, "Tidak perlu heran, karena sumber pemikiran Sayyid Quthb dan pemikiranku itu satu, yaitu Al-Qur`an dan Sunnah."

Karya-karya beliau yang lain adalah At-Thaswir Al-Fanni fil Qur`an, As-Salam Al-Alami wal Islam, Dirasat Islamiyah, Fit Tarikh Fikratun wa Minhaj, Al-Mustaqbal li Hadza Ad-Din, Al-Islam wa Musykilatul Hadharah, Al-Adalah Al-Ijtima’iyah fil Islam.

Dr. Musthafa As-Siba'i
Beliau adalah ulama Suriah ternama. Pendiri Fakultas Syariah Universitas Damaskus sekaligus juga Muraqib Am Ikhwanul Muslimin cabang Suriah. Beliau meraih gelar doktor dalam ilmu hadits di Universitas Al-Azhar dengan tesis yang berjudul "As-Sunnah wa Makanatuha fit Tasyri’ Al-Islami." Di dalam buku beliau ini terlihat kecintaan yang besar kepada Islam. Semangat beliau berkobar-kobar menghadapi para orientalis. Buku beliau ini menjadi pukulan keras terhadap para orientalis. Kebobrokan orientalis dan penyimpangan-penyimpangannya di bongkar habis sehingga terlihatlah mana yang haq dan mana yang batil. Tidak heran karena dianggap karya ilmiah yang berbobot, tokoh Islam Liberal Dr. Nurcholis Majid menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia.

Sehari sebelum wafat beliau menulis tiga buku yaitu Al-Ulama’ Al-Auliya’, Al-Ulama’ Al-Mujahidun, dan Al-Ulama Asy-Syuhada’. Semoga menjadi amal jariyah baginya atas karya yang ditulis sangat cepat ini.

Syaikh Sayyid Sabiq
Fikih Sunnah adalah karya beliau yang paling terkenal. Karya beliau ini bermula ketika beliau rutin menulis majalah Ikhwanul Muslimin. Beliau mengambil metode yang membuang jauh-jauh fanatisme madzhab tetapi tidak menjelek-jelekkannya. Ia berpegang kepada dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan Ijma’, mempermudah gaya bahasa tulisannya untuk pembaca, menghindari istilah-istilah yang runyam, tidak memperlebar dalam mengemukakan ta’lil (alasan-alasan hukum), lebih cenderung untuk memudahkan dan mempraktiskannya demi kepentingan umat agar mereka cinta agama dan menerimanya. Beliau juga antusias untuk menjelaskan hikmah dari pembebanan syari’at (taklif) dengan meneladani Al-Qur’an dalam memberikan alasan hukum.

Juz pertama dari kitab beliau yang terkenal “Fiqih Sunnah” diterbitkan pada tahun 40-an di abad 20. Ia merupakan sebuah risalah dalam ukuran kecil dan hanya memuat fiqih thaharah. Pada mukaddimahnya diberi sambutan oleh Imam Hasan Al-Banna yang memuji manhaj (metode) Sayyid Sabiq dalam penulisan, cara penyajian yang bagus dan upayanya agar orang mencintai bukunya. 

Setelah itu, Sayyid Sabiq terus menulis dan dalam waktu tertentu mengeluarkan juz yang sama ukurannya dengan yang pertama sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya hingga akhirnya berhasil diterbitkan 14 juz. Kemudian dijilid menjadi 3 juz besar. Belaiu terus mengarang bukunya itu hingga mencapai selama 20 tahun seperti yang dituturkan salah seorang muridnya, Syaikh Yusuf al-Qardhawi. 

Kita menyaksikan dalam buku Fikih Sunnah tampak kepakaran, kecerdasan, dan kejeniusan seorang Sayyid Sabiq. Tidak heran banyak ulama kontemporer menyarankan untuk mempelajari buku ini. Syaikh Muhammad Al-Ghazali menjuluki Syaikh Sayid Sabiq sebagai orang yang paling faqih di abad ini. Beliau menjadi tempat rujukan ulama-ulama besar termasuk Syaikh Mutawalli Sya’rawi. Bahkan saking populernya, Syaikh Nashiruddin Al-Albani merasa terpanggil untuk mentakhrij hadits-hadits yang ada di dalam kitab tersebut, sehingga kitab tersebut semakin berbobot di mata umat. Selain Fikih Sunnah 3 jilid, beliau juga menulis beberapa buku seperti Aqidah Islamiyah dan Islamuna.

Syaikh Muhammad Al-Ghazali
Beliau adalah ulama jebolan Al-Azhar. Orator ulung dan salah satu penulis paling fenomenal di Timur Tengah. Karya-karyanya indah mengalir, penuh semangat dan kecintaan kepada Islam dan umatnya. Karena kekejaman rezim diktator Mesir, selama belasan tahun beliau di penjara dan terpaksa harus hijrah ke beberapa negara di Timur Tengah. Beliau pernah mengajar di Universitas Islam Madinah, Universitas di Qatar, Aljazair, dan sebagainya. Di Madinah beliau banyak menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karya beliau yang berjudul Fikih Sirah -- menurut Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi -- ditulis di depan makam Rasulullah Saw. Setiap kali memulai menulis perjuangan agung Rasulullah, beliau selalu menangis. Karya beliau itu adalah gabungan dari keilmuan dan hatinya yang bersih. Fikih Sirah adalah salah satu kitab sejarah Nabi terbaik yang ditulis oleh ulama kontemporer. Dalam karyanya itu, beliau mengenalkan sejarah Nabi dalam sudut pandang Harokah. Ini adalah pendekatan baru dalam kajian Sirah Nabawiyah. 

Beliau adalah penulis produktif dalam Harokah Ikhwanul Muslimin. Karya-karyanya yang lain di antaranya: Akhlak Muslim, Jadid Hayatak, Studi Kritis Atas Hadits Nabi, Bagaimana Memahami Islam, Al-Ghazali Menjawab, Keprihatinan Seorang Juru Dakwah, Al-Qur'an Kitab Zaman Kita, Menghidupkan Kembali Ajaran Ruhani Islam.       

Syaikh Said Hawwa 
Beliau adalah ulama Suriah terkenal. Bersama Syaikh Musthafa As-Siba'i bahu membahu bekerja dalam amal jama'i Ikhwan. Kekejaman rezim memaksa hijrah ke Arab Saudi dan terakhir ke Yordania. Beliau adalah ulama yang ditakdirkan wafat di usia muda (53 tahun). Namun usia yang pendek itu beliau habiskan untuk berkarya. Buku-buku karya beliau banyak sekali dan rata-rata cukup tebal. Beliau berhasil menggabungkan dunia dakwah, harokah, dan tasawuf dalam satu bingkai yang indah. Perkataan beliau mengalir dengan deras dan lancar. Terlihat beliau sangat mahir dalam tulis-menulis. Buku-buku beliau menunjukkan pemahaman yang dalam tentang Islam dan wawasan yang luas tentang permasalahan umat. 

Di antara buku-buku beliau yang terkenal adalah 
Dibidang tarbiyah ruhiyah, beliau menulis trilogi buku: Tazkiyatun Nufus: Buku ini merupakan ringkasan Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Buku ini banyak dijadikan pegangan oleh banyak aktivis harokah. Tarbiyatunar Ruhiyah: Buku ini berhasil memadukan antara dunia dakwah, harokah, dan tasawuf. Boleh dikatakan buku ini menggambarkan pemikiran dan karakter beliau. Syarah Al-Hikam: Buku ini merupakan penjelasan nasehat-nasehat Imam Ibnu A'thaillah As-Sakandari yang terkenal itu.

Jundullah Tsaqaafatan wa Akhlaaqan: Beliau menyebutkan bahwa tsaqafah seorang muslim harus mencakup sebelas materi. Seorang da’i yang ulung seharusnya punya bekal yang cukup dari materi-materi ini. Materi-materi itu bisa diringkas menjadi sepuluh: ilmu Al-Qur`an, ilmu hadis, ilmu bahasa Arab, ilmu ushul fiqih, ilmu akidah, ilmu fiqih, ilmu akhlak, ilmu sejarah, ilmu tentang tiga pokok (Allah, rasul, dan Islam), dan ilmu fiqih dakwah. 

Tentang tiga pokok (Ushul Tsalaatsah) Sa'id menulis tiga buku: Allah Jalla Jalaaluhu, ar-Rasuul, dan al-Islam. Buku beliau yang lain Al-Asaas fit-Tafsiir (berdasarkan ide tentang kesatuan hubungan ayat-ayat Al-Qur'an; ide ini sendiri menurut Sa'id telah muncul sejak beliau duduk di SMU), Al-Asaas fis-Sunnah, Al-Asaas fi Qawaa'idil Ma'rifah (tentang ushul fiqih dan mantik), al-Madkhal ilaa Da'watil-Ikhwaan al-Muslimin, Min Ajli Khuthwah ilal Amaam 'ala Thariiqil-Jihaad al-Mubaarak, dan sebagainya.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi
Beliau adalah ulama senior ikhwan yang masih hidup hingga kini. Beliau adalah murid langsung Syaikh Sayyid Sabiq dan Syaikh Muhammad Al-Ghazali. Beliau adalah salah satu ulama ikhwan yang sangat produktif dalam menghasilkan karya tulis. Sudah ratusan buku beliau tulis, meliputi fikih, ushul fikih, dakwah, ekonomi Islam, hadits, dan ulumul qur'an. 

Buku beliau yang berjudul Fikih Zakat menurut Syaikh Abul A'la Maududi adalah buku terbaik di abad 20. Karya beliau yang lain yang banyak dijadikan rujukan seperti Halal dan Haram di dalam Islam, Bagaimana Memahami Sunnah Nabi, Berinteraksi dengan Al-Qur'an, Fikih Jihad, Fatwa-Fatwa Kontemporer (4 jilid), Fikih Shaum, Fikih Thaharah, Norma dan Etika Ekonomi Islam, Fikih Taysir, Fikih Prioritas, Fikih Daulah, Al-Ijtihad fi al-Shari'at al-Islamiah, dan sebagainya. 

Dengan kehadiran para penulis handal ini, Ikhwanul Muslimin dapat terus eksis. Bahkan dikemudian hari semakin membesar. Banyak orang yang terpengaruh padanya walaupun mereka bukan anggota atau aktivis Ikhwanul Muslimin. Mereka hadir sebagai pendukung-pendukung setia. Bahkan mereka sangat mencintai para aktivisnya. Saya percaya ketika tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin tampil di dunia, maka mereka akan hadir dibelakangnya; mendukungnya. Sebagai contoh ketika Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dihina dan akan ditangkap oleh Kepala Intelejen Uni Emirat Arab, maka para ulama dari berbagai negara tampil menjadi pembelanya dan mengkritik kebijakan Kepala Intelejen tersebut. Padahal mereka bukanlah anggota Ikhwanul Muslimin.

Ikhwah fillah, ingin rasanya saya menulis lebih banyak lagi tentang para penulis di atas dan penulis-penulis ikhwan lainnya, namun karena keterbatasan ilmu saya, maka saya mencukupkan pada ketujuh ulama di atas, dan itupun sangat ringkas. Tapi, bisa saya sebutkan sedikit para penulis Ikhwan lainnya yang saya ketahui seperti DR. Zaghlul Najjar (Beliau banyak menulis buku-buku yang berhubungan sains, Al-Qur'an dan As-Sunnah), dr. Najib Khailani (Beliau dokter yang sastrawan. Banyak mendapat penghargaan sastra berkat cerpen, novel, dan syair-syairnya), Dr. Abdullah Nashih Ulwan (Saya mengenalnya berkat karyanya yang bermutu; Tarbiyah Ruhiyah dan Pendidikan Anak dalam Islam 2 jilid), Syaikh Muhammad Quthb (Beliau adalah adik Asy-Syahid Sayyid Quthb.  Saya mengenalnya dalam buku yang ditulisnya Jahiliyah Abad 20, Salah Paham terhadap Islam, Al-Insan Baina al-Maddiyah wa al-Islam, Dirasah fi al-Nafsi al-Basyariyah. Seperti kakaknya, beliau adalah salah satu penulis produktif dan cukup mahir menuangkan kata-kata dalam bentuk tulisan. Di karya-karya beliau terlihat beliau sangat memahami dunia sosiologi dan psikologi). 

Akhirnya, para ulama itu telah mengobarkan semangat saya untuk eksis menulis sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Semoga Allah merahmati mereka dan semoga pahala terus tercurah kepada mereka berkat karya-karya mereka itu.