Rabu, 18 Juli 2012

Syarat Meraih Pertolongan Allah


DR. Majdi Al-Hilali dalam tulisannya yang berjudul “Syarat meraih pertolongan Allah” menjelaskan makna ayat "Hai orang-orang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad: 7) "Sesungguhnya Allah pasti menolong orang-orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (QS. Al Haj: 40)

Lalu, bagaimana cara kaum muslimin membela dan menolong agama Allah agar dia memperoleh pertolongan Allah? DR. Majdi mengaitkan ayat di atas dengan ayat berikut ini: “Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan pada diri suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar Rad: 11) Lalu DR. Majdi menjelaskan maknanya: Allah menuntut kaum muslimin untuk membela agama-Nya dengan cara mengalahkan dirinya sendiri.

Dengan mengalahkan belenggu nafsunya, seorang muslim berhak dan layak menggapai pertolongan-Nya. Inilah bekal untuk mengalahkan musuh-musuh Islam, sehingga pantas sekiranya kelak ia diberi keteguhan kedudukan di muka bumi. Jika demikian, wahai sahabatku, marilah kita memperbaiki kualitas diri kita. karena dari sanalah pertolongan Allah itu bermula. 

Ketika kita bersemangat dan terus berusaha memperbaiki diri, maka pertolongan Allah akan datang menjumpai kita. Ketika shalat kita lebih baik daripada sebelumnya, pertolongan itu akan datang. Begitupun ketika amal-amal ibadah yang kita lakukan semakin baik dari waktu ke waktu, pertolongan itu semakin terasa.

Ketika pertolongan itu datang, tidak akan ada yang dapat mencegahnya meskipun seluruh makhluk bersatu untuk mencegahnya. Tidak akan ada yang sanggup menghinakan ketika Allah sudah membuatnya mulia. Maka mulai saat ini marilah kita bersemangat memperbaiki diri agar pertolongan itu datang kepada kita.

Senin, 16 Juli 2012

Pilar-Pilar Kemenangan

Sahabat-sahabat yang baik, janganlah terlalu memikirkan kekalahan yang kita alami, tetapi pikirkanlah bagaimana kita bangkit dari kekalahan.

Sahabat, rahasia kemenangan bukan hanya kemenangan itu sendiri tetapi apakah kemenangan itu membawa kita pada taqarrub kepada Allah atau tidak. Buktinya, Allah justru memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk bertasbih, bertahmid, dan beristighfar meskipun pada saat itu Nabi dan kaum muslimin berhasil merebut Makkah dari tangan kafir Quraisy.

Saat kaum muslimin berhasil memenangkan pertempuran, justru Abu Darda Ra. menangis. Mengapa beliau menangis? Beliau mengatakan, yang ditakutkan bukanlah serbuan orang-orang kafir. Justru yang ditakutkan adalah ketika kaum muslimin terpesona dengan harta duniawi sehingga yang dipikirkan kemudian masalah duniawi ansich, dan ukhrowi pada akhirnya sedikit demi sedikit tercerabut dari akar dirinya.


Saya bertanya kepada seorang Ust. yang saya kenal baik karena ibadah dan akhlaknya, saya melihat telah terjadi kekalahan partai dakwah di beberapa kota besar di jakarta dan sekitarnya. sedangkan di daerah-daerah di Sumatera dan Sulawesi justru sebaliknya, kader solid dan banyak yang menang. Sebenarnya, apa yang terjadi? Ustadz menjawab singkat, telah terjadi dho'fur ruhiyah (lemahnya ruhiyah). Masya Allah nasehat singkat ustadz begitu menyentuh hati saya. Rasanya diri ini ingin menangis. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami.


Rasulullah, para sahabat dan para mujahid-Nya adalah orang-orang yang mempersiapkan ruhaninya sebelum bertempur. Tidak heran bila kita temukan sejarah bahwa banyak sekali peperangan menunjukkan betapa kuatnya ruhiyah Rasulullah. Mari kita tingkatkan amaliah yaumiyah kita apalagi menjelang puasa ini.

Syariat dan Kejayaan Islam

Jika kita rajin membaca kisah-kisah tentang mualaf, akan kita temukan fakta bahwa penyebab mereka masuk Islam dikarenakan mereka menyaksikan umat islam menjalankan syariat Islam bukan karena keliberalannya. Ada yang masuk Islam ketika mendengar suara azan, ada yang melihat rapi dan teraturnya umat islam dalam shalat, ada yang tertarik ketika menyaksikan muslim yang sering berdoa, ada yang tertarik dengan ajaran tauhid, dan sebagainya.

Para mualaf itu melihat Islam berbeda dari agama yang sebelumnya mereka anut. Dan perbedaan itu membuat mereka tertarik dan terkesima. Hal ini menunjukkan bahwa kejayaan dan kemajuan Islam bukan disebabkan oleh menjadi sama dengan orang Barat atau menjadi liberal, tetapi bagaimana kita menjalankan syariat dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan. 

Minggu, 15 Juli 2012

Jangan Hanya Bisa Menuntut

Salah satu perbedaan yang nyata antara umat Islam dan Yahudi adalah: Bila umat Islam memberi, sedangkan Yahudi justru malah meminta. Umat Yahudi berkata kepada Nabi Musa, "Hai Musa, kami tidak bisa sabar dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang ditumbuhkan bumi..." (QS.. 2: 61)

Sedangkan umat Islam dalam perang Khandaq misalnya, tetap berjihad meskipun mereka dalam kondisi sulit dan kelaparan. Bahkan di antara mereka ada yang memberikan makanan yang seharusnya untuk memenuhi kebutuhannya. Di zaman ini sebagian orang banyak menuntut orang lain tetapi dia sendiri tidak pernah memberi. Saya khawatir orang seperti ini akan "ditimpakan kepada mereka nista & kehinaan" seperti yang terjadi pada kaum Yahudi.

Kiat Membina Keluarga yang Harmonis dan Langgeng

‎"Jika kamu tidak menyukai mereka (istrimu), maka bersabarlah karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya." (QS.. 4: 19) Penggalan ayat ini menyedot perhatianku sehingga membuatku merenungkannya. Seringkali terjadi perselisihan di antara suami istri karena masing-masing pihak merasa tidak ada kebaikan sedikitpun pada pasangan hidupnya, sehingga yang muncul adalah kebencian.

Ternyata kiatnya sederhana: sabar dan ingat-ingatlah kebaikan istrimu yang pernah dia lakukan untukmu, ingat-ingatlah kelebihan yang ada padanya. Tutuplah sejenak segala kekurangannya karena cukup sudah bagimu atas kemarahanmu itu kepadanya. Ya Allah, ampunilah dosa kami dan berikanlah kami kesabaran. Jadikan kami keluarga yang sakinah mawaddah warrahmah.

Kamis, 12 Juli 2012

Mubahalah? Why Not?!

Seorang kafirun menulis tentang mubahalah dirinya dengan seorang muslim. Memang sudah sejak lama orang kafir ini menghina Islam. Sehingga tidak heran bila ada yang mengajaknya untuk bermubahalah.

Beberapa waktu setelah acara mubahalah itu di internet. Orang kafir ini mengirim email kepada muslim itu. Sekali dikirim tidak ada jawaban. Dua kali dikirim tidak ada juga. Hingga kemudian dia mengirim email berikutnya tidak ada jawaban. Lalu dia berkesimpulan, mungkin muslim itu sudah mati duluan. Artinya, muslim itu tertimpa mubahalah yang diucapkannya sendiri. Menurut orang kafir ini, pengertian mubahalah adalah siapa yang mati duluan maka dialah yang salah. Padahal belum tentu muslim itu mati.

Benarkah pendapat orang kafir itu tentang mubahalah? Disini saya mencoba sedikit menjelaskan tentang definisi mubahalah berikut contoh-contohnya mubahalah yang pernah terjadi dalam sejarah.

Definisi Mubahalah
Mubahalah terdiri dari akar kata Al-BaAl-Ha, dan Al-Lam atau Al-Bahlu yang maknanya Al-La'nu (laknat), "Bahalahullah Bahlan", maknanya: Allah telah melaknatnya dengan laknat. "Wa'alaihi Bahlatullah" maknanya: Dan atasnya laknat Allah. Dan orang yang melaknat suatu kaum, sebagian mereka dengan sebagian yang lain, dikatakan mereka saling bermubahalah apabila mereka saling melaknat. Karena itu, Al-Mubahalah maknanya Al-Mula'anah (saling melaknat).

Sampai disini dapat kita lihat, apakah buah dari mubahalah itu orang yang bersalah akan mati  duluan? Belum tentu. Oleh karena itu, kita harus mengetahui definisi laknat itu seperti apa. Pernah dengar setan itu dilaknat atau dikutuk oleh Allah? Ya, kita sering membacanya lewat bacaan taawudz, apakah itu berarti setan itu mati? Ternyata setan masih ada padahal dimana-mana orang sudah melaknat setan. Hanya saja pengaruh dari bacaan itu setidaknya dapat memperkecil bisikan setan pada diri kita. Terlebih-lebih bila setan sudah kesulitan menggoda kita. Hal ini sangat bergantung pada kekuatan iman yang ada dalam diri kita. 

Orang yang mendapat laknat artinya orang yang tidak mendapat rahmat. Dunia yang lapang ini akan terasa sempit baginya. Penderitaan demi penderitaan dan kesedihan demi kesedihan akan menjeratnya sehingga pada akhirnya berputus asa karena laknat itu. Biasanya setelah mendapat laknat itu, pengaruh orang yang bersangkutan akan berkurang bahkan semakin habis. Dia tidak lagi dihormati seolah ada sekat antara dirinya dengan masyarakat. 

Menurut saya, kematian lebih awal seseorang bukan jaminan orang tersebut dilaknat. Tetapi yang lebih penting adalah apakah kematian itu husnul khatimah atau su'ul khatimah. Misalnya jika orang tersebut mati tatkala sedang beribadah, masak disebut mati su'ul khatimah? Orang-orang zalim itu mati secara menyedihkan. Misalnya Mirza Ghulam Ahmad mati di wc dan terserang kolera. Hamzah Basyuni mati tertusuk besi. Al-Hajjaj menjelang kematiannya tubuhnya dipenuhi bisul. Hasan Syahatah yang menderita sakit keras di dalam penjara. Dan sebagainya.  

Acara mubahalah antara Husein Alattas VS Haidar Bawazir


Hukum Mubahalah
Hukumnya adalah al-jawaz atau diperbolehkan dan disyariatkan ketika tampak kejelasan hujjah atas orang yang membantah, dan nampak jelas rusaknya tuduhannya . Apabila tidak mengakui dan tidak mau ikut, maka boleh mengajaknya kepada mubahalah.

Gambaran pelaksanaan mubahalah seperti yang terjadi pada zaman Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. mengajak anak dan cucunya untuk menghadiri mubahalah melawan orang Yahudi Najran. Kehadiran anak dan cucu beliau seolah ingin menegaskan bila beliau salah maka laknat juga akan menimpa anak dan cucu beliau ini. Hal ini semakin membuat gentar orang-orang Yahudi sehingga mereka tidak menerima ajakan mubahalah tersebut. Karena pada hakikatnya mereka sudah mengetahui bahwa Muhammad adalah seorang Nabi dan Rasul. Jika saja orang Yahudi itu menyanggupi tantangan itu, niscaya mereka semua akan musnah dari muka bumi ini. 

Al-Khotib Al-Baghdadi telah meriwayatkan sebuah atsar yang sanadnya sampai kepada Ibnu Abbas Ra., dia berkata, "Aku sangat menyayangkan orang-orang yang membantahku dalam sebuah perkara yang telah diijmakan, di mana hal itu di sisi kami merupakan hal yang diwajibkan. Kemudian kami mengajak mereka (yang membantah) untuk bermubahalah, lalu kami bermubahalah hingga laknat Allah menimpa orang-orang yang mendustakan." (Al-Faqih wal Mutafaqqih, 2/ 63)

Imam Al-Auza'iy mengajak sebagian ahli ilmu untuk bermula'anah di rukun (di dekat Hajar Aswad) siapa di antara kita di atas kebenaran dalam hal pengambilan dalil atas sebagian perkara-perkara furu' (Mahasinul Masa'iy fi Manaqib Al-Auza'iy, 69-72)

Syaikhul Islam ibnu Taimiyyah -rahimahullah- telah mengajak para syaikh Al-Mutho’ihiyyah -sebuah kelompok suffiyyah- untuk bermubahalah dalam perkara-perkara yang besar (dalam dien) yang telah diketahui. Lihat Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyyah 11/445-475. Gambaran dari mubahalah ini dapat dilihat di topik: “Munadloroh Ibnu Taimiyyah Lithifati Rifa’iyyah”.

Al Hafidz Ibnu Hajar -rahimahullah- pernah bermubahalah dengan sebagian pengikut Ibnu Arobiy. Lihat di Mushori’ At Tashuf, karya Al-Baqo’iy, 149-150. Al Alusiy juga menyebutkannya dalam kitab Ghoyatul Amaniy, 2/374. Dan Al Hafidz juga menceritakan hal itu dalam kitab beliau Fathul Bariy (Syarah Shahih Bukhoriy)

Imam Ibnul Qayyim -rahimahullah- telah berkata, dan dia menyebutkan faidah-faidah dari kisah utusan raja dari Najran. Dari kisah tersebut ada sunnah di dalam membantah pelaku kebathilan, apabila telah tegak atas mereka hujjah Allah dan mereka tidak mau menerima (rujuk), bahkan mereka bersikukuh dalam penolakannya, maka ajaklah mereka untuk mubahalah, karena sungguh Allah telah memerintahkan hal ini, demikian juga Rasul-Nya. Allah ta’ala tidak berfirman (kepada Rasul-Nya) : “Sesungguhnya hal ini (mubahalah) tidak berlaku untuk umatmu setelahmu”.

Anak paman Abdullah bin Abbas juga menyerukan hal ini ketika ada orang yang mengingkari sebagian masalah-masalah furu’. Dan para shahabat-shahabat lain tidak mengingkarinya. Demikian juga Imam Al Auza’iy menyerukan kepada hal ini dan tidak mengingkarinya… Dan ini adalah hujjah yang sempurna (dalam sunnah mubahalah”. (Zadul Ma’ad, Imam Ibnul Qayyim, 3/643).

Al Hafidz Ibnu Hajar -rahimahullah- berkata dalam mengambil manfaat kisah mubahalahnya (terhadap para pengikut Ibnu Arobiy): “Dan kisah tersebut di dalamnya ada tuntutan syari’at untuk melakukan mubahalah terhadap orang-orang yang menyelisihi (al haq) apabila mereka tetap bersikukuh setelah disampaikan hujjah. Ibnu Abbas telah menyampaikan hal ini, juga Imam Al-Auza’iy, serta disepakati oleh para ulama. Demikian juga dari pengalaman, bahwa siapa yang ikut bermubahalah dan dia ada pada posisi kebathilan, maka tidak lewat atasnya satu tahun dari hari ketika ia ikut mubahalah (ia terkena laknat). Hal itu didapati pada seseorang yang cenderung pada sebagian orang kafir, maka ia tidak bisa selamat (dari laknat) setelah mubahalah kecuali hanya dua bulan”. (Fathul Bariy, 8/95).

Contoh yang lain di era modern ini misalnya, mubahalah antara Diki Chandra VS Ustadzah Irena Handono, mubahalah antara Husein Alattas VS Haidar Bawazir, mubahalah antara Yasir Al-Habib VS Syaikh Muhammad al-Kus. Di Indonesia, pada tahun 1930-an, A Hassan, tokoh Persatuan Islam (Persis) juga pernah menantang kelompok Ahmadiyah untuk bermubahalah. Namun tantangan mubahalah itu tak pernah berani dilakukan oleh Ahmadiyah sampai saat ini. Meski begitu, nabi palsu yang juga pentolan Ahmadiyah Mirza Ghulam Ahmad pernah melakukan mubahalah yang berakibat pada tewasnya Mirza Ghulam Ahmad dalam keadaan sakit parah di tempat buang hajat. 

Kesimpulan
Dari keterangan di atas saya mendapat kesimpulan bahwa acara mubahalah itu kedua belah pihak harus hadir bertatap muka dan kemudian keduanya saling melaknat. Apakah bisa mubahalah via internet dengan tulisan? Maaf, saya belum tahu tentang keabsahan masalah ini. Tetapi jika mengacu pada Sirah Nabawiyah, maka prosesi acara mubahalah harus mempertemukan dua pihak. Mungkin bisa saja via teleconfrence, menggunakan skype, atau YM. Yang penting wujudnya ada. Karena kalau tulisan, siapa tahu orang kafir itu tidak sendirian. Bisa jadi si penulis mubahalah sudah mati duluan. Kemudian diteruskan oleh kawannya. Kalau orang kafir itu berasumsi terhadap muslim sebagaimana yang telah saya sebutkan di atas. Saya boleh dong berasumsi seperti ini. Toh, keduanya sama-sama ghoib. Wallahu a'lam bish shawab.  

Senin, 09 Juli 2012

Bangsa Paling Keji itu Bernama Israel

Israel memang biadab. Mereka melakukan berbagai cara untuk menyingkirkan musuh-musuhnya. Mereka adalah negara yang kebal terhadap hukum internasional. Buktinya banyak kejadian yang berhubungan dengan tindak kriminal dan konspirasi mereka, tetapi dunia seolah tidak berkutik. Mereka seolah ketakutan bila dituduh anti-semit. 

Mereka yang memusuhi Israel dapat berakibat fatal. Contohnya adalah Raja Faishal, Syaikh Ahmad Yasin, Abdul Aziz Ar-Rantisi, dan terakhir Yasser Arafat. Keempat tokoh di atas adalah sedikit contoh tokoh-tokoh yang wafat karena kebiadaban Israel. 

Baru-baru ini saya membaca berita bahwa Israel akan memata-matai Presiden Mesir terpilih, DR. Muhammad Mursi. Pihak Israel merasa cemas dengan kemenangan DR. Mursi karena bagi mereka kemenangan itu berarti sebuah kemunduran.

SitusMukhtasar Ikhbari seperti dikutip InfoPalestina, Ahad (8/7), mengungkapkan bahwa pemerintah Israel menyiapkan "Operasi Bulan Sabit Hijau." Operasi intelijen yang dibuat badan intelijen Israel Mossad itu bertujuan untuk mengawasi seluruh gerak gerik Mursi. Bahkan, operasi khusus itu akan bekerja sama dengan Matsada yang selama ini memiliki tugas dalam melakukan pembunuhan terhadap tokoh-tokoh tertentu yang dianggap mengancam keamanan Israel.

"Operasi Bulan Sabit Hijau" bertugas mengumpulkan informasi tentang Mursi mulai dari makanan, minuman, jumlah jam tangan, perilaku tidur, bangun, di mana duduk, tidur, siapa teman dekatnya, kondisi fisik dan psikologis, kapan marah, tertawa, senang. Operasi itu juga mengumpulkan informasi masa lalu termasuk masa kanak-kanaknya, pertumbuhannya, kerabatnya, pengetahuannya, tetangganya, jenis handphone yang digunakan, apakah teknisi keamanan istana membuat pengamanan bagi telepon Mursi hingga detail setiap tempat pertemuan dan tempat tinggal presiden.

Unit Operasi dan Rekrutmen Agensi di Mossad dikabarkan telah menyiapkan file Muhammad Mursi. Selama ini unit tersebut bertanggungjawab melakukan operasi mata-mata di seluruh negara dunia dengan berbagai biro dan berkedok hubungan diplomasi tidak resmi. 

Selain memata-matai Mursi, "Operasi Bulan Sabit Hijau" juga mengawasi tim kerja politiknya. Dalam memudahkan kerjanya, unit itu akan merekrut warga Mesir yang punya pengaruh yang dekat presiden untuk memberikan informasi yang bisa disadap.

Operasi yang difasilitasi teknologi komunikasi super canggih oleh Mossad itu memiliki empat target utama. Yakni sedini mungkin menghimpun informasi perkembangan hubungan Mesir di bawah Mursi dan gerakan Hamas Palestina. Kedua, perkembangan hubungan Mesir – Iran. Ketiga, perkembangan hubungan Mesir – Turki. Keempat, pola hubungan presiden dan dewan miiter beserta dinamikanya, termasuk perkembangan perjanjian Camp David. 

Akan berhasilkah rencana Mossad yang telah bocor ke media itu? Jika rencana itu benar, agaknya akan terjadi pertarungan sengit antara Mossad dengan Ikhwanul Muslimin yang juga dikenal sebagai pergerakan Islam yang sangat rapi dan paling terorganisir. http://www.bersamadakwah.com/2012/07/mursi-jadi-presiden-israel-siapkan.html

Kebiadaban ini sudah begitu jelas terpampang. Oleh karena itu, bangsa Israel tidak hanya ditekan untuk menghentikan kekerasan yang dia lakukan, tetapi juga kita harus mengusirnya dari tanah Palestina sebagaimana Rasulullah Saw. juga mengusir Yahudi dari Khaibar.