Minggu, 30 September 2012

Sudah Mati Hidup Kembali (2)


Abu Sabrah an-Nakha'i mengatakan ada seorang muslim yang melakukan perjalanan dari Yaman dengan seekor keledai. Ketika berada di tengah perjalanan, keledainya mati. Kemudian dia pergi wudhu dan shalat. Setelah itu, dia berdoa kepada Allah, "Ya Allah, aku datang dari Dafinah untuk berjihad di jalan-Mu dalam mencari keridhan-Mu, sedangkan aku bersaksi bahwa Engkau Maha Menghidupkan yang mati serta Maha Membangkitkan orang yang dikubur. Janganlah Engkau jadikan makhluk apa pun yang akan menolongku pada hari ini. Aku mohon kepada-Mu untuk menghidupkan keledaiku." Maka keledai itu pun berdiri sambil menggerakkan telinganya.

Peristiwa ini dikisahkan lagi oleh al-Hafidz Ibnu Abid Dunya dari periwayat yang lain dalam kitabnya: Yang Hidup Sesudah Mati. Dalam buku itu disebutkan bahwa laki-laki tersebut kembali memberi pelana keledainya dan mencambuknya kemudian mengendarainya. Dia pun kembali bertemu dengan para temannya, lalu mereka bertanya, "Bagaimana keadaanmu?" Dia menjawab, "Allah telah menghidupkan kembali keledaiku." Asy-Sya'by berkata, "Aku menyaksikan keledai itu sudah dijual atau sedang dijual di Kufah."

Sahabatku, apa yang sulit bagi Allah untuk mengabulkan doa hamba-Nya, meskipun doa itu terdengar "aneh" atau "sulit" dikabulkan-Nya? Seringkali kita menganggap mustahil bagi Allah seperti anggapan kita tentang kemustahilan makhluk-Nya. Padahal berburuk sangka kepada Allah adalah salah satu penyebab terhalangnya doa dari kita. Sesungguhnya menghidupkan dan mematikan makhluk adalah pekerjaan yang mudah bagi Allah. Tidak masalah berdoa seperti yang dilakukan seorang muslim dalam kisah di atas. Sedangkan masalah pengabulan itu bukan wewenang kita. Jika pengabulan doa itu adalah kebaikan untuk kita, niscaya Allah akan segera mengabulkannya. Jika tidak, Allah mempunyai rencana yang paling baik bagi hamba-Nya yang bersabar dan berserah diri. 

Jangan Khawatir, Allah Maha Melihat


Suatu waktu Hatim al-Asham berkata kepada anak-anaknya, "Saya bermaksud melaksanakan ibadah haji." Anak-anaknya menangis dan berkata, "Siapa yang akan menanggung makan kami?" Saat itu Hatim al-Asham mempunyai seorang anak perempuan. Anak perempuannya berkata, "Biarkanlah bapak pergi. Toh, ia bukan pemberi rezeki!" Maka Hatim berangkat. Sampai larut malam anak-anak Hatim kelaparan. Mereka tidak henti-hentinya mencerca dan menyalahkan anak perempuan tersebut. Si anak perempuan berdoa, "Ya Allah, janganlah engkau menjadikanku cemoohan mereka!"

Dalam saat yang sama seorang gubernur lewat ke rumah mereka. Gubernur berkata kepada sebagian orang yang menemaninya, "Tolong carikan air!" Keluarga Hatim menyuguhkan sebuah kendi baru yang berisi air yang dingin. Sang gubernur meminumnya dan berkata, "Rumah ini milik siapa?" Para pengawalnya berkata, "Ini rumah Hatim al-Asham." Sang gubernur memasukkan seikat emas ke dalam kendi bekas air dan beliau berkata, "Orang yang mencintaiku pasti mengikutiku." Maka pasukan pengawal sang gubernur ikut serta memasukkan beberapa keping uang ke dalam kendi.

Setelah gubernur dan pengawalnya pergi, anak perempuan Hatim menangis. Ibunya berkata, "Kenapa engkau menangis? Bukankah Allah telah memberi rezeki yang banyak kepada kita?" Ia menjawab, "Makhluk saja yang melihat kepada kita memberikan bantuan kecukupan, bagaimana jika Allah melihat kepada kita?"

Benarlah apa yang dikatakan anak perempuan Hatim di atas. Sesungguhnya Allah lebih sayang kepada makhluknya daripada kasih sayang yang ditunjukkan makhluk-Nya kepada makhluk-Nya yang lain. Jika manusia memberikan emas permata, sesungguhnya Allah memberikan kepada kita udara yang dapat membuat kita tetap hidup, akal yang dapat membuat kita berpikir, hati yang dapat membuat kita merasa, seluruh indera yang kita miliki, dan doa-doa yang dikabulkan-Nya, tetapi seringkali kita tidak menyadarinya.

Jika kita mengatakan kepada seseorang, "Tolonglah saya. Saya belum makan. Saya lapar dan kehausan." Lalu orang tersebut menolong kita. Lalu, bagaimana dengan Allah? Bukankah Dia Maha Mengetahui, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Berkehendak atas segala sesuatu?

Jumat, 28 September 2012

Resensi Mufassir: Al-Qur’an, Terjemah, dan Tafsir


Harga: 145.000

Sebuah kenikmatan bagi orang-orang yang beriman untuk terus mengkaji Al-Qur’an. Bukan saja mengambil manfaat dari sisi ilmu ansich tetapi yang terpenting adalah berkobarnya perasaan positif dalam hati. Maka, sebaik-baik mengkaji Al-Qur’an adalah dengan menghujamkan keimanan kita terhadapnya dalam hati kita. Sehingga jasad ini kemudian tergerak untuk mengamalkan pesan-pesan yang ada di dalamnya.

Al-Qur’an Mufassir ini sangat membantu saya untuk merenungkan ayat per ayat secara singkat dan padat berdasarkan karya mufassir yang mutabar. Saya dengan mudah mengambil manfaat darinya untuk kehidupan sehari-hari saya. Saya memiliki beberapa jenis Al-Qur’an mulai dari perkata hingga tafsir. Tapi Al-Qur’an ini memiliki keistimewaan yang tidak ada dalam Al-Qur’an yang sudah ada sebelumnya. Keunikan yang paling istimewa adalah mushaf ini memuat tafsir Al-Qur’an hanya dalam satu jilid saja. Yang saya tahu, ringkasan tafsir Ibnu Katsir saja terdiri dari empat jilid. Cukup berat juga bila dibaca oleh orang yang baru memulai mengenal isi Al-Qur’an atau oleh orang yang disibukkan oleh pekerjaan lain tetapi tetap ingin mengkaji Al-Qur’an.


Contoh isi Mufassir 

Mushaf ini merujuk pada enam kitab tafsir ternama yang menjadi rujukan ulama dan umat sejak dahulu kala. Tafsir pertama diambil dari karya Imam Ath-Thabari. Beliau adalah ahli tafsir, ahli hadits dan sejarawan. Karyanya yang bercorak bil ma’tsur ini kemudian banyak dirujuk oleh ahli-ahli tafsir setelahnya seperti Imam Al-Qurthubi dan Imam Ibnu Katsir. Menurut Imam As-Suyuthi, kitab Tafsir Ath-Thabari adalah tafsir paling besar dan luas. Sementara Imam Nawawi mengatakan, “Umat telah sepakat bahwa belum pernah ada kitab tafsir yang sekaliber karya Ath-Thabari ini.”

Kedua, Imam Al-Qurthubi. Ahli tafsir ini adalah salah satu ulama terbesar yang pernah lahir di tanah Andalusia Spanyol. Selain ahli tafsir, beliau juga dikenal sebagai ahli fikih yang sangat mewarnai corak dari tafsirnya.

Ketiga, Imam Ibnu Katsir. Tafsir beliau memiliki corak yang hampir sama dengan tafsir Ath-Thabari, yaitu bil ma’tsur. Tafsir Ibnu Katsir adalah salah satu tafsir bil ma’tsur yang paling terkenal yang pernah ditulis. Keempat, Imam Jalalain. Tafsir ini merupakan karya dua orang ulama, yaitu Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Tafsir ini banyak dipakai di pesantren-pesantren. Tafsir ini ringkas dan padat karena tidak banyak mengetengahkan riwayat-riwayat. Tapi tampaknya tafsir ini banyak merujuk pada tafsir-tafsir mutabar (terkenal) sehingga sangat layak untuk dijadikan rujukan.

Kelima dan Keenam, Imam Bukhari dan Imam Muslim. Tafsir jenis ini hanya memuat hadits-hadits shahih yang disandarkan pada hadits Bukhari dan Muslim.

Selain merujuk pada enam kitab tafsir itu, juga merujuk pada Asbabun Nuzul karya Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Karya ini sudah diakui oleh banyak ulama dan merupakan Kitab terbaik yang pernah ditulis tentang sebab-sebab turunnya ayat. Oleh karena itu, kitab ini tampaknya tidak boleh terlewatkan bagi mereka yang ingin mengetahui sebab-turunnya Al-Qur’an.

Al-Qur’an Mufassir sangat membantu saya memahami makna ayat dengan cara mudah dan ringkas dan sangat cocok bagi saya yang awam.

Rabu, 26 September 2012

Meraih Kesuksesan Ala Orang Beriman


“Jika engkau melihat manusia berlomba-lomba dalam masalah dunia, maka saingilah mereka dalam masalah akhirat. Karena sesungguhnya dunia mereka akan hilang sedangkan akhiratmu akan kekal.” (Imam Hasan Al-Bashri)

Bagaimana engkau dapat meraih kemajuan sementara engkau sendiri jauh dari Allah, meninggalkan segala perintahnya dan berbuat maksiat kepada-Nya dan kepada makhluk ciptaan-Nya? Engkau berpikir ala orang sekuler. Mereka maju tanpa shalat, tanpa iman, dan tanpa mengenal hukum-Nya. Akibatnya engkau akan tahu sendiri. Ternyata dugaanmu selama ini salah. Allah telah memperlihatkan kepada kalian sejarah Qarun. Dia dulu orang yang beriman, namun kemudian menyimpang dari kebenaran. Dia tidak sabar dengan kekayaan sehingga akhirnya berbuat curang. Kekayaan duniawi adalah yang paling utama daripada menyembah-Nya.

Jika engkau ingin melihat orang-orang sukses, lihatlah para ulama, para cendikiawan muslim, mereka adalah orang yang sangat cerdas sekaligus sangat dekat dengan agama. Misalnya saja Ibnu Sina dikenal rajin membaca Al-Qur’an dan shalat sunah. Ibnu Rusyd selain dikenal sebagai seorang dokter maupun filosof, beliau juga seorang ahli fikih mazhab Maliki. Selain telah mengarang buku-buku sains, beliau juga menulis buku fikih seperti Bidayah Mujtahid. Orang-orang beriman yang berilmu, tidak berbuat maksiat, maka kecerdasannya lebih hebat daripada orang-orang kafir yang berilmu.

Maka, janganlah engkau sekali-kali berpaling dari orang-orang yang sukses secara duniawi tetapi jauh dari Allah. Karena engkau tidak akan sampai pada cita-cita yang engkau dambakan. Bacalah sejarah Islam karena didalamnya bertabur hikmah yang dapat dipetik dari seorang Rasulullah,para sahabat, para khalifah, orang-orang saleh, para ilmuwan. Mereka mendapatkan dunia dan akhirat, sedangkan orang-orang kafir mendapat dunia tetapi dilupakan di akhirat. 

Rumahku Surgaku


Allah Swt. berfirman, "Dan sesungguhnya Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal." (QS. An-Nahl: 80) Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata: "Allah Swt. menyebutkan kesempurnaan nikmat-Nya atas hamba-Nya, dengan apa yang Dia jadikan bagi mereka rumah-rumah yang merupakan tempat tinggal mereka. Mereka kembali kepadanya, berlindung dan memanfaatkannya dengan berbagai macam manfaat."

Keindahan terpancar dari rumah yang didalamnya terdapat akhlakul karimah. Seorang suami yang baik berusaha membantu istrinya meskipun baru saja dia pulang kerja. Dia tidak melihat kelelahan yang ada pada dirinya, tetapi rasa cintanya kepada keluarga membuat semangatnya bangkit kembali. Bagi dirinya, apa yang dilakukannya akan dibalas Allah dengan pahala yang berlipat ganda. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., Duduknya seorang lelaki dengan istrinya kemudian membahagiakannya, pahalanya sama dengan orang yang itikaf di masjidku.”

Subhanallah, ini adalah keutamaan yang besar bagi kaum muslimin. Yang dimaksud masjidku bukan masjid-masjid yang biasa kita shalat di dalamnya, tetapi Masjid Nabawi di Madinah yang diberkahi Allah. Apabila kita shalat di dalamnya maka pahalanya sama dengan 10.000 kali shalat di tempat lain. Tidakkah kita menginginkan keutamaan yang besar ini?

Begitupun yang dilakukan oleh seorang istri salehah. Meskipun rasa lelah menggelayuti dirinya karena dari pagi sampai sore mengurus rumah dan anak-anak, dia masih tersenyum manis ketika bertemu dengan suaminya yang baru saja pulang bekerja. Dan, dengan setia pula dia melayani sang suami. Rasulullah Saw. bersabda, Dunia ini penuh dengan kenikmatan. Dan sebaik-baik kenikmatan dunia adalah istri yang salehah.”

Ketika keduanya telah melakukan kebaikan ini maka terpancarlah keindahan di dalam keluarga itu. Suami akan semakin mencintai istrinya, begitupun istri akan semakin mencintai suaminya. Anak-anak yang melihat akan bahagia, saling mencintai, dan semakin hormat kepada kedua orangtuanya. Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak akan pernah memuliakan wanita kecuali lelaki yang mulia dan tidak akan pernah menghinakan wanita kecuali lelaki yang hina." 

Rasulullah Saw. adalah sosok teladan terbaik yang berhasil membina rumahtangga. Fokus beliau bukan pada harta yang dengan cepat hilang apabila dimakan dan lenyap dimakan usia, tetapi pada nilai-nilai kebaikan yang beliau tanamkan dalam diri beliau dan keluarga beliau. Dr Aisyah Abdurrahman bercerita tentang kehidupan keluarga Rasulullah Saw: "Rumah beliau indah, meski sangat sederhana. Beliau lebih mengutamakan hidup dalam rumahnya sebagai orang zuhud. Beliau tidak pernah memaksakan sesuatu apapun terhadap istri-istrinya. Ia selalu isi kehidupan rumah tangganya dengan kehangatan dan kebersamaan yang menyenangkan."

Dalam bahasa lain, Abbas Mahmud Al-Aqqad menggambarkan bahwa Rasulullah Saw. tidak menjadikan wibawa kenabian sebagai penghalang antara beliau dan para istrinya. Malah, kadang-kadang beliau terlalu bersikap lunak terhadap para istrinya, tegur sapanya manis, dan selalu mengalah.

Gambaran-gambaran tentang rumah tangga Rasulullah Saw tersebut menjelaskan bahwa keluarga beliau tidak pernah mencari kebahagiaan melalui pintu-pintu duniawi. Mereka mencari kebahagiaan dari pintu-pintu akhlak mulia. 

Artinya, baik Rasulullah Saw maupun istri-istrinya menempatkan akhlak sebagai jalan utama tercapainya kebahagiaan mereka. Tak heran jika kemudian Rasulullah Saw bersabda: Baiti Jannati (Rumahku Surgaku).

Selasa, 25 September 2012

Suami yang Mendapat Pertolongan Allah

Pernikahan itu telah berjalan empat (4) tahun, namun pasangan suami istri itu belum dikaruniai seorang anak. Dan mulailah kanan kiri berbisik-bisik: “kok belum punya anak juga ya, masalahnya di siapa ya? Suaminya atau istrinya ya?”. Dari berbisik-bisik, akhirnya menjadi berisik.

Tanpa sepengetahuan siapa pun, suami istri itu pergi ke salah seorang dokter untuk konsultasi, dan melakukan pemeriksaaan. Hasil lab mengatakan bahwa sang istri adalah seorang wanita yang mandul, sementara sang suami tidak ada masalah apa pun dan tidak ada harapan bagi sang istri untuk sembuh dalam arti tidak peluang baginya untuk hamil dan mempunyai anak.

Melihat hasil seperti itu, sang suami mengucapkan: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, lalu menyambungnya dengan ucapan: Alhamdulillah.

Sang suami seorang diri memasuki ruang dokter dengan membawa hasil lab dan sama sekali tidak memberitahu istrinya dan membiarkan sang istri menunggu di ruang tunggu perempuan yang terpisah dari kaum laki-laki.

Sang suami berkata kepada sang dokter: “Saya akan panggil istri saya untuk masuk ruangan, akan tetapi, tolong, nanti anda jelaskan kepada istri saya bahwa masalahnya ada di saya, sementara dia tidak ada masalah apa-apa.

Kontan saja sang dokter menolak dan terheran-heran. Akan tetapi sang suami terus memaksa sang dokter, akhirnya sang dokter setuju untuk mengatakan kepada sang istri bahwa masalah tidak datangnya keturunan ada pada sang suami dan bukan ada pada sang istri.

Sang suami memanggil sang istri yang telah lama menunggunya, dan tampak pada wajahnya kesedihan dan kemuraman. Lalu bersama sang istri ia memasuki ruang dokter. Maka sang dokter membuka amplop hasil lab, lalu membaca dan mentelaahnya, dan kemudian ia berkata: “… Oooh, kamu –wahai fulan- yang mandul, sementara istrimu tidak ada masalah, dan tidak ada harapan bagimu untuk sembuh.

Mendengar pengumuman sang dokter, sang suami berkata: inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan terlihat pada raut wajahnya wajah seseorang yang menyerah kepada qadha dan qadar Allah SWT.

Lalu pasangan suami istri itu pulang ke rumahnya, dan secara perlahan namun pasti, tersebarlah berita tentang rahasia tersebut ke para tetangga, kerabat dan sanak saudara.

Lima (5) tahun berlalu dari peristiwa tersebut dan sepasang suami istri bersabar, sampai akhirnya datanglah detik-detik yang sangat menegangkan, di mana sang istri berkata kepada suaminya: “Wahai fulan, saya telah bersabar selama Sembilan (9) tahun, saya tahan-tahan untuk bersabar dan tidak meminta cerai darimu, dan selama ini semua orang berkata:” betapa baik dan shalihah-nya sang istri itu yang terus setia mendampingi suaminya selama Sembilan tahun, padahal dia tahu kalau dari suaminya, ia tidak akan memperoleh keturunan”. Namun, sekarang rasanya saya sudah tidak bisa bersabar lagi, saya ingin agar engkau segera menceraikan saya, agar saya bisa menikah dengan lelaki lain dan mempunyai keturunan darinya, sehingga saya bisa melihat anak-anakku, menimangnya dan mengasuhnya.

Mendengar emosi sang istri yang memuncak, sang suami berkata: “istriku, ini cobaan dari Allah SWT, kita mesti bersabar, kita mesti …, mesti … dan mesti …”. Singkatnya, bagi sang istri, suaminya malah berceramah di hadapannya.

Akhirnya sang istri berkata: “OK, saya akan tahan kesabaranku satu tahun lagi, ingat, hanya satu tahun, tidak lebih”.

Sang suami setuju, dan dalam dirinya, dipenuhi harapan besar, semoga Allah SWT memberi jalan keluar yang terbaik bagi keduanya.

Beberapa hari kemudian, tiba-tiba sang istri jatuh sakit, dan hasil lab mengatakan bahwa sang istri mengalami gagal ginjal.

Mendengar keterangan tersebut, jatuhnya psikologis sang istri, dan mulailah memuncak emosinya. Ia berkata kepada suaminya: “Semua ini gara-gara kamu, selama ini aku menahan kesabaranku, dan jadilah sekarang aku seperti ini, kenapa selama ini kamu tidak segera menceraikan saya, saya kan ingin punya anak, saya ingin memomong dan menimang bayi, saya kan … saya kan …”.

Sang istri pun bad rest di rumah sakit.

Di saat yang genting itu, tiba-tiba suaminya berkata: “Maaf, saya ada tugas keluar negeri, dan saya berharap semoga engkau baik-baik saja”.

“Haah, pergi?”. Kata sang istri.

“Ya, saya akan pergi karena tugas dan sekalian mencari donatur ginjal, semoga dapat”. Kata sang suami.

Sehari sebelum operasi, datanglah sang donatur ke tempat pembaringan sang istri. Maka disepakatilah bahwa besok akan dilakukan operasi pemasangan ginjal dari sang donatur.

Saat itu sang istri teringat suaminya yang pergi, ia berkata dalam dirinya: “Suami apa an dia itu, istrinya operasi, eh dia malah pergi meninggalkan diriku terkapar dalam ruang bedah operasi”.

Operasi berhasil dengan sangat baik. Setelah satu pekan, suaminya datang, dan tampaklah pada wajahnya tanda-tanda orang yang kelelahan.

Ketahuilah bahwa sang donatur itu tidak ada lain orang melainkan sang suami itu sendiri. Ya, suaminya telah menghibahkan satu ginjalnya untuk istrinya, tanpa sepengetahuan sang istri, tetangga dan siapa pun selain dokter yang dipesannya agar menutup rapat rahasia tersebut.

Dan subhanallah …

Setelah Sembilan (9) bulan dari operasi itu, sang istri melahirkan anak. Maka bergembiralah suami istri tersebut, keluarga besar dan para tetangga.

Suasana rumah tangga kembali normal, dan sang suami telah menyelesaikan studi S2 dan S3-nya di sebuah fakultas syari’ah dan telah bekerja sebagai seorang panitera di sebuah pengadilan di Jeddah. Ia pun telah menyelesaikan hafalan Al-Qur’an dan mendapatkan sanad dengan riwayat Hafs, dari ‘Ashim.

Pada suatu hari, sang suami ada tugas dinas jauh, dan ia lupa menyimpan buku hariannya dari atas meja, buku harian yang selama ini ia sembunyikan. Dan tanpa sengaja, sang istri mendapatkan buku harian tersebut, membuka-bukanya dan membacanya.

Hampir saja ia terjatuh pingsan saat menemukan rahasia tentang diri dan rumah tangganya. Ia menangis meraung-raung. Setelah agak reda, ia menelpon suaminya, dan menangis sejadi-jadinya, ia berkali-kali mengulang permohonan maaf dari suaminya. Sang suami hanya dapat membalas suara telpon istrinya dengan menangis pula.

Dan setelah peristiwa tersebut, selama tiga bulanan, sang istri tidak berani menatap wajah suaminya. Jika ada keperluan, ia berbicara dengan menundukkan mukanya, tidak ada kekuatan untuk memandangnya sama sekali.

Saya sangat terkesan dengan kisah ini. Sehingga saya merasa perlu untuk sering mengingatnya agar saya mendapatkan semangat baru dalam hidup saya. Setidaknya ada tiga pelajaran berharga yang telah saya peroleh dari kisah ini:

Pertama, kesabaran. Kisah ini banyak berbicara tentang kesabaran seorang suami. Kesabaran atas musibah yang terjadi pada sisi orang yang dicintai da disayanginya, kesabaran atas sikap istrinya kepadanya, dan kesabaran akan datangnya pertolongan Allah.

Kedua, kesetiaan. Kisah ini secara tersirat menggambarkan kesetiaan seorang suami terhadap istrinya yang mandul. Bisa saja suami tersebut berbuat serong atau melakukan pernikahan sirri atau menikah tanpa sepengetahuan istrinya. Tapi hal itu tidak terjadi pada diri suami dalam kisah ini. Dia lebih memilih sabar dan setia sebagai ganti dari apa yang terjadi pada istrinya.

Ketiga, keyakinan. Kesabaran dan keyakinan adalah kunci keberhasilan setiap muslim. Tidak mungkin seorang muslim memiliki semangat untuk beribadah jika tidak meyakini keberadaan Allah, negeri akhirat, dan kebenaran risalah Rasulullah Saw. Suami tersebut yakin dengan pertolongan Allah, maka dia rela bersabar hingga datangnya pertolongan itu. Sebaliknya yang terjadi bagi orang-orang yang tidak yakin akhirnya terjungkal kalah, padahal pertolongan itu datang di saat mereka mulai dalam posisi ketidaksabaran.

Keempat, syukur. Saya bersyukur kepada Allah diberikan seorang istri yang subur. Sehingga tidak beberapa lama kami menikah, Allah menganugerahi janin dalam rahimnya.

Dari kisah ini saya memperoleh semangat baru bahwa janji Allah itu pasti, bahwa Allah sangat dekat dengan orang-orang yang sabar, orang-orang yang berbuat baik, dan orang-orang yang bertakwa.


Senin, 24 September 2012

Mengejar Ketertinggalan

Saya sangat terkesan dengan sebuah status seorang teman di Facebook. Dia mengatakan, untuk menjadi seorang yang sukses, maka kita harus mengerjakan pekerjaan di atas rata-rata. 

Yang saya tangkap dari ungkapan itu, saya contohkan, bila kebanyakan manusia membaca buku satu halaman setiap hari, maka untuk menjadi orang yang sukses, kita harus membaca minimal dua halaman setiap hari. Contoh yang lain, bila kebanyakan manusia hanya mengerjakan shalat fardhu, maka kita menambahnya dengan shalat-shalat sunah, minimal dua rakaat. Dan seterusnya.

Maka, tiada lain bagi kita untuk terus berjuang, mengisi waktu-waktu kita dengan amal kebaikan hingga maut menjemput kita. Seluruh umat manusia diberi waktu 24 jam dalam sehari, tetapi mengapa ada yang mampu menghasilkan karya hebat dan ada yang tidak, ada yang mampu mengurus sebuah perusahaan besar atau sebuah jamaah besar, di sisi lain ada yang hanya mampu mengurus dirinya sendiri.

Bagaimana bisa menjadi seorang yang sukses jika aktivitas kita sehari-hari lebih banyak tidur dan bermalas-malasan! Bagaimana bisa kita mengejar ketertinggalan dari orang lain yang lebih aktif ketimbang kita, sementara kita bekerja sama seperti mereka! Tidak! Tidak mungkin kita dapat mengejar ketertinggalan ini selagi kita sama seperti mereka. Kita harus lebih dari mereka! Bersungguh-sungguhlah, niscaya Allah akan memberikan hadiah dari kesungguhan itu. 

Tidak ada kata terlambat bagi kita sebelum maut menjemput kita.Banyak karya ditorehkan setelah kita menyadari kesalahan kita di masa lalu. Ahli matematika penemu Aljabar, Al-Khawarizmi, nyatanya baru mulai belajar matematika dan ilmu eksak lainnya ketika berusia 24 tahun.

Ketika waktu kita diisi dengan kebaikan, maka yang akan kita pikirkan selanjutnya adalah skala prioritas. Bila diam lebih baik daripada berbicara; bila ilmu lebih baik daripada shalat sunah; shalat berjamaah lebih baik daripada shalat sendirian. Maka kita akan melakukan amalan yang lebih baik itu. Dalam sejarah diceritakan, pada suatu hari Imam Syafi'i menginap dirumah Imam Ahmad bin Hanbal. Di malam hari, kedua ulama besar ini melakukan dua aktivitas yang berbeda; Imam Syafi'i memprioritaskan diri dengan ilmu, sedangkan Imam Ahmad memprioritaskan diri dengan shalat sunah qiyamul lail. Bila kita sudah sampai pada tahapan skala prioritas, berarti kita sudah memasuki gerbang kebangkitan, kemajuan, dan kejayaan.

Sudah bukan waktunya bagi kita untuk berdiam diri sementara orang diluar sana sudah mampu pergi ke luar angkasa. Sudah bukan waktunya bermalas-malasan sementara saudara-saudara kita sudah banyak yang hafidz quran, meraih gelar sarjana S1 hingga S3 diusia sama seperti kita. Sudah saatnya bagi kita untuk mengejar ketertinggalan ini.