Minggu, 08 Juli 2012

Mereka Mengenal Muhammad Seperti Mereka Mengenal Anak-Anaknya Sendiri (8)


Imam Hakim meriwayatkan bahwa Hisyam bin Ash Al-Umawi menceritakan bahwa dia dan seorang lelaki lain diutus menemui Heraklius – Raja Romawi – untuk mengajaknya masuk Islam.

“Kami berangkat, dan ketika kami sampai di Al-Gautah – bagian dari kota Damaskus – kami turun istirahat di perkampungan Al-Jabalah bin Aiham Al-Gassani. Lalu kami masuk menemuinya, tiba-tiba kami jumpai dia berada di atas singgasananya. Ia mengirimkan utusannya kepada kami agar kami berbicara dengannya, tetapi kami mengatakan, ‘Demi Allah, kami tidak akan berbicara kepada utusan. Sesungguhnya kami diutus hanya untuk menemui raja (kalian). Jika kami diberi izin untuk masuk, maka kami akan berbicara langsung dengannya; dan jika tidak, kami tidak akan berbicara kepada utusan.’

Kemudian utusan Jabalah bin Aiham kembali kepadanya dan menceritakan segala sesuatunya kepadanya. Akhirnya kami diberi izin untuk menemuinya, lalu Jabalah berkata, “Berbicaralah kalian!’ Maka Hisyam bin Ash berbicara dengannya dan menyerunya untuk memeluk agama Islam.

Ternyata Jabalah memakai pakaian hitam, maka Hisyam bertanya kepadanya, ‘Pakaian apakah yang engkau kenakan itu?' Jabalah menjawab, ‘Saya memakainya dan saya telah bersumpah bahwa saya tidak akan meninggalkannya sebelum mengusir kalian dari negeri Syam.’

Kami berkata, ‘Majelismu ini, demi Allah, akan benar-benar kami rebut dari tangan kekuasaanmu, dan sesungguhnya kami akan merebut kerajaan rajamu yang paling besar, insya Allah. Hal ini telah diberitakan kepada kami oleh Nabi kami, yaitu Nabi Muhammad Saw.’

Jabalah mengatakan, ‘Kalian bukanlah mereka, bahkan mereka adalah suatu kaum yang puasa siang harinya dan shalat pada malam harinya, maka bagaimanakah cara puasa kalian?’

Maka kami menceritakan cara puasa kami. Wajah Jabalah menjadi hitam (marah) dan berkata, ‘Berangkatlah kalian,’ dan ia menyertakan seorang utusan bersama kami untuk menghadap kepada Kaisar Romawi.

Kami berangkat, dan ketika kami sudah dekat dengan ibukota, berkatalah orang yang bersama kami, ‘Sesungguhnya hewan kendaraan kalian ini dilarang memasuki ibukota kerajaan. Jika kalian suka, maka kami akan membawa kalian dengan kendaraan kuda dan begal.’ Kami menjawab, ‘Demi Allah, kami tidak akan masuk melainkan dengan memakai kendaraan ini.’

Kemudian orang yang bersama kami itu mengirimkan utusannya kepada kaisar untuk menyampaikan bahwa para utusan kaum muslim menolak peraturan tersebut. Akhirnya Raja Romawi memerintahkan kepada utusan itu untuk membawa kami masuk dengan kendaraan yang kami bawa.

Kami masuk ke dalam ibu kota dengan menyandang pedang-pedang kami, hingga sampailah kami pada salah satu gedung milik Kaisar. Lalu kami istirahatkan unta kendaraan kami pada bagian bawahnya, sedangkan Raja Romawi memandang kami.

Lalu kami ucapkan, ‘La ilahaillallah wallahu akbar!’ Allah-lah yang mengetahui, karena sesungguhnya gedung itu mendadak awut-wautan seperti pohon kurma yang tertiup angin besar. Lalu raja mengirimkan utusannya kepada kamu untuk menyampaikan, ‘Kalian tidak usah menggembar-gemborkan agama kalian kepada kami.’ Dan raja mengirimkan lagi kurirnya untuk menyampaikan, ‘Silahkan kalian masuk.’

Maka kami masuk menghadapnya, sedangkan dia berada di atas pelaminannya, di hadapan para pendeta Romawi. Segala sesuatu yang ada di majelisnya berwarna merah, raja sendiri memakai baju merah, dan segala sesuatu yang ada di sekitarnya semuanya berwarna merah.

Lalu kami mendekat kepadanya.Dia tertawa, lalu berkata, ‘Bagaimanakah menurut kalian jika kalian datang menghadap kepadaku dengan mengucapkan salam penghormatan yang berlaku di antara sesama kalian? Tiba-tiba di sisinya terdapat seorang lelaki yang fasih berbicara Arab lagi banyak bicara.

Maka kami menjawab, ‘Sesungguhnya salam penghormatan kami di antara sesama kami tidak halal bagi anda, dan salam penghormatan anda yang biasa anda pakai tidak halal pula bagi kami memakainya. Raja menjawab, ‘Bagaimanakah ucapan salam penghormatan kalian di antara sesama kalian?’ Kami menjawab,’Assalamu ‘alaika.’ Raja bertanya, ‘Bagaimanakah caranya kalian mengucapkan salam penghormatan kepada raja kalian?’ Kami menjawab, ‘Sama dengan kalimat itu.’ Raja bertanya, ‘Baagaimanakah kalian mendapat jawabannya?' Kami menjawab, ‘Kalimat yang sama.’

Raja bertanya, ‘Kalimat apakah yang paling besar dalam ucapan kalian?' Kami menjawab, ‘La ilahaillallah wallahu akbar.’ Ketika kami mengucapkan kalimat itu, hanya Allah-lah yang lebih mengetahui, tiba-tiba gedung istana bergetar sehingga raja mengangkat kepalanya memandang ke atas gedung itu.

Raja berkata, ‘Kalimat yang baru saja kalian ucapkan dan membuat gedung ini bergetar. Apakah setiap kalian mengucapkannya di dalam rumah kalian, lalu kamar-kamar kalian bergetar karenanya?' Kami menjawab, ‘Tidak, kami belum pernah melihat peristiwa ini kecuali hanya di tempatmu sekarang ini.’

Raja berkata, 'Sesungguhnya aku mengharapkan seandainya saja setiap kali kalian mengucapkannya segala sesuatu bergetar atas kalian. Dan sesungguhnya aku rela mengeluarkan separuh dari kerajaanku.’ Kami bertanya, ‘Mengapa?’ Ia menjawab, ‘Karena sesungguhnya hal itu lebih mudah dan lebih layak untuk dikatakan bukan merupakan perkara kenabian, dan bahwa hal tersebut hanyalah terjadi semata-mata karena perbuatan manusia.’

Kemudian raja menanyai kami tentang tujuan kami, lalu kami menceritakan hal itu kepadanya. Setelah itu raja bertanya, ‘Bagaimanakah shalat dan puasa kalian?’ Kami menceritakan hal itu kepadanya, lalu raja berkata, ‘Bangkitlah kalian.’ Kemudian ia memerintahkan agar menyediakan rumah yang baik dan tempat peristirahatan yang cukup buat kami, dan kami tinggal di sana selama tiga hari.

Pada suatu malam raja mengirim utusannya kepada kami, lalu kami masuk menemui raja, dan ia meminta agar kami mengulangi ucapan kami, maka kami mengulanginya. Sesudah itu ia memerintahkan agar dibawakan sesuatu yang berbentuk seperti kota yang cukup besar, terbuat dari emas. Di dalamnya terdapat rumah-rumah kecil yang masing-masingnya berpintu.

Raja membuka sebuah rumah dan membuka kuncinya, lalu mengeluarkan (dari dalamnya) selembar kain sutera hitam. Ketika kami membeberkan kain sutera itu, tiba-tiba padanya terdapat gambar merah, dan pada gambar yang merah itu terdapat gambar seorang lelaki yang bermata besar lagi berpantat besar, saya belum pernah melihat leher sepanjang yang dimilikinya. Ternyata lelaki itu tidak berjanggut dan ternyata pada rambutnya terdapat dua kepangan rambut yang paling indah di antara semua makhluk Allah. Lalu raja berkata, ‘Tahukah kalian gambar siapakah ini?’ Kami menjawab,'Tidak.’ Ia berkata, ‘Ini adalah gambar Adam As.’ Ternyata Nabi Adam As. adalah orang yang sangat lebat rambutnya.

Kemudian raja membuka rumah yang lain, lalu mengeluarkan kain sutera berwarna hitam darinya. Di dalamnya terdapat gambar orang yang berkulit putih, memiliki rambut yang keriting, kedua matanya merah, berkepala besar, dan sangat bagus janggutnya. Lalu raja bertanya, ‘Tahukah kalian siapakah orang ini?’ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Raja berkata, ‘Dia adalah Nuh As.’

Kemudian ia membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera hitam lainnya, tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang sangat putih, kedua matanya sangat indah, keningnya lebar, dan pipinya panjang (lonjong), sedangkan janggutnya berwarna putih, seakan-akan gambar lelaki itu sedang tersenyum. Lalu raja bertanya, ‘Tahukah kalian, siapakah orang ini?’ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Ia berkata, ‘Orang ini adalah Ibrahim As.’

Lalu raja membuka pintu yang lain (dan mengeluarkan kain sutera hitam) tiba-tiba padanya terdapat gambar orang yang putih, dan tiba-tiba – demi Allah – dia adalah Rasulullah Saw. sendiri. Raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Ya, orang ini adalah Muhammad, utusan Allah Swt. Kami menangis, dan raja bangkit berdiri sejenak, kemudian duduk lagi, lalu bertanya,'Demi Allah, benarkah gambar ini adalah dia, seakan-akan engkau sedang memandang kepadanya?'

Raja memegang kain sutera itu sesaat seraya memandangnya, lalu berkata, 'Ingatlah, sesungguhnya rumah ini adalah rumah yang terakhir, tetapi sengaja saya segerakan buat kalian untuk melihat apa yang ada pada kalian.'

Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera hitam darinya, tiba-tiba padanya terdapat gambar seseorang yang hitam manis, dia adalah seorang lelaki yang berambut keriting dengan mata yang agak cekung, tetapi pandangannya tajam, wajahnya murung, giginya bertumpang tindih, bibirnya dicibirkan seakan-akan sedang dalam keadaan marah. Raja bertanya, 'Tahukah kalian, siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak tahu.' Raja berkata, 'Dia adalah Musa As.' Sedangkan di sebelahnya terdapat gambar seseorang yang mirip dengannya, hanya rambutnya berminyak, dahinya lebar, dan kedua matanya agak juling. Raja itu bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak tahu.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Harun bin Imran As.'

Lalu raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera putih dari dalamnya. Ternyata di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki hitam manis, tingginya pertengahan, dadanya bidang, dan seakan-akan sedang marah. Lalu si raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak.' Dia menjawab bahwa orang tersebut adalah Luth As.

Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera putih, tiba-tiba padanya terdapat gambar seorang lelaki yang kulitnya putih kemerah-merahan dengan pinggang yang kecil dan memiliki wajah yang tampan. Lalu si raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak.' Raja berkata, 'Dia adalah Ishaq As.'

Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan kain sutera yang berwarna hitam, di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki berkulit putih, berwajah tampan, berhidung mancung dengan tinggi yang cukup baik, pada wajahnya terpancarkan nur (cahaya), dan terbaca dari wajahnya pertanda khusyu' dengan kulit yang putih kemerah-merahan. Raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak tahu.' Raja berkata, 'Orang ini adalah kakek nabi kalian, yaitu Nabi Ismail As.

Kemudian raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera putih, tiba-tiba di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang berkulit merah, kedua betisnya kecil, dan matanya rabun, sedangkan perutnya besar dan tingginya sedang, seraya menyandang pedang. Raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Daud As.'

Lalu raja membuka pintu yang lain dan mengeluarkan darinya kain sutera putih, tia-tiba di dalamnya terdapat gambar seorang lelaki yang berpantat besar, kedua kakinya agak panjang seraya mengendarai kuda. Lalu raja bertanya, 'Tahukah kalian, siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Sulaiman bin Daud As.'

Kemudian raja membuka pintu yang lain, lalu mengeluarkan kain sutera hitam darinya, pada kain sutera itu terdapat gambar orang yang berpakaian putih, dan ternyata dia adalah seorang pemuda yang janggutnya berwarna hitam pekat, berambut lebat, kedua matanya indah, dan wajahnya tampan. Raja bertanya, 'Tahukah kalian siapakah orang ini?' Kami menjawab, 'Tidak.' Raja berkata, 'Orang ini adalah Isa bin Maryam As.'

Kami bertanya, 'Dari manakah anda mendapatkan gambar-gambar ini? Karena kami mengetahui bahwa gambar-gambar tersebut sesuai dengan gambar nabi-nabi yang dimaksud, mengingat gambar nabi kami persis seperti yang tertera padanya.'

Raja menjawab, 'Sesungguhnya Adam As. pernah memohon kepada Tuhannya agar Dia memperlihatkan kepadanya para nabi dari keturunannya, maka Allah menurunkan kepadanya gambar-gambar mereka. Gambar-gambar tersebut berada di dalam perbendaharaan Nabi Adam As. yang terletak di tempat tenggelamnya matahari. Kemudian dikeluarkan oleh Zulqarnain dari tempat penyimpanannya di tempat tenggelamnya matahari,lalu Zulqarnain menyerahkannya kepada Nabi Danial.'

Kemudian raja berkata, 'Ingatlah, demi Allah, sesungguhnya pribadiku suka bila keluar dari kerajaanku, dan sesungguhnya aku nanti akan menjadi orang yang memiliki kerajaan yang paling kecil di antara kalian hingga aku mati.'

Lalu raja memberi kami hadiah dan ternyata hadiah yang diberikannya sangat baik, lalu dia melepas kami pulang. Ketika kami sampai pada Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq Ra., kami ceritakan kepadanya semua yang telah kami lihat, demikian pula perkataan raja serta hadiah yang diberikannya kepada kami. Maka Abu Bakar menangis dan berkata, 'Kasihan dia. Seandainya Allah menghendaki kebaikan baginya, niscaya dia melakukannya (masuk Islam).'

Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, 'Telah menceritakan kepada kami Rasulullah Saw., bahwa mereka (orang-orang nashrani) dan orang-orang Yahudi menjumpai sifat Nabi Muhammad Saw. pada kitab yang ada pada mereka'."

Hal yang sama telah diketengahkan oleh Al-Hafidz Abu Bakar Al-Baihaqi dalam kitab Dalailun Nubuwwah, dari Al-Hakim secara ijazah, lalu ia menuturkan kisah tersebut. Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, sanad dari kisah ini tidak ada celanya. 

Sahabatku, sungguh ini kisah yang luar biasa. Kisah yang menggambarkan bagaimana sesungguhnya sifat-sifat dan ciri-ciri Nabi Muhammad memang sudah dikenal oleh orang-orang nasrani. Sehingga mereka mampu menggambarkan sosok Nabi Muhammad berdasarkan sifat-sifat dan ciri-ciri tersebut, dan gambar tersebut ternyata cocok dengan sosok Nabi Muhammad. 

Bersambung.... 

Sabtu, 07 Juli 2012

Kiat Mengatasi Kesombongan


Abdullah bin Salam suatu saat mengangkat sendiri ikatan kayu bakar di atas punggung beliau, padahal beliau adalah seorang ulama besar. Hal itu mengundang orang yang menyaksikannya bertanya,”Bukankah pembantu dan anak Anda bisa melakukannya?”

Abdullah bin Salam pun menjawab,”Benar, namun aku ingin menguji diriku, apakah hatiku merasa berat dengan pekerjaan ini atau tidak.”

Abdullah bin Salam tidak mencukupkan hanya dengan berazam untuk meninggalkan rasa gengsi dan sombong, sebelum beliau membuktikan sendiri apakah benar hatinya tidak berubah keadaan tatkalah melakukan pekerjaan yang dianggap oleh banyak manusia sebagai pekerjaan “rendahan”.

Atas dasar itu, Imam Al Ghazali memberi tips untuk mengetahui apakah diri kita sombong atau tidak, yakni dengan menyengaja membawa barang belanjaan dari pasar menuju rumah. Jika seseorang tidak merasa berat karena ada manusia yang menyaksikannya maka ia terjangkit riya’. Namun jika ia merasa berat meski manusia tidak menyaksikannya maka ia sombong. (lihat, Ihya Ulumuddin, 11/1986)

Kisah di atas mengajarkan kepada kita cara yang baik tentang bagaimana mendeteksi kesombongan. Saya kira hal ini dapat kita terapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Contoh yang lain misalnya, bagi para suami dapat membantu pekerjaan istrinya. Misalnya, mengasuh anak, mencuci piring, menyapu lantai, mengepel, dan menyapu halaman rumah. Mungkin akan kita temukan komentar-komentar negatif orang lain tentang diri kita, apalagi bila kita bermukim dikawasan elit. Mungkin kita akan disangka pembantu rumah tangga. Padahal kenyataannya kita sang pemilik rumah dan orang yang cukup kaya. 

Pekerjaan-pekerjaan rendah semacam itu seringkali membuat kita lebih sabar dan ikhlas. Karena kita harus menguatkan diri kita sendiri, bukan berdasarkan dorongan orang lain. Godaannya pun berat sehingga kita harus berani melawan arus pendapat orang lain tentang diri kita. Seiring dengan berjalannya waktu, mujahadah ini akan membuahkan hasil yang manis yaitu membuat pribadi kita lebih sabar dan ikhlas.Kita telah mengatur pola pikir dan pola hidup kita berdasarkan rasa cinta kita kepada Allah. Bukan cinta kepada makhluk. Rasa pamrih kepada Allah. Bukan pamrih kepada manusia.  

Jumat, 06 Juli 2012

Rasa Takut Imam Hasan Al-Bashri


Imam Hasan Al-Bashri ditanya oleh seseorang, "Bagaimana kabar Anda?” Imam Hasan Al Bashri pun tersenyum dan menjawab, "Engkau bertanya kepadaku mengenai keadaanku? Bagaimana menurutmu jika sekelompok manusia menaiki sebuah bahtera hingga di tengah-tengah samudera yang luas bahtera itu pecah dan masing-masing memegang kayu yang tersisa. Bagaimana menurutmu kondisi mereka?”

Laki-laki itu pun menjawab, "Mereka tentu amat ketakutan sekali.”  Imam Hasan Al Bashri pun menanggapi, "Keadaan saya lebih dari itu.” (Ihya’ Ulumuddin, 13/2386)

Begitulah para ulama kita. Begitulah orang yang telah menghiasi hidupnya dengan ilmu dan amal saleh. Ulama kita adalah ulama yang sejati. Karakteristik mereka tidak sama dengan karakteristik ulama-ulama dari kalangan Yahudi, di mana mereka mengatakan apa yang tidak mereka perbuat. Sedangkan ulama kita mengatakan apa yang mereka perbuat, bahkan berusaha menyembunyikan amal saleh yang mereka lakukan selagi mereka mampu melakukannya. 

Ketika orang-orang Bani Israil banyak meminta ini dan itu kepada Nabi Musa As. dan seluruh permintaan itu dikabulkan Allah, tetap saja mereka menjadi pembangkang. Mereka juga meminta Nabi Musa memperlihatkan mukjizatnya, setelah Nabi Musa memperlihatkannya, tetap saja mereka membangkang padahal mereka tahu mukjizat itu datangnya dari Tuhan. 

Sedangkan para sahabat Rasulullah Saw., mereka berjihad, ditengah terik matahari yang panas, mereka tetap setia kepada Rasulullah Saw., mereka tidak meminta bahkan mereka berusaha memberi. Mereka tidak meminta kepada Rasulullah Saw., "Ya Rasulullah, engkau adalah seorang Nabi dan Rasul, mintalah kepada Allah untuk menghancurkan orang-orang kafir sehingga kami dapat duduk-duduk di sini menunggu kehancuran itu." Atau mereka berkata, "Ya Rasulullah, kami ingin makanan yang banyak agar kami dapat hidup sehari-hari dengan nyaman." Tidak! Tidak seperti itu umat ini. Umat ini pergi berjihad, berdarah, dan mati syahid. Umat ini bersedekah kepada orang fakir. Mereka saling membantu bila ada yang membutuhkan bantuan. Contohnya pada perang Khandaq. Ketika itu pasukan Islam benar-benar kekurangan makanan. Hingga Rasul pun mengganjal perutnya dengan batu. Hal ini membuat seorang sahabat Nabi berinisiatif membuat makanan untuk Rasulullah Saw. dan beberapa sahabatnya. Tidak untuk semua sahabat karena persediaan makanan di rumahnya tidak begitu banyak. Namun dengan izin Allah, makanan yang sedikit itu menjadi banyak sehingga dapat memenuhi kebutuhan seluruh pasukan Islam. Beginilah karakteristik umat Nabi Muhammad. Mereka tidak meminta tapi justru merekalah yang memberi. Karakter yang ditempa sejak zaman Rasulullah Saw. membekas pada generasi-generasi selanjutnya dan menjadi karakteristik umat Nabi Muhammad Saw.

Sahabatku, hadirkanlah kisah-kisah yang baik untuk menghiasi hari-harimu. Jadikan ia sebagai muhasabah untuk dirimu. Ia akan menggedor pintu hatimu, mendorongmu untuk beramal dan akan berusaha mencegahmu dari melakukan perbuatan maksiat.  

Kamis, 05 Juli 2012

Mereka Mengenal Muhammad Seperti Mereka Mengenal Anak-Anaknya Sendiri (7)


“…dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 42)

Ibnu Abbas Ra. berkata, “Maksudnya, penyembunyian (yang mereka/ orang Yahudi lakukan) terhadap identitas Nabi Saw., padahal mereka telah mengetahuinya.”

Muhammad bin Sirin berkata, “Sekelompok anak cucu Harun singgah di Yatsrib ketika Bani Israil tertimpa oleh sesuatu yang menimpa mereka, yaitu kemenangan musuh atas mereka dan kehinaan mereka. Kelompok tersebut merupakan para pembawa Taurat pada masa itu. Mereka menetap di Yatsrib seraya terus mengharap Muhammad akan keluar untuk memimpin mereka. Saat itu mereka telah beriman dan membenarkan akan kenabian beliau. Para ayah itu berlalu dalam keadaan beriman (kepada Muhammad) dan meninggalkan anak cucu yang kemudian bertemu dengan Muhammad namun justru mereka kafir terhadapnya, padahal mereka telah mengetahuinya. Itulah makna dari firman Allah Ta’ala, ‘Maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, lalu mereka ingkar kepadanya’. (QS. Al-Baqarah: 89)

Menurut Imam Al-Qurthubi, makna firman Allah Swt., “Sedang kamu mengetahui”, adalah kalimat yang berada pada posisi haal, yakni bahwa Muhammad adalah hak, sehingga kekafiran mereka adalah kekafiran pembangkangan. Allah tidak member kesaksian bahwa mereka mempunyai pengetahuan, akan tetapi Allah melarang mereka untuk menyembunyikan apa yang telah mereka ketahui. Larangan ini menunjukkan alangkah besarnya dosa orang yang melakukan perbuatan itu dalam keadaan mengetahui, dan dia telah melakukan kemaksiatan jika mengetahui.


Bersambung....

Rabu, 04 Juli 2012

Mereka Mengenal Muhammad Seperti Mereka Mengenal Anak-Anaknya Sendiri (6)


“(Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma'ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-A’raf: 157)

Imam Ibnu Katsir mengatakan, demikianlah sifat dan ciri khas Nabi Muhammad Saw. yang tertera di dalam kitab-kitab para nabi terdahulu. Para Nabi terdahulu menyampaikan berita gembira kepada umatnya masing-masing akan kedatangan Nabi Muhammad Saw. dan memerintahkan kepada umatnya untuk mengikutinya (apabila mereka hidup di masanya). Dan sifat-sifat Nabi Muhammad Saw. masih tetap ada dalam kitab-kitab mereka serta diketahui oleh ulama dan rahib mereka.

Imam Ahmad meriwayatkan dalam sebuah hadits shahih bahwa seorang lelaki Badui di masa Rasulullah Saw. pernah datang ke Madinah membawa sapi perahan. Setelah selesai dari jual belinya, lelaki Badui itu berkata, “Aku sungguh akan menemui lelaki ini (maksudnya Nabi Saw.), dan sungguh aku akan mendengar darinya.”

Lelaki Badui itu melanjutkan kisahnya; lalu aku menjumpainya sedang berjalan di antara Abu Bakar dan Umar, maka aku mengikuti mereka berjalan hingga sampailah mereka kepada seorang lelaki Yahudi. Lelaki Yahudi itu sedang membuka kitab Taurat seraya membacanya, sebagai ungkapan rasa duka dan belasungkawanya atas anak lelakinya yang sedang menghadapi kematian. Anak laki-lakinya itu adalah seorang pemuda yang paling tampan dan paling gagah. Maka Rasulullah Saw. bertanya, “Aku memohon kepadamu dengan nama Tuhan yang telah menurunkan Kitab Taurat, apakah engkau menjumpai dalam kitabmu ini sifat dan tempat hijrahku?”

Lelaki Yahudi itu menjawab pertanyaan Nabi Saw. hanya dengan isyarat gelengan kepala yang berarti ‘tidak’. Tetapi anak lelakinya yang sedang menghadapi kematian itu berkata, “Ya, demi Tuhan yang telah menurunkan Kitab Taurat, sesungguhnya kami menjumpai di dalam kitab kami sifatmu dan tempat hijrahmu. Dan sesungguhnya aku sekarang bersaksi  bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi (pula) bahwa engkau adalah utusan Allah.” (Kemudian anak orang Yahudi itu meninggal dunia). Maka Rasulullah Saw. bersabda, “Singkirkanlah orang Yahudi ini dari saudara kalian!”

Kemudian Nabi Saw. mengurus pengafanan dan menyalati mayat anak lelaki Yahudi itu.

Semakin terang benderanglah kenabian Muhammad Saw. Meskipun orang Yahudi berusaha menutup-nutupinya, niscaya kebenaran itu akan terlihat juga. Karena kebatilan tidak mungkin akan mengalahkan kebenaran. Beruntunglah pemuda itu karena telah mengikrarkan diri untuk menyembah Allah semata dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Walaupun kesaksiannya itu diucapkannya saat-saat menjelang kematiannya. Akhir yang indah dan kebahagiaan yang abadi sedang menanti dihadapannya. 


Bersambung...

Mereka Mengenal Muhammad Seperti Mereka Mengenal Anak-Anaknya Sendiri (5)

Tanda-tanda kenabian pada diri Muhammad telah terlihat sejak beliau belum menjadi seorang Nabi dan Rasul. Saat Muhammad masih berumur 12 tahun, beliau mengikuti ekspedisi dagang pamannya, Abu Thalib, hingga ke negeri Syam. 

 
 Gereja Buhaira di Bushra Suriah sebagaimana dimuat di laman wikipedia

Saat tiba Bushra yaitu daerah antara Syam dan Hijaz, seorang pendeta nasrani bernama Buhaira menemui Abu Thalib. Pendeta itu melihat keajaiban pada rombongan kafilah dagang Abu Thalib. Perhatiannya tertuju pada sosok pemuda yang tak lain adalah Muhammad. Setiap kali Muhammad melangkah, maka sekumpulan awan senantiasa menaunginya.

Sang pendeta pun segera menghampiri Muhammad. Buhaira memeriksa sekujur tubuh Muhammad untuk melihat tanda-tanda kenabian yang diterangkan dalam kitab-kitab suci terdahulu. 

Ia akhirnya menemukan tanda kenabian itu di punggung Muhammad, di antara kedua pundaknya, lalu ia mencium tanda itu. Menyaksikan tanda-tanda kenabian itu, sang pendeta pun berpesan kepada Abu Thalib agar menjaga keponakannya itu dengan hati-hati, karena dia adalah calon rasul yang dinanti umat manusia.

Buhaira juga berpesan kepada Abu Thalib agar ia berhati-hati terhadap rencana jahat orang Yahudi. Allah telah mentakdirkan nabi terakhir berasal dari bangsa Arab dan nabi itu adalah Muhammad. Sementara orang-orang Yahudi menginginkan agar status kenabian itu selamanya milik Bani Israel. Itulah sebabnya mereka akan selalu berusaha untuk membunuh Muhammad jika mereka mendapat kesempatan.

Prediksi Buhaira dari Kota Bushra itu menjadi kenyataan. Ketika menginjak usia 40 tahun, Muhammad memperoleh wahyu saat menyendiri di Gua Hira. Nabi Muhammad menjadi rasul penutup bagi umat manusia yang hidup di akhir zaman.

Buhaira telah membuktikannya sendiri tanda-tanda kenabian yang tercantum di dalam kitab suci agama samawi sangat cocok pada diri Muhammad, sehingga dia tidak lagi ragu untuk menasehati Abu Thalib agar betul-betul menjaga Muhammad. 

Nasehat Buhaira ini betul-betul dipegang teguh oleh Abu Thalib. Terbukti jika Abu Thalib meskipun masih kafir adalah seorang pelindung Muhammad yang paling gigih. Wafatnya Abu Thalib membuat Rasulullah Saw. merasa kehilangan. Sehingga tahun di mana Abu Thalib wafat menjadi penyebab disebut sebagai tahun kesedihan. 

Semakin terbuktilah kebenaran firman Allah Swt. yang berbunyi, "(Nabi Isa As. berkata): 'Dan (aku) memberikan kabar gembira dengan seorang rasul yang datang sesudahku yang bernama Ahmad (Muhammad)'." (QS. Ash Shaff: 6).  

Bersambung.... 

Mereka Mengenal Muhammad Seperti Mereka Mengenal Anak-Anaknya Sendiri (4)

Ada sebuah pertanyaan yang sangat menarik untuk kita renungkan, pada zaman Rasulullah, mengapa orang Madinah lebih antusias berislam ketimbang orang Makkah? Sehingga Rasulullah Saw. berhijrah ke Madinah. Padahal Makkah adalah tanah kelahiran beliau dan banyak saudara beliau tinggal di sana. Tapi hal itu tidak menyurutkan kebencian orang kafir Makkah terhadap diri Rasulullah Saw.

Jawabannya dapat saya jelaskan sebagai berikut: Masyarakat Madinah adalah masyarakat yang heterogen. Di dalamnya tidak hanya terdapat orang musyrik seperti yang terlihat di Makkah, tetapi juga terdapat orang Yahudi. Mereka hidup bersama sudah sejak lama sehingga mereka saling berinteraksi satu sama lainnya. Karena interaksi yang dekat inilah, penduduk Madinah banyak mendengar dari mulut orang-orang Yahudi tentang akan datangnya Nabi akhir zaman dengan tanda-tanda sebagaimana telah dijelaskan di dalam Taurat. 

Kemudian penduduk Madinah mendengar kabar tentang orang yang mengaku Nabi, yaitu Muhammad Saw. Mereka mencocokkan dengan tanda-tanda kenabian yang telah disampaikan oleh para pendeta Yahudi. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh enam orang dari penduduk Madinah yang menemui Rasulullah Saw., "Demi Allah, kalian tahu sendiri bahwa memang dia benar-benar seorang Nabi seperti yang dikatakan orang-orang Yahudi. Janganlah mereka mendahului kalian. Oleh karena itu, segeralah memenuhi seruannya dan masuklah Islam!" 

Ternyata tanda-tanda kenabian itu sangat cocok pada diri Muhammad Saw. Mereka tidak ragu-ragu lagi, lalu mereka berbondong-bondong beriman kepada Rasulullah Saw. Bahkan mereka bersumpah setia di Aqobah untuk membela dan melindungi Rasulullah serta menjalankan ajaran Islam.

Keislaman penduduk Madinah membuka jalan hijrah Rasulullah Saw. dan kaum muslimin Makkah dalam memasuki episode kemenangan. Penduduk Madinah telah membuktikan bahwa mereka sudah mengenal diri Rasulullah sebelum mereka bertemu dengan Rasulullah Saw. Mereka sangat dekat dengan Rasulullah Saw. walaupun belum pernah bertemu dengan diri Rasulullah. Setelah mereka masuk Islam, mereka adalah pejuang Islam yang gagah berani dan tak takut mati. Kaum muslimin Madinah telah menunjukkan kecintaan yang begitu besar kepada diri Rasulullah Saw. dan terhadap ajaran yang beliau sampaikan. 


Bersambung....