Senin, 07 Mei 2012

Menjadi Pribadi Istiqomah dengan Muhasabah

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr: 59).

Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya memberikan penjelasan seputar ayat ini. Makna Allah Swt. berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah.” Artinya, Allah memerintahkan untuk bertakwa kepada-Nya. Pengertian takwa ini mencakup sesuatu yang telah diperintahkan dan meninggalkan sesuatu yang telah dilarang.

Selanjutnya, Allah Swt. berfirman, “dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat),” yaitu hisablah dirimu sebelum dihisab oleh Allah, dan lihatlah apa yang telah kamu tabung untuk diri-diri kamu, berupa amal saleh, untuk hari di mana kamu akan kembali dan berhadapan dengan Tuhan kamu.”

“dan bertakwalah kepada Allah,” penegasan untuk kedua kalinya. “sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” Yaitu, ketahuilah, bahwa Allah Yang Maha Suci adalah Maha Mengetahui atas semua perbuatan dan hal ihwal kamu. Tidak ada sesuatu pun yang dapat kamu sembunyikan dari-Nya dan tidak ada perkara-perkara kamu yang gaib dari-Nya, yang besar atau yang kecil. (Mukhtashar Tafsir Ibnu Katsir Jilid 4).
  
Menurut Prof. Dr. Abdullah Nashih Ulwan, makna muhasabah sebagaimana disyaratkan oleh ayat ini, ialah: Hendaklah seorang mukmin mengintrospeksi dirinya ketika selesai melakukan amal perbuatan; apakah tujuan amalnya untuk mendapatkan ridha Allah? Atau, apakah amalnya dirembesi sifat riya? Apakah dia sudah memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak manusia?

Setiap pagi hendaknya kita mewajibkan diri dan meminta perjanjian untuk memperbaiki niat, melaksanakan taat, memenuhi segala kewajiban, dan membebaskan diri dari riya. Demikian pula di sore hari, semestinya kita punya waktu untuk menyendiri dengan diri guna memperhitungkan semua yang telah kita lakukan. Bila yang kita lakukan itu kebaikan, maka hendaklah kita memanjatkan puji syukur kepada Allah atas taufiknya. Apabila yang kita lakukan itu bukan kebaikan, maka hendaklah kita bertaubat dan kembali ke jalan Allah; seraya menyesal, memohon ampunan, berjanji untuk tidak mengulangi, serta memohon perlindungan dalam khusnul khatimah kepada-Nya. (Lihat Kitab Tarbiyatur Ruhiyah karya Dr. Abdullah Nashih Ulwan)).

Umar Ra. berkata, “Hisablah diri kalian sebelum kalian dihisab. Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan, bersiap-siaplah untuk pertunjukkan yang agung (hari kiamat). Di hari itu kamu dihadapkan kepada pemeriksaan, tiada yang tersembunyi dari amal kalian barang satu pun.”

Jika kita telah menghisab diri dalam urusan yang besar maupun yang kecil, dan berusaha keras menyendiri di malam hari dengan Allah untuk melihat apa yang akan dipersembangkan di hari kiamat nanti, maka dengan demikian kita telah melangkah menuju takwa.

Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk bermuhasabah sesudah beramal, agar amal yang kita lakukan tidak sia-sia. Karena, jika amal kita mengandung unsur riya – sekecil apa pun amal itu – tetap saja Allah mengetahuinya. Jawablah pertanyaan-pertanyaan muhasabah dengan jujur. Karena dari jawaban yang jujurlah, kita dapat mengetahui letak dan kualitas amal kita.

Keutamaan Menjaga Pandangan

Di era informasi ini, di mana informasi yang masuk datang dengan kecepatan yang sangat tinggi. Setiap informasi entah yang baik atau buruk dapat kita nikmati setiap detiknya. Era ini adalah era keterbukaan, di mana banyak wanita membuka aurat, keimanan kita benar-benar di uji. Godaan untuk melakukan zina mata menjadi terbuka lebar. Setiap detik, si sekeliling kita, kita ditawari dengan aurat-aurat yang seharusnya tertutup.

Tapi, kita sebagai muslim tahu jika Allah Maha Melihat. Dan Dia juga tahu dengan kegelisahan hati kita melihat bentuk kemungkaran ini. Dia tidak mungkin membiarkan kita tanpa ada keuntungan yang akan kita peroleh apabila kita menundukkan pandangan kita dari apa yang diharamkan-Nya. Dalam hal ini, Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari keelokan seorang wanita, Allah akan mengganjarnya dengan limpahan iman yang terasa begitu manis di dalam hatinya.”

Ya, kelezatan iman. Sebuah kelezatan yang tiada tara, melebihi kelezatan-kelezatan inderawi. Karena ia berada di dalam hati, kemudian menenteramkan raga dan menganugerahkannya kesehatan, kecerdasan, dan kekuatan yang paripurna. Kelezatan yang menggugah kesadaran dan memunculkan pencerahan perilaku.

Duhai sahabatku, jagalah pandangan Anda dari melihat hal-hal yang diharamkan-Nya. Sesungguhnya pandangan mata yang khianat ibarat panah iblis beracun yang kemudian menyebar ke jiwa raga. Akal Anda akan gelap, hati Anda ternoda dan sedikit demi sedikit mengeras, dan akhlak Anda pun menjadi tercela. Oleh karena itulah, Ibnu Mas’ud Ra. pernah menasihati salah seorang sahabatnya yang sedang memandang seorang wanita, “Seandainya kedua matamu itu dicukil, maka itu lebih baik (daripada digunakan untuk memandang wanita tersebut).”

Siapa yang menginginkan kelezatan iman, kelembutan perasaan, dan kepekaan nurani, maka tundukkanlah pandangan mata dari hal-hal yang diharamkan-Nya. Abul Husain al-Warraq berkaitan tentang masalah ini, “Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari objek yang diharamkan untuk dipandang, maka dengan perbuatan itu Allah akan memberikannya hikmah pada lidahnya yang dengan itu ia memberikan petunjuk kepada orang yang mendengarkannya. Barangsiapa yang menundukkan pandangannya dari syubhat, maka Allah memberikan cahaya dalam hatinya dengan cahaya yang meneranginya menuju jalan keridhaan-Nya.”

Apakah kita tidak menginginkan semua kenikmatan itu? Kenikmatan abadi yang dapat mengubah “batu” menjadi “emas”, membuat hati yang keras menjadi lembut, membuat perangai yang kasar menjadi santun, membuat pemarah menjadi pemaaf.

Sabtu, 05 Mei 2012

Mengenal Al-Adzkar: Kitab Induk dan Pedoman Lengkap Doa dan Dzikir

Judul buku : Al-Adzkar: Kitab Induk dan Pedoman Lengkap Doa dan Dzikir yang Diajarkan oleh Nabi Muhammad Saw.
Penulis : Imam Nawawi
Tebal : XXXI + 522 halaman
Cetakan : Pertama, Maret 2010
Harga : Rp. 85.000

Salah satu nama Allah yang baik (asmaul husna) adalah Ash-Shamad. Maknanya, Allah adalah tempat bergantung seluruh makhluk ciptaan-Nya. Doa dan dzikir adalah sarana untuk selalu melibatkan Allah dalam kehidupan kita. Karena hidup yang lepas dari Allah adalah hidup yang tersesat dan jauh dari kebahagiaan. 

Manusia yang tidak berdoa adalah manusia yang sombong. Karena pada hakikatnya manusia diciptakan lemah dan memerlukan bantuan. Bila kita menadahkan tangan meminta bantuan kepada orang lain, mengapa kita tidak mengingat Zat yang memberi kita nafas, memberi kita indera yang sempurna, memberi kita waktu untuk bertaubat, memberi kita segala sesuatu melebihi apa yang diberikan orang tersebut. Bila kita berterimakasih atas pemberian bantuan orang tersebut, mengapa kita tidak juga berterimakasih kepada Allah. Atas izin-Nya bantuan itu terjadi. Atas karunia-Nya kita memperoleh apa yang kita inginkan. 

Salah satu kelebihan kaum muslimin dibandingkan umat agama lain adalah intensitas yang tinggi dalam berdoa dan berdzikir. Tidak heran bila ada seorang mualaf mengatakan bahwa umat Islam itu bersih lahir maupun batin. Karena setiap hari minimal lima kali berwudhu dan mengerjakan shalat. Sementara pemeluk agama yang sebelumnya dia anut hanya seminggu sekali beribadah, dan itu pun sangat sedikit sekali yang melakukannya. 

Doa dan dzikir adalah anugerah besar yang diberikan kepada kaum muslimin. Banyak sekali keutamaan yang ada dibaliknya. Sehingga umat pun berlomba-lomba dalam kebaikan ini. Para ulama pun banyak yang menyusun buku-buku tentang doa dan dzikir baik yang ringkas maupun yang tebal. Sebagai contoh, misalnya, Imam Hasan Al-Banna menulis doa dan dzikir dalam versi ringkas, yang dikenal dengan nama "Al-Ma'tsurat." Sementara versi tebal adalah yang ditulis oleh Imam Nawawi dalam bukunya yang berjudul Al-Adzkar. Sebagian besar doa dan dzikir Al-Ma'tsurat merujuk pada karya Imam Nawawi ini. Banyak juga ulama-ulama menyusun doa merujuk pada kitab Al-Adzkar. Tidak heran bila ada yang menganggap buku ini sebagai buku induk doa dan dzikir. Di dalamnya terdapat doa dari A sampai Z, dari bangun tidur hingga tidur lagi, doa dan dzikir dalam berbagai situasi dan kondisi, doa jihad, puasa, haji, dan sebagainya. 

Para ulama telah sepakat bahwa berdoa dan berdzikir dengan mengikuti Sunnah Rasulullah itu lebih utama dan lebih mudah dikabulkan oleh Allah daripada dengan perkataan sendiri atau perkataan orang-orang saleh. Al-Adzkar buku induk tentang doa dan dzikir yang berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah. 

Buku ini tidak diragukan lagi ditulis oleh ulama ahli hadits dan ahli fikih. Tidak hanya itu, Imam Nawawi juga dikenal sebagai ahli ibadah, zuhud, sangat rajin menuntut ilmu dan menggunakan waktunya untuk kebaikan. Imam Adz-Dzahabi mengatakan, "Beliau adalah profil manusia yang berpola hidup sangat sederhana dan anti kemewahan. Beliau adalah sosok manusia yang bertakwa, merasa cukup dengan apa yang ada, menjaga diri dari yang haram, memiliki perasaan selalu merasa di awasi Allah baik di saat sepi maupun ramai. Beliau tidak menyukai kesenangan pribadi seperti berpakaian indah, makan-minum lezat, dan tampil mentereng. Makanan beliau adalah roti dengan lauk seadanya. Pakaian beliau adalah pakaian yang seadanya, dan tempat tidur beliau hanyalah kulit yang disamak."

Abul Abbas bin Faraj berkata, "Syaikh (An-Nawawi) telah berhasil meraih tiga tingkatan yang mana satu tingkatan saja jika orang biasa berusaha untuk meraihnya, tentu akan merasa sulit. Tingkatan pertama adalah ilmu yang dalam dan luas. Tingkatan kedua adalah zuhud yang sangat. Tingkatan ketiga adalah keberanian dan kepiawaiannya dalam beramar ma'ruf nahi munkar."

Ibnu Al-Aththar berkata, "Guru kami, An-Nawawi, di samping selalu bermujahadah, menjaga diri dari yang diharamkan, senang mendekatkan diri kepada Allah, dan mensucikan jiwanya, beliau adalah seorang yang hafal banyak hadits, bidang-bidangnya, rijalnya, dan ma'rifat shahih dan dhaif-nya. Beliau juga seorang imam dalam madzhab fikih."

Ibnu Al-Aththar juga berkata, "Guru kami, An-Nawawi, menceritakan kepadaku bahwa beliau tidak pernah sama sekali menyia-nyiakan waktu, tidak di waktu malam atau di waktu siang bahkan sampai di jalan, beliau terus dalam menelaah dan menghafal."

Rasyid bin Muallim berkata, "Syaikh Muhyiddin An-Nawawi sangat jarang masuk kamar kecil, sangat sedikit makan dan minumnya, sangat takut mendapat penyakit yang menghalangi kesibukannya, sangat menghindari buah-buahan dan mentimun karena takut membasahkan jasadnya dan membawa tidur. Beliau sehari semalam makan sekali dan minum seteguk air di waktu sahur."

Quthbuddin Al-Yuniny berkata, "Beliau adalah teladan zamannya dalam ilmu, menjaga diri dari yang diharamkan, ahli ibadah, dan zuhud."

Syamsuddin bin Fakhruddin Al-Hanbaly berkata, "Beliau adalah seorang imam yang menonjol, hafidz yang mutqin, sangat menjaga diri dari yang diharamkan dan zuhud."

Demikianlah pujian para ulama tentang sosok Imam Nawawi penulis buku Al-Adzkar ini. Hal ini menjadi bukti bahwa kitab ini memang disusun oleh hamba-Nya yang berilmu dan mengamalkan ilmunya. Hal ini menambah keberkahan tersendiri atas karya-karyanya. Hal ini menambah kecintaan umat akan dirinya dan apa yang disampaikannya. Sesungguhnya setiap buku mengandung kelemahan kecuali Kalamullah. Tetapi Allah menutup kekurangan yang ada dalam buku ini dengan kemuliaan penulisnya dan kandungan isinya yang sangat bermanfaat bagi umat. Mungkin tidak semua doa dan dzikir yang ada dalam buku ini kita baca karena kesibukan kita. Imam Nawawi memberikan banyak alternatif doa dan dzikir. Utamakan yang shahih baru kemudian yang berderajat hasan. 

Dengan selalu mendekatkan diri melalui doa dan dzikir, mudah-mudahan Allah selalu melindungi kita dari godaan setan yang terkutuk, selalu merahmati, memberkahi, dan meridhai setiap langkah kita.        

Rabu, 02 Mei 2012

Tujuh Pendekar Pena Ikhwanul Muslimin

Umat Islam modern dianugerahi keberkahan dengan hadirnya jamaah Ikhwanul Muslimin.  Ketika umat Islam mulai mengendur semangatnya dalam memperjuangkan Islam, Ikhwanul Muslimin tampil dengan penuh semangat dan gagah berani. Jamaah ini membangunkan umat yang tertidur lelap dan menyadarkan mereka akan pentingnya melaksanakan ajaran Islam secara menyeluruh. Ikhwanul Muslimin dalam penelitian Dr. Ishaq Al-Husaini, peneliti dari Libanon, adalah organisasi Islam terbesar di dunia. Jama'ah ini memiliki cabang di hampir  negara walaupun kadang berbeda nama. Misalnya, An Nahdhah di Tunisia, Jamaah Al-Islah di Kuwait, Front Amal Islami di Yordania, PAS di Malaysia dan sebagainya. 

Dalam sejarahnya, Ikhwanul Muslimin melahirkan kader-kader handal dalam berbagai bidang. Imam Hasan Al-Banna walaupun sedikit menghasilkan karya tulis, mampu mengkader para penulis handal yang rela berkorban jiwa dan raga. Di antara mereka ada yang dipenjara, diusir dari negerinya, hingga dihukum mati. Meskipun di dalam penjara, misalnya Sayyid Quthb tetap menulis. Bahkan karyanya yang terkenal, Fizhilalil Qur'an draft ditulis di dalam penjara. Akal dan jiwanya terasa menyatu dalam karyanya itu. Sehingga beberapa ulama seperti Syaikh Manna Al-Qaththan dan Syaikh Aidh Al-Qarni memasukkan kitab itu dalam jajaran tafsir terbaik yang ditulis ulama kontemporer. 

Dalam tulisan ini, saya mencoba mengetengahkan tujuh pendekar pena paling terkenal dalam jamaah Ikhwanul Muslimin. Sengaja saya memberi judul "Pendekar Pena" mengingat pena-pena mereka ibarat senjata di medan jihad. Bahkan pena-pena mereka lebih tajam dari senjata itu sendiri. Berkat pena-pena merekalah mengantarkan mereka menuju kesyahidan. Sebagian lagi dipenjara dan dianiaya. Semoga Allah Swt. meridhai langkah saya ini. Semoga siapapun pembacanya mendapat suntikan semangat untuk terus berkarya, khususnya bagi mereka yang ingin memasuki dunia tulis-menulis.

Dr. Abdul Qadir Audah
Beliau adalah mantan hakim Mesir yang memilih bergabung dengan jamaah Ikhwanul Muslimin. Beliau diangkat menjadi wakil Mursyid Am. Beliau dikenal sebagai orator dan sarjana ilmu syariah yang mumpuni. 

Buku beliau yang terkenal At-Tasyri’ Al-Jina’i fil Islam Muqarrinan bil Qanun Al-Wadhi’ telah menjadi fenomena dan menciptakan perubahan yang besar pada pemikiran kaum intelektual di Mesir karena buku ini telah memperlihatkan keunggulan Undang-undang syariat atas undang-undang konvensional. Buku-buku yang beliau tulis menjadi rujukan para intelektual muslim kontemporer. Para mahasiswa syariah menjadikan karya-karya beliau sebagai rujukan  dalam menyusun skripsi, desertasi maupun tesis doktoral. 

Bersama Muhammad Farghali, Yusuf Thal’at, Ibrahim ath-Thib, Mahmud Abdul Lathif dan Handawi Duwair, beliau syahid (insya Allah) ditiang gantungan setelah membela yang haq melawan rezim diktator Gamal Abdun Naser.  

Karya-karya beliau yang lain, di antaranya: al-Islam wa Audha’una al-Qaanuniyah, al-Islam wa Audha’una as-Siayasiah, al-Islam baina Jahli abnaaihi wa ‘Ajzi Ulamaaihi, al-Maalu wa al-Hukmu fi al-Islam

Sayyid Quthb
Beliau dikenal sebagai pemikir Ikhwan nomer dua setelah Imam Hasan Al-Banna. Sebelum mengenal Ikhwan, beliau adalah sastrawan dan kritikus sastra jempolan. Karena prestasinya yang menonjol, pernah kuliah di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat justru beliau mendapat hidayah. Saya pernah mendengar penuturan langsung oleh almarhum KH. Rahmat Abdullah bahwa ketika terjadi pembunuhan Imam Hasan Al-Banna, rakyat Amerika Serikat bersuka cita dan merayakannya. Hal inilah yang mengantarkannya mengenal Harokah Ikhwan lebih dekat; siapa Hasan Al-Banna? Mengapa orang-orang kafir Amerika merayakan kematiannya? 

Beliau dianugerahi Allah pena yang tajam. Karyanya yang paling terkenal adalah Fizhilalil Qur'an, sebuah renungan terhadap Al-Qur'an sebanyak 11 jilid tebal. Karya ini layak diancungi jempol, selain karena bobot ilmiah dan nilai sastranya yang tinggi, juga karena sebagian besarnya ditulis di dalam penjara. Karya beliau ini telah banyak menyedot perhatian publik sehingga menjadi salah satu buku paling populer di Timur Tengah. 

Syaikh Khalil Al-Hamidi, sekretaris Al-Maududi, menceritakan, Tahun 1966, di Makkah Al-Mukarramah, tepatnya di Hotel Syabra, pemuda muslim Arab masuk menemui Ustadz Abul A'la Al-Maududi dan menyodorkan kepadanya buku Ma’alim fith Thariq karya Sayyid Quthb. Al-Maududi membaca buku tersebut semalam. Pagi harinya, ia berkata, "Sepertinya, saya sendiri yang menulis buku ini." Ustadz Al-Maududi heran melihat kedekatan pemikiran dirinya dengan pemikiran Sayyid Quthb. Beliau berkata, "Tidak perlu heran, karena sumber pemikiran Sayyid Quthb dan pemikiranku itu satu, yaitu Al-Qur`an dan Sunnah."

Karya-karya beliau yang lain adalah At-Thaswir Al-Fanni fil Qur`an, As-Salam Al-Alami wal Islam, Dirasat Islamiyah, Fit Tarikh Fikratun wa Minhaj, Al-Mustaqbal li Hadza Ad-Din, Al-Islam wa Musykilatul Hadharah, Al-Adalah Al-Ijtima’iyah fil Islam.

Dr. Musthafa As-Siba'i
Beliau adalah ulama Suriah ternama. Pendiri Fakultas Syariah Universitas Damaskus sekaligus juga Muraqib Am Ikhwanul Muslimin cabang Suriah. Beliau meraih gelar doktor dalam ilmu hadits di Universitas Al-Azhar dengan tesis yang berjudul "As-Sunnah wa Makanatuha fit Tasyri’ Al-Islami." Di dalam buku beliau ini terlihat kecintaan yang besar kepada Islam. Semangat beliau berkobar-kobar menghadapi para orientalis. Buku beliau ini menjadi pukulan keras terhadap para orientalis. Kebobrokan orientalis dan penyimpangan-penyimpangannya di bongkar habis sehingga terlihatlah mana yang haq dan mana yang batil. Tidak heran karena dianggap karya ilmiah yang berbobot, tokoh Islam Liberal Dr. Nurcholis Majid menerjemahkan buku ini ke dalam bahasa Indonesia.

Sehari sebelum wafat beliau menulis tiga buku yaitu Al-Ulama’ Al-Auliya’, Al-Ulama’ Al-Mujahidun, dan Al-Ulama Asy-Syuhada’. Semoga menjadi amal jariyah baginya atas karya yang ditulis sangat cepat ini.

Syaikh Sayyid Sabiq
Fikih Sunnah adalah karya beliau yang paling terkenal. Karya beliau ini bermula ketika beliau rutin menulis majalah Ikhwanul Muslimin. Beliau mengambil metode yang membuang jauh-jauh fanatisme madzhab tetapi tidak menjelek-jelekkannya. Ia berpegang kepada dalil-dalil dari Kitabullah, as-Sunnah dan Ijma’, mempermudah gaya bahasa tulisannya untuk pembaca, menghindari istilah-istilah yang runyam, tidak memperlebar dalam mengemukakan ta’lil (alasan-alasan hukum), lebih cenderung untuk memudahkan dan mempraktiskannya demi kepentingan umat agar mereka cinta agama dan menerimanya. Beliau juga antusias untuk menjelaskan hikmah dari pembebanan syari’at (taklif) dengan meneladani Al-Qur’an dalam memberikan alasan hukum.

Juz pertama dari kitab beliau yang terkenal “Fiqih Sunnah” diterbitkan pada tahun 40-an di abad 20. Ia merupakan sebuah risalah dalam ukuran kecil dan hanya memuat fiqih thaharah. Pada mukaddimahnya diberi sambutan oleh Imam Hasan Al-Banna yang memuji manhaj (metode) Sayyid Sabiq dalam penulisan, cara penyajian yang bagus dan upayanya agar orang mencintai bukunya. 

Setelah itu, Sayyid Sabiq terus menulis dan dalam waktu tertentu mengeluarkan juz yang sama ukurannya dengan yang pertama sebagai kelanjutan dari buku sebelumnya hingga akhirnya berhasil diterbitkan 14 juz. Kemudian dijilid menjadi 3 juz besar. Belaiu terus mengarang bukunya itu hingga mencapai selama 20 tahun seperti yang dituturkan salah seorang muridnya, Syaikh Yusuf al-Qardhawi. 

Kita menyaksikan dalam buku Fikih Sunnah tampak kepakaran, kecerdasan, dan kejeniusan seorang Sayyid Sabiq. Tidak heran banyak ulama kontemporer menyarankan untuk mempelajari buku ini. Syaikh Muhammad Al-Ghazali menjuluki Syaikh Sayid Sabiq sebagai orang yang paling faqih di abad ini. Beliau menjadi tempat rujukan ulama-ulama besar termasuk Syaikh Mutawalli Sya’rawi. Bahkan saking populernya, Syaikh Nashiruddin Al-Albani merasa terpanggil untuk mentakhrij hadits-hadits yang ada di dalam kitab tersebut, sehingga kitab tersebut semakin berbobot di mata umat. Selain Fikih Sunnah 3 jilid, beliau juga menulis beberapa buku seperti Aqidah Islamiyah dan Islamuna.

Syaikh Muhammad Al-Ghazali
Beliau adalah ulama jebolan Al-Azhar. Orator ulung dan salah satu penulis paling fenomenal di Timur Tengah. Karya-karyanya indah mengalir, penuh semangat dan kecintaan kepada Islam dan umatnya. Karena kekejaman rezim diktator Mesir, selama belasan tahun beliau di penjara dan terpaksa harus hijrah ke beberapa negara di Timur Tengah. Beliau pernah mengajar di Universitas Islam Madinah, Universitas di Qatar, Aljazair, dan sebagainya. Di Madinah beliau banyak menghabiskan waktu untuk mendekatkan diri kepada Allah. Karya beliau yang berjudul Fikih Sirah -- menurut Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi -- ditulis di depan makam Rasulullah Saw. Setiap kali memulai menulis perjuangan agung Rasulullah, beliau selalu menangis. Karya beliau itu adalah gabungan dari keilmuan dan hatinya yang bersih. Fikih Sirah adalah salah satu kitab sejarah Nabi terbaik yang ditulis oleh ulama kontemporer. Dalam karyanya itu, beliau mengenalkan sejarah Nabi dalam sudut pandang Harokah. Ini adalah pendekatan baru dalam kajian Sirah Nabawiyah. 

Beliau adalah penulis produktif dalam Harokah Ikhwanul Muslimin. Karya-karyanya yang lain di antaranya: Akhlak Muslim, Jadid Hayatak, Studi Kritis Atas Hadits Nabi, Bagaimana Memahami Islam, Al-Ghazali Menjawab, Keprihatinan Seorang Juru Dakwah, Al-Qur'an Kitab Zaman Kita, Menghidupkan Kembali Ajaran Ruhani Islam.       

Syaikh Said Hawwa 
Beliau adalah ulama Suriah terkenal. Bersama Syaikh Musthafa As-Siba'i bahu membahu bekerja dalam amal jama'i Ikhwan. Kekejaman rezim memaksa hijrah ke Arab Saudi dan terakhir ke Yordania. Beliau adalah ulama yang ditakdirkan wafat di usia muda (53 tahun). Namun usia yang pendek itu beliau habiskan untuk berkarya. Buku-buku karya beliau banyak sekali dan rata-rata cukup tebal. Beliau berhasil menggabungkan dunia dakwah, harokah, dan tasawuf dalam satu bingkai yang indah. Perkataan beliau mengalir dengan deras dan lancar. Terlihat beliau sangat mahir dalam tulis-menulis. Buku-buku beliau menunjukkan pemahaman yang dalam tentang Islam dan wawasan yang luas tentang permasalahan umat. 

Di antara buku-buku beliau yang terkenal adalah 
Dibidang tarbiyah ruhiyah, beliau menulis trilogi buku: Tazkiyatun Nufus: Buku ini merupakan ringkasan Ihya Ulumuddin karya Imam Al-Ghazali. Buku ini banyak dijadikan pegangan oleh banyak aktivis harokah. Tarbiyatunar Ruhiyah: Buku ini berhasil memadukan antara dunia dakwah, harokah, dan tasawuf. Boleh dikatakan buku ini menggambarkan pemikiran dan karakter beliau. Syarah Al-Hikam: Buku ini merupakan penjelasan nasehat-nasehat Imam Ibnu A'thaillah As-Sakandari yang terkenal itu.

Jundullah Tsaqaafatan wa Akhlaaqan: Beliau menyebutkan bahwa tsaqafah seorang muslim harus mencakup sebelas materi. Seorang da’i yang ulung seharusnya punya bekal yang cukup dari materi-materi ini. Materi-materi itu bisa diringkas menjadi sepuluh: ilmu Al-Qur`an, ilmu hadis, ilmu bahasa Arab, ilmu ushul fiqih, ilmu akidah, ilmu fiqih, ilmu akhlak, ilmu sejarah, ilmu tentang tiga pokok (Allah, rasul, dan Islam), dan ilmu fiqih dakwah. 

Tentang tiga pokok (Ushul Tsalaatsah) Sa'id menulis tiga buku: Allah Jalla Jalaaluhu, ar-Rasuul, dan al-Islam. Buku beliau yang lain Al-Asaas fit-Tafsiir (berdasarkan ide tentang kesatuan hubungan ayat-ayat Al-Qur'an; ide ini sendiri menurut Sa'id telah muncul sejak beliau duduk di SMU), Al-Asaas fis-Sunnah, Al-Asaas fi Qawaa'idil Ma'rifah (tentang ushul fiqih dan mantik), al-Madkhal ilaa Da'watil-Ikhwaan al-Muslimin, Min Ajli Khuthwah ilal Amaam 'ala Thariiqil-Jihaad al-Mubaarak, dan sebagainya.

Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi
Beliau adalah ulama senior ikhwan yang masih hidup hingga kini. Beliau adalah murid langsung Syaikh Sayyid Sabiq dan Syaikh Muhammad Al-Ghazali. Beliau adalah salah satu ulama ikhwan yang sangat produktif dalam menghasilkan karya tulis. Sudah ratusan buku beliau tulis, meliputi fikih, ushul fikih, dakwah, ekonomi Islam, hadits, dan ulumul qur'an. 

Buku beliau yang berjudul Fikih Zakat menurut Syaikh Abul A'la Maududi adalah buku terbaik di abad 20. Karya beliau yang lain yang banyak dijadikan rujukan seperti Halal dan Haram di dalam Islam, Bagaimana Memahami Sunnah Nabi, Berinteraksi dengan Al-Qur'an, Fikih Jihad, Fatwa-Fatwa Kontemporer (4 jilid), Fikih Shaum, Fikih Thaharah, Norma dan Etika Ekonomi Islam, Fikih Taysir, Fikih Prioritas, Fikih Daulah, Al-Ijtihad fi al-Shari'at al-Islamiah, dan sebagainya. 

Dengan kehadiran para penulis handal ini, Ikhwanul Muslimin dapat terus eksis. Bahkan dikemudian hari semakin membesar. Banyak orang yang terpengaruh padanya walaupun mereka bukan anggota atau aktivis Ikhwanul Muslimin. Mereka hadir sebagai pendukung-pendukung setia. Bahkan mereka sangat mencintai para aktivisnya. Saya percaya ketika tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin tampil di dunia, maka mereka akan hadir dibelakangnya; mendukungnya. Sebagai contoh ketika Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi dihina dan akan ditangkap oleh Kepala Intelejen Uni Emirat Arab, maka para ulama dari berbagai negara tampil menjadi pembelanya dan mengkritik kebijakan Kepala Intelejen tersebut. Padahal mereka bukanlah anggota Ikhwanul Muslimin.

Ikhwah fillah, ingin rasanya saya menulis lebih banyak lagi tentang para penulis di atas dan penulis-penulis ikhwan lainnya, namun karena keterbatasan ilmu saya, maka saya mencukupkan pada ketujuh ulama di atas, dan itupun sangat ringkas. Tapi, bisa saya sebutkan sedikit para penulis Ikhwan lainnya yang saya ketahui seperti DR. Zaghlul Najjar (Beliau banyak menulis buku-buku yang berhubungan sains, Al-Qur'an dan As-Sunnah), dr. Najib Khailani (Beliau dokter yang sastrawan. Banyak mendapat penghargaan sastra berkat cerpen, novel, dan syair-syairnya), Dr. Abdullah Nashih Ulwan (Saya mengenalnya berkat karyanya yang bermutu; Tarbiyah Ruhiyah dan Pendidikan Anak dalam Islam 2 jilid), Syaikh Muhammad Quthb (Beliau adalah adik Asy-Syahid Sayyid Quthb.  Saya mengenalnya dalam buku yang ditulisnya Jahiliyah Abad 20, Salah Paham terhadap Islam, Al-Insan Baina al-Maddiyah wa al-Islam, Dirasah fi al-Nafsi al-Basyariyah. Seperti kakaknya, beliau adalah salah satu penulis produktif dan cukup mahir menuangkan kata-kata dalam bentuk tulisan. Di karya-karya beliau terlihat beliau sangat memahami dunia sosiologi dan psikologi). 

Akhirnya, para ulama itu telah mengobarkan semangat saya untuk eksis menulis sesuai dengan kemampuan yang saya miliki. Semoga Allah merahmati mereka dan semoga pahala terus tercurah kepada mereka berkat karya-karya mereka itu.     

Selasa, 01 Mei 2012

Bukan Harta Tapi Akhlak Mulia

Pertempuran besar akan terjadi. Rasulullah SAW dan pasukan Islam bergerak untuk mendahului kaum Musyrikin Quraisy sehingga mereka bisa menduduki tempat di dekat sumur Badar. Dengan begitu, mereka dapat menghalangi Quraisy dari sumur itu. Pada sore hari, mereka telah sampai di dekat sumur itu.
Saat itu berdirilah Hubbab bin Mundzir, “Wahai Rasulullah, apakah keputusan untuk menempati lokasi ini merupakan wahyu Allah, atau merupakan pendapatmu sebagai siasat dan taktik perang?”
Rasulullah SAW menjawab, “Ini merupakan pendapatku sebagai siasat dan taktik perang.”
Hubbab berkata lagi, “Wahai Rasulullah, jika ini strategi yang lahir dari pendapatmu dan bukan merupakan wahyu, maka menurutku, kita harus berhenti di tepi sebelah sana sehingga kita lebih dekat dari mereka. Kita timbun sumur mereka, lalu kita penuhi sumur kita dengan air sehingga mereka tidak bisa menjangkaunya. Ketika berperang, kita bisa minum dengan leluasa, tetapi mereka kesulitan mendapatkan air sehingga tidak bisa minum.”
Lalu, Rasulullah SAW berkata, “Pendapatmu sangat tepat.”
Kemudian Rasulullah SAW bangkit membawa pasukannya sampai jarak mereka lebih dekat dengan sumur dari pihak musuh.
Demikianlah salah satu strategi jitu yang diterapkan oleh Rasulullah SAW dan pasukannya. Ternyata taktik perang yang disampaikan Hubbab sangat tepat. Pasukan Islam pun berhasil meraih kemenangan berkat taktik tersebut walaupun kenyataannya jumlah pasukan kafir jauh lebih banyak. Ketika pasukan kafir Quraisy kehausan, mereka lalu segera berhamburan meminum air dari sumur Badar. Dengan cepat pasukan Islam menyerang mereka hingga banyak di antara orang-orang kafir itu mati dan sebagian lagi lari terbirit-birit.
Inilah salah satu bukti keindahan akhlak Rasulullah SAW. Beliau mau menerima pendapat sahabatnya, padahal beliau seorang Nabi dan utusan Allah! Beliau adalah orang yang paling bertakwa. Apakah dengan cara yang dilakukan Rasulullah ini, para sahabat menjauhi dan menghina beliau? Ternyata tidak. Justru beliau semakin dicintai. Setiap titahnya semakin dihargai. Setiap kata-katanya diingat, dihafal, dan dijalani dengan sepenuh hati. Beliau tidak menang sendiri; pokoknya apa yang dikatakan harus dilakukan. Titik. Ternyata tidaklah demikian adanya. Bahkan beliau pernah meminta doa kepada salah seorang sahabatnya yang akan pergi haji ke Makkah. Hal ini menunjukkan kerendahhatian beliau.
Orang-orang yang tidak mengerti dan berpikiran pendek bisa saja mengatakan, “Lihat saja Nabimu. Dia minta pendapat kepada teman-temannya, bukankah dia seorang Nabi? Seharusnya seorang Nabi itu lebih mengetahui daripada orang lain. Dia juga minta doa kepada para sahabatnya, bukankah dia seorang Nabi? Jadi, mengapa dia harus meminta doa, bukankah doa yang dipanjatkannya selalu dikabulkan Allah?” Mereka tidak melihat sisi kemanusiaan Rasulullah. Mereka hanya memandang Rasulullah ada di atas sana, tidak terjangkau layaknya malaikat yang tidak pernah berbuat dosa atau bahkan menganggapnya sebagai Tuhan!
Rasulullah adalah orang yang sederhana. Tidak memiliki banyak harta. Andaikata para sahabatnya gila harta, tentu mereka meminta harta dari Rasulullah. Walaupun demikian, Rasulullah adalah orang yang dermawan. Beliau memberikan apa yang dimiliki dengan senang hati. Beliau pernah memberikan mantel bagus yang baru saja dipakainya. Oleh karena itu, bukanlah harta yang dikedepankan Rasulullah, tetapi akhlak mulia. Bukanlah pangkat dan jabatan yang bisa mengangkat derajat dan martabat seseorang, tetapi akhlak mulia!
Mungkin saja ada orang yang lebih banyak memberi daripada Rasulullah, tetapi tidak ada orang yang mampu menyamai akhlak beliau. Kadang orang memberi sedikit tapi yang diberi sangat senang bukan main. Si penerima sangat menghormati si pemberi. Padahal yang diberi hanya sedikit saja! Hal itu terjadi karena akhlak mulia si pemberi. Sebaliknya, ada orang yang banyak memberi, tapi di belakang si penerima tidak senang hati. Walaupun sangat membutuhkan terhadap apa yang diberi, tetapi dia tidak begitu peduli dengan si pemberi. Ya, hal itu terjadi karena akhlak buruk si pemberi. Saat memberi dia ingin di puji, sombong, dan ingin orang-orang yang diberi tunduk padanya. Bila tidak tunduk, dia sangat marah. Jadilah orang seperti ini dijauhi.
Rasulullah Saw. selalu mengedepankan akhlak. Meskipun yang dihadapinya seorang anak kecil. Keindahan akhlak memancarkan kemilau cahaya ke seluruh penjuru bumi. Ketiadaannya membuat orang-orang di sekitarnya sedih. Keberadaannya selalu dinanti-nanti.”Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)

Tiga Kesalahan Berpikir Ferry Mursyidan Baldan Tentang Israel


Sangat menyedihkan sekali ada sekelompok orang dari Indonesia menghadiri pesta ulang tahun Israel di Singapura. Salah satu di antaranya Ferry Mursyidan Baldan, mantan ketua PB-HMI dan saat ini sebagai pengurus Nasional Demokrat-nya Surya Paloh. Menurut Ferry, dia datang kesana atas undangan kedutaan besar Israel di Singapura. Artinya, memang sebelumnya sudah ada kontak-kontakkan antara orang-orang seperti Ferry dengan kedutaan besar Israel.

Menurut Ferry, dia datang membawa misi dialog dengan Israel. Katanya, kita harus merubah mindset kita. Kita juga sering 'bentrok' dengan Malaysia, tapi toh kita tetap bisa berdialog dengan mereka. Saya katakan, justru mindset anda yang seharusnya diubah terlebih dahulu. Karena, mindset anda seperti kebanyakan mindset orang sekuler.

Tanggapan saya: Pertama, Allah Swt. mengatakan di dalam firman-Nya bahwa orang-orang yang beriman itu bersaudara, maka damaikanlah bila mereka berselisih. Jadi, mindset yang benar adalah, kita harus membawa misi ini kepada saudara-saudara kita baik yang berselisih dengan kita maupun ketengah saudara-saudara kita yang sedang berselisih. Jika kita menempatkan Israel pada posisi Malaysia, maka itu sangat tidak layak: Karena Israel kafir yang zalim (kafir harbi) kepada saudara-saudara kita di Palestina. Kezaliman Israel bukan kezaliman satu dua orang saja, tetapi kezaliman atas nama negara! Maka, ketika Israel berbuat zalim kepada saudara-saudara kita, maka kita harus menggunakan kaidah jihad untuk membantu saudara-saudara kita, bukan dengan cara  menghadiri pesta mereka!

Kedua, orang-orang seperti bung Ferry Mursyidan Baldan layaknya seperti orang yang buta. Mereka tidak melihat penderitaan rakyat Palestina. Mereka dibutakan oleh keramahan sesaat pejabat-pejabat Israel. Kalau memang Israel beritikad baik atas perdamaian, lalu mengapa mereka masih saja membangun pemukiman  di tempat yang tidak boleh dibangun? Karena mereka merasa bahwa tanah Palestina adalah milik mereka hingga ke Turki sebagaimana cita-cita mereka! Mengapa mereka masih saja memborbardir Palestina padahal rakyat Palestina sedang tidak ingin berperang? Karena mereka menganggap organisasi-organisasi seperti HAMAS dan Jihad Islam adalah penghalang terwujudnya berdirinya negara Israel Raya! Mengapa mereka membangun reaktor nuklir sementara negara-negara lain seperti Iran tidak diperbolehkan? Karena mereka menganggap bahwa mereka pemimpin dunia dan dunia berada di dalam genggaman mereka. Oleh karena itu, negara-negara Islam yang kemungkinan bisa sejajar dengan mereka, akan mereka sikat habis sehingga jadilah mereka tetap superior dihadapan negara-negara tetangga khususnya dan dunia pada umumnya.

Ketiga, kalaulah memang bung Ferry merasa dialog adalah jalan terbaik. Bukankah bangsa Palestina dan negara-negara tetangga lainnya sudah kenyang berdialog dengan Israel dan apa yang terjadi? Proses itu malah merugikan bangsa Palestina. Sedikit demi sedikit Israel mencaplok tanah Palestina. 

Jadi, siapa yang harus diubah mindsetnya, anda atau kami wahai bung Ferry?  

Tanggal Kelahiran Nabi Muhammad

Beberapa waktu yang lalu seseorang bertanya kepada saya kapan tepatnya Nabi Muhammad Saw. dilahirkan. Lalu saya katakan kepadanya, Nabi Muhammad Saw. lahir di bulan Rabiul Awwal tahun gajah. Lalu dia bertanya tentang tanggalnya. Saya katakan para ulama berbeda pendapat tentang tanggalnya. Imam Ibnu Katsir di dalam Kitab Al-Bidayah wan Nihayah mengatakan para ulama ada yang menyebut tanggal 2, 8, 10, 12, dan 17. Teman saya bertanya lagi, bukankah dibuku-buku pelajaran sekolah tertulis 12 Rabi'ul Awwal? Saya jawab, itu pendapat sebagian ulama. Karena tidak adanya dalil yang mengatakan tanggal 12, maka kelahiran Nabi Muhammad tidak bisa diputuskan secara pasti tanggal 12. Bahkan menurut hasil hitung-hitungan ahli falak Mahmud Basya, Syaikh Ibnu Utsaimin, Syaikh Muhammad Sulaiman Al-Manshurfury, dan Syaikh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfury, Nabi lahir tanggal 9 Rabiul Awwal. 

Saya balik bertanya kepada orang itu, apakah tanggal itu begitu penting bagi Anda? Dia menjawab, ya kalau tidak penting berarti agama yang kita anut tidak ada bedanya dengan Kristen. Kita tidak tahu secara pasti tanggal berapa Nabi Muhammad lahir, Kristen juga sama, mereka tidak tahu secara pasti kapan Yesus lahir dan wafat. Saya menanggapinya, kelahiran dan wafatnya Rasulullah Saw. bukanlah sebuah ibadah atau perayaan yang sakral di dalam Islam. Berbeda sekali dengan orang Kristen menganggap hari kelahiran dan wafatnya Yesus sebagai ibadah. Bila suatu momen dipandang bernilai penting, maka sudah pasti dalilnya jelas dan kuat. Sehingga para ulama pasti akan bersepakat. Artinya, tanggal kelahiran Nabi bukanlah esensi ajaran Islam karena ajaran Islam sudah jelas dan kuat landasannya. 

Para ulama sendiri bersepakat bahwa Nabi Muhammad lahir ditahun gajah. Karena, melimpahnya bukti sejarah akan hal itu. Ternyata dinamakan tahun gajah karena menyimpan sejarah yang harus kita renungkan. Bahkan Al-Qur'an mengabadikannya dalam surat Al-Fill. Oleh karena itu tahun kelahiran Nabi Muhammad lebih layak kita perhatikan daripada  tanggal kelahiran beliau. .

Nah, itulah Islam. Yang jelas sudah pasti berguna. Islam agama yang jelas, jadi sudah pasti berguna.