Kamis, 19 Desember 2013

Kesiapan Hati dalam Mendengar Nasehat

Ketika mendengar nasehat, seringkali manusia dihadapkan pada dua kondisi: Pertama, mereka yang belum siap menerima nasehat. Meskipun berada di dalam majelis ilmu, mereka ibarat batu yang diam. Apa yang didengarnya dari telinga kiri,keluar dari telinga kanan. Nasehat yang mereka dengar tidak membawa kebaikan apa-apa dalam hatinya.

Kedua, mereka yang siap mendengar nasehat. Mereka kosongkan hati dan pikirannya hanya untuk menerima kebaikan. Hati yang bersih dari segala urusan duniawi, mudah tersentuh oleh nasehat. Tidak heran bila orang seperti ini mudah menangis ketika mendengar nasehat. Setelah mendengarnya, mereka bertekad kuat untuk berbuat lebih baik lagi. Ketika mendengar nasehat tentang keutamaan shalat berjamaah, mereka bertekad untuk shalat berjamaah. Ketika mendengar nasehat tentang keutamaan shalat sunah, mereka bertekad untuk shalat sunah. Ketika mendengar nasehat tentang keutamaan menuntut ilmu, mereka bertekad untuk menuntut ilmu.Dan seterusnya. Kebaikan yang mereka dengar membawa pengaruh yang positif untuk dirinya.

Namun, untuk mempertahankan agar kita tetap pada tekad kita pun tak mudah. Seringkali ketika keluar dari majelis ilmu, di mana kita disibukkan dengan urusan duniawi, tekad itu semakin melemah seiring dengan berjalannya waktu.

Agar kita tetap pada kondisi prima, hendaknya kita sering melakukan muhasabah. Salah satu contohnya adalah muhasabah sesudah habis shalat fardhu. Muhasabah dhuhur, yaitu muhasabah dari apa yang telah kita lakukan mulai dari subuh sampai dhuhur. Muhasabah ashar,yaitu muhasabah dari apa yang telah kita lakukan mulai dari dhuhur sampai ashar. Dan seterusnya.

Jiwa yang termotivasi seperti ini akan memberontak jika perilakunya tidak sesuai dengan tabiat dirinya, seperti seorang sahabat Nabi bernama Handzalah. Dia merasa di saat berada di dalam majelis Rasulullah Saw., keimanannya bertambah, tekadnya untuk beramal sangat kuat, tetapi ketika keluar dari majelis Rasulullah, tekad itu melemah. Sehingga dia mengecam dirinya sendiri dengan berkata, "Handzalah telah munafik."

Perkataan ini pada hakikatnya bukan menunjukkan Handzalah munafik, tetapi menunjukkan muhasabah dan kesadaran jiwa, betapa bertolak belakangnya keadaan dirinya saat berada di majelis Rasulullah dan saat berada di luar majelis Rasulullah Saw. Apalah artinya amal kita dibanding amal yang dilakukan Handzalah, seorang sahabat Nabi, salah satu dari hamba-Nya yang terbaik, seorang syuhada yang jasadnya dimandikan malaikat.

Rabu, 18 Desember 2013

Meneladani Para Ulama dalam Membaca dan Menulis


Ketika menyaksikan deretan buku yang saya miliki, saya menjadi semakin kagum dengan para ulama penulis buku-buku itu. Terutama ulama-ulama zaman dulu semisal Imam Ath-Thabari, Imam Al-Ghazali, Imam Nawawi, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim, Imam Ibnu Al-Jauzy, Imam Ibnu Katsir, dan Imam Al-Qurthubi.

Mereka telah menulis ratusan hingga ribuan judul dan satu judulnya ada yang mencapai ratusan jilid buku. Imam Ath-Thabari, seorang ahli sejarah dan ahli tafsir terkemuka, membiasakan diri selama 40 tahun untuk menulis 40 lembar setiap hari. Setelah kematiannya, murid-muridnya menghitung apa yang ditulisnya setiap hari. Ternyata sejak beliau berusia baligh sampai meninggalnya, terhitung kurang lebih 14 lembar yang beliau tulis setiap hari.

Abu Ishaq asy-Syairazi telah menulis 100 jilid buku. Imam Ibnu Taimiyah menyelesaikan setiap buku dalam waktu satu minggu. Beliau pernah menulis satu buku penuh dalam satu kali duduk. Dan bukunya telah dijadikan referensi oleh lebih dari 1000 penulis.

Imam Ibnu al-Jauzy telah menulis 1000 judul buku dan satu bukunya ada yang mencapai 10 jilid. Kayu bekas penanya bisa dipakai untuk memanaskan air yang dipakai untuk memandikan jasadnya ketika meninggal.

Termasuk semangat yang menakjubkan pula adalah semangat Imam Ibnu Aqil yang telah menulis sebuah karya terbesar di dunia yaitu al-Funun. Tahukah Anda berapa jilid kitab tersebut? Sebagian mengatakan sebanyak 800 jilid dan ada yang mengatakan 400 jilid. Imam adz-Dzahabi berkata: "Belum pernah ada di dunia ini kitab yang lebih besar darinya. Seseorang pernah menceritakan kepadaku bahwa dia pernah mendapati juz yang empat ratus lebih dari kitab tersebut."

Bisa Anda bayangkan betapa banyaknya tempat untuk meletakkan buku yang mereka tulis. Tidak perlu memiliki buku dari semua ulama yang saya sebut, satu saja di antaranya. Apakah kita memiliki buku di atas seratus? Dua ratus? Tiga ratus? Mungkin akan ada yang menjawab, tidak! Saya hanya memiliki buku puluhan saja. Yang lain lebih parah lagi, hanya memiliki belasan buku.

Bagaimana kita bisa mengisi hari-hari dengan ilmu jika buku yang kita miliki saja hanya puluhan atau bahkan belasan? Bagaimana kita bisa lebih semangat beramal saleh jika kita tidak berdekatan dengan buku? Para ulama itu tidak mungkin mampu banyak menulis dan beramal kecuali mereka mengoleksi banyak buku untuk mereka baca.

Berikut ini beberapa fakta yang dahsyat betapa banyaknya para ulama membaca buku:
Seorang tabib datang mengobati Abu Bakar Al Anbari (ilmuwan Islam yang banyak menulis buku), ketika sakitnya sudah teramat kritis. Kemudian tabib itu memeriksa air seninya, lalu berkata: “Tuan telah melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh siapa pun, sebenarnya apa yang telah tuan lakukan?” Al-Anbari menjawab: “Aku baca setiap pekan sebanyak sepuluh ribu lembar.” (Washaaya wa Nasha’ih li Thalibil Ilmi, hlm. 14)

Syaikh Abdul Adim bercerita tentang Ishaq bin Ibrahim Al Muradi: “Saya belum pernah melihat dan mendengar orang yang lebih banyak kesibukannya, melebihi Ishak Al-Muradi. Beliau senantiasa terbenam dalam kesibukannya sepanjang siang hingga larut malam. Saya bertetangga dengan beliau. Rumah beliau dibangun setelah duabelas tahun rumahku berdiri. Setiap kali saya terjaga di keheningan malam, selalu terbias sinar lentera dari dalam rumahnya, dan beliau sedang sibuk dengan pencarian ilmu; bahkan sewaktu makan beliau selingi pula dengan membaca kitab-kitab.” (Imam Nawawi, Bustanul Arifin, hlm. 79)

Imam Asad bin Furat bercerita tentang dirinya yang berguru pada Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani: “Pada aktu itu aku tinggal di bangsal sebuah rumah yang atasnya didiami oleh Imam Muhammad bin Hasan Asy-Syaibani. Setiap kali beliau turun “memperdengarkan ilmu” kepadaku, dan beliau menaruh sebuah cawan berisi air di depannya. Kemudian beliau mulai membaca. Apabila malam semakin larut dan beliau melihatku terserang kantuk, maka beliau mengambil air dengan tangan beliau dan dipercikkan ke wajahku sehingga aku pun terjaga. Begitulah yang selalu kami lakukan tiap hari, sehingga aku memperoleh apa yang aku maksudkan, yakni bekal ilmu dari beliau.” (Adz Dzahabi,Tadzkiratul Huffadz, hlm. 21).

Imam Ibnu Aqil Al-Hanbali, seorang pakar bahasa berkata: “Sungguh tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat pun umurku, bahwa ketika mulutku sudah tidak aktif bermudzakarah atau munadzarah, dan penglihatanku tidak kugunakan untuk menelaah, maka aku tetap mengaktifkan pikiranku, di saat aku sedang istirahat.”(Thabaqatul Hanabilah, jilid 1, hlm. 146)

Imam Fakhruddin Ar Razi, seorang ahli filsafat, tafsir, logika, dan kedokteran berkata: “Demi Allah, sesungguhnya aku menyayangkan waktu yang hilang tidak disibukkan untuk menimba ilmu, dan bahkan waktu makan; karena waktu dan zaman teramat agung.” (Al Kanani, Tadzkiratus Saami’ wal Mutakallim, hlm. 72)

Istri Imam Zuhri berkata tentang suaminya (seorang ahli hadits ternama, guru para Imam Madzhab): “Demi Allah, sesungguhnya kitab-kitab ini sangat menyakitkan saya sebagai seorang istri, melebihi sakit hatiku bila dimadu dengan tiga orang istri.” (ibid, hlm. 32)

Imam Al Juwaini, guru dari Imam Al Ghazali berkata: “Aku biasa tidak tidur dan makan. Aku tidur hanya bila kantuk menguasaiku baik malam maupun siang, dan aku makan hanya bila aku berselera, pada waktu apa pun. Kelezatan dan hiburan adalah sewaktu mengingat-ngingat ilmu dan mencari faedahnya dari ilmu macam apa pun.” (Dr. Nashir bin Sulaiman Al-Umr, Al-Ilmu Dharurotun Syar’iyyah)

Ya, membaca dan menelaah ilmu telah menjadi kelezatan dan hiburan bagi mereka. Seperti sebuah buku yang berjudul "Andaikan buku itu sepotong pizza" atau apapun makanan yang kita sukai kita akan melahapnya sampai habis. Sampai sisa-sisa makanan pada jaripun ikut kita jilat.

Bila kita melihat sebuah buku yang menarik perhatian kita, jangan sungkan-sungkan untuk membacanya. Bila waktu kita sangat singkat di toko buku namun kita masih ingin membacanya, jangan pelit untuk membelinya. Bila dalam sebuah buku terdapat secercah cahaya hidayah, sungguh hidayah itu sangat mahal harganya. Buku adalah investasi bagi kita. Ia tidak meminta tetapi selalu ingin memberi. 

Apakah Hukuman Mati Tidak Ada dalam Islam?

Akhir-akhir ini tengah ramai dibicarakan pernyataan seorang ustadz pimpinan parpol Islam. Ustadz itu menolak hukuman mati bagi koruptor. Karena katanya hukuman mati itu tidak ada dalam Islam. Yang ada adalah hukuman potong tangan.

Benarkah hukuman mati bagi koruptor tidak ada dalam Islam? Apakah seorang pencuri seekor ayam, misalnya, disamakan dengan koruptor? Kalau baca bukunya Ulama Ikhwanul Muslimin, seperti Syaikh Abdul Qadir Audah dalam kitab at-Tasyrri’ al-Jina’i al-Islami Muqaranan bi al-Qanun al-Wad’i dan Syaikh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab al-Fiqhu al-Islam Wa Adillatuhu. Apa yang dikatakan pimpinan parpol Islam itu bertolak belakang dari apa yang disampaikan kedua ulama itu.

Kalau menurut Syaikh Wahbah Zuhaili, jenis hukaman ta’zir dibagi menjadi lima macam yaitu, hukuman pencelaan, hukuman penahanan, hukuman pemukulan, hukuman ganti rugi materi, dan hukuman mati. Jenis hukuman ini dapat dikenakan kepada pelaku kejahatan sesuai dengan tingkat kejahatannya dengan tetap berpegang pada prinsip keadilan dan ketegasan hukum. Tindakan korupsi kecil dapat diberikan hukuman ta’zir yang ringan seperti hukuman pencelaan dan penahanan, sementara hukuman kasus korupsi besar harus dihukum berat bahkan dapat dihukum mati.

Kajian Syaikh Abdul Qadir Audah, apalagi Syaikh Wahbah Az-Zuhaili lebih luas mengartikan korupsi,bukan hanya sebatas mencuri, misalnya mencuri ayam. Korupsi bisa mengandung makna hadd ghashb (mengambil hak orang lain), risywah (suap), ghulul (berkhianat) dan fasad (merusak). Jadi, hukuman mati bagi koruptor bisa saja dilaksanakan.Bukannya tidak ada sama sekali dalam Islam. Wallahu a'lam

Senin, 25 November 2013

KABAR GEMBIRA TENTANG KEMENANGAN ISLAM DALAM WAKTU DEKAT

“Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” (QS At-Taubah : 33)

Kita patut merasa gembira dengan janji yang telah diberikan oleh Allah melalui firman-Nya itu, bahwa Islam dengan kearifan dan kebijaksanaannya mampu mengalahkan agama-agama lain. Namun tidak sedikit yang mengira bahwa janji tersebut telah terwujud pada masa Nabi Muhammad Saw, masa Khulafaur-Rasyidin dan pada masa khalifah-khalifah sesudahnya yang bijaksana. Padahal kenyataannya tidak demikian. Yang sudah terrealisasi saat itu hanyalah sebagian kecil dari janji di atas, sebagaimana diisyaratkan oleh Rasulullah Saw melalui sabdanya:

“Malam dan siang tidak akan sirna sehingga Al-Latta dan Al-‘Uzza telah disembah. Lalu Aisyah bertanya: “Wahai Rasul, sungguh aku mengira bahwa takkala Allah menurunkan firman-Nya “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al-Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai, hal itu telah sempurna (realisasinya).” Belau menjawab: “Hal itu akan terealisasi pada saat yang ditentukan oleh Allah.” (HR. Muslim)

Banyak hadits-hadits lain yang menjelaskan masa kemenangan Islam dan tersebarnya ke berbagai penjuru. Dari hadits-hadits itu tidak diragukan lagi bahwa kemenangan Islam di masa depan semata-mata atas izin pertolongan dari Allah Swt., dengan catatan harus tetap kita perjuangkan, itu yang penting. Berikut ini akan saya tampilkan beberapa hadits yang saya harapkan dapat membakar semangat para pejuang Islam dan dapat dijadikan argumentasi untuk menyadarkan mereka yang fatalis tanpa mau berjuang sama sekali.

“Allah Swt. telah menghimpun (mengumpulkan dan menyatukan) bumi ini untukku. Oleh karena itu, aku dapat menyaksikan belahan Bumi Barat dan Timur. Sunggu kekuasaan umatku akan sampai ke daerah yang dikumpulkan (diperlihatkan) kepadaku itu.” (HR. Muslim, Abu Daud, Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Ada hadits-hadits lain yang lebih jelas dan luas yaitu:

“Sesungguhnya agama Islam ini akan sampai ke bumi yang dilalui oleh malam dan siang. Allah tidak akan melewatkan seluruh kota dan pelosok desa, kecuali memasukkan agama ini ke daerah itu, dengan memuliakan yang mulai dan merendahkan yang hina. Yakni memuliakannya dengan Islam dan merendahkannya dengan kekufuran.” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Tidak diragukan lagi bahwa tersebarnya agama Islam kembali kepada umat Islam sendiri. Oleh karena itu mereka harus memiliki kekuatan moral, material dan persenjataan hingga mampu melawan dan mengalahkan kekuatan orang-orang kafir dan orang-orang durhaka. Inilah yang dijanjikan oleh Nabi Saw:

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Qubai. Ia menuturkan “(pada suatu ketika) kami bersama Abdullah bin Amr bin Ash. Dia ditanya tentang mana yang akan terkalahkan lebih dahulu, antara dua negeri, Konstantinopel atau Romawi. Kemudian ia meminta petinya yang sudah agak lusuh. Lalu ia mengeluarkan sebuah kitab.” Abu Qubai melanjutkan kisahnya: Lalu Abdullah menceritakan: “Suatu ketika kami sedang menulis disisi Rasulullah Saw. Tiba-tiba Beliau ditanya: “Mana yang terkalahkan lebih dahulu, Konstantinopel atau Romawi?” Beliau menjawab: “Kota Heraclius-lah yang akan terkalahkan lebih dahulu.” Maksudnya adalah Konstantinopel.” (HR. Ahmad, Ad-Darimi, dan Al-Hakim)

Kata Rumiyyah dalam hadits di atas maksudnya adalah Roma, ibukota Italy sekarang ini, sebagaimana bisa kita lihat di dalam Mu’jamul Buldan (Ensiklopedi Negara) atau mungkin juga Eropa.

Sebagaimana kita ketahui, bahwa kemenangan pertama ada di tangan Muhammad Al-Fatih Al-Utsmani. Hal ini terjadi setelah lebih dari delapan ratus tahun Nabi Muhammad Saw. menyabdakan hadits di atas. Kemenangan kedua pun akan segera terwujud atas seizin Allah Swt., sebagaimana firman-Nya: "Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al Quran setelah beberapa waktu lagi." (QS. Shaad: 88).

Tidak diragukan lagi bahwa kemenangan kedua mendorong adanya kebutuhan terhadap Khalifah yang tangguh. Hal inilah yang telah diberitakan oleh Rasulullah Saw. melalui sabdanya:

“Kenabian telah terwujud di antara kamu sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Dia akan menghilangkannya sesuai dengan kehendak-Nya, setelah itu ada khalifah yang sesuai dengan kenabian tersebut, sesuai dengan kehendak-Nya pula. Kemudian Dia akan menghapusnya juga sesuai dengan kehendak-Nya. Setelah itu ada seorang raja diktator bertangan besi, dan semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya pula. Lalu Dia akan menghapusnya jika menghendaki untuk menghapusnya. Kemudian ada khalifah yang sesuai dengan tuntunan Nabi." Lalu beliau diam. (HR. Ahmad)

Selanjutnya hadits yang berisi tentang berita gembira dari Nabi Muhammad Saw. mengenai kembalinya kekuasaan kepada kaum Muslimin dan tersebarnya pemeluk Islam di seluruh penjuru dunia hingga dapat membantu tercapainya tujuan Islam dan menciptakan masa depan yang prospektif dan membanggakan hingga meliputi bidang ekonomi dan pertanian. Hadits yang dimaksud sabda Nabi Saw.:

“Hari kiamat tidak akan terjadi sebelum tanah Arab menjadi tanah lapang yang banyak menghasilkan komoditas penting dan memiliki pengairan yang memadai.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Berita-berita gembira ini terealisasi di beberapa kawasan Arab yang telah diberi karunia oleh Allah berupa alat-alat untuk menggali sumber air dari dalam gurun pasir. Disana bisa kita lihat adanya inisiatif untuk mengalirkan air dari sungai Eufrat ke Jazirah Arab. Hal ini mungkin akan menjadi kenyataan. Dan selang beberapa waktu kelak, akan benar-benar terwujud dan bisa kita buktikan.

Ketimpangan Hukum di Mesir Saat Kudeta

Di zaman Ibnu Abbas Ra. ada sekelompok orang datang bertanya kepada beliau, bagaimana hukumnya terkena darah lalat. Apa jawaban Ibnu Abbas? Beliau menjawab (kurang lebih), kalian begitu peduli dengan darah lalat tetapi tidak peduli dengan darah orang-orang yang telah ditumpahkan oleh orang-orang zalim.

Catatan: pada akhir kehidupan Ibnu Abbas memang banyak sekali kezaliman dilakukan oleh rezim. Kini ada sebagian orang yang sangat peduli dengan tembok yang dicoret-coret atau bangunan yang rusak karena dilempar batu, tapi tidak peduli dengan ribuan syuhada yang ditembak dan puluhan ribu orang saleh yang di penjara.

Akibat Murtad dari Islam


Allah Swt. berfirman, "Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itu sia-sia amalnya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya." (QS. 2: 217)

Yang dimaksud "murtad" disini adalah orang yang kembali lagi ke ajaran yang sebelumnya. Menurut para ulama, yang berbuat murtad merupakan dosa besar yang dapat menghapus amal saleh sebelumnya. 

Jika seorang muslim murtad, maka akan terdapat beberapa perubahan, antara lain terputusnya hubungan pernikahan mereka, jika salah satu di antara mereka baik istri maupun suami ada yang murtad. Apabila salah satu dari suami/ istri yang murtad itu bertobat dan kembali lagi ke dalam Islam, maka untuk mengadakan hubungan pernikahan seperti semula lagi, mereka harus memperbarui akad nikah dan mahar. Kemudian orang yang murtad tidak dibolehkan mewarisi harta peninggalan kerabat-kerabat muslim lainnya, serta orang yang murtad tidak mempunyai hak kewalian terhadap orang lain serta tidak boleh menjadi wali dalam akad nikah anak perempuannya.

Diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud Ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Tidaklah halal darah seorang muslim, kecuali ia melakukan salah satu dari 3 perkara, yaitu kafir setelah beriman (murtad), berbuat zina setelah menjadi orang muhshan, dan membunuh orang yang terjaga darahnya."

Subhanallah, begitu tegasnya Rasulullah bersabda dalam hadits ini, semoga kita terhindar darinya.

Sumber rujukan: Kitab Fikih Sunnah karya Syaikh Sayyid Sabiq

Kebohongan Berakhir pada Kesesatan

"Kebohongan berawal dari jiwa, lalu merembet pada lisan dan merusak perkataan. Kemudian merembet pada anggota badan dan merusak segala perbuatan. Dan akhirnya kebohongan itu menyelimuti perkataan, perbuatan, dan segala keadaan." (Imam Ibnul Qayyim)

Sahabatku, orang yang jujur karena takwanya kepada Allah niscaya Allah akan tunjukkan kepadanya jalan kemudahan, jalan keselamatan, dan jalan kebahagiaan. Sebagaimana Allah telah berjanji kepada hamba-hamba-Nya yang beriman, "Wattaqullah wayuallimullah - bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah akan mengajarimu."

Tidaklah mengherankan bila engkau temukan seorang sahabat yang cerdas karena kejujurannya, dan tidaklah pula mengherankan bila engkau temukan seorang sahabat bodoh karena kedustaannya. Karena kejujuran merembet pada perkataan yang benar, kemudian perbuatannya menjadi benar, maka benar pula segala keadaan yang ada padanya.

Sebaliknya, para pendusta berusaha menutup kedustaannya dengan kedustaan yang baru, akibatnya merembet pada perilakunya yang semakin tercela, maka kesesatan menyelimuti dirinya seperti kegelapan menyelimuti malam.

Maka renungkanlah hal ini. Renungkanlah ketika hidup menjadi tersesat, terbelenggu oleh dosa, hasil yang terus mengecewakan, kesedihan yang berkepanjangan, mungkin kita tidak jujur kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak jujur kepada orang-orang disekitar kita, hingga tidak jujur kepada diri kita sendiri.