Minggu, 05 Januari 2014

Beragamnya Tema Buku yang Ditulis Para Ulama

Saya kaget ketika pada suatu ketika mendapatkan sebuah buku terjemahan berjudul "Bergonju: Seni Bercinta dalam Islam" karya Imam Jalaluddin As-Suyuti di sebuah pameran buku. Saya bertanya dalam hati, apakah benar yang menulisnya beliau? Saya berkeliling mencari buku yang serupa, saya dapatkan buku "Sutra Ungu" karya Abu Umar Basyir. Saya berkata dalam hati menyimpulkan, bila ada ulama sekarang menulis masalah seks tentu merujuk pada ulama-ulama terdahulu. Saya berkata lagi, tema yang serupa pasti juga pernah dibahas oleh para ulama lainnya dan entah berapa buku yang telah ditulis mengenai hal ini. Hanya karena ketidaktahuan saya membuat saya kaget; ulama sekelas Imam Jalaluddin As-Suyuti menulis buku seks! Walaupun dijual bebas, buku ini bagusnya dibaca bagi mereka yang akan dan sudah menikah. Karena disana ada cara-cara dan posisi dalam berhubungan intim suami-istri *_*

Buku-buku seks seperti ini mengingatkan saya pada buku-buku dengan tema lain yang ditulis oleh para alim ulama. Misalnya buku tentang tema "cinta" seperti buku Raudhatul Muhibbin karya Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah dan Thauqul Hamamah karya Imam Ibnu Hazm. Kedua buku ini begitu dalam membahas tema cinta walaupun dengan bahasa yang berbeda. Ada bahasan tentang sifat-sifat orang yang jatuh cinta, bagaimana mengatasi mabuk asmara, kisah-kisah orang yang terlibat percintaan, dan sebagainya. Yang hebat, keduanya ditulis oleh ulama pakar syariah, ahli ilmu hadits dan fikih. Keduanya ibarat psikolog yang mengetahui tentang seluk beluk cinta. Dan mungkin, keduanya memang psikolog cinta yang sesungguhnya. Banyak buku yang mereka tulis menunjukkan keahlian mereka dalam ilmu psikologi. Lagi-lagi karena sedikitnya buku cinta yang ditulis ulama yang saya baca, saya baru mengetahui dua buku ini. Diluar sana mungkin masih banyak buku dengan tema serupa.

Para ulama juga menulis buku yang lain daripada yang lain, misalnya lagi tentang tata cara memperlakukan buku, bagaimana meraut ujung pena agar tulisan lebih baik, dan bagaimana menjadi penyalin buku yang baik. Simak penuturan Imam Musa Almawi dalam bukunya yang berjudul Mu'id fi Adab Al-Mufid wa Al-Mustafid sebagaimana dikutip Franz Rosenthal dalam "Etika Kesarjanaan Muslim", "Buku-buku harus diatur menurut subjeknya, dan buku yang paling penting harus ditempatkan paling atas. Urutan berikut ini harus dipatuhi: pertama adalah Al-Qur'an; lalu kitab hadits shahih, seperti Shahih Bukhari dan Shahih Muslim; selanjutnya tafsir Al-Qur'an; berikutnya komentar terhadap kitab hadits; disambung kitab-kitab fikih; lalu kitab ushuluddin dan ushul fiqh; terus buku-buku tata bahasa, puisi, dan ilmu-ilmu lain."

Imam Ibnu Jama'ah juga menulis tema serupa yang ditulis Imam Musa Almawi. Judul bukunya Tadzkirah Al-Sami' wa Al-Mutakallim fi Adab Al-'Alim wa Al-Muta'allim. Beliau berkata, "Jika ada dua buku tentang subjek yang sama, maka buku yang lebih banyak mengandung kajian Al-Qur'an atau hadits hendaklah ditempatkan di atas. Jika dalam hal ini keduanya sama, maka tingkat pentingnya pengarang buku tersebut mesti dipertimbangkan. Jika dalam hal itu kedua pengarang sama, maka pengarang yang lebih tua umurnya dan lebih dicari para ulama ditempatkan lebih atas. Kalaupun dalam hal ini keduanya sama, maka buku yang lebih benar penulisannya harus ditempatkan di atas."

Coba dengarkan lagi beberapa nasehat Imam Almawi, "Buku tidak boleh dijadikan tempat menyimpan lembaran-lembaran keras atau benda-benda lain yang serupa. Buku tidak boleh dijadikan bantal, dijadikan kipas, sandaran punggung atau alas berbaring, atau dipakai untuk membunuh lalat. Untuk menandai halaman yang sedang dibaca, pinggir atau sudut halaman buku tidak boleh dilipat. Orang-orang bodoh sering melakukan hal itu." Kata Imam Ibnu Jama'ah, "Untuk penanda bacaan harus dipakai selembar kertas atau yang serupa itu, tetapi tidak boleh dari potongan kayu atau apapun yang terbuat dari bahan yang keras."

Subhanallah, sampai sedetail itu para ulama kita dalam menguraikan sebuah pengetahuan. Hampir semua ilmu yang berkembang saat itu ada bukunya. Tapi sayang sekali, yang sampai kepada kita baru sedikit daripadanya. Apalagi banyak buku yang ditulis para ulama itu hilang atau dimusnahkan seperti yang pernah dilakukan oleh pasukan Mongol saat menyerbu Baghdad (ibukota kekhalifahan Abbasiyah). Buku-buku yang ada diperpustakaan besar dibuang ke sungai Tigris hingga sungai pun berubah warna menjadi hitam karena tinta. Kejadian ini ibarat pukulan hook dalam tinju, membuat umat Islam sempoyongan dan mundur beberapa langkah. Banyak akhirnya para ulama dan ilmuwan setelah kejadian itu berusaha mencari salinan buku yang dimusnahkan itu. Salah satu caranya adalah dengan berteriak, "Wahai fulan, apakah kalian mempunya buku anu?" saat berada ditanah suci pada musim haji. Karena saat itu berkumpul jutaan kaum muslimin dari berbagai penjuru dunia. Itulah mengapa para ulama berusaha mendapatkan buku yang dimaksud pada saat itu. Bila ada yang punya, maka para ulama itu tidak segan-segan untuk menyalinnya meskipun harus menempuh perjalanan yang cukup jauh untuk mendapatkannya. Di antara para ulama yang menjadi "jembatan" ilmu-ilmu masa lalu untuk disampaikan oleh umat terkemudian adalah Imam Jalaluddin As-Suyuti. Beliau berhasil merangkum banyak pengetahuan dari buku-buku langka itu. Konon kabarnya jumlah buku yang beliau tulis mencapai 500 jilid.

Buku-buku yang ditulis ulama zaman dahulu mungkin tidak kalah hebat dengan yang ditulis oleh orang-orang zaman sekarang, khususnya cerdik pandai dari dunia Barat. Kelebihannya adalah, buku-buku itu ditulis oleh para ulama yang memiliki jiwa tauhid, paham syariah, dan memiliki akhlak yang baik. Melewati fase kemunduran Islam artinya kita memulai dari apa yang ada atau memulainya dari nol. Dan ini merupakan pekerjaan rumah umat. Karena kita harus yakin bahwa kejayaan itu akan kembali berulang di masa yang akan datang. Apakah kita menjadi bagian di dalamnya?

Sabtu, 04 Januari 2014

Kehidupan Zuhud Ulama Kaya Raya

Mungkin sudah biasa kita dengar bila ada ulama miskin hidup zuhud. Tapi sungguh luar biasa bila ada ulama kaya raya tapi dapat hidup dengan zuhud. Kekayaan yang ada padanya tidak menghalanginya hidup zuhud. Betapa banyak manusia yang terjerembab dalam kekayaan. Mereka gunakan kekayaan sebagai jalan melakukan kemaksiatan. Para pezina tentu tidak sedikit dalam mengeluarkan uang. Begitupun dengan orang zalim mengeluarkan uangnya untuk menyiksa orang yang tidak berdosa. Sedangkan para ulama itu, mereka menjadikan kekayaan yang dimilikinya sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Salah satu di antara ulama kaya yang zuhud adalah Imam Laits bin Sa'd. Dari segi keilmuan nama beliau disejajarkan dengan Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, dan Imam Ahmad bin Hanbal. Bahkan Imam Syafi'i pernah mengatakan jika Imam Laits itu lebih fakih ketimbang Imam Malik. Hanya saja Imam Malik memiliki karya tulis sedangkan Imam Laits tidak. Di kesempatan lain Imam Syafi’i pernah berdiri di sisi kubur Imam Laits seraya berkata, “Demi Allah wahai Imam, engkau telah mengumpulkan empat sifat yang tidak dimiliki oleh ulama lainnya: ilmu, amal, zuhud dan kedermawanan.” 

Berapa penghasilan Imam Laits per tahun? Muhammad bin Ramh salah seorang sahabatnya berkata, “80 ribu dinar dalam setahun.” Saat ini satu keping dinar seharga dengan 2 juta rupiah. Artinya 80 ribu dinar setara dengan 160 miliyar rupiah. Penghasilan yang sangat fantastis. 

Contoh lain adalah kisah hidup Imam Abdullah bin Al-Mubarak Al-Marwazi (wafat pada 181 H). Dia adalah seorang ulama besar dan ahli di bidang hadits. Dalam biografi dia disebutkan Imam Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah bertanya kepadanya apa sebab dia memiliki perniagaan besar dengan mengekspor barang-barang dagangan dari negeri Khurasan ke Mekah.

Imam Abdullah bin Al-Mubarak menjawab pertanyaan Imam Al-Fudhail itu dengan mengatakan, ”Sesungguhnya aku melakukan itu untuk menjaga mukaku (agar tidak meminta-minta kepada orang lain), memuliakan kehormatanku, dan menggunakannya untuk membantuku dalam ketaatan kepada Allah.”

Ucapan ini benar-benar terbukti, karena dia sangat terkenal dengan sifat dermawan dan selalu membantu orang miskin dengan sumbangan harta yang sangat besar setiap tahun. Tidak hanya itu, Imam Abdullah bin Al-Mubarak juga menulis kitab tentang zuhud. Hal ini semakin menunjukkan meskipun kaya raya, zuhud telah menjadi bagian dari hidupnya.

Kisah Imam Sufyan Ats-Tsauri, seorang ulama terkemuka di Basrah, juga contoh yang harus kita ketahui. Suatu hari ia memerintahkan seorang santri yang bernama Abdullah untuk menyampaikan kepada Ahmad, guru Abdullah di kampung. Sufyan berpesan, ”Sampaikan kepada gurumu, agar ia tidak cinta dunia.”

Mendengar pesan itu Abdullah merasa bingung. Di matanya, Ahmad adalah seorang yang sangat sederhana, bahkan miskin. Sedangkan Imam Sufyan Ats-Tsauri yang menyampaikan pesan itu adalah seorang yang kaya-raya. Rumahnya besar lengkap dengan perabotan mewah. Kebunnya sangat luas dan juga memiliki ternak sapi yang amat banyak.

Dalam kebingungan tersebut, Abdullah pulang ke tempat asalnya. Dan menyampaikan pesan Imam Ats-Tsauri kepada Ahmad. Mendengar isi pesan itu, Ahmad terenyuh dan meneteskan air mata. Ia justru membenarkan ucapan Imam Ats-Tsauri karena selama ini dalam kemiskinannya ia masih saja memikirkan dunia.

Demikianlah sahabatku keadaan alim ulama yang saleh, kaya raya namun zuhud. Saya berdoa kepada Allah semoga Allah memberi kita rezeki yang melimpah, hati yang zuhud, akhlak yang baik, dan ilmu yang bermanfaat. Kekayaan hanyalah wujud materi sedangkan ruhaninya adalah zuhud. Semua orang zuhud adalah kaya tapi tidak semua orang kaya dapat hidup zuhud.

Jumat, 03 Januari 2014

Mengapa Saya Memilih Partai Islam

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan kebencian yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.” [QS. Ali 'Imran 118]

Di dunia Barat banyak penduduknya menjadi ateis atau kalaupun percaya Tuhan, menolak menjalankan perintah agama. Hal itu terjadi karena memudarnya agama Kristen di tengah-tengah kehidupan mereka. Namun anehnya, ketika agama Kristen di rongrong oleh agama lain atau seorang Nasrani dirongrong oleh seorang muslim, maka keluarlah sifat asli mereka; kebencian terhadap Islam dan umatnya. Hal ini terjadi, misalnya, pada sosok Richard Dawkins, seorang ahli biologi yang selama ini menyerukan ateisme. Tapi ketika Islam mulai "mengancam" Eropa, dia tampil untuk menyatakan kebenciannya terhadap Islam di depan orang-orang Nasrani. 

Hingga saat ini Turki adalah satu-satunya negara Eropa yang paling sulit masuk Uni Eropa. Hanya gara-gara ia berakar dari Islam, bukan berakar dari Kristen sebagaimana negara-negara Eropa dan Amerika pada umumnya. Kalangan pemikir Eropa sendiri menentang keanggotaan Turki di organisasi mereka. Huntington misalnya, mengungkapkan bahwa Uni Eropa menerapkan kebijakan mengulur waktu dalam menyikapi keanggotaan Turki di organisasi negara-negara Eropa itu. Tampaknya selama para intelektual Eropa memandang Turki memiliki perbedaan sejarah dan budaya yang tajam dengan mereka, maka selamanya Ankara tidak akan bisa menggolkan tujuan tersebut.

Musthafa Kamal, pemimpin sekuler Turki yang paling disegani telah melakukan sekularisme besar-besaran terhadap Turki dan penduduknya. Tujuannya adalah menjadi negara maju dan bergabung dengan Eropa. Meskipun sudah susah payah menghancurkan tatanan nilai masyarakat Turki, tetap saja negara-negara Eropa dan Amerika enggan menerimanya. Mungkin kalau penduduk Turki sudah murtad semua, bangsa Eropa dan Amerika baru maui mengakui Turki sebagai bagian dari mereka. 

Seperti itulah pada umumnya garis pemikiran orang-orang Kristen. Walaupun pada gilirannya mereka mengakui ateis ataupun sekuler, tapi pada akhirnya mereka tetap menjadikan Islam sebagai musuh bersama. Akar sejarahnya tampak pada peristiwa perang salib sepuluh abad yang lalu. Pada awalnya seruan untuk menaklukan Yerusalem tidak digubris oleh raja-raja Eropa yang sedang mabuk dunia. Tapi kemudian dibangkitkanlah sentimen keagamaan. Maka bersatulah orang-orang Eropa itu untuk menyerang kaum muslimin. 

Apa yang terjadi di Turki dan Yerusalem bisa juga terjadi di negeri kita. Saat ini saja sudah terlihat persengkongkolan busuk antara orang-orang Nasrani dan kaum sekuler di negeri ini. Mereka membuat kebijakan yang jauh dari nilai-nilai Islam. Mereka beramai-ramai aktif dalam partai politik sekuler yang ada. Anehnya, sebagian kaum muslimin atau bisa dibilang kebanyakan kaum muslimin, lebih memilih mereka ketimbang orang-orang yang berada dalam partai Islam. Mungkin alasan mereka memilih partai sekuler seperti ini: partai sekuler sudah teruji dan lebih berpengalaman. Sedangkan memilih partai Islam sama saja kembali ke zaman kegelapan. 

Apa yang dimaksud dengan zaman kegelapan? Apakah keadilan hukum yang diterapkan oleh Rasulullah Saw. dan para sahabatnya disebut sebagai zaman kegelapan? Apakah kemakmuran di zaman para khalifah disebut sebagai zaman kegelapan? Apakah lahirnya para ulama dan ilmuwan muslim sepanjang sejarah disebut sebagai zaman kegelapan? Apakah berdirinya bangunan bersejarah yang indah dan megah seperti masjid Cordoba, Taj Mahal, Istana Al-Hambra, Masjid Sulaiman di Turki disebut sebagai zaman kegelapan? Apakah kemenangan pasukan Islam terhadap pasukan kafir Romawi seperti yang terjadi di Yarmuk dan Qadisiya serta penaklukan Konstantinopel disebut sebagai zaman kegelapan? Apakah ribuan perpustakaan dan jutaan buku yang ditulis oleh para ulama dan ilmuwan muslim disebut sebagai zaman kegelapan? Dan orang-orang berakal pun menjadi bingung dibuatnya dengan alasan-alasan seperti ini. Islam dan segala kegemilangannya disebut sebagai zaman kegelapan. 

Mungkin, lagi-lagi ini baru sebatas dugaan mereka, yang dimaksud oleh mereka sebagai zaman kegelapan adalah sebagai berikut: Zaman kegelapan adalah zaman keterbelakangan dan kebodohan. Di saat pendeta-pendeta berkuasa di abad pertengahan. Di mana pada saat itu tidak ada kebebasan, tidak ada keadilan, tidak ada kemajuan. Ketika mereka selalu mengatakan bahwa apa yang mereka lakukan adalah kehendak Tuhan, tapi di sisi lain mereka melakukan berbagai kejahatan dan kemaksiatan. Mereka menghukum orang-orang yang berbeda pendapat dengan mereka meskipun orang-orang itu berbicara tentang kebenaran. Seperti yang terjadi pada Galileo ketika mengatakan pendapat bahwa sesungguhnya bumi mengelilingi matahari (heliosentris).

Kedua, mungkin yang mereka maksud dengan zaman kegelapan adalah kemiskinan yang melanda kaum muslimin saat ini. Kata mereka, lihat saja Palestina, Afghanistan, Pakistan, Irak, dan Suriah. 

Menanggapi poin kedua ini, maka tanggapannya sebagai berikut: Mengapa mereka hanya melihat di wilayah-wilayah Islam saja? Mengapa mereka tidak melihat belahan bumi lain yang miskin seperti di negara-negara Amerika Latin, negara-negara di benua Eropa, dan negara di Asia Tenggara seperti Timur Leste dan Filipina yang notabene adalah negara-negara kafir. Mengapa mereka tidak melihat negara-negara muslim yang kaya, seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Brunei Darussalam, dan Turki? Mereka juga tidak menyadari atau pura-pura bodoh tentang penyebab negara-negara muslim itu menjadi negara miskin.

Jadi disini jelas, alasan memilih Islam berarti akan memasuki zaman kegelapan tidak terbukti kebenarannya. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, memilih Islam berarti memasuki zaman kemajuan dan kejayaan. Di negeri ini saja ketika partai Islam Masyumi memerintah, DR. Muhammad Natsir sebagai Perdana Menteri berhasil menyusun kabinetnya dengan para ahli dibidangnya sehingga disebut Zaken Kabinet. Keberhasilan Natsir lainnya, dengan "mosi integral"-nya, beliau telah menyatukan wilayah Nusantara yang telah terpecah belah ke dalam beberapa negara bagian hasil buatan Belanda. Menurut Arnold Mononutu, seorang tokoh PNI, sebagaimana dikutip dalam buku "Mohammad Natsir dalam Sejarah Politik Indonesia", berkata, "Tanpa M. Natsir, tidak akan ada Negara Kesatuan Republik Indonesia ini." Oleh karena itu, tepat apabila Natsir disebut sebagai salah seorang "Negarawan" dan "Bapak Pendiri Negara Indonesia". Namun sayang, jasa besar Natsir dalam mempersatukan kembali Republik Indonesia ini, tidak dimasukkan dalam buku-buku Sejarah Indonesia yang menjadi bacaan dan panduan generasi muda bangsa. Keberhasilan ini ditenggelamkan oleh kaum sekuler dengan fitnah, penangkapan pemimpin partai Islam Masyumi termasuk di dalamnya Muhammad Natsir dan pembubaran partai ini pada masa orde lama. 

Sementara itu, partai-partai sekuler adalah ujung tombak terjadinya tindak pidana korupsi. Jika diurutkan secara rangking, maka partai-partai sekuler berada diurutan teratas, dan partai Islam berada diurutan paling buncit. Jadi, dalam sejarah, apa yang patut dibanggakan dari partai sekuler? Oleh karena itu, mari kita memilih partai Islam saat pemilu nanti karena mereka lebih dekat pada kejayaan dan kegemilangan daripada memilih partai sekuler yang malah menjerumuskan manusia pada keterbelakangan dan kemunduran.

Kamis, 02 Januari 2014

Ulama-Ulama Terkemuka adalah Mujahid Sejati

Saat ini, saya melihat, khususnya di Mesir, ada ulama yang mendukung orang-orang yang zalim untuk berkuasa. Yang lebih parah lagi dukungan itu berupa fatwa untuk membunuh orang-orang saleh yang berbeda pendapat dengan penguasa zalim. Kebencian mereka kepada Ikhwanul Muslimin membuat mereka menjadi buta dari kebenaran meskipun dari segi keilmuan orang-orang menyebutnya ulama. Mereka merekayasa dalil agar sesuai dengan hawa nafsu mereka. Sungguh mengerikan sekali akibatnya.

Saya dapati dalam sejarah, justru ulama-ulama terkemuka yang dicatat dalam sejarah adalah para ulama yang shaleh, teguh pendirian, jauh dari bermuka dua dihadapan para penguasa, dan membela kebenaran walaupun nyawa taruhannya. Sebut saja misalnya Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi'i, Imam Ahmad, Imam Izz Abdus Salam, Imam Nawawi, Imam Ibnu Al-Jauzy, Imam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Siapa yang tidak mengenal mereka? Di antara mereka ada yang disiksa, dihina, dan dipenjarakan hanya karena mengatakan kalimatul haq dihadapan penguasa zalim saat itu. Tetapi nama mereka senantiasa dikenang, dicatat sejarah dengan tinta emas. 

Sedangkan para ulama penjilat penguasa di mana mereka kini berada? Dalam lembaran sejarah mana nama mereka dipuja dan dipuji? Siapakah ulama dari kalangan mereka yang keahliannya melebihi ulama-ulama yang telah saya sebutkan di atas? 

Alangkah baiknya saya sebutkan tiga contoh ulama yang shalihin, amilin dan mujahidin. Semoga semakin bertambah kuat hujjah di atas.

Imam Abu Hanifah 
Berulang kali beliau menolak tawaran untuk menjadi Qadhi (hakim) dari penguasa setempat. Penguasa tersebut merasa direndahkan oleh penolakan itu. Akibatnya Abu Hanifah pun disiksa dan di penjara. Setiap berganti penguasa, beliau selalu menolak tawaran yang sama. Akibatnya beliau bernasib serupa seperti sebelumnya. Apa yang dikatakan Imam Abu Hanifah ketika menghadapi kezaliman ini? Beliau berkata, “Hukuman dera di dunia lebih ringan daripada hukuman neraka di akhirat nanti.” Hukuman inilah yang mengantarkan beliau pada kesyahidan. 

Mengapa Imam Abu Hanifah menolak tawaran menjadi Qadhi? Karena menjadi Qadhi pada saat itu hanya melegitimasi nafsu sang penguasa. 

Imam Malik bin Anas
Di antara ujian yang dideritanya pada tahun 146 H. adalah Khalifah Abu Ja’far melarangnya menyampaikan hadis yang berbunyi, “Tidak ada thalak bagi orang yang dipaksa.” Diam-diam, ada yang mananyakan kepada Imam Malik tentang hadits tersebut, hal ini mendorong sang Imam menyampaikan hadits ini ke khalayak. Mendengar demikian Ja’far bin Sulaiman, Gubernur Madinah memukul Imam Malik 30 kali, dalam riwayat lain lebih 30 kali dan ada yang mangatakan 70 kali, serta ada pula menyebutkan lebih dari itu. Sebagian perawi menyebutkan, penyebab Imam Malik dipukul dikarenakan fatwa, bahwa pengangkatan Abu Ja’far sebagai Khalifah tidak sah karena melalui paksaan.

Namun hukuman demi hukuman yang diderita, tidak membuat Imam Malik turun derajat, bahkan sebaliknya. Dirinya makin menjadi lebih terhormat dan masyhur di mata umat. Al-Hunaini teman Malik menuturkan, “Setelah menderita hukuman pukul, tangan Imam Malik menjadi kaku tidak dapat diangakat. Demi Allah, setelah ia dipukul, ia menjadi lebih terhormat dan lebih besar sehingga seakan-akan pukulan itu menjadi perhiasan baginya.” 

Al-Qarawi menguatkan, “Ketika Malik bin Anas dipukul dan disiksa, orang-orang datang menjenguknya ketika siuman, ia berkata, “Aku jadikan kalian saksi bahwa orang yang memukuliku aku maafkan.” Al-Qarawi melanjutkan, “Pada hari kedua, kami kembali menjenguk. Ternyata ia sudah dapat berdiri, lalu kami ucapkan sesuatu yang telah kami dengar darinya. Dan kepadanya kami berkata, ‘Engaku telah menderita seperti ini.’ Ia bertutur, “Kemarin aku takut meninggal lalu aku berjumpa dengan Rasulullah, dimana aku sangat malu kepada beliau jika sebagian muslim masuk neraka lantaran aku.” 

Al-Mutharrif berkomentar, “Aku dapati bekas cambukan di punggung Malik, aku telah memeriksanya dan nampaknya saat meraka mencambuknya, mereka membuka baju Imam Malik sehingga ia dapat meluruskan sorbannya karena babak belur pada pundaknya. Imam Malik sangat malu pada dirinya, saat pakaian yang menutupi dada dan pahanya terlepas akibat cambukan. Terbukanya paha lebih berat baginya daripada cambukan yang ia derita, ia lebih merasa sakit karena dadanya kelihatan ketimbang karena cambukan.” Begitulah sekelumit cerita tentang karakter kesabaran, konsistensi, dan perjuangan sang Imam dalam menyebar dan mempertahankan kebenaran, sesuatu yang sangat langka di era pragmatisme saat ini.

Imam Jalaluddin As-Suyuthi
Beliau diberi hadiah raja Ghuuri seorang budak perempuan dan uang banyak sebesar seribu dinar. Maka dikembalikannya uang itu sedangkan budak perempuan itu dimerdekakannya dan menjadikannya sebagai pelayan di hujrah Nabawi. Lalu ia berkata kepada sang penguasa itu, “Jangan berusaha memalingkan hanya dengan memberi hadiah semacam itu karena Allah telah menjadikan aku merasa tidak butuh dari hal-hal semacam itu.”

Oleh karena itu beliau rahimahullah dikenal sebagai seorang yang berani tapi beradab, semangat dalam menegakkan hukum-hukum syari’at dan mengamalkannya tanpa memihak kepada seorang pun. Tidak takut dalam kebenaran celaan orang yang mencela. Ia telah diminta untuk memberikan fatwa serta urusan-urusan yang bersangkutan dengan kehakiman, maka beliau tetap berusaha untuk adil dan menerapkan hukum-hukum dien tanpa memperdulikan kemarahan Umara’ maupun penguasa. Bahkan jika ia melihat ada Qadhi (hakim) yang menta’wilkan hukum sesuai dengan kehendak penguasa, bertujuan menjilat mereka maka beliau menentangnya dan menyatakan pengingkarannya serta cuci tangan darinya. Menerangkan kesalahannya, dan meluruskannya, seperti yang dikemukakannya dalam kitab “al-Istinshaar bil Wahid al-Qahhar.”

Siapapun kita tentu lebih senang dengan orang yang berilmu dan beramal ketimbang orang yang berilmu tapi tidak beramal atau sedikit amalnya. Karena bahasa amal lebih kuat pengaruhnya ketimbang bahasa lisan atau teori semata. Bila kita membaca buku-buku yang ditulis Imam Syafi'i, Imam Nawawi, dan para ulama shaleh lainnya, lihatlah juga sisi perjuangan mereka. Karena buku-buku itu hadir bersamaan dengan hinaan para penguasa yang zalim, siksaan yang mengantarkan syahadah, penolakan pada kebatilan, dan ketundukan hanya pada kebenaran.

Ujian dan Cobaan Seorang Mualaf

Beberapa hari yang lalu saya mendapat email yang cukup panjang dari seseorang. Di dalam email itu dia bercerita tentang dirinya yang mualaf. Apa yang menjadi masalah adalah hubungan dirinya dengan orangtuanya. Betapa orangtuanya sangat memusuhi dan menghinanya habis-habisan akibat dari keislamannya. Padahal dulu orangtuanya sangat menyayanginya. Dulu Orangtuanya juga beragama Islam namun kemudian murtad. Dia meminta dorongan moril dan bertanya kepada saya berkaitan tentang hubungan dengan kedua orangtuanya. 

Maka saya jawab sebagai berikut: 

Bismillahirrahmanirrahiim. Alhamdulillahirabbil alamiin kita panjatkan kepada Allah yang telah memberikan kita taufik dan hidayah untuk memeluk Islam. Karena hanya umat Islam, yang bertauhid kepada Allah, yang akan memperoleh keselamatan akhirat. Sementara orang kafir sebanyak apapun amal kebaikan mereka akan tetap masuk neraka. Maka, beruntunglah orang yang telah bersyahadat dan celaka dan merugilah orang yang murtad. Semua ini adalah keyakinan yang pasti dan tidak ada lagi keraguan padanya. Sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk." (QS. Al-Bayyinah 98:6)

Dari Abu Dzar r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mengucapkan, ‘Laa ilaaha illallaah,’ kemudian meninggal, maka pasti masuk surga.”

Oleh karena itu, karena pentingnya syahadah ini, para Nabi dan orang-orang saleh dari zaman dulu hingga sekarang, di akhir hayatnya, selalu mewasiatkan anak-anaknya untuk berpegang teguh pada Islam hingga akhir hayat.

Ukhti yang dirahmati Allah, begitu besar ujian yang engkau terima. Yakinilah akan satu hal: Ujian seperti itu, selama engkau bersabar, tidak akan diberikan kecuali kepada orang yang Allah cintai. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., "Sesungguhnya balasan yang besar ada dalam ujian yang berat. Jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia menguji mereka. Barangsiapa yang ridha dengan ujian itu, maka mereka akan mendapatkan keridhaan Allah. Barangsiapa yang murka atau tidak senang dengan ujian itu maka mereka akan mendapatkan murka-Nya." (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah) 

Saya teringat dengan kisah-kisah yang hampir sama dengan kisah yang ukhti alami. Seperti kisah seorang sahabat Nabi bernama Mushab bin Umar. Dia mempunyai ibu yang sangat menyayanginya. Sang ibu memberinya banyak kemewahan. Kemudian Islam datang memutuskannya karena Mushab memutuskan memeluk Islam. Sang ibu marah bukan kepalang dan mengusirnya dari rumah berikut kemewahan yang ia sandang. 

Sang ibu yang dulu menyayanginya kini membencinya. Sang anak jatuh miskin. Dulu berpakaian mewah, kini berpakaian layaknya orang miskin. Meskipun demikian, Mushab tetap berpegang teguh pada Islam dan tak ada sedetikpun dia membenci sang ibu yang telah melahirkannya selama keburukan ibunya itu bukan berkaitan dengan agama. Dia tetap mendoakan sang ibu masuk Islam walaupun pada akhirnya sang ibu tetap pada keyakinannya. 

Apa yang telah ukhti lakukan sudah tepat. Demi menyelamatkan iman ukhti, ukhti menjauhi keluarga ukhti. Yang paling utama dari semua itu adalah bersabar dan mendoakan mereka. Percayalah, derajat ukhti lebih tinggi daripada derajat orangtua ukhti meskipun mereka menghina ukhti dengan hinaan yang merendahkan.

Saat ini ukhti sudah menikah dengan suami yang baik kepada ukhti. Tataplah ke depan mengarungi bahtera kehidupan ini. Jangan menatap kebelakang apalagi mundur. Tersenyumlah dan berbahagialah. Cintailah dan tetaplah bersama dengan orang-orang yang mencintai ukhti. 

Sedangkan mengenai keguguranmu, semoga Allah menggantinya dengan yang lebih baik. Sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan perkataan atau hinaan orang lain kepadamu. Semua itu adalah takdir Allah dan kita sedang memasuki takdir-Nya yang lain. Takdir yang baik, insya Allah.

Rabu, 01 Januari 2014

Fokus dan Senang dalam Menuntut Ilmu

Diawal tahun 2000 an, saya paling senang berdiskusi tentang teori evolusi. Apalagi setelah kedatangan buku-buku karya Harun Yahya. Gara-gara buku Harun Yahya, teman saya yang mahasiswa Biologi UI membuat sebuah milis yang diberi nama "evolusi". Milis itu dimaksud sebagai ajang diskusi ilmiah teori evolusi versus teori penciptaan. Teman saya ini adalah pendukung fanatik teori evolusi. Dia merasa berkewajiban untuk membantah pemikiran Harun Yahya itu. Bahkan dia pernah mengirim bantahan terhadap buku "Keruntuhan Teori Evolusi" karya Harun Yahya. Dan kemudian langsung di jawab oleh Harun Yahya. Harun Yahya menyebut teman saya ini seorang palaentolog. Padahal dia masih seorang mahasiswa S1. Sebutan itu mungkin karena Harun Yahya menganggap yang memberi bantahan bukunya itu bukan orang sembarangan. Alias seorang ilmuwan.

Tak dipungkiri memang, teman saya ini jago dalam soal membahas biologi pada umumnya dan teori evolusi pada khususnya. Di UI pun dia lulus dengan predikat summa cumlaude. Kuliah S1 ditempuh hanya dalam waktu 3,5 tahun. Dan setelah itu dia melanjutkan kuliah ke Imperial Collage Inggris untuk mempelajari ilmu palaentologi.

Walaupun banyak berbeda pendapat dengannya seputar teori evolusi, saya termasuk orang yang kagum kepadanya. Umurnya beberapa tahun dibawah saya tapi memiliki ilmu yang luas. Semangatnya dalam menuntut ilmu patut diancungi jempol. Dia termasuk orang yang fokus dalam meraih cita-cita. Ilmu biologi adalah ilmu yang paling dia senangi. Dan karena rasa senang itu, dia menjadi lebih termotivasi. Dalam hal ini saya banyak belajar kepadanya.

Gapailah cita-cita meski setinggi langit. Meskipun akan banyak hambatan, dengan fokus dan rasa senang, insya Allah semuanya akan tercapai.

Kristenisasi Di Tanah Jawa

Sewaktu di China, saya bertemu dengan beberapa orang dari Indonesia. Mereka ada yang muslim, dan kebanyakan non muslim. Dalam satu kesempatan, kami makan bersama dalam satu restoran. Antara meja makan muslim dan non muslim terpisah. Sebabnya, kami yang muslim hanya mau memakan makanan yang halal. Sedangkan yang non muslim bebas makan apa saja termasuk makan daging babi dan minum minuman keras.

Pada acara makan bersama itu, seseorang datang bergabung bersama kami. Kami bertanya mengapa tidak bergabung dengan keluarganya. Dengan logat jawanya yang khas dia menjawab jika dirinya adalah seorang muslim tapi istri dan saudaranya beragama Kristen. Mendengar hal itu saya tidak terkejut tapi saya diam. Sementara teman-teman saya yang lain terkejut dan bertanya lebih lanjut, apa agama istri bapak saat menikah dengan bapak. Jawabannya kembali mengejutkan mereka, Islam. Bagaimana dengan anak-anak bapak? Tanya mereka kembali. Penasaran. Jawabannya lagi-lagi mengejutkan, ada yang Islam ada yang Kristen. Jadi dalam satu keluarga ada yang Islam dan ada pula yang Kristen. Teman-teman saya tidak bertanya lebih lanjut mungkin karena takut menyinggung perasaan orang yang bersangkutan.

Saya tidak terkejut mendengar pengakuan orang jawa tersebut karena sudah sering mendengar hal yang serupa, tapi di sisi lain saya sangat sedih. Artinya, bertambahlah di negeri ini orang yang murtad. Saya pernah tinggal di Jawa Tengah tepatnya di Kabupaten Rembang selama lima tahun. Dua tahun lamanya saya beserta keluarga mengontrak rumah milik seorang Nasrani yang dulunya adalah muslim. Kami mengontrak di rumah itu karena rumah itu dekat dengan masjid. Hanya terhalang satu rumah yang notabene adalah rumah si empunya kontrakan. Bayangkan di depan masjid se arah kiblat dan dindingnya berdempetan dengan masjid, tinggal satu keluarga Nasrani. Tidak hanya itu, di belakang rumah saya juga tinggal sekeluarga murtadin lainnya. Orangnya miskin, rumahnya semi permanen. Kabarnya, keluarga itu murtad dengan diiming-imingi imbalan materi. Saat itu saya tidak terlalu peduli karena mungkin masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Tapi semakin beranjak usia, saya merasa sedih dan semakin sedih ketika wawasan dan keilmuan saya tentang Kristenisasi dan Kristologi bertambah.

Mengapa kristenisasi di tanah jawa begitu mudah dilakukan oleh para misionarisnya? Mengapa kristenisasi sulit dilakukan pada orang melayu dan sunda? Setelah saya pelajari ditambah dengan sedikit pengalaman saya dalam berinteraksi dengan murtadin, saya berkesimpulan sebagai berikut:

Pertama, masih mengakarnya tradisi kejawen pada orang-orang jawa. Walaupun identitas di KTP tertulis "Islam" tapi mereka tidak pernah melaksanakan ajaran Islam, misalnya seperti Shalat dan berpuasa di bulan Ramadhan. Bagi mereka yang paling utama adalah berakhlak baik kepada sesama. Akibatnya mereka tidak punya akidah yang kuat. Mau dibawa kemana pun mereka mau. Ketika para misionaris menyerukan agama Kristen kepada mereka dan mengatakan kepada mereka bahwa seruan itu sesungguhnya sangat berkesesuaian dengan keyakinan mereka. Bila mereka menaruh patung di rumah mereka sebagai pajangan ataupun sesajian, di dalam agama Kristen juga ada patung, yaitu patung Yesus Kristus dan Bunda Maria.

Kedua, salah satu siasat kaum misionaris adalah menjauhkan bahasa dan budaya melayu pada orang-orang jawa. Karena menurut mereka, bahasa dan budaya melayu sangat dekat dengan orang Islam. Dalam buku ”Mengkristenkan Jawa: Dukungan Pemerintah Kolonial Belanda terhadap Penetrasi Misi Kristen” karya Muhammad Isa Anshory disebutkan bahwa J.D. Wolterbeek mengatakan, “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.”

Senada dengan ini, Imam Yesuit Frans van Lith berpendapat, dua bahasa di sekolah-sekolah dasar (yaitu bahasa Jawa dan Belanda) adalah batasannya. Bahasa ketiga hanya mungkin bila kedua bahasa yang lain dianggap tidak memadai. Melayu tidak pernah bisa menjadi bahasa dasar untuk budaya Jawa di sekolah-sekolah, tetapi hanya berfungsi sebagai parasit. Bahasa Jawa harus menjadi bahasa pertama di Tanah Jawa dan dengan sendirinya ia akan menjadi bahasa pertama di Nusantara. Jadi, sangat berbahaya jika orang-orang jawa juga berbahasa dan berbudaya melayu. Orang Sumatra Barat yang melayu, misalnya, punya slogan leluhur, "Adat Basandi Syara, Syara Basandi Kitabullah." Sangat jauh berbeda dengan orang Jawa yang tidak punya slogan seperti itu.

Ketiga, kultur jawa yang nrimo, sopan, dan lemah lembut dimanfaatkan oleh para misionaris untuk menyebarkan agama Kristen. Beragama apapun yang penting sopan dan lemah lembut. Meskipun di dalam satu keluarga ada yang beragama Islam dan ada yang beragama Kristen. Siapa tahu pada gilirannya nanti yang beragama Islam ikut-ikutan murtad. Berbeda sekali, misalnya, dengan orang Sunda atau Betawi. Bila ada satu anggota keluarga yang murtad maka keluarga yang muslim akan menjauhi keluarga yang murtad itu. Karena bagi orang sunda, bila ada orang sunda bukan muslim maka bukan orang sunda namanya. Orang Betawi pun hampir sama. Meskipun pemabuk atau preman, misalnya, kalau sudah menyangkut masalah agama, mereka akan segera bertindak. Karakter orang betawi bisa kita lihat pada organisasi semacam FPI dan FBR.

Ketiga hal inilah menurut saya yang menyebabkan orang Jawa begitu mudah di Kristenkan. Bukannya orang melayu dan sunda saat ini tidak ada yang murtad, tapi apa yang terjadi di Jawa, pemurtadan itu terlihat dengan jelas dan tidak takut. Sedangkan kristenisasi yang terjadi pada orang melayu dan sunda mereka lakukan secara sembunyi-sembunyi. Bila ketahuan belangnya, maka tidak segan-segan umat Islam akan segera bertindak, seperti yang pernah terjadi pada sebuah acara di Kota Bandung beberapa tahun yang lalu. Kristenisasi dibungkus dengan sebuah acara yang diberi nama "Bandung Festival".

Dari segi perpolitikan Indonesia pun dapat terlihat, Partai Islam Masyumi menang di basis-basis melayu, sunda, dan betawi. Sedangkan jawa dikuasai oleh PNI yang sekuler dan PKI yang ateis. Peta perpolitikan seperti itu hingga saat ini belum bergeser. Melihat hal ini saja para misionaris itu dapat dengan mudah melakukan kristenisasi. Mengutip kesimpulan seorang anggota muda Yesuit, Karel Steenbrink mengatakan: "Barangkali tidak ada wilayah misi lain di seantero dunia dimana imam pribumi dikembangkan sedemikian cepat dan berhasil seperti di Jawa Tengah.”

Semoga kita, khususnya muslim di jawa tengah, segera menyadari bahaya kristenisasi dilingkungan kita. Bila salah satu dari pasangan suami istri ada yang murtad maka otomatis pernikahannya menjadi batal menurut syara, serta anak-anaknya yang ikut murtad, tidak berhak mendapatkan harta warisan dari orangtuanya. Bila anak-anaknya murtad, orangtua tidak akan mendapatkan amal jariyah, yaitu amal saleh yang tetap mengalir hingga hari kiamat meskipun orang yang beramal itu wafat. Karena sebaik dan sebanyak apapun doa orang kafir untuk orangtuanya tetap saja tidak akan bermanfaat sama sekali. Oleh karena itu, sangat menyedihkan bila ada muslim yang murtad. Mereka menderita di dunia dan akhirat.