Sepekan terakhir ini saya membaca dan menonton banyak berita tentang orangtua yang menyiksa anaknya. Salah satu contohnya adalah berita tentang ayah ibu yang menyiksa anaknya hingga babak belur. Melihat wajahnya yang rusak, saya benar-benar tak tega melihatnya. Saya sedih bercampur marah. Ada saja orangtua yang memperlakukan anaknya seperti itu.
Saya sendiri pernah menonton tayangan bagaimana induk binatang memperlakukan anak-anaknya dengan penuh kasih sayang. Tapi manusia malah memperlakukan anak-anaknya lebih kejam daripada binatang. Padahal manusia punya hati yang merasa, sedangkan hewan hanya punya insting semata. Bila manusia tidak punya hati dan insting mau disebut apa? Manusia bukan. Binatang juga bukan. Tepatnya, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an, mereka lebih bodoh daripada binatang ternak. Aduhai betapa buruk julukan itu dan betapa buruk orang yang mendapatkannya.
Kisah di atas membuat saya kembali membuka buku tentang Pendidikan Anak dalam Islam karya DR. Abdullah Nashih Ulwan yang tebalnya 2 jilid. Saya juga membaca buku Tahapan Mendidik Anak karya DR. Jamal Abdurrahman. Saya dapati di dalamnya, kelembutan Rasulullah dalam mendidik anak-anak. Bila ada anak yang meninggal dunia, baik itu anak beliau sendiri, cucu beliau, maupun anak sahabat-sahabatnya, tak segan-segan beliau menangisi, sebagai bentuk kasih sayang beliau kepada anak-anak tersebut. Itulah hati yang hidup, mudah merasakan penderitaan orang lain.
Semoga Allah memberi kelembutan ke dalam hati kita sehingga kita dapat mendidik anak-anak kita dengan penuh cinta dan kasih sayang.
Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka)... (QS. Al-Hadid: 16)
Senin, 23 Desember 2013
Mengapa Kopi dapat Mencegah Step?
Saya ingat waktu kecil, ibu sering memberi beberapa sendok air kopi untuk saya minum. Alasannya, ibu khawatir jika saya terkena step seperti yang pernah dialami kakak saya. Alhamdulillah saya tidak pernah step hingga kini. Mengapa kopi sangat manjur bagi penderita step?
Apa itu step? Mengapa kopi dapat mencegah step? Ibu saya mungkin tidak tahu secara ilmiah mengapa kopi bisa mencegah datangnya step pada anak-anaknya. Yang ibu tahu bahwa cara itu adalah sebuah kebiasaan yang sangat manjur di masyarakat. Jadi, tidak ada salahnya digunakan untuk anak-anaknya.
Step atau kejang pada anak sering terjadi ketika anak mengalami kenaikan suhu tubuh di atas normal. Anak yang sudah punya bakat genetik step, suhu tubuh 37-38 derajat C bisa kena step. Sedangkan anak yang tidak punya bakat step, suhu tubuh 40 derajat C bisa aman-aman saja. Hanya saja tidak boleh dibiarkan hanya gara-gara anak belum step.
Anak yang sudah demam tinggi harus segera diobati, misalnya dikasih minum madu atau obat kimia seperti Paracetamol. Bukan dengan cara dikasih kopi. Kopi diberi sebagai upaya pencegahan agar step tidak terjadi (lagi) pada anak. Bagaimana cara kerja kopi dalam mencegah terjadinya step pada anak?
Dari segi gizi, kopi mengandung senyawa kaffein yang dapat merangsang kinerja sel syaraf. Setelah minum kopi, sel syaraf membesar sehingga mempelancar peredaran darah. Sedangkan step terjadi karena terjadinya penyempitan pada sel syaraf. Memberi anak kopi dengan takaran tertentu, kafein dapat memberikan hasil yang positif. Sementara kebalikannya, pada takaran yang berlebihan juga dapat memberikan dampak yang kurang baik bagi kesehatan.
Jadi, mungkin seperti inilah mengapa ibu saya memberi kopi kepada saya saat kecil. Ibu tidak menginginkan saya terkena step seperti yang dialami kakak saya. Terimakasih ibu, sekarang saya baru tahu mengapa ibu memberi saya kopi.
Apa itu step? Mengapa kopi dapat mencegah step? Ibu saya mungkin tidak tahu secara ilmiah mengapa kopi bisa mencegah datangnya step pada anak-anaknya. Yang ibu tahu bahwa cara itu adalah sebuah kebiasaan yang sangat manjur di masyarakat. Jadi, tidak ada salahnya digunakan untuk anak-anaknya.
Step atau kejang pada anak sering terjadi ketika anak mengalami kenaikan suhu tubuh di atas normal. Anak yang sudah punya bakat genetik step, suhu tubuh 37-38 derajat C bisa kena step. Sedangkan anak yang tidak punya bakat step, suhu tubuh 40 derajat C bisa aman-aman saja. Hanya saja tidak boleh dibiarkan hanya gara-gara anak belum step.
Anak yang sudah demam tinggi harus segera diobati, misalnya dikasih minum madu atau obat kimia seperti Paracetamol. Bukan dengan cara dikasih kopi. Kopi diberi sebagai upaya pencegahan agar step tidak terjadi (lagi) pada anak. Bagaimana cara kerja kopi dalam mencegah terjadinya step pada anak?
Dari segi gizi, kopi mengandung senyawa kaffein yang dapat merangsang kinerja sel syaraf. Setelah minum kopi, sel syaraf membesar sehingga mempelancar peredaran darah. Sedangkan step terjadi karena terjadinya penyempitan pada sel syaraf. Memberi anak kopi dengan takaran tertentu, kafein dapat memberikan hasil yang positif. Sementara kebalikannya, pada takaran yang berlebihan juga dapat memberikan dampak yang kurang baik bagi kesehatan.
Jadi, mungkin seperti inilah mengapa ibu saya memberi kopi kepada saya saat kecil. Ibu tidak menginginkan saya terkena step seperti yang dialami kakak saya. Terimakasih ibu, sekarang saya baru tahu mengapa ibu memberi saya kopi.
Minggu, 22 Desember 2013
Inspirasi Tiada Henti
"Seperti listrik, inspirasi tak pernah berhenti mengalir. Kalau lampu dalam diri kita tidak menyala, itu karena saluran yang terganggu atau memang putus sama sekali. Maka, jika engkau ingin inspirasi itu hidup, siapkan jiwamu untuk menyambutnya." (Mohammad Fauzil Adhim)
Ya, mempersiapkan jiwa. Itulah kata kuncinya agar kita terus menerus memperoleh inspirasi. Tanpa kesiapan jiwa, sebanyak apapun informasi yang kita terima, tidak akan membekas dalam benak kita. Seperti halnya apa yang masuk telinga kiri keluar ke telinga kanan.
Jiwa yang siap ibarat tanah yang luas. Ia dapat menampung berbagai macam hal yang bermanfaat. Batas dan tepinya tidak kita ketahui karena saking luasnya. Bila benar apa yang dikatakan Einstein, kita baru menggunakan 5% saja dari kemampuan otak kita, maka kita akan menyadari betapa besarnya kapasitas otak kita dan betapa luasnya pengetahuan yang ada di alam semesta ini. Lalu, bagaimana dengan orang yang malas menggunakan otaknya?
Bagi jiwa yang selalu siap, situasi dan kondisi apapun bisa sangat menguntungkan bagi dirinya. Penderitaan dan sempitnya penjara bukanlah hambatan untuk menghasilkan sebuah maha karya. Bahkan, situasi dan kondisi itu adalah stimulan untuk menulis buku-buku hebat dan bermakna kuat. Imam Ibnu Taimiyah, misalnya, menulis sebagian besar buku Majmu Fatawa yang tebalnya 30 jilid ketika berada di dalam penjara. Prof. HAMKA menulis sebagian besar Tafsir Al Azhar ketika berada di dalam penjara. Begitupun dengan Sayyid Quthb yang menulis Tafsir Fi Zhilalil Quran, menulisnya ketika berada di dalam penjara.
Syaikh Muhammad Al Ghazali menulis buku Fiqh Sirah ketika berada dalam pengasingan di Madinah akibat diusir oleh pemerintah Mesir yang zalim pada saat itu. Begitupun dengan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi menulis buku Fiqh Zakat ditempat pengasingannya di Qatar.
Dahsyatnya, semua buku yang mereka tulis itu menjadi karya fenomenal dan rujukan berjuta-juta kaum muslimin. Majmu Fatawa adalah buku berisi kumpulan fatwa terbesar yang pernah ada. Tafsir Al Azhar, menurut seorang orientalis, adalah kitab tafsir terbaik yang pernah ditulis ulama asal Indonesia. Kitab ini menjadi rujukan kaum muslimin di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Thailand. Bahkan di beberapa pusat pendidikan Islam, kitab ini menjadi buku wajib bagi para santrinya.
Tafsir Fi Zhilalil Quran adalah tafsir Al Quran yang paling banyak dibaca aktivis pergerakan Islam saat ini. Sayyid Quthb menulis tafsirnya dengan bahasa yang sangat indah. Kemampuan sastranya mengalir bersama dengan semangat juangnya yang tinggi. Banyak kalangan menyebutkan, belum pernah ada orang menulis tafsir seperti yang dilakukan oleh Sayyid Quthb.
Kitab Fiqh Sirah karya Syaikh Muhammad Al Ghazali begitu khas. Dalam buku itu, beliau memadukan antara sejarah Nabi Muhammad dan pergerakan Islam saat ini. Sehingga karyanya ini menjadi salah satu rujukan utama aktivis Islam dalam disiplin ilmu Sirah Nabawiyah. Buku beliau ditulis di depan makam Rasulullah. Setiap kali mulai menulis, beliau menangis mengenang perjuangan agung Rasulullah Saw. Tulisannya mengalir deras bersamaan dengan derasnya airmata yang keluar. Membentuk kalimat-kalimat indah dan bermakna.
Sedangkan buku Fiqh Zakat karya Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dinobatkan oleh pemikir besar Islam, Imam Abul A'la Al Maududi, sebagai buku terbaik di abad ke-20. Dikalangan pemerhati zakat, buku ini menjadi buku rujukan wajib bagi mereka. Lihat saja buku-buku zakat yang ada sekarang pasti menjadikan Fiqh Zakat sebagai salah satu sumber rujukan utamanya.
Penderitaan bagi mereka adalah tambang kearifan dan kebijaksanaan. Dari sana muncul kata-kata yang tulus, makna yang mendalam, dan hakikat sebuah pengorbanan. Karena ia muncul dari jiwa yang merdeka. Jiwa yang tanpa dusta di dalamnya. Penderitaan mereka dalam berjuang adalah bukti pengorbanan yang sesungguhnya.
Kebalikannya bagi si pemilik jiwa yang sempit. Meskipun tinggal di dalam istana yang luas dan mewah, tidak membuatnya merasa nyaman dan tentram. Selalu saja baginya membuat-buat alasan untuk berhenti berkarya. Padahal alasan-alasan itu hanya diciptakan oleh dirinya sendiri. Alasan-alasan itu pada akhirnya memenjarakan dirinya pada penjara yang hakiki. Penjara yang membuatnya tidak bisa berimajinasi dan berpikir merdeka.
Jangan katakan tidak ada inspirasi. Tapi evaluasilah diri ini, sudahkah kita siap menyambut datangnya inspirasi. Jangan sampai gara-gara jiwa tidak siap, inspirasi itu menghilang begitu saja. Bukankah ini sama dengan kesia-siaan? Ketika jiwa kita sudah siap, insya Allah inspirasi yang kita peroleh tidak ada habis-habisnya. Nah!
Ya, mempersiapkan jiwa. Itulah kata kuncinya agar kita terus menerus memperoleh inspirasi. Tanpa kesiapan jiwa, sebanyak apapun informasi yang kita terima, tidak akan membekas dalam benak kita. Seperti halnya apa yang masuk telinga kiri keluar ke telinga kanan.
Jiwa yang siap ibarat tanah yang luas. Ia dapat menampung berbagai macam hal yang bermanfaat. Batas dan tepinya tidak kita ketahui karena saking luasnya. Bila benar apa yang dikatakan Einstein, kita baru menggunakan 5% saja dari kemampuan otak kita, maka kita akan menyadari betapa besarnya kapasitas otak kita dan betapa luasnya pengetahuan yang ada di alam semesta ini. Lalu, bagaimana dengan orang yang malas menggunakan otaknya?
Bagi jiwa yang selalu siap, situasi dan kondisi apapun bisa sangat menguntungkan bagi dirinya. Penderitaan dan sempitnya penjara bukanlah hambatan untuk menghasilkan sebuah maha karya. Bahkan, situasi dan kondisi itu adalah stimulan untuk menulis buku-buku hebat dan bermakna kuat. Imam Ibnu Taimiyah, misalnya, menulis sebagian besar buku Majmu Fatawa yang tebalnya 30 jilid ketika berada di dalam penjara. Prof. HAMKA menulis sebagian besar Tafsir Al Azhar ketika berada di dalam penjara. Begitupun dengan Sayyid Quthb yang menulis Tafsir Fi Zhilalil Quran, menulisnya ketika berada di dalam penjara.
Syaikh Muhammad Al Ghazali menulis buku Fiqh Sirah ketika berada dalam pengasingan di Madinah akibat diusir oleh pemerintah Mesir yang zalim pada saat itu. Begitupun dengan Syaikh Yusuf Al Qaradhawi menulis buku Fiqh Zakat ditempat pengasingannya di Qatar.
Dahsyatnya, semua buku yang mereka tulis itu menjadi karya fenomenal dan rujukan berjuta-juta kaum muslimin. Majmu Fatawa adalah buku berisi kumpulan fatwa terbesar yang pernah ada. Tafsir Al Azhar, menurut seorang orientalis, adalah kitab tafsir terbaik yang pernah ditulis ulama asal Indonesia. Kitab ini menjadi rujukan kaum muslimin di Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Thailand. Bahkan di beberapa pusat pendidikan Islam, kitab ini menjadi buku wajib bagi para santrinya.
Tafsir Fi Zhilalil Quran adalah tafsir Al Quran yang paling banyak dibaca aktivis pergerakan Islam saat ini. Sayyid Quthb menulis tafsirnya dengan bahasa yang sangat indah. Kemampuan sastranya mengalir bersama dengan semangat juangnya yang tinggi. Banyak kalangan menyebutkan, belum pernah ada orang menulis tafsir seperti yang dilakukan oleh Sayyid Quthb.
Kitab Fiqh Sirah karya Syaikh Muhammad Al Ghazali begitu khas. Dalam buku itu, beliau memadukan antara sejarah Nabi Muhammad dan pergerakan Islam saat ini. Sehingga karyanya ini menjadi salah satu rujukan utama aktivis Islam dalam disiplin ilmu Sirah Nabawiyah. Buku beliau ditulis di depan makam Rasulullah. Setiap kali mulai menulis, beliau menangis mengenang perjuangan agung Rasulullah Saw. Tulisannya mengalir deras bersamaan dengan derasnya airmata yang keluar. Membentuk kalimat-kalimat indah dan bermakna.
Sedangkan buku Fiqh Zakat karya Syaikh Yusuf Al Qaradhawi dinobatkan oleh pemikir besar Islam, Imam Abul A'la Al Maududi, sebagai buku terbaik di abad ke-20. Dikalangan pemerhati zakat, buku ini menjadi buku rujukan wajib bagi mereka. Lihat saja buku-buku zakat yang ada sekarang pasti menjadikan Fiqh Zakat sebagai salah satu sumber rujukan utamanya.
Penderitaan bagi mereka adalah tambang kearifan dan kebijaksanaan. Dari sana muncul kata-kata yang tulus, makna yang mendalam, dan hakikat sebuah pengorbanan. Karena ia muncul dari jiwa yang merdeka. Jiwa yang tanpa dusta di dalamnya. Penderitaan mereka dalam berjuang adalah bukti pengorbanan yang sesungguhnya.
Kebalikannya bagi si pemilik jiwa yang sempit. Meskipun tinggal di dalam istana yang luas dan mewah, tidak membuatnya merasa nyaman dan tentram. Selalu saja baginya membuat-buat alasan untuk berhenti berkarya. Padahal alasan-alasan itu hanya diciptakan oleh dirinya sendiri. Alasan-alasan itu pada akhirnya memenjarakan dirinya pada penjara yang hakiki. Penjara yang membuatnya tidak bisa berimajinasi dan berpikir merdeka.
Jangan katakan tidak ada inspirasi. Tapi evaluasilah diri ini, sudahkah kita siap menyambut datangnya inspirasi. Jangan sampai gara-gara jiwa tidak siap, inspirasi itu menghilang begitu saja. Bukankah ini sama dengan kesia-siaan? Ketika jiwa kita sudah siap, insya Allah inspirasi yang kita peroleh tidak ada habis-habisnya. Nah!
Muhammad Mursi dan Ikhwanul Muslimin Sebagai Common Enemy
Kebijakan Mursi ini kabarnya membuat kalangan militer Mesir yang dekat dengan Bashar Al-Asad Asy Syi'i meradang. Sementara itu negara-negara seperti Arab Saudi, Kuwait, & Uni Emirat Arab yang sangat mendukung kudeta terhadap Mursi hanya omdo saja. Dukungan mereka terhadap oposisi Suriah tidak kongkrit. Kemungkinan besar ketidakkongkritan ini terjadi karena ternyata di medan perlawanan Suriah yang banyak berjihad adalah para aktivis Ikhwanul Muslimin.
Arab Saudi-UEA-Kuwait tidak fokus membantu umat Islam di Suriah. Mereka malah sibuk mengurus bagaimana merebut pengaruh perlawanan dari tangan Ikhwanul Muslimin. Caranya adalah, mengganti pimpinan oposisi dari kalangan ikhwan dengan tokoh yang dekat dengan mereka. Sedangkan tokoh itu jauh sekali dari medan perjuangan.
Selama ini dukungan negara-negara Barat terhadap kelompok oposisi Suriah juga nonsense. Pengiriman senjata mereka untuk oposisi Suriah hanya gosip belaka. Biasanya yang menggembor-gemborkannya adalah kaum Syiah Rofidhoh. Pengakuan komandan tempur gerakan perlawanan menyebutkan bahwa pengiriman senjata hanya dusta belaka. Meskipun mereka sendiri mengakui sangat mengharapkan bantuan senjata itu. Dan juga menurut Menlu Rusia, Amerika Serikat lebih setuju mempertahankan rezim Bashar ketimbang mendukung kelompok perlawanan yang mayoritasnya adalah aktivis pergerakan Islam.
Maka tidaklah heran, salah satu tokoh yang paling senang dengan kudeta terhadap Mursi adalah Bashar Al-Asad. Dia mengatakan lengsernya Mursi merupakan berakhirnya kekuatan politik Islam. Karena dukungan Mursi terhadap oposisi sangat kuat pengaruhnya untuk menggulingkan Bashar Al-Asad dari tampuk kekuasaan. Tampaknya pula Bashar mengirim sinyal-sinyal ke negara-negara tetangga jika musuh besar yang kini mereka hadapi sesungguhnya adalah Ikhwanul Muslimin, bukan Suriah, Iran atau bahkan Israel.
Kesimpulannya, kudeta terhadap Muhammad Mursi oleh militer Mesir adalah tragedi demokrasi, tragedi kemanusiaan, dan tragedi keadilan yang disaksikan oleh dunia. Muhammad Mursi dan Ikhwanul Muslimin telah menjadi target serangan besar-besaran oleh berbagai kepentingan dunia yang congkak dan zalim. Oleh karena itu, seluruh kaum muslimin harus mendukung Mursi dan gerakan Ikhwanul Muslimin. Sebagai dukungan untuk kemaslahatan umat yang lebih besar. Semoga Allah menyelamatkan Mursi, kaum muslimin Mesir, dan menghancurkan rezim kudeta.
Kamis, 19 Desember 2013
Nahnu Duat Qobla Kulli Syai
Guru saya pernah berkata kepada saya, kita adalah seorang da'i sebelum menjadi yang lain.
Dalam posisi dan spesialisasi pekerjaan apapun setiap muslim mempunyai kewajiban amar ma'ruf nahi munkar, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, dan menjadi teladan yg baik bagi lingkungannya.
Hakikat seorang da'i tidak melulu pandai bicara, walaupun kemahiran bicara itu penting. Tapi yg lebih penting adalah dakwahnya dalam perbuatan (dakwah bil hal). Karena hal itu jauh lebih kuat pengaruhnya daripada dakwah dengan perkataan (dakwah bil lisan). Bila dakwah bil lisan lebih baik daripada dakwah bil hal, maka tentu Nabi Musa lebih baik daripada Nabi Harun. Pada kenyataannya Nabi Harun mengikuti syariat Nabi Musa.
Teman-teman saya yang berprestasi di sekolahnya, pada umumnya tidak banyak bicara. Tapi anehnya banyak orang menyukainya, mendekat kepadanya, dan meneladaninya. Jarang berbicara tapi bila berbicara, benar-benar di perhatikan lawan bicaranya. Karena dia telah berkata dengan prestasinya. Dan banyak orang lebih menginginkan bukti, bukan janji belaka.
Maka tak ada yang perlu dicemaskan tentang ketidakmampuan kita dalam berbicara baik secara lisan maupun tulisan, walaupun keduanya sangat baik kita pelajari dan kuasai. Awal yang harus kita lakukan dalam hal ini adalah, menjadi pribadi muslim yang baik dari hari ke hari. Dari sana akan terpancar cahaya ke sekeliling kita dan akan semakin membesar seiring berjalannya waktu.
Dalam posisi dan spesialisasi pekerjaan apapun setiap muslim mempunyai kewajiban amar ma'ruf nahi munkar, saling nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, dan menjadi teladan yg baik bagi lingkungannya.
Hakikat seorang da'i tidak melulu pandai bicara, walaupun kemahiran bicara itu penting. Tapi yg lebih penting adalah dakwahnya dalam perbuatan (dakwah bil hal). Karena hal itu jauh lebih kuat pengaruhnya daripada dakwah dengan perkataan (dakwah bil lisan). Bila dakwah bil lisan lebih baik daripada dakwah bil hal, maka tentu Nabi Musa lebih baik daripada Nabi Harun. Pada kenyataannya Nabi Harun mengikuti syariat Nabi Musa.
Teman-teman saya yang berprestasi di sekolahnya, pada umumnya tidak banyak bicara. Tapi anehnya banyak orang menyukainya, mendekat kepadanya, dan meneladaninya. Jarang berbicara tapi bila berbicara, benar-benar di perhatikan lawan bicaranya. Karena dia telah berkata dengan prestasinya. Dan banyak orang lebih menginginkan bukti, bukan janji belaka.
Maka tak ada yang perlu dicemaskan tentang ketidakmampuan kita dalam berbicara baik secara lisan maupun tulisan, walaupun keduanya sangat baik kita pelajari dan kuasai. Awal yang harus kita lakukan dalam hal ini adalah, menjadi pribadi muslim yang baik dari hari ke hari. Dari sana akan terpancar cahaya ke sekeliling kita dan akan semakin membesar seiring berjalannya waktu.
Mengkambinghitamkan Ibnu Taimiyah
Saya
kembali terlibat diskusi dengan orang Syiah. Kali ini semakin terlihat
betapa dangkalnya pemikiran orang syiah. Hanya karena mengutip perkataan
Imam Ibnu Taimiyah, saya kemudian dituduh Wahabi oleh mereka.
Pertama, mereka seperti pepatah yang mengatakan, gajah dipelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Mereka meributkan perkataan Imam Ibnu Taimiyah yang hanya satu kutipan, tapi anehnya tidak meributkan perkataan ulama-ulama lainnya seperti Imam Syafi'i, Imam Malik, dan Imam Ahmad.
Mengapa? Karena mereka takut kalau mereka menyerang para Imam Madzhab itu belang syiah mereka akan terlihat. Mereka menyadari psikologis kaum muslimin saat ini yang sangat kuat berpegang kepada imam madzhab yang empat. Menyerang 4 imam sama saja dengan menyerang ahlus sunnah yang hakiki, meskipun pada dasarnya ahlus sunnah itu bukan dari empat imam saja.
Akhirnya mereka menyerang ulama yang paling besar perbedaan pendapatnya dengan kalangan penganut akidah asyariyah dan maturidiyah. Yaitu Imam Ibnu Taimiyah. Dengan demikian,serangan mereka terhadap orang-orang yang anti syiah seolah dilancarkan oleh kaum ahlus sunnah sendiri. Pada akhirnya sesama ahlus sunnah saling bentrok sendiri. Sementara akar permasalahan tentang pemikiran Syiah tidak dikemukakan lebih lanjut. Sampai disini, orang syiah berhasil membelokkan masalah yang sesungguhnya. Di satu sisi, mereka tetap mengemukakan pemikirannya yang sesat, di sisi lain mereka mengadu domba sesama kalangan ahlus sunnah.
Kedua, orang syiah memberi gelar orang yang mengutip perkataan Ibnu Taimiyah dengan sebutan wahabi. Saya heran, apa hubungan langsung antara Ibnu Taimiyah dengan wahabi? Seolah Ibnu Taimiyah itu penganut wahabi. Padahal Ibnu Taimiyah hidup sebelum pendiri "wahabi" itu hidup.
Kalau memang orang yang mengutip perkataan Ibnu Taimiyah disebut wahabi, tentu orang-orang Islam Liberal seperti Prof. Fazlur Rahman dan Prof. Nurcholis Majid adalah penganut wahabi. Prof. Fazlur Rahman pernah memuji Ibnu Taimiyah dengan sebutan "neo sufism" dan Prof. Nurcholis Majid menulis desertasi doktoralnya tentang pemikiran Ibnu Taimiyah.
Orang-orang Jamaah Tabligh dengan tokohnya seperti Syaikh Maulana Kandahlawi dalam bukunya banyak mengutip perkataan Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim. Bahkan tokohnya yang lain, yakni Syaikh Abul Hasan An-Nadwi menulis buku biografi tentang Imam Ibnu Taimiyah. Sementara itu dikalangan wahabi itu sendiri, Jamaah Tabligh sering dikritik sebagai jamaah yang banyak bid'ahnya.
Begitupun dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin yang banyak dikritik dan dihujat oleh kalangan wahabi, banyak mengutip pemikiran Imam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya.
Kesimpulannya, Imam Ibnu Taimiyah adalah milik kaum muslimin. Bukan milik orang-orang wahabi semata. Murid-murid Imam Ibnu Taimiyah di antaranya: Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Imam Ibnu Katsir, Imam Ibnu Rajab, dan Imam Adz Dzahabi. Banyak karya-karya Imam Ibnul Qayyim condong pada tasawuf seperti kitab Madarijus Salikin, Ighatsul Lahfan dan Al Jawabul Kafi. Imam Ibnu Katsir terkenal dengan karyanya Tafsir Ibnu Katsir dan Al Bidayah wan Nihayah yang dijadikan rujukan seluruh kaum ahlussunnah tidak terkecuali. Begitupun Imam Adz Dzahabi dikenal sebagai ahli hadits yang diakui oleh para ulama ahlussunnah.
Pertama, mereka seperti pepatah yang mengatakan, gajah dipelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak. Mereka meributkan perkataan Imam Ibnu Taimiyah yang hanya satu kutipan, tapi anehnya tidak meributkan perkataan ulama-ulama lainnya seperti Imam Syafi'i, Imam Malik, dan Imam Ahmad.
Mengapa? Karena mereka takut kalau mereka menyerang para Imam Madzhab itu belang syiah mereka akan terlihat. Mereka menyadari psikologis kaum muslimin saat ini yang sangat kuat berpegang kepada imam madzhab yang empat. Menyerang 4 imam sama saja dengan menyerang ahlus sunnah yang hakiki, meskipun pada dasarnya ahlus sunnah itu bukan dari empat imam saja.
Akhirnya mereka menyerang ulama yang paling besar perbedaan pendapatnya dengan kalangan penganut akidah asyariyah dan maturidiyah. Yaitu Imam Ibnu Taimiyah. Dengan demikian,serangan mereka terhadap orang-orang yang anti syiah seolah dilancarkan oleh kaum ahlus sunnah sendiri. Pada akhirnya sesama ahlus sunnah saling bentrok sendiri. Sementara akar permasalahan tentang pemikiran Syiah tidak dikemukakan lebih lanjut. Sampai disini, orang syiah berhasil membelokkan masalah yang sesungguhnya. Di satu sisi, mereka tetap mengemukakan pemikirannya yang sesat, di sisi lain mereka mengadu domba sesama kalangan ahlus sunnah.
Kedua, orang syiah memberi gelar orang yang mengutip perkataan Ibnu Taimiyah dengan sebutan wahabi. Saya heran, apa hubungan langsung antara Ibnu Taimiyah dengan wahabi? Seolah Ibnu Taimiyah itu penganut wahabi. Padahal Ibnu Taimiyah hidup sebelum pendiri "wahabi" itu hidup.
Kalau memang orang yang mengutip perkataan Ibnu Taimiyah disebut wahabi, tentu orang-orang Islam Liberal seperti Prof. Fazlur Rahman dan Prof. Nurcholis Majid adalah penganut wahabi. Prof. Fazlur Rahman pernah memuji Ibnu Taimiyah dengan sebutan "neo sufism" dan Prof. Nurcholis Majid menulis desertasi doktoralnya tentang pemikiran Ibnu Taimiyah.
Orang-orang Jamaah Tabligh dengan tokohnya seperti Syaikh Maulana Kandahlawi dalam bukunya banyak mengutip perkataan Imam Ibnu Taimiyah dan Imam Ibnul Qayyim. Bahkan tokohnya yang lain, yakni Syaikh Abul Hasan An-Nadwi menulis buku biografi tentang Imam Ibnu Taimiyah. Sementara itu dikalangan wahabi itu sendiri, Jamaah Tabligh sering dikritik sebagai jamaah yang banyak bid'ahnya.
Begitupun dengan Jamaah Ikhwanul Muslimin yang banyak dikritik dan dihujat oleh kalangan wahabi, banyak mengutip pemikiran Imam Ibnu Taimiyah dan murid-muridnya.
Kesimpulannya, Imam Ibnu Taimiyah adalah milik kaum muslimin. Bukan milik orang-orang wahabi semata. Murid-murid Imam Ibnu Taimiyah di antaranya: Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyah, Imam Ibnu Katsir, Imam Ibnu Rajab, dan Imam Adz Dzahabi. Banyak karya-karya Imam Ibnul Qayyim condong pada tasawuf seperti kitab Madarijus Salikin, Ighatsul Lahfan dan Al Jawabul Kafi. Imam Ibnu Katsir terkenal dengan karyanya Tafsir Ibnu Katsir dan Al Bidayah wan Nihayah yang dijadikan rujukan seluruh kaum ahlussunnah tidak terkecuali. Begitupun Imam Adz Dzahabi dikenal sebagai ahli hadits yang diakui oleh para ulama ahlussunnah.
Ketika Syiah di Bantu Rusia dan Amerika Melawan Ahlussunnah
Beberapa kali saya berdebat dengan orang syiah
dan mereka yang bersimpati kepada syiah. Salah satu perdebatan saya
seputar kondisi Suriah saat ini. Kata mereka, Amerika dan sekutunya
telah mengadu domba antara orang Sunni dan Syiah.
Saya tanyakan, darimana Anda tahu?
Jawabnya, orang-orang Sunni yang menyerang pemerintahan Bashar Al-Asad dibantu oleh Amerika. Amerika dan sekutunya mengirimkan persenjataan untuk para pemberontak itu.
Saya katakan, analisa Anda itu tidak terbukti sama sekali. Hingga saat ini Amerika hanya membual saja memberikan persenjataan. Bukti yang ada dilapangan, para pejuang pembebasan memodali persenjataan mereka dari apa yang sanggup mereka miliki dan yang sanggup mereka buat. Kalaupun mereka memiliki persenjataan dari Amerika, pasti daya gempur mereka jauh lebih kuat daripada yang ada pada saat ini.
Apa yang terjadi di Suriah adalah kezaliman sebuah rezim yang sama dari generasi yang berbeda. Kezaliman Bashar Al-Asad tidak jauh beda dengan kezaliman Hafez Al-Asad. Bahkan lebih kejam lagi. Di zaman Hafez Al-Asad (bapaknya Bashar), di awal tahun 80 an, rezim ini telah membunuh lebih dari delapan puluh ribu orang dan meratakan ratusan masjid kaum sunni. Syaikh Said Hawwa, ulama Suriah, saat itu mendatangi Ali Khomaini agar membantu revolusi Islam Suriah. Tapi beliau pulang dari Iran dengan tangan hampa.
Apa yang bisa diharapkan dari seorang Syiah tatkala ada orang Syiah lainnya akan dilawan? Tidak mungkin orang Syiah membantu kaum Sunni melawan orang Syiah lainnya. Seperti yang terjadi saat ini, Syiah Iran dan Syiah Libanon membantu rezim Bashar yang Syiah. Mereka terang-terangan membantu Bashar dengan persenjataan. Ditambah lagi bantuan dari negara ateis Rusia. Jadi anggapan yang terjadi pada saat ini karena perbuatan dan campur tangan Amerika Serikat belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Gejolak saat ini ibarat bom waktu dari kezaliman yang sudah ada sebelumnya. Saat terjadi Revolusi Musim Semi Arab, para pejuang menjadikannya sebagai momentum untuk melakukan perubahan. Sama seperti yang terjadi di Tunisia, Yaman, Maroko, Mesir, dan di beberapa negara Arab lainnya. Pada awalnya mereka melakukan melakukan demonstrasi damai. Karena tindakan represif rezim bashar, banyak pendemo yang mati. Kezaliman ini menyulut perlawanan bersenjata.
Jadi, siapa yang mengangkat senjata untuk pertama kali? Tidak bolehkah orang yang terzalimi membela diri? Tapi orang seperti Anda kemudian menuduh Amerika berada dibelakang semua ini. Padahal tuduhan itu seharusnya Anda arahkan kepada kezaliman teman-teman Anda sesama Syiah di Suriah.
Lalu, orang syiah ini kembali berkata, Anda boleh berpendapat seperti itu. Tidakkah Anda lihat penggulingan Muammar Khadafi di Libya? Bukankah dibantu Amerika dan sekutunya?
Saya menjawab, Bagaimana dengan Irak? Bukankah Saddam Husein juga digulingkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya? Setelah itu siapa yang paling mendapat keuntungan sesudah penggulingan itu? Orang syiah! Mengapa Anda melihat Libya tetapi buta dari melihat Irak?
Orang syiah ini kembali berkata, negara Iran adalah negara yang paling keras permusuhannya kepada Amerika dan Israel. Sementara negara lain lembek.
Saya menjawab, Anda bisa saja berkata seperti itu. Tapi ucapan harus dibuktikan dengan tindakan agar tidak disebut omong kosong. Apakah Iran pernah menembakkan roketnya ke arah Israel, seperti yang dilakukan oleh Saddam Husein? Apakah Iran pernah mengembargo minyak untuk Amerika Serikat dan sekutunya seperti yang dilakukan Raja Faishal dari Arab Saudi? Justru yang ada saat ini Iran semakin mesra dengan Amerika dan sekutunya. Jumlah orang Yahudi di Iran semakin meningkat, sementara kaum ahlussunnah ditindas dan tidak mendapat tempat yang layak untuk beribadah.
Saya khawatir dugaan saya orang syiah sedang bertaqiyah bahwa mereka bersekutu dengan Amerika, Israel, Rusia, dan kaum kafirin lainnya, benar adanya. Dan kalaupun dugaan itu benar, saya tidak menganggapnya sebagai sebuah keanehan.
Berikut ini senjata bantuan Amerika Serikat untuk Mujahidin Suriah.
Saya tanyakan, darimana Anda tahu?
Jawabnya, orang-orang Sunni yang menyerang pemerintahan Bashar Al-Asad dibantu oleh Amerika. Amerika dan sekutunya mengirimkan persenjataan untuk para pemberontak itu.
Saya katakan, analisa Anda itu tidak terbukti sama sekali. Hingga saat ini Amerika hanya membual saja memberikan persenjataan. Bukti yang ada dilapangan, para pejuang pembebasan memodali persenjataan mereka dari apa yang sanggup mereka miliki dan yang sanggup mereka buat. Kalaupun mereka memiliki persenjataan dari Amerika, pasti daya gempur mereka jauh lebih kuat daripada yang ada pada saat ini.
Apa yang terjadi di Suriah adalah kezaliman sebuah rezim yang sama dari generasi yang berbeda. Kezaliman Bashar Al-Asad tidak jauh beda dengan kezaliman Hafez Al-Asad. Bahkan lebih kejam lagi. Di zaman Hafez Al-Asad (bapaknya Bashar), di awal tahun 80 an, rezim ini telah membunuh lebih dari delapan puluh ribu orang dan meratakan ratusan masjid kaum sunni. Syaikh Said Hawwa, ulama Suriah, saat itu mendatangi Ali Khomaini agar membantu revolusi Islam Suriah. Tapi beliau pulang dari Iran dengan tangan hampa.
Apa yang bisa diharapkan dari seorang Syiah tatkala ada orang Syiah lainnya akan dilawan? Tidak mungkin orang Syiah membantu kaum Sunni melawan orang Syiah lainnya. Seperti yang terjadi saat ini, Syiah Iran dan Syiah Libanon membantu rezim Bashar yang Syiah. Mereka terang-terangan membantu Bashar dengan persenjataan. Ditambah lagi bantuan dari negara ateis Rusia. Jadi anggapan yang terjadi pada saat ini karena perbuatan dan campur tangan Amerika Serikat belum bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Gejolak saat ini ibarat bom waktu dari kezaliman yang sudah ada sebelumnya. Saat terjadi Revolusi Musim Semi Arab, para pejuang menjadikannya sebagai momentum untuk melakukan perubahan. Sama seperti yang terjadi di Tunisia, Yaman, Maroko, Mesir, dan di beberapa negara Arab lainnya. Pada awalnya mereka melakukan melakukan demonstrasi damai. Karena tindakan represif rezim bashar, banyak pendemo yang mati. Kezaliman ini menyulut perlawanan bersenjata.
Jadi, siapa yang mengangkat senjata untuk pertama kali? Tidak bolehkah orang yang terzalimi membela diri? Tapi orang seperti Anda kemudian menuduh Amerika berada dibelakang semua ini. Padahal tuduhan itu seharusnya Anda arahkan kepada kezaliman teman-teman Anda sesama Syiah di Suriah.
Lalu, orang syiah ini kembali berkata, Anda boleh berpendapat seperti itu. Tidakkah Anda lihat penggulingan Muammar Khadafi di Libya? Bukankah dibantu Amerika dan sekutunya?
Saya menjawab, Bagaimana dengan Irak? Bukankah Saddam Husein juga digulingkan oleh Amerika Serikat dan sekutunya? Setelah itu siapa yang paling mendapat keuntungan sesudah penggulingan itu? Orang syiah! Mengapa Anda melihat Libya tetapi buta dari melihat Irak?
Orang syiah ini kembali berkata, negara Iran adalah negara yang paling keras permusuhannya kepada Amerika dan Israel. Sementara negara lain lembek.
Saya menjawab, Anda bisa saja berkata seperti itu. Tapi ucapan harus dibuktikan dengan tindakan agar tidak disebut omong kosong. Apakah Iran pernah menembakkan roketnya ke arah Israel, seperti yang dilakukan oleh Saddam Husein? Apakah Iran pernah mengembargo minyak untuk Amerika Serikat dan sekutunya seperti yang dilakukan Raja Faishal dari Arab Saudi? Justru yang ada saat ini Iran semakin mesra dengan Amerika dan sekutunya. Jumlah orang Yahudi di Iran semakin meningkat, sementara kaum ahlussunnah ditindas dan tidak mendapat tempat yang layak untuk beribadah.
Saya khawatir dugaan saya orang syiah sedang bertaqiyah bahwa mereka bersekutu dengan Amerika, Israel, Rusia, dan kaum kafirin lainnya, benar adanya. Dan kalaupun dugaan itu benar, saya tidak menganggapnya sebagai sebuah keanehan.
Berikut ini senjata bantuan Amerika Serikat untuk Mujahidin Suriah.
Langganan:
Postingan (Atom)






