Jumat, 26 September 2014

Bukti dari Keutamaan Sedekah

Seminggu terakhir ini setiap hari saya menyiram tanaman, khususnya pohon mangga yang sering berbuah tidak kenal musim.

"Tumben ayah sekarang rajin nyiram tanaman," tiba-tiba saja istri saya berkata begitu dari arah belakang saya. Entah perkataan itu pujian atau kritikan saya tersenyum saja mendengarnya dan berkata, "Sudah satu atau dua bulan ini tidak turun hujan. Kasihan tanaman-tanaman ini kekeringan. Dulu mereka bersedekah kepada kita dengan memberi kita buah dan kesejukannya. Sekarang tinggal kita bersedekah untuk mereka."

Dan kemarin daerah tempat saya tinggal diguyur hujan cukup lebat. Sekarang giliran Allah "bersedekah" untuk saya dan tanaman-tanaman itu.

Dahsyatnya Amal Seorang Mukmin (2)

Sayyid Quthb dalam Fizhilalil Quran menjelaskan makna surat Al Ashr dengan sangat indah. Katanya, seorang mukmin dengan amalnya ibarat bunga yang tidak kuasa menahan wewangiannya. Seorang mukmin dengan amal saleh ibarat satu tubuh. Bila tidak beramal, maka keimanan yang ada dalam dirinya patut dipertanyakan; tipis atau tidak ada sama sekali.

Sejarah peradaban Islam yang agung telah menggambarkan kepada kita tentang kehebatan dan kedahsyatannya dalam berkarya. Gedung-gedung dengan nilai seni dan arsitektur tinggi bertebaran di mana-mana dan menjadi sejarah dunia yang elok untuk disaksikan. Buku-buku yang ditulis oleh para ulama begitu banyak jumlahnya dan sebagian di antaranya masih bisa kita baca hingga kini. Tapak-tapaknya masih terasa menunjukkan betapa besar dan hebatnya peradaban pada saat itu.

Semangat itu tidak lain muncul dari keimanan yang kokoh dan kuat. Bila saja 313 muslim tidak mau berperang melawan kafir quraisy yang jumlahnya lebih dari seribu orang pada perang Badar, maka berhentilah peradaban itu. Bila Thariq bin Ziyad dengan bala tentaranya yang tidak begitu banyak tidak berani menyerang orang-orang kafir Spanyol, maka terputuslah Eropa dari mengenal Islam.

Bila Muhammad Al Fatih dan pasukannya berhenti untuk melanjutkan penyerangan terhadap Konstantinopel, maka mungkin kita tidak akan menyaksikan Konstantinopel berubah nama menjadi Istambul (di ambil dari kata "Islambul" yang artinya "kota Islam").

Bila saja Ibnu Taimiyah berhenti berkarya karena dijebloskan ke dalam penjara, mungkin kita tidak mengenal Kitab Majmu Fatawa, salah satu karya hebat dibidang ilmu fikih. Begitupun dengan Sayyid Quthb, di penjara justru menghasilkan karya legendarisnya "Fizhilalil Quran, HAMKA menghasilkan karya agungnya "Tafsir Al Azhar" yang tebal dari kedua kitab itu bila digabungkan mencapai satu meter. Begitupun yang terjadi pada Aidh Al Qarni, keimanan yang ada dalam dirinya justru mengobarkan semangatnya untuk terus berkarya meskipun di dalam penjara. Maka lahirlah kitab La Tahzan yang kesohor itu.

Beberapa waktu lalu saya membaca berita tentang mahasiswi berprestasi, anak tukang becak yang miskin. Dia meraih prestasi tertinggi dikampusnya dengan IPK 3,9. Ketika ditanya apa rahasianya bisa sukses dalam belajar. Jawabannya, selalu mengulang-ulang pelajaran yang di dapat, tilawah satu hari satu juz, shalat tahajud, dan shalat dhuha. Jawabannya sederhana tapi sungguh bermakna. Kebiasaan-kebiasaan itu membentuk karakternya, mengisi baterai jiwanya, mengobarkan semangatnya. Karena yang menghidupkan hati yang malas adalah Allah, yang membuka khazanah pengetahuan adalah Allah. Kemiskinan bukanlah penghalang dari kemuliaan. Tapi yang menjadi penghalang seseorang meraih kemuliaan adalah kemaksiatan yang dilakukannya.

Orang-orang berprestasi tidak mungkin didapat dari pelaku maksiat, pelajar yang sering tawuran, suka bolos, dan malas belajar. Tapi ia bisa didapat dari rumah-rumah semi permanen, para pelajar yang berjalan kaki berkilo-kilo meter ke sekolahnya, atau mereka yang terpaksa mencari nafkah sendiri karena orangtuanya tidak mampu membiayainya sekolah.

Dahsyatnya Amal Seorang Mukmin

Bila membaca sejarah Nabi Saw., para sahabatnya, orang-orang saleh, dan para syuhada, membuat saya berpikir, betapa dahsyatnya amal seorang mukmin.

Keimanan mengobarkan semangat mereka dalam beramal. Mereka tidak dapat melihat Allah, tapi mereka meyakini bahwa Allah ada. Dia Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.

Sekalipun mereka tidak pernah melihat Rasulullah Muhammad Saw., mereka beriman kepadanya, yakin bahwa mengikuti sunnah Nabi adalah jalan terbaik; keselamatan dunia dan akhirat. Meskipun jarak mereka hidup dengan Nabi sangatlah jauh namun hati mereka dekat dengan Nabi. Bahkan merindukan pertemuan dengan Nabi.

Mereka belum pernah melihat surga tapi sangat ingin masuk ke dalamnya. Mereka juga belum pernah melihat neraka tapi sangat ingin menjauh darinya. Walaupun belum pernah melihat surga dan neraka, mereka meyakini keduanya ada.

Mereka juga meyakini adanya malaikat pencatat amal baik dan amal buruk. Padahal mereka tidak melihatnya sama sekali. Keimananlah yang membuat mereka sadar bahwa para malaikat itu ada dan karenanya mereka terus berusaha agar catatan amal baik mereka jauh lebih banyak daripada amal keburukan mereka.

Merekalah yang terdepan dalam amar ma'ruf nahi munkar, menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran walaupun nyawa taruhannya, di depan mereka terdapat seorang penguasa zalim, dan mendapat kebencian orang-orang sombong.

Merekalah yang terdepan dalam beribadah. Mereka mendirikan shalat fardhu, sangat rajin mengerjakan shalat sunah, berpuasa dibulan ramadhan dan puasa sunah dihari-hari yang lain. Bibir mereka tidak jauh dari zikir, tilawah dan dakwah. Kondisi mereka ibarat fursanun fin nahar war ruhbanun fil lail, siangnya ibarat singa (berjihad, mencari nafkah, dan aktivitas duniawi yang bermanfaat), malamnya ibarat rahib (beribadah dengan penuh kekhusyuan). Bila mereka selesai satu urusan, mereka beralih pada urusan bermanfaat lainnya; faidza faraghta fanshab wa ila raabbika farghab. Bila orang kafir beribadah seminggu sekali selebihnya untuk aktivitas duniawi, maka orang yang beriman beribadah menyucikan jiwa mereka setiap hari bahkan setiap waktu. Oleh karena itu, tidak mungkin sama jiwa-jiwa mukmin dengan jiwa-jiwa kafir.

Merekalah yang terdepan dalam ilmu dan prestasi. Mereka meyakini bahwa menuntut ilmu adalah perintah agama oleh karenanya memiliki banyak sekali keutamaan baik di dunia maupun di akhirat. Bila orang kafir menganggap menuntut ilmu tidak ada sangkut pautnya dengan agama; tidak ada sangkut pautnya dengan pahala, maka tidak bagi seorang mukmin. Oleh karena itulah, bagi seorang mukmin lembaran-lembaran pengetahuan yang mereka baca dan majelis-majelis ilmu yang mereka ikuti dipenuhi dengan taburan pahala. Bahkan bila mereka mati saat menuntut ilmu akan diganjar dengan surga. Siapa yang tidak mau?

Mereka terdepan dalam akhlakul karimah. Islam berkembang pesat bukan karena pemberian uang kepada orang kafir agar mau masuk Islam. Atau memaksa mereka dengan kekerasan. Tetapi Islam tersebar karena keindahan akhlak yang diperagakan kaum mukminin. Sangat jauh berbeda dengan umat agama lain dalam menyebarkan agamanya yang sering menghalalkan segala cara.

Seorang suami yang mukmin sangatlah baik memperlakukan istrinya. Begitupun sebaliknya. Orangtua yang mukmin berakhlak baik dalam memperlakukan anak-anaknya. Tidak dengan cara kekerasan melainkan dengan hikmah dan kasih sayang. Hingga kepada orang kafir pun Islam memancarkan akhlakul karimah.

Akibat dari Meremehkan Shalat

Banyak orang berkumpul untuk mendiskusikan suatu permasalahan agama. Tetapi ketika memasuki waktu shalat, mereka menunda-nundanya bukan dengan alasan yang syar'i. Adzan artinya istirahat dari melakukan diskusi. Yaitu untuk makan-makan, minum-minum, sampai tidur. Adzan bukan lagi sebagai panggilan untuk segera melaksanakan shalat.

Mungkin bagi mereka shalat bukan sebagai pokok tujuan mereka. Shalat ibarat penghalang untuk melakukan aktivitas yang telah mereka lakukan sebelumnya. Kalaupun mereka shalat, mereka melakukannya dengan berat hati. Maka diskusi-diskusi itu, meskipun membicarakan tentang agama, tidak membawa keberkahan bagi para pelakunya.

Allah Swt. berfirman, “Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam: 59)

Ibnu Abbas berkata, “Makna menyia-nyiakan shalat bukanlah meninggalkannya sama sekali. Tetapi mengakhirkannya dari waktu yang seharusnya.” (Imam Adz-Dzahabi, Al Kaba’ir, hal. 33)

“Maka celakalah orang-orang yang shalat. Yaitu orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al-Ma’un : 4-5)

Sa’ad bin Abi Waqqash Ra. berkata, “Aku telah bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang mereka yang melalaikan shalatnya, maka beliau menjawab, “Yaitu mengakhirkan waktu.“ (HR. Ibnu Abi Hatim dan Al Baihaqi)

Bila mengakhirkan shalat saja begitu besar dosanya, apalagi bagi mereka yang sengaja meninggalkan shalat!

Pelajaran dari Ruhiyah Seorang Ustadz

Tadi saya mengirim whatsapp kepada seorang ustadz untuk mengisi ta'lim di pondok hari minggu ini. Sang ustadz menyanggupinya sambil berkata, "Insya Allah, semoga ada usia sampai waktu tersebut. Syukran atas kesempatan yang diberikan."

Beberapa kali bertemu dengan beliau sangat terasa ruhiyah beliau lewat perkataan beliau dan beliau sangat sopan dalam bertutur kata meskipun beliau kini menjabat sebagai kepala sekolah sebuah sma di bandung.

Beliau menjadi guru saya sewaktu saya mengikuti pelatihan khatib jumat. Beliau berkata kepada kami, hendaklah memperbanyak zikir dan tilawah serta menjauhi maksiat sebelum memulai khutbah jumat.

Semoga Allah menjaga beliau

Melihat Calon Pasangan Hidup

Saat anda ta'aruf dengan tujuan untuk memilih calon pendamping hidup anda, bisa jadi anda akan dihadapkan oleh dua keadaan. Keadaan pertama, anda tidak merasakan getar-getar asmara di dalam diri anda. Anda tidak merasakan calon anda itu menarik perhatian anda. Keadaan kedua, anda merasakan getar-getar asmara saat melihatnya pertama kali, Ibarat bunga-bunga yang menebar keharumannya anda menyenanginya dan merasakannya. Keadaan ini membuat anda mulai merindukannya; mulai terbayang di dalam benak anda wajahnya, ingin selalu bersua dengannya, dan ingin memilikinya.

Bagi saya, "melihat" calon pasangan hidup sebelum melangsungkan pernikahan itu penting. Sebagai salah satu modal untuk melangsungkan pernikahan. Agar semakin kuat pijakan, agar semakin langgeng rumahtangga yang akan dibangun.

Ibarat pepatah mengatakan jangan membeli kucing dalam karung hanya karena anda ingin menundukkan pandangan. Anda akhirnya merelakan begitu saja perasaan anda; cinta atau tidak cinta, suka atau tidak suka. Yang penting menikah!! Ingatlah, anda sedang ta'aruf bukan sedang zina mata! Walaupun sama-sama melihat tapi memiliki niat yang berbeda. Jangan menyesal bila sudah menikah, saat menatapnya pertama kali, anda tidak menyukainya. Anda tidur bersama orang yang anda tidak suka. Anda hidup bersama orang yang anda tidak suka. Bagaimana mungkin ia dapat bertahan lama!

Ada seorang laki-laki menghadap Rasulullah Saw. memberitahukan bahwa ia akan menikah dengan salah seorang wanita Anshar. Kemudian beliau memerintahkan kepadanya, “Lihatlah dahulu wanita itu!” Ia menjawab, “Tidak Rasul.”

Lalu beliau kembali memerintahkan, “Lihatlah dahulu wanita itu…”

“Lihatlah dulu wanita itu, sebab akan lebih menjamin kelanggengan kalian berdua.” (HR. Muslim, Sa’id bin Manshur, An-Nasa’i, Ath-Thahawi , Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi, hadits ini shahih)

Maknanya menurut Syaikh Nashiruddin Al Albani, agar cinta kasih di antara kalian berdua lebih langgeng.

Minggu, 02 Maret 2014

Kitab Tafsir dan Tadabbur Al Quran

Sangat disayangkan bila saat ini kita belum memiliki kitab tafsir Al Quran. Padahal keberadaannya sangat membantu kita dalam memahami isi Al Quran. Untuk memperolehnya pun tidaklah terlalu sulit. Terjemahannya banyak, apalagi kitab aslinya. Mau yang ringkas ada, yang tebalnya sedang-sedang ada, yang panjang-panjang juga ada. 

Saya mengoleksi beberapa kitab tafsir, di antaranya Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Qurthubi, Tafsir Jalalain, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al Wajiz-nya Syaikh Wahbah Zuhaili, Tafsir Fizhilalil Quran, Tafsir Al Quran-nya Syaikh Muhammad Al Ghazali, dan Mufassir (enam ringkasan tafsir dalam satu jilid). Yang paling ringkas di antara kitab tafsir itu adalah Tafsir Al Wajiz-nya Syaikh Wahbah Zuhaili dan Kitab Tafsir Mufassir. Kedua tafsir ini sangat cocok bagi mereka yang baru membaca tafsir. Karena yang dikemukakan adalah gambaran secara umum sehingga kita akan langsung memperoleh kesimpulan dengan cepat. Tafsir ini mirip dengan terjemahan Depag cuma sedikit lebih panjang. 

Saya perhatikan dari kitab Tafsir yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia hampir seluruhnya adalah tafsir bil ma'tsur atau tafsir yang merujuk pada kutipan-kutipan yang shahih yaitu menafsirkan Al Quran dengan Al Quran, Al Quran dengan sunnah karena ia berfungsi sebagai penjelas Kitabullah, dengan perkataan sahabat karena merekalah yang dianggap paling mengetahui Kitabullah, atau dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi'in karena mereka pada umumnya menerimanya dari para sahabat. Jadi tidak perlu khawatir untuk membelinya. Kitab tafsir yang saya miliki, sebagaimana saya sebutkan di atas, adalah kitab tafsir bil ma'tsur dan kebanyakan di antaranya mu'tabar. 

Mentadabburi kandungan Al Quran terasa nikmat apabila kita berniat dengan ikhlas dan menghadirkan hati ketika membacanya. Al Quran tidak hanya memenuhi akal kita dengan pengetahuan yang ada padanya, terlebih ia memenuhi hati kita dengan keimanan. Al Quran adalah obat penawar dan memberi petunjuk kepada kita; jalan yang harus kita lalui dan jalan yang harus kita hindari. Al Quran itu luas tak bertepi dan kedalamannya hanya Dia yang mengetahui karena ia adalah kalam-Nya. Al Quran ibarat intan berlian, melihat dari sisi manapun, ia akan memancarkan kemilau. Sudah berapa banyak orang menafsirkan Al Quran di setiap zaman, seolah Al Quran adalah mata air yang tak pernah kering untuk diambil manfaatnya.

Mari kita sisihkan waktu sejenak membaca Al-Qur’an dan tafsirnya minimal satu ayat setiap harinya. Mudah-mudahan dari sana kita memperoleh kebaikan dan keberkahan yang banyak. Aamiin.