Minggu, 02 Maret 2014

Kitab Tafsir dan Tadabbur Al Quran


Sangat disayangkan bila saat ini kita belum memiliki kitab tafsir Al Quran. Padahal keberadaannya sangat membantu kita dalam memahami isi Al Quran. Untuk memperolehnya pun tidaklah terlalu sulit. Terjemahannya banyak, apalagi kitab aslinya. Mau yang ringkas ada, yang tebalnya sedang-sedang ada, yang panjang-panjang juga ada. 


Saya mengoleksi beberapa kitab tafsir, di antaranya Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al Qurthubi, Tafsir Jalalain, Tafsir Ath-Thabari, Tafsir Al Wajiz-nya Syaikh Wahbah Zuhaili, Tafsir Fizhilalil Quran, Tafsir Al Quran-nya Syaikh Muhammad Al Ghazali, dan Mufassir (enam ringkasan tafsir dalam satu jilid). Yang paling ringkas di antara kitab tafsir itu adalah Tafsir Al Wajiz-nya Syaikh Wahbah Zuhaili dan Kitab Tafsir Mufassir. Kedua tafsir ini sangat cocok bagi mereka yang baru membaca tafsir. Karena yang dikemukakan adalah gambaran secara umum sehingga kita akan langsung memperoleh kesimpulan dengan cepat. Tafsir ini mirip dengan terjemahan Depag cuma sedikit lebih panjang. 

Saya perhatikan dari kitab Tafsir yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia hampir seluruhnya adalah tafsir bil ma'tsur atau tafsir yang merujuk pada kutipan-kutipan yang shahih yaitu menafsirkan Al Quran dengan Al Quran, Al Quran dengan sunnah karena ia berfungsi sebagai penjelas Kitabullah, dengan perkataan sahabat karena merekalah yang dianggap paling mengetahui Kitabullah, atau dengan perkataan tokoh-tokoh besar tabi'in karena mereka pada umumnya menerimanya dari para sahabat. Jadi tidak perlu khawatir untuk membelinya. Kitab tafsir yang saya miliki, sebagaimana saya sebutkan di atas, adalah kitab tafsir bil ma'tsur dan kebanyakan di antaranya mu'tabar. 

Mentadabburi kandungan Al Quran terasa nikmat apabila kita berniat dengan ikhlas dan menghadirkan hati ketika membacanya. Al Quran tidak hanya memenuhi akal kita dengan pengetahuan yang ada padanya, terlebih ia memenuhi hati kita dengan keimanan. Al Quran adalah obat penawar dan memberi petunjuk kepada kita; jalan yang harus kita lalui dan jalan yang harus kita hindari. Al Quran itu luas tak bertepi dan kedalamannya hanya Dia yang mengetahui karena ia adalah kalam-Nya. Al Quran ibarat intan berlian, melihat dari sisi manapun, ia akan memancarkan kemilau. Sudah berapa banyak orang menafsirkan Al Quran di setiap zaman, seolah Al Quran adalah mata air yang tak pernah kering untuk diambil manfaatnya.

Mari kita sisihkan waktu sejenak membaca Al-Qur’an dan tafsirnya minimal satu ayat setiap harinya. Mudah-mudahan dari sana kita memperoleh kebaikan dan keberkahan yang banyak. Aamiin.

Sabtu, 22 Februari 2014

Hiburan Allah untuk Orang yang Sedang Sakit (2)


Sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit kecuali menurunkan pula obatnya. Ada yang tahu, dan ada juga yang tidak tahu. Demikian hadits Nabi menyebutkan. Hal ini sudah menjadi ketetapan (sunnatullah) yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Yang mesti dilakukan orang yang sedang sakit adalah berikhtiar mencari obatnya. Bila kemudian penyakit yang mereka derita belum sembuh-sembuh juga sementara mereka sudah berusaha, hal itu bukan berarti penyakit yang mereka derita tidak ada obatnya. 

Dalam hal ikhtiar, orang yang sedang sakit hampir tidak ada bedanya dengan orang yang sehat. Orang yang sakit berikhtiar untuk meraih kesembuhan, sedangkan orang yang sehat berikhtiar untuk menjaga kesehatannya. Kedua-duanya sama-sama mencari kesehatan. Jadi bila ada orang yang sehat berusaha menjaga kesehatannya sementara orang yang sakit malah bermalas-malasan meraih kesehatannya, maka hendaknya orang yang sakit itu malu terhadap orang yang sehat. 

Hadits di atas merupakan hiburan Allah bagi orang yang sedang sakit bahwa Allah berjanji kepada mereka bila setiap penyakit pasti ada obatnya. Maka hendaklah setiap orang yang sedang sakit optimis dengan kesembuhannya. Sikap optimis akan semakin menguatkan dirinya, bahkan meningkatkan daya tahan tubuhnya dan mendorong tubuhnya menjadi lebih sehat lagi. Sebaliknya, sikap pesimis memberikan efek melemahkan daya tahan tubuh sehingga menambah parah penyakit yang dideritanya. Pada sebuah studi kesehatan yang dilakukan pada pasien-pasien depresi ditemukan bahwa terapi pikiran positif seperti optimisme yang dilakukan selama 12 minggu ternyata lebih berkhasiat dan efektif memperbaiki kondisi pasien daripada obat-obatan. Studi lainnya yang dilakukan di Pusat Kanker di Australia menemukan bahwa pasien kanker payudara yang optimis ternyata berpeluang lebih besar untuk sembuh daripada mereka yang pesimis dan putus asa.

Sangat banyak jumlahnya kasus yang menyebutkan tentang penderita suatu penyakit yang menurut banyak orang tidak bisa disembuhkan atau tidak ada obatnya, namun ternyata beberapa orang di antaranya berhasil disembuhkan. 

Kadang efek kesembuhan dari obat itu berasal dari obat yang tepat. Sedangkan mereka yang belum sembuh-sembuh juga dari penyakitnya bisa disebabkan mereka belum mendapatkan obat yang tepat untuk mereka minum. 

Kadang juga efek kesembuhan obat itu berasal dari obat yang sesuai dengan dosis karena ada saja orang yang minum obat sejenis namun belum juga sembuh dari penyakitnya. Hal itu tejadi bisa disebabkan dosis obat yang tidak tepat bagi dirinya. 

Kadang juga yang dimaksud obat itu bukan hanya diperoleh dari meminum obat seperti kapsul, tablet atau sirup yang diresepkan dokter tetapi bisa jadi diperoleh dengan berusaha meningkatkan daya tahan tubuh secara sabar dan terus menerus. Dengan pola makan serta gaya hidup jasmani dan ruhani yang baik, tubuh bisa menyembuhkan dirinya sendiri. Kecuali untuk kasus-kasus gawat darurat yang memerlukan tindakan medis tertentu. 

Oleh karena itu kita harus menanamkan keyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Selalu ada harapan ditengah situasi sesulit apapun. 

*****
Ibnu Abbas Ra. kehilangan pandangannya (buta), tapi dia berkata sambil menghibur dirinya: “Jika Allah telah mengambil sinar dari kedua mataku, masih tersisa di hati dan sanubariku cahaya yang lain. Aku masih dianugerahi hati yang cerdas dan akal yang tidak menyimpang sedang lisanku dibuat tajam bagaikan pedang menyambar." Demikian Ibnu Abbas menghibur dirinya dengan mengingat berbagai nikmat yang terdapat pada dirinya meski kehilangan sedikit nikmat.

Salah satu kaki Urwah bin Zubair diamputasi dan pada hari yang sama seorang putranya meninggal. Ia berkomentar: “Segala puji bagi-Mu ya Allah! Meski hari ini Engkau mengambil, dulu Engkau pernah memberi. Meski kini Engkau member cobaan, dulu Engkau sering member keselamatan. Engkau telah memberiku empat anggota badan (kaki dan tangan), namun Engkau hanya mengambil satu saja dariku. Engkau pernah memberiku empat orang anak, namun Engkau hanya mengambil satu dariku.”

Mengapa kesabaran mereka bisa begitu tinggi? Mengapa mereka tetap bersyukur ditengah nikmat yang hilang pada diri mereka? Siapakah Ibnu Abbas dan Urwah bin Zubair? Ibnu Abbas adalah salah seorang sahabat Nabi yang utama. Beliau adalah salah seorang sahabat yang paling tahu isi Al Quran, paling paham agama, banyak membaca Al Quran dan mentadaburinya. Sedangkan Urwah disebutkan sebagai salah satu dari tiga ulama yang paling paham hadits-hadits dari Aisyah Radiyallahu Anha. Artinya, mereka adalah orang-orang yang sangat dekat dengan nilai-nilai Islam. Yang kemudian mendorong mereka untuk dekat kepada Tuhan, menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi larangan Tuhan. Sehingga pada akhirnya hidup mereka menjadi tenang dan tenteram walaupun mereka sedang mengalami kesulitan hidup.

Bandingkan dengan data-data dibawah ini:
George Engel, M.D. dalam artikelnya berjudul “Dapatkah Emosi Anda Membunuh Anda” mengumpulkan 275 kasus di mana kematian umumnya terjadi selama beberapa menit atau beberapa jam setelah peristiwa besar dalam hidup seseorang. Sebagian besar, korban dianggap tidak sedang sakit pada waktu itu, jika sedang sakit tidak mendekati bahaya kematian.

Seorang ibu berkebangsaan Jerman telah membunuh ketiga anaknya. Penyebabnya telah terbukti bahwa ibu tersebut menderita stress dan selalu bersedih.

Karena cintanya yang begitu dalam kepada ketiga anaknya, ia tidak rela bila mereka hidup dalam kesulitan dan kesedihan sebagaimana yang ia rasakan. Karenanya, ibu tersebut memutuskan untuk melepaskan kesulitan hidup dari anak-anaknya dengan cara membunuh mereka, sekaligus menghabisi hidupnya sendiri.

Kasus bunuh diri menempati satu dari 10 penyebab kematian di setiap Negara. bunuh diri merupakan satu dari tiga penyebab utama kematian pada kelompok umur 15 hingga 44 tahun dan nomor dua untuk kelompok 10 hingga 24 tahun. WHO atau Organisasi Kesehatan Dunia pada 2010 melaporkan angka bunuh diri di Indonesia mencapai 1,6 hingga 1,8 per 100.000 jiwa.

Angka itu bisa jadi masih lebih besar lagi mengingat fenomena bunuh diri adalah ibarat gunung es, yang tampak hanya puncaknya sementara yang tertutup dan ditutupi sesungguhnya lebih besar lagi.

Terlihat disini, ternyata jauh sekali dampaknya antara rasa syukur dan optimis dengan kufur dan pesimis. Sebagaimana juga terlihat perbedaan antara orang yang taat dengan orang yang jauh dari Allah.

Malu dan Kehidupan

Imam Ibnul Qayyim Al Jauziyah berkata, “Al-Hayaa’ (malu) merupakan pecahan dari kata al-Hayaat (hidup). Hal ini karena sesuai dengan hidupnya hati seseorang yang mendorong untuk berperangai dengan sifat malu. Sedikitnya rasa malu merupakan tanda matinya hati dan ruh. Maka apabila hati itu hidup, rasa malunya akan lebih sempurna.” (Madarijus Salikin, 2/270)

Apa yang dikatakan Imam Ibnul Qayyim menunjukkan bahwa rasa malu timbul karena adanya adab yang baik, dan adab yang baik timbul karena hidupnya hati. Sedangkan hidupnya hati timbul dari tazkiyatun nafs. Tidak mungkin sesuatu yang hidup tanpa sesuatu itu diberi makan. Maka makanan bagi jiwa adalah dengan melakukan amal-amal yang mensucikan jiwanya. 

Benarlah hadits Rasulullah Saw. yang menyebutkan, "Sesungguhnya di antara apa yang didapati manusia dari kalam nubuwwah yang terdahulu adalah 'apabila engkau tidak malu, maka lakukanlah semaumu'." (HR. Bukhari)


Sebuah sindiran yang tajam. Seolah beliau mengatakan orang yang tidak punya malu itu orang yang tidak baik; jauh dari kebaikan dan gemar pada kemaksiatan. Sebaliknya, orang yang punya malu itu orang yang baik; dekat pada kebaikan dan menjauhi kemaksiatan. Bagaimana tidak? Apakah orang yang berjilbab untuk menutup auratnya, menjaga kehormatannya disamakan dengan orang yang mengumbar auratnya? Apakah seorang pemuda yang rajin beribadah di masjid disamakan dengan pemuda yang gemar pergi ke diskotik? Apakah seorang beriman yang mengajak pada kebaikan disamakan dengan preman yang suka berbuat kerusakan?

Minggu, 09 Februari 2014

Belajar Quran Hingga Maut Menjemput

Saya salah satu pengasuh pondok tahfidz di kota Bandung. Saya dapati di dalamnya, mereka yang membaca dan belajar Al Quran adalah anak-anak yang duduk dibangku SD sampai SMP. Sedangkan anak-anak SMA tidak ada. Saya tahu ini adalah fenomena masyarakat pada umumnya; mereka yang belajar Al Quran kebanyakan anak-anak kecil. Setelah mereka dewasa, mereka tak lagi berkumpul untuk membaca atau mengkaji Al Quran. Fakta ini juga ditemukan dari hasil penelitian LPTQ yang menyebutkan 65% anak SMA kita sudah tidak lagi belajar atau membaca Al Quran. Ada seorang ustadz bercerita, dia merasa kesulitan mencari anak-anak SMA yang bisa diikutsertakan dalam MTQ. Kalaupun ada, jumlahnya sangat sedikit. Kebanyakan mereka yang ikut MTQ adalah anak-anak pesantren yang memang setiap hari mengaji.

Mungkin saja anak-anak itu berpikiran dengan dapat membaca Al Quran saja sudah lebih dari cukup. Baguslah bila mereka konsisten membaca Al Quran, masalahnya mereka berhenti membaca Al Quran setelah bisa membaca Al Quran. Menurut saya pemikiran itu terjadi lantaran Al Quran hanya sekedar jadi bacaan, meskipun tidak dimengerti tapi mendapat pahala. Al Quran tidak menjadi huda atau petunjuk dalam menjalani kehidupan di dunia. Al Quran tidak menjadi syifa atau obat bagi hati yang sedang galau atau bagi segala bentuk kebodohan. Kemudian mereka mencari petunjuk yang lain, yaitu dari apa yang mereka ketahui dan pelajari. Entah itu ilmu sesat ataupun ilmu bermanfaat. Atau mereka mencari pelarian, dalam kegalauan mereka, dengan mabuk-mabukan, narkoba atau kegiatan negatif lainnya.

Sering saya temui terutama dikalangan teman-teman saya yang seusia dengan saya, mulai aktif kembali mempelajari Al Quran setelah mereka menyadari kebutuhan mereka terhadap Al Quran. Walaupun tidak ada kata terlambat, namun kalau saja kita dibina untuk terus menerus mempelajari Al Quran sejak dari kecil, niscaya akan lahir banyak orang saleh dari berbagai profesi. Akan lahir insinyur-insinyur yang paham Al Quran, ilmuwan-ilmuwan yang paham Al Quran, praktisi hukum yang paham Al Quran, pembawa acara TV yang paham Al Quran, petani yang paham Al Quran dan sebagainya. Memahami Al Quran tidak lagi dimonopoli oleh para ulama dan santriwan santriwati di pondok pesantren.

Saya teringat dengan perkataan seorang ulama, Al Quran tidak akan pernah habis untuk dipelajari. Bila kita bisa membaca Al Quran, itu saja belum cukup. Masih banyak hal yang bisa kita pelajari dari Al Quran, mulai dari mempelajari bahasa Arab sebagai alat untuk mengurai makna-makna Al Quran, mempelajari sejarah Al Quran, tafsirnya, nasikh dan mansukh-nya, dan sebagainya. Bukti ilmu Al Quran tidak ada habis-habisnya dipelajari, yaitu dapat dilihat dari banyaknya buku yang ditulis tentang Al Quran. Sejak zaman dulu hingga zaman sekarang entah berapa banyak kitab Tafsir Al Quran ditulis. Setiap tafsir itu kadang mempunyai corak tersendiri sehingga selalu ada faedah yang didapat setelah membacanya.

Mari kita luangkan waktu untuk membaca dan mentabburi ayat-ayat Al-Quran. Minimal satu ayat setiap hari. Ajak juga anak-anak kita, adik-adik kita untuk mempelajari Al Quran. Baca ayatnya lalu baca tafsirnya dengan seksama. Ditambah hati yang bersih, mudah-mudahan ilmu yang kita pelajari menjadi berkah, yaitu mendorong kita dan memberikan kekuatan kepada kita untuk mengamalkannya.

Minggu, 26 Januari 2014

Menzalimi Binatang saja Dilaknat, Bagaimana bila Menzalimi Manusia!

Diriwayatkan dalam Shahihain, dari hadits Ibnu Umar dan Abu Hurairah Ra., Rasulullah Saw. mengabarkan, “Ada seorang wanita disiksa karena seekor anak kucing yang dikurungnya. Sehingga kucing tersebut mati karena kelaparan. Kerena sebab itu ia masuk neraka.” 

Wanita tersebut tidak memberikan makan dan minum kepada kucing tersebut saat mengurungnya. Ia juga tidak melepaskannya sehingga kucing tersebut bisa mencari makan dari serangga bumi.

Dari Abdullah ibnu ‘Umar ra, ia sedang lewat di depan pemuda-pemuda Quraisy yang melempari seekor burung, dan mereka berikan kepada pemilik burung itu satu tombak untuk setiap lemparan yang salah. Ketika mereka melihat Ibnu ‘Umar datang, pemuda-pemuda itu berlarian, beliau berkata, “Siapa yang lakukan ini? Allah telah laknat pelaku perbuatan ini! Sungguh Rasulullah saw melaknat orang yang menjadikan sesuatu yang bernyawa sebagai target sasaran (kekerasan).” (HR. Bukhari dan Muslim). 

Dari Anas bin Malik ra berkata, Rasulullah saw telah melarang untuk menahan binatang sampai mati (HR. Bukhari dan Muslim). 

Jika kepada binatang saja sebegini berat sangsi yang diterima seorang yang berbuat zalim, lalu bagaimana jika kezaliman semacam itu ditimpakan kepada manusia?

Betapa Merugi Orang yang Zalim, dan Betapa Beruntung Orang yang Dizalimi

Dari Abu Hurairah r.a, Nabi Saw.bersabda: “Tahukah kamu siapa yang bangkrut itu?“, mereka (sahabat) berkata: “Ya Rasulullah, orang yang bangkrut menurut kami ialah orang yang tidak punya kesenangan dan uang." (kemudian) Rasulullah menjawab: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku ialah orang yang datang (pada hari kiamat) membawa pahala sholat, zakat, puasa dan haji. Sedang (ia) pun datang (dengan membawa dosa) karena memaki-maki orang, memukul orang, dan mengambil harta benda orang (hak–hak orang), maka kebaikan-kebaikan orang (yang menzalimi) itu diambil untuk diberikan kepada orang-orang yang terzalimi. Maka tatkala kebaikan orang (yang menzalimi) itu habis, sedang hutang (kezalimannya) belum terbayarkan, maka diambilkan kajahatan-kejahatan dari mereka (yang terzalimi) untuk di berikan kepadanya (yang menzalimi), kemudian ia (yang menzalimi) dilemparkan kedalam neraka." (HR. Muslim)

Begitu besar dosa orang yang berbuat zalim sampai-sampai disebut sebagai orang yang bangkrut. Akibat kezalimannya itu, kebaikan yang ada padanya diberikan kepada orang yang dizaliminya hingga tak tersisa lagi dosa kezaliman itu pada dirinya. Apabila amal kebaikannya sudah habis sedangkan dosa kezalimannya masih banyak, maka dosa-dosa orang yang terzalimi dilimpahkan kepadanya hingga bertambahlah dosa yang ada pada dirinya dan berkuranglah dosa kepada orang yang dizaliminya.

Hal ini juga merupakan kabar gembira bagi orang yang terzalimi, hendaknya mereka bersabar karena mereka kelak akan mendapat karunia yang besar dari Allah sebagaimana disebutkan di atas.

Saya tidak membayangkan betapa meruginya orang-orang yang berbuat zalim, dan betapa beruntungnya orang-orang yang terzalimi walaupun tentu saja semua orang tidak senang dizalimi. Namun apabila sudah terzalimi, hendaklah kita bersabar karena kelak kita akan mendapat keuntungan yang besar.

Akhir Hayat Orang yang Zalim

Sering kita mendapati di zaman ini pemimpin negeri yang berakhlak sangat buruk dan zalim. Dia melakukan berbagai tindak kekejaman dan kekejian seperti berkata-kata keji, membunuh, merampas harta yang bukan haknya, menyiksa, dan memfitnah lawannya. Lalu kita berharap orang itu segera mendapatkan hukuman dari Allah Swt. Tapi hukuman itu tidak juga datang hingga kini. Lantas kita pun mulai mereka-reka dan bertanya-tanya, mungkinkah orang yang zalim itu pada hakikatnya orang yang baik sehingga Allah tidak menghukumnya hingga saat ini? Lama kelamaan pemikiran kita bisa menjadi, dia pasti orang yang baik.

Apakah hukuman Allah harus datang seketika itu juga bersamaan dengan apa yang kita harapkan atau harus datang sesuai dengan keinginan kita? Bila kita berdoa, "Ya Allah hukumlah orang zalim itu!" Kemudian kita berpikir, sudah seharusnya pada saat berakhirnya doa, hukuman itu langsung terjadi. Entah ditabrak mobil, dibunuh, pesawat yang ditumpangi jatuh, dan sebagainya. Bukankah doa orang yang teraniaya itu dikabulkan Allah? Pasti Allah langsung mengabulkannya! Begitulah yang ada dalam pikiran kita.

Namun hukuman Allah bagi orang yang zalim datang pada waktu yang tepat dan seringkali datang bukan pada waktu yang kita inginkan. Dan, hukuman itu bisa jadi lebih dahsyat daripada yang kita bayangkan.

"Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim. Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak." (QS. Ibrahim: 42)

Dikisahkan, pada dies natalis ke-5 sebuah perguruan tinggi yang cukup terkenal di Arab Saudi, seorang mahasiswa berdiri di depan aula kampus sambil memperhatikan jarum jamnya seraya berteriak: "Jika Allah itu ada, maka matikanlah aku pada jam setelah jam ini." Ia seorang mahasiswa yang sangat dikagumi di kalangan para mahasiswa dan para dosen karena kecerdasannya.

Tanpa terasa detik demi detik berganti menjadi menit, dan menit demi menit beralih menjadi jam, sehingga jam yang dinantikannya akhirnya tiba juga. Kemudian ketika jam itu berlalu tanpa kematian dirinya, maka dengan sombongnya ia berkata kepada teman-temannya dengan nada suara mencemooh: "Bukankah kalian lihat sendiri, bahwa jika Allah itu ada, niscaya Dia akan mematikanku pada jam tadi, tetapi ternyata aku masih hidup."

Mendengar perkataannya yang ngawur itu, akhirnya sejumlah mahasiswa pergi dari hadapannya. Di antara para mahasiswa itu ada yang terbujuk rayuan setan sehingga di dalam hatinya timbul keragu-raguan. Ada juga kelompok yang berkomentar: "Allah Ta'ala menangguhkan kematiannya semata-mata karena ada suatu hikmah yang terkandung di dalamnya." Kemudian ada kelompok yang hanya menggeleng-gelengkan kepala dan mencemoohkannya.

Kemudian mahasiswa itu pulang ke rumahnya dengan wajah yang ceria serta langkah yang cepat, seakan-akan ia merasa yakin dan bangga dengan argumentasi logikanya tadi karena tidak ada seorangpun yang membantahnya ketika ia mengatakan bahwa: "Allah Ta'ala itu tidak ada, dan manusia ada dengan sendirinya sehingga ia tidak perlu mengenal Tuhan dan tidak akan ada tempat kembali dan perhitungan amal bagi manusia."

Ketika ia memasuki rumahnya, ia mendapati ibunya sedang menyiapkan hidangan makan siang, sementara bapaknya sedang duduk menghadapi hidangan yang tersaji di meja makan sambil menunggu kedatangannya. Melihat hal itu maka mahasiswa itu segera pergi ke kamar mandi, lalu ia mencuci muka dan tangannya sambil berdiri di hadapan ibunya. Pada saat ia sedang mengeringkan tangan dan mukanya dengan sapu tangan tiba-tiba ia jatuh terjerembab di lantai. Tubuhnya diam tidak bergerak sama sekali.

Melihat kejadian itu, kedua orangtuanya panik dan kaget, lalu mereka cepat-cepat membawanya ke dokter. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata mahasiswa itu telah mati. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, penyebab kematiannya adalah air yang masuk ke dalam telinganya.

Sehubungan dengan kejadian itu tersebut DR. Abdurrazzaq Naufal berkomentar, "Mahasiswa itu mengingkari keberadaan Allah, di mana Allah tidak mematikannya, kecuali dalam keadaan seperti matinya seekor keledai."

Berdasarkan hasil penelitian ilmiah bahwa keledai dan banteng akan mati bila telinganya kemasukan air. Kematian mahasiswa itu terjadi hanya selisih satu jam dari waktu yang dimintanya tadi. (Dikutip dari buku Akhir Hayat Orang yang Zalim karya Ibrahim Abdullah Hazami hlm. 76-77)

Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya