Selasa, 22 Mei 2012

Materialistik: Penyebab Ketidakbahagiaan Hidup Manusia


Beberapa tahun terakhir buku tentang kebahagiaan banyak bermunculan. Mulai dari yang berbasis agama hingga yang sekuler. Di antaranya ada yang diterbitkan ulang dari karya-karya klasik dan ada juga yang ditulis oleh penulis-penulis kontemporer. Beberapa di antaranya yang saya ingat: La Tahzan karya Dr. Aidh Al-Qarni, Jadid Hayatak karya Syaikh Muhammad Al-Ghazali, 25 Penyebab Kesulitan Hidup yang ditulis oleh Yaasir Syalabi, Agar Selalu Di tolong Allah yang ditulis oleh Hendra Setiawan, Pelipur Lara Bagi Orang Yang Tertimpa Musibah karya Imam Muhammad bin Al Munbaji, Meraih Kebahagiaan yang ditulis oleh Dr. Jalaluddin Rahmat, Kimia Kebahagiaan karya Imam Al-Ghazali, dan sebagainya.

Apakah yang menjadi penyebab tema tentang kebahagiaan begitu menarik bagi kebanyakan orang pada saat ini? Menurut pengamatan saya, masyarakat saat ini gersang oleh siraman air keimanan sehingga membuat mereka cenderung materialistik. Ada yang hilang dalam diri mereka padahal yang hilang itu adalah fundamen hidup mereka. Ada yang kosong tetapi kemudian tidak mereka isi dengan apa yang seharusnya mereka isi. Mereka mengisinya dengan sesuatu yang tidak seharusnya mereka isi. Jadinya, bukan semakin dekat dengan kebahagiaan, mereka semakin jauh (dari kebahagiaan itu).

Apakah yang dimaksud dengan materialistik? Richins dan Dawson mengukur materialisme dengan menggunakan deinisi operasional berikut: “Kami menganggap materialisme sebagai serangkaian kepercayaan pokok tentang pentingnya pemilikan dalam kehidupan seseorang dan mengukur tiga bidang kepercayaan: perolehan kekayaan sebagai kegiatan paling utama (acquisition centrality), peranan perolehan ini dalam kebahagiaan, dan peranan pemilikan dalam mendefinisikan sukses.” 

Jika manusia menjadikan kekayaan dan kesuksesan sebagai hal yang paling penting untuk diraih dalam hidupnya, maka orang itu sesungguhnya telah terjangkiti virus materialis. Tanyalah para mahasiswa mengapa mereka memasuki perguruan tinggi. Jika mereka berkata “ingin mendapat pekerjaan yang menghasilkan banyak uang”, mereka materialis. Jika mereka berkata “ingin mengembangkan kemampuan yang sesuai dengan bakat” atau apalagi “ingin mengembangkan falsafah hidup yang berarti”, mereka bukan materialis.

Pertanyaan yang sama pernah diajukan kepada para mahasiswa oleh UCLA/ American Council on Education dalam rentangan waktu 1971-1998. Pada 1971, 1 dari 2 mahasiswa yang menjawab “ingin memperoleh uang lebih banyak” pada 1988, 3 dari 4 mahasiswa. Ketika ditanya apakah berkecukupan secara finansial sangat penting bagi kehidupan mereka, jumlah mahasiswa yang menjawab “sangat penting” bertambah dari 39 % pada 1970 ke 74 % pada 1998. Ini berarti telah terjadi kenaikan pandangan hidup materialistik di kalangan mahasiswa di Amerika.

Ahli ekonomi Thomas Naylor dari Duke University, setelah mengajar corporate strategy selama enam tahun memperoleh kesimpulan begini tentang para mahasiswanya, “hanya dengan sedikit kekecualian, apa yang mereka inginkan masuk dalam tiga kategori: uang, kekuasaan, dan barang-barang sangat besar, termasuk rumah untuk berlibur, mobil luar negeri yang mahal, yacht, dan bahgkan pesawat terbang…Permintaan mereka pada para dosen: Teach me how to be a moneymaking machine.

Para peneliti menghubungkan antara tingkat materialisme dengan kebahagiaan dan karakteristik lainnya. Penemuan yang dilaporkan para peneliti sangat menarik:

Pertama, makin materialis seseorang, makin tidak puas dia dengan standar hidupnya, makin kurang kesenangannya, makin tidak puas dengan sahabat-sahabatnya, makin tidak hangat dalam hubungan keluarganya. Kedua, orang yang meletakkan uang dalam urutan tertinggi tujuan hidupnya lebih mudah menderita depresi dan lebih banyak menderita kecemasan. Ketiga, Orang yang suka membelanjakan uangnya untuk hal-hal yang tidak perlu biasanya sangat sulit untuk mengeluarkan uangnya untuk menjamu tamu, menolong, atau melakukan kegiatan sosial.

Keempat, orang-orang materialis umumnya punya sedikit kawan. Mereka mencari kebahagiaan dalam pemilikan kekayaan, bukan pada perahabatan atau persaudaraan. Ketika mereka punya uang banyak tetapi sahabat yang sedikit, mereka hanya melakukan kegiatan yang mendatangkan sukses material, walaupun harus mengorbankan sahabat atau keluarga. Bahkan ketika memilih ahabat sekali pun, mereka menggunakan ukuran-ukuran materi. Kamu hanya boleh datang ke rumahku dan mendapat semua penghargaan dan penghormatanku, jika dan hanya jika kamu punya kekayaan yang dapat dibanggakan.

Kelima, kekayaan datang dari luar diri kita. Orang materialis bersandar pada kekayaan untuk kebahagiaan mereka. Karena itu, kebahagiaan mereka sangat bergantung pada situasi di luar kendali mereka. Mereka menjadi sangat rentan. Setiap saat, hartanya bisa hilang. Dengan begitu, pemilikan kekayaan tidak dapat menjamin kebahagiaan. Dalam hubungannya dengan kebahagiaan, kekayaan adalah ganjaran yang datangnya dari luar (extrinsic rewards).

Fakta-fakta ini dapat menjadi bahan renungan bagi kita tentang penyebab ketidakbahagiaan dalam hidup kita. Kita dapat bertanya dalam hati apakah ketidakbahagiaan kita selama ini disebabkan oleh cara pandang yang salah tentang kehidupan ini. Apakah kita lebih cenderung pada materi ketimbang nilai-nilai positif? Semoga kita dapat mengambil pelajaran dari hasil penelitian di atas. Kita harus potong kompas agar tidak terjerumus pada lubang yang sama seperti yang di derita orang-orang Barat. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar