Jumat, 06 Juli 2012

Rasa Takut Imam Hasan Al-Bashri


Imam Hasan Al-Bashri ditanya oleh seseorang, "Bagaimana kabar Anda?” Imam Hasan Al Bashri pun tersenyum dan menjawab, "Engkau bertanya kepadaku mengenai keadaanku? Bagaimana menurutmu jika sekelompok manusia menaiki sebuah bahtera hingga di tengah-tengah samudera yang luas bahtera itu pecah dan masing-masing memegang kayu yang tersisa. Bagaimana menurutmu kondisi mereka?”

Laki-laki itu pun menjawab, "Mereka tentu amat ketakutan sekali.”  Imam Hasan Al Bashri pun menanggapi, "Keadaan saya lebih dari itu.” (Ihya’ Ulumuddin, 13/2386)

Begitulah para ulama kita. Begitulah orang yang telah menghiasi hidupnya dengan ilmu dan amal saleh. Ulama kita adalah ulama yang sejati. Karakteristik mereka tidak sama dengan karakteristik ulama-ulama dari kalangan Yahudi, di mana mereka mengatakan apa yang tidak mereka perbuat. Sedangkan ulama kita mengatakan apa yang mereka perbuat, bahkan berusaha menyembunyikan amal saleh yang mereka lakukan selagi mereka mampu melakukannya. 

Ketika orang-orang Bani Israil banyak meminta ini dan itu kepada Nabi Musa As. dan seluruh permintaan itu dikabulkan Allah, tetap saja mereka menjadi pembangkang. Mereka juga meminta Nabi Musa memperlihatkan mukjizatnya, setelah Nabi Musa memperlihatkannya, tetap saja mereka membangkang padahal mereka tahu mukjizat itu datangnya dari Tuhan. 

Sedangkan para sahabat Rasulullah Saw., mereka berjihad, ditengah terik matahari yang panas, mereka tetap setia kepada Rasulullah Saw., mereka tidak meminta bahkan mereka berusaha memberi. Mereka tidak meminta kepada Rasulullah Saw., "Ya Rasulullah, engkau adalah seorang Nabi dan Rasul, mintalah kepada Allah untuk menghancurkan orang-orang kafir sehingga kami dapat duduk-duduk di sini menunggu kehancuran itu." Atau mereka berkata, "Ya Rasulullah, kami ingin makanan yang banyak agar kami dapat hidup sehari-hari dengan nyaman." Tidak! Tidak seperti itu umat ini. Umat ini pergi berjihad, berdarah, dan mati syahid. Umat ini bersedekah kepada orang fakir. Mereka saling membantu bila ada yang membutuhkan bantuan. Contohnya pada perang Khandaq. Ketika itu pasukan Islam benar-benar kekurangan makanan. Hingga Rasul pun mengganjal perutnya dengan batu. Hal ini membuat seorang sahabat Nabi berinisiatif membuat makanan untuk Rasulullah Saw. dan beberapa sahabatnya. Tidak untuk semua sahabat karena persediaan makanan di rumahnya tidak begitu banyak. Namun dengan izin Allah, makanan yang sedikit itu menjadi banyak sehingga dapat memenuhi kebutuhan seluruh pasukan Islam. Beginilah karakteristik umat Nabi Muhammad. Mereka tidak meminta tapi justru merekalah yang memberi. Karakter yang ditempa sejak zaman Rasulullah Saw. membekas pada generasi-generasi selanjutnya dan menjadi karakteristik umat Nabi Muhammad Saw.

Sahabatku, hadirkanlah kisah-kisah yang baik untuk menghiasi hari-harimu. Jadikan ia sebagai muhasabah untuk dirimu. Ia akan menggedor pintu hatimu, mendorongmu untuk beramal dan akan berusaha mencegahmu dari melakukan perbuatan maksiat.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar