Kamis, 26 Juli 2012

7 Kebiasaan Rasulullah Di Bulan Ramadhan


Sungguh Allah telah memberikan kepada kita nikmat yang begitu besar pada bulan Ramadhan. Alangkah meruginya orang-orang yang tidak mau mengambilnya. Bulan ini adalah rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka. Tidak ada bulan yang dapat merangkum ketiga hal tersebut selain bulan Ramadhan. Oleh karena itu, sudah semestinya kita memperbanyak dan memperbagus ibadah-ibadah kita di bulan ini. Berikut ini tujuh kebiasaan Rasulullah selama bulan Ramadhan:

Kebiasaan Pertama, mengerjakan amalan fardhu dengan sempurna.
Pahala orang yang mengerjakan amalan fardhu di bulan ramadhan sama dengan 70 kali pahala yang dilakukan pada amalan di bulan lainnya. Alangkah besar pahala itu, alangkah meruginya orang yang meninggalkannya. Sudah semestinya kita mengerjakannya dengan sebaik mungkin, agar kita mendapatkan pahala itu dan keberkahan lainnya dari ibadah yang kita lakukan. Segeralah shalat apabila adzan memanggil, kemudian lakukanlah shalat berjamaah. Jika dihitung-hitung secara matematik, orang yang shalat berjamaah pada bulan ramadhan akan mendapatkan pahala sebesar 1890 pahala, yaitu hasil dari 27 x 70. Luar biasa besarnya. Dan, Allah bisa saja melipatgandakannya lagi sebagaimana yang Dia kehendaki. Semua itu hanya diberikan Allah pada bulan ini.

Kebiasaan Kedua, mengerjakan amalan sunah.
Pahala orang yang mengerjakan amalan sunah sama dengan pahala orang yang mengerjakan amalan fardhu di bulan lain. Wahai orang-orang yang lalai dalam mengerjakan amalan fadhu di bulan lain, kini saatnya kalian mengejar ketertinggalan itu dari orang-orang saleh. Sesungguhnya waktu kita hanya sebentar. Entah kapan kita mati; esok atau lusa, itu adalah rahasia Allah. Tak ada yang menyelamatkan kita kecuali amal-amal yang mengantarkan pada rahmat Allah Swt. Jika shalat fardhu saja sudah ditinggalkan dibulan lain, ditambah ditinggalkannya shalat sunah di bulan ramadhan, entah amal apa yang dapat menyelamatkan kita dari siksa-Nya, sedangkan yang pertama kali di hisab adalah shalat kita. Apabila shalat kita bagus, maka bagus pula seluruh amalan kita. Apabila jelek, tunggulah siksaan itu begitu nyata.

Kebiasaan Ketiga, membayar zakat dan memperbanyak sedekah.
Rasulullah Saw. telah bersabda dalam salah satu haditsnya, “Bulan ini (ramadhan) juga merupakan bulan simpati kepada sesama. Pada bulan inilah rezeki orang-orang beriman ditambah. Barangsiapa memberi makan (untuk berbuka puasa) kepada orang yang berpuasa maka kepadanya dibalas dengan keampunan dosa-dosanya dan dibebaskan dari api neraka Jahannam dan dia juga memperoleh ganjaran yang sama sebagaimana orang yang berpuasa tadi tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.”Yang dimaksud “memberi makan” di sini tidak hanya berbentuk satu porsi makanan, tetapi“walau hanya sebutir kurma, atau seteguk air, atau seisap susu.”

Rasulullah Saw. adalah orang yang paling pemurah dan dibulan Ramadhan beliau lebih pemurah lagi. Kebaikan Rasulullah Saw. di bulan Ramadhan melebihi angin yang berhembus karena begitu cepat dan banyaknya. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Sebaik-baiknya sedekah yaitu sedekah di bulan Ramadhan.” (HR. Baihaqi, al-Khatib, dan Tirmidzi).

Dan salah satu bentuk sedekah yang dianjurkan adalah memberikan ifthor (santapan berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa. Seperti sabda beliau, “Barangsiapa yang memberi ifthor kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapat pahala senilai pahala orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa tersebut.”(HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Dalam riwayat Ibnu Khuzaimah disebutkan, para sahabat Ra. berkata, “Ya Rasulullah! Tidak semua orang di antara kami mempunyai sesuatu yang dapat diberikan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka.” Rasulullah Saw. menjawab, “Allah akan mengaruniakan balasan ini kepada seseorang yang memberi buka walaupun hanya dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau seisap susu.”

Dengan zakat dan sedekah, kita dapat menolak bala’ bencana, doa-doa kita dikabulkan, harta kita dibersihkan, nikmat-nikmat kita ditambah, telah gugurnya kewajiban, dan besarnya pahala yang akan kita terima. Mungkin selama bulan-bulan lain Anda kurang bersedekah, maka inilah saatnya Anda banyak bersedekah. Selama bulan-bulan lain Anda bekerja keras mencari uang, maka inilah saatnya Anda sedekahkah sebagian uang itu kepada yang berhak. Jika ada orang yang meminta, berilah. Karena toh harta kita tidak berkurang. Apalah artinya jika Anda berpenghasilan dua juta sebulan, lalu Anda sedekahkan lima ratus ribu pada bulan ini. Semua itu tak ada artinya dibandingkan dengan pahala yang akan Anda terima. Harta Anda akan terus bertambah seiring dengan terus menerusnya Anda bersedekah. Ya Allah, karuniakanlah kami rezeki yang melimpah dan dengannya kami membayar zakat dan sedekah.

Kebiasaan Keempat, memperbanyak membaca Al-Quran.
Bulan yang penuh berkah ini memiliki hubungan yang sangat erat dengan Al-Quran. Karena secara umum Allah menurunkan kitab-kitab-Nya pada bulan ini. Begitu pula Al-Qur’an, telah diturunkan seluruhnya dari Lauh Mahfudz ke langit dunia pada bulan ramadhan, kemudian dari sanalah diturunkan sedikit demi sedikit sesuai dengan kejadian yang ada dalam waktu 23 tahun. Selain itu, Shahifah Nabi Ibrahim diturunkan pada tanggal 3 ramadhan, Nabi Dawud As. mendapatkan kitab Zabur pada tanggal 12 atau 18 ramadhan, Nabi Musa As. diberi kitab Taurat pada tanggal 6 ramadhan, dan Nabi Isa As. mendapat Injil pada tanggal 12 atau 13 ramadhan.

Inilah yang membuat bulan Ramadhan mempunyai hubungan erat dengan firman Allah Swt., sehingga banyak riwayat yang menekankan tentang pentingnya membaca Al-Quran di bulan ini, dan yang demikian merupakan amalan para shalihin. Jibril As. dan Rasulullah Saw. biasa saling memperdengarkan dan mendengarkan seluruh isi Al-Quran pada bulan ini. Iman az-Zuhri pernah berkata, “Apabila datang Ramadhan maka kegiatan utama kita (selain shiyam) ialah membaca Al-Quran.”

Kesibukan Imam Malik di bulan ramadhan adalah membaca Al-Quran, bukan berceramah dan memberikan fatwa. Imam Syafi’i membaca Al-Quran 60 kali khatam di bulan ini. Rumah para sahabat Ra. dan tabi’in – di bulan ramadhan – terdengar bacaan Al-Quran, seorang pujangga mengibaratkannya “seperti dengungan lebah”, dari waktu ke waktu. Oleh karena itu, hendaklah sedapat mungkin bersungguh-sungguh dalam membaca Al-Quran. Apabila bulan sebelumnya hanya mampu membaca separuh juz, alangkah baiknya ditingkatkan menjadi satu juz. Yang penting adalah adanya peningkatan dan kesungguhan dalam membaca Al-Quran pada bulan ini.

Kebiasaan Kelima, memperbanyak doa dan dzikir.
Inilah bulan dimana doa-doa kita tidak ditolak-Nya. Dalam kitab Durrul Mantsur ada sebuah riwayat dari Aisyah Ra. bahwa apabila ramadhan tiba, berubahlah wajah Rasulullah Saw.. Beliau akan menambah shalatnya, lebih merendahkan diri dalam doa-doanya, dan lebih nampak rasa takutnya kepada Allah Swt.. Dalam satu riwayat diberitahukan bahwa di bulan ramadhan Allah Swt. memerintahkan para malaikat pemikul Arsy, “Tinggalkanlah ibadah kalian masing-masing dan amin-kanlah doa orang yang berpuasa.”

Kebiasaan Keenammemperbanyak membaca kalimat Thayyibah, Istighfar, dan memohon kepada Allah untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka.

Rasulullah Saw. bersabda, “Perbanyaklah di bulan ini empat perkara. Dua perkara dapat mendatangkan keridhaan Tuhanmu, dan yang dua lagi kamu pasti memerlukannya. Dua perkara yang mendatangkan keridhaan Allah yaitu, hendaknya kalian membaca kalimat thayyibah dan istighfar sebanyak-banyaknya. Dan dua perkara yang kita pasti memerlukannya, yaitu hendaknya kamu memohon kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepada-Nya dari api neraka Jahanam.” (HR. Ibnu Khuzaimah).

Kalimat thayyibah (lailahaillallah) dan istighfar memiliki banyak sekali keutamaan. Jika dibaca dibulan yang lain memiliki keutamaan, apalagi dibaca dibulan Ramadhan, tentu keutamaannya jauh lebih banyak. Oleh karena itu, mari kita memperbanyak membacanya! Rasulullah Saw. bersabda, “Dzikir yang paling utama adalah la ilahaillallah…” Rasulullah Saw. juga bersabda, “Barangsiapa beristighfar dengan sebanyak-banyaknya, Allah akan membuka jalan keluar dari segala kesempitan dan membebaskannya dari segala kesedihan, dan dia memperoleh rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.”

Kebiasaan Ketujuhi’tikaf.
I’tikaf adalah puncak ibadah di bulan Ramadhan. Dan I’tikaf adalah tetap tinggal di masjidtaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah dan menjauhkan diri dari segala aktifitas keduniaan. Dan inilah sunnah yang selalu dilakukan Rasulullah pada bulan Ramadhan, disebutkan dalam hadits dari Aisyah Ra. berkata, “Rasulullah Saw.ketika memasuki sepuluh hari terakhir menghidupkan malam harinya, membangunkan keluarganya dan mengencangkan ikat pinggangnya.” (HR. Muslim).

Dalam riwayat Muslim yang lain disebutkan, “Rasulullah Saw. bersungguh-sungguh dalam sepuluh (hari) akhir (bulan Ramadhan), hal yang tidak beliau lakukan pada bulan lainnya.”

Sedangkan dalam hadits Bukhari dikatakan, “Bila masuk sepuluh (hari terakhir bulan Ramadhan Rasulullah Saw. mengencangkan kainnya menjauhkan diri dari menggauli istrinya), menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.”

Dalam riwayat Thabrani dari Ali bin Abi Thalib Ra. disebutkan, “Bahwasanya Rasulullah Saw. membangunkan keluarganya pada sepuluh akhir dari bulan Ramadhan, dan setiap anak kecil maupun orang tua yang mampu melakukan shalat.”

Demikianlah tujuh kebiasaan Rasulullah yang dilakukan dibulan Ramadhan. Mudah-mudahan dengan menjalankan kebiasaan-kebiasaan itu, Allah limpahkan rahmatnya kepada kita.Rasulullah Saw. bersabda, “Telah datang kepadamu bulan ramadhan, dimana Allah melimpahkan keberkahan, menurunkan rahmat dan mengampuni dosa-dosamu, menerima doa-doamu, melihat atas perlombaanmu (dalam kebaikan) dan membanggakanmu di hadapan para malaikat. Maka tunjukkanlah kepada Allah Swt. kebaikanmu. Sesungguhnya orang yang celaka adalah dia yang terhalang dari rahmat Allah pada bulan ini.” (HR. Thabrani). 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar