Selasa, 13 Agustus 2013

Kepedulian Ikhwanul Muslimin Terhadap Kaum Muslimin

Saya pernah membaca sejarah, seorang Khalifah mengirim pasukan, yang panjangnya berkilo-kilo meter, untuk membebaskan seorang muslimah dari tangan orang kafir. Saya juga membaca, Kekhaliifahan Utsmaniyah mengirimkan bala bantuan kepada pasukan Islam yang dipimpin Fatahilah untuk mengusir Portugis dari Sunda Kelapa. Sejarah juga mencatat bagaimana peran yang besar kekhalifahan Utsmaniyah dalam membantu kerajaan Islam Nusantara dalam menghadapi pasukan kafir. Nyatanya kisah-kisah seperti ini menjadi bagian dari sejarah kekhalifahan di masa lalu. 

Para khalifah di masa lalu menyadari teritori mereka ada bersama kaum muslimin dimanapun mereka berada. Oleh karenanya jika ada seorang muslim terzalimi oleh orang kafir, maka dengan semangat persaudaraannya, mereka berusaha membebaskannya.

Saya melihat gerakan Ikhwanul Muslimin memiliki semangat yang sama seperti gerakan kekhalifahan di masa kejayaannya, walaupun kemampuan mereka dalam hal ini masih terbatas, sesuai dengan kemampuan mereka. Sejarah menunjukkan kepedulian mereka yang begitu besar terhadap saudara muslimnya yang tertindas.

Pasukan Ikhwanul Muslimin dari Mesir yang dipimpin Yusuf Thal'at dan pasukan Ikhwanul Muslimin Suriah yang dipimpin DR. Musthafa As Siba'i menyerang tentara Israel. Serangan ini membuat Israel terpukul mundur, sangat kaget, karena mereka bukan berhadapan dengan tentara Arab Mesir yang selama ini takut mati. Sejarah juga mencatat, Ikhwanul Muslimin memimpin mogok massal kaum buruh di pelabuhan-pelabuhan di Mesir demi kemerdekaan bangsa Indonesia.

Mogok massal itu sangat berdampak besar bagi negara-negara Barat karena barang-barang mereka ada di pelabuhan Mesir. Jika mogok massal ini terus berlanjut akan sangat merugikan perekonomian mereka. Karena Mesir adalah penyambung antara Asia dan Afrika. Akibat tekanan yang hebat ini, bangsa Indonesia memperoleh kemerdekaannya. Pemerintah Indonesia pun mengutus KH. Agus Salim dan Syahrir ke Mesir untuk berterimakasih kepada Hasan Al-Banna.

Sejarah juga mencatat, Ikhwanul Muslimin lewat DR. Abdullah Azzam membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Afghanistan untuk mengusir tentara Soviet. Bersama mujahid ikhwan dari Mesir, Kamaluddin Sananiri, DR. Abdullah Azzam bahu membahu menyatukan faksi-faksi mujahid seperti faksi Gulbuddin Hikmatiar, Ahmad Shah Mas'ud, Prof. Abdurrasul Sayyaf, DR. Burhanuddin Rabbani, dan Jalaluddin Taliqani. Bahkan kabarnya mereka telah berjanji untuk bersatu di hadapan DR. Abdullah Azzam.

DR. Abdullah azzam mengatakan jika mereka berpecah belah, maka dirinyalah yang akan menembak satu persatu tokoh faksi-faksi itu. Waktu itu para mujahid Afghan telah menjadikan DR. Abdullah Azzam sebagai imam mereka. Melihat kenyataan ini, tentu saja membuat Soviet sangat tidak suka. Beberapa kali Soviet berusaha membunuh Azzam hingga rencana pembunuhan yang kesekian kali berhasil. Bom menghantam DR. Abdullah Azzam beserta putranya hingga syahid. 

DR. Abdullah Azzam syahid setelah dihantam bom Soviet

Sekembalinya dari Afghanistan, Sananiri malah dijebloskan ke dalam penjara Mesir, disiksa hingga dibunuh di dalamnya. Tokoh-tokoh ikhwan inilah yang menjadi ujung tombak pembebasan Afghanistan dari Soviet. Semoga Allah merahmati keduanya.

Rasa persaudaraan juga tampak terekam baru-baru ini. Ikhwanul Muslimin via DR. Muhammad Mursi, mengadakan muktamar ulama ahlussunnah untuk mengobarkan resolusi jihad melawan kezaliman Bashar Al Asad Asy Syi'i yang telah membantai kaum Sunni Suriah. Mursi dengan kebijakannya juga memperlakukan pengungsi Suriah seperti tamu agung. Mursi membebaskan visa bagi pengungsi Suriah yang akan memasuki Mesir. Hal yang sama juga dilakukan oleh saudaranya, Erdogan dari Ikhwanul Muslimin Turki. Karena pembelaan kepada Sunni Suriah inilah salah satu penyebab DR. Mursi dÍkudeta dari jabatannya sebagai Presiden Mesir.

Kini, setelah Mursi dikudeta, rakyat marah. Demonstrasi damai pun digelar, utamanya di Rabiah Al Adawiyah dan Nahdhah. Bukan sehari dua hari, bukan seminggu dua minggu, tapi sudah hampir 2 bulan mereka bersabar menanti kemenangan yang dijanjikan. Karena mereka sadar, apa yang mereka perjuangkan selama ini, bukan untuk bangsa mereka sendiri, tetapi untuk dunia Islam lebih khusus untuk Palestina, Suriah, Libya, Tunisia, Yaman, dan Maroko.

Nama "Ikhwanul Muslimin" yang berarti "Persaudaraan sesama muslim" sangat melekat pada diri jamaah tersebut. Sehingga kepedulian kepada sesama mereka, diluar batas-batas negara mereka sendiri, menjadi bagian dari perjuangan mereka. Sebagaimana kekhalifahan Islam yang runtuh pada tahun 1928, Ikhwanul Muslimin berdiri untuk mengembalikan kembali kejayaan tersebut.

Catatan:
1. Mengenai hubungan mesra kekhalifahan Utsmaniyah dengan kerajaan Islam Nusantara, bisa dibaca disini: http://asaka-tamanlangit7.blogspot.com/2012/01/khilafah-usmani-dan-kerajaan-islam.html#.UgqGKNI_twA


3. Di dalam situs ini disebutkan Abdurrasul Sayyaf adalah anggota Ikhwanul Muslimin: http://en.wikipedia.org/wiki/Abdul_Rasul_Sayyaf 


4. Berita tentang perlakuan istimewa Mursi terhadap pengungsi Suriah: http://www.bersamadakwah.com/2013/08/mursi-dikudeta-pengungsi-suriah-di.html 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar