Selasa, 07 Januari 2014

Indonesia Negara Miskin

Saya pernah beberapa kali berkunjung ke Bangka Belitung. Saat pesawat hendak mendarat, saya perhatikan daratan Bangka melalui jendela. Saya lihat begitu banyak lubang-lubang seperti bekas digali orang. Untuk menggali lubang-lubang yang cukup besar dan dalam itu, pohon-pohon yang ada disekitarnya di tebang. Saat turun dari pesawat saya merasakan hawa panas yang begitu menyengat. Kulit terasa panas. Mungkin inilah akibat dari penebangan hutan. Ditambah lagi Bangka Belitung memang berada di dataran rendah dan dekat dengan laut. Sudah panas ditambah panas yang disebabkan ulah manusia. Klop deh.

Untuk apa lubang-lubang itu dibuat? Saya bertanya kepada teman saya asli Bangka. Jawabannya untuk menambang timah. Bangka Belitung memang terkenal dengan Timahnya. Dari Timah Bangka itulah Indonesia menjadi negara penghasil Timah terbesar di dunia. Jadi, lubang-lubang itu dibuat untuk menambang timah. Tapi lubang-lubang itu sangat banyak, apa tidak ada pengendalian dari pemerintah? Tanya saya lagi. "Sebelumnya memang tidak ada tapi sekarang tambang liar itu ditertibkan. Yang boleh menambang hanya PT. Timah dan PT. Kobatin." Tapi sayang sekali. Nasi sudah menjadi bubur. Pemerintah setempat tidak cepat menangani tambang liar itu. Akibatnya alam menjadi rusak. Kalau kata saya, bila diterjang tsunami seluruh daratan Bangka Belitung bisa tenggelam. 

"Disini banyak nyamuk. Nanti malam jangan lupa pakai lotion anti nyamuk," teman saya menambahkan. Benar juga, malam itu banyak sekali nyamuk berkeliaran dirumahnya. Bukan hanya satu dua tapi banyak. "Apa di setiap rumah nyamuknya sebanyak ini?" "Iya, kurang lebih begitu," katanya. "Apa sebabnya?" "Ya, lubang-lubang itu. Disana tempat nyamuk menetas dan berkembang biak. Saya sendiri pernah kena malaria. Banyak orang disini kena malaria," jawabnya. Ya sudahlah. Sambil menggoleskan lotion anti nyamuk ke tangan, kaki, dan leher saya pun tidur ditemani suara nyamuk yang menggemaskan.
***

Membicarakan kekayaan dan keindahan alam Indonesia mungkin tidak akan ada habis-habisnya. Sejak masih duduk di bangku sekolah dasar, istilah-istilah seperti Indonesia ibarat zamrud khatuliswa sudah saya dengar. Dinamai "zamrud" karena kekayaan dan keindahannya yang luar biasa. Seolah disetiap sisi, di tanah air, ini menampakkan keindahan dan kekayaannya. Grup band seperti Koes Plus tidak mau ketinggalan mendendangkan syair:

Bukan lautan hanya kolam susu
Kail dan jalan cukup menghidupimu
Tiada badai tiada topan kau temui
Ikan dan udang menghampiri dirimu

Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman
Orang bilang tanah kita tanah surga
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman


Tak ketinggalan penulis kitab La Tahzan, Syaikh Aidh Al-Qarni, saat melihat pemandangan di Puncak Bogor berseru, "Indonesia surga dunia!" Para wisatawan hilir mudik mengunjungi tempat wisata untuk melihat keindahan itu. 

Tapi apa hendak dikata, rakyat Indonesia belum merasakan kesejahteraan dari kekayaan yang melimpah itu. Kecuali dirasakan oleh segelintir orang saja. Dulu Indonesia dikenal sebagai sebagai salah satu negara penghasil minyak sehingga tergabung dalam OPEC. Tapi sekarang malah menjadi negara pengimpor minyak. Apa yang terjadi? Dikemanakan uang hasil menyedot minyak bumi itu? Bukankah dulu minyak itu dijual ke luar negeri? Artinya rakyat Indonesia pada saat itu sudah memiliki ketahanan energi. Taruhlah pemerintah saat itu punya uang yang banyak; untung yang besar dari hasil jual minyak. Apakah uang itu sudah semestinya digunakan untuk pembangunan? Atau uang itu dirampok oleh para koruptor sehingga yang terserap dalam bentuk pembangunan menjadi kecil alias di mark up. Diberi anggaran 100 juta yang terserap 80 juta, 20 jutanya lagi dirampok. 


Karena sudah tak sanggup lagi menanggung subsidi, kemudian pemerintah mengkonversi minyak tanah ke LPG. Ternyata 57% LPG itu impor dari negara lain. Ya ampun, berarti cadangan minyak bumi kita lebih parah daripada cadangan LPG. Makanya ketika nilai tukar dolar naik, Pertamina mengalami kerugian karena LPG-nya sendiri impor dari negara lain. Jadi apa yang dilakukan pemerintah itu ibarat gali lobang tutup lobang. Sepertinya mobil-mobil berbahan bakar gas nasibnya sama seperti Esemka. Awalnya saja gembar gembor, beberapa saat kemudian terbengkalai karena harga bahan bakarnya mahal. 

Sebenarnya kita punya LNG (gas alam cair) sebagai bahan bakar alternatif selain minyak dan LPG. Tapi lagi-lagi peraturan mengenai hal itu belum ada. Sementara LNG kita sudah di ekspor ke negara yang menggunakan LNG sebagai energi bahan bakar. Ketika minyak bumi dan LPG sudah benar-benar habis, kita tidak cepat-cepat beralih ke LNG, ujung-ujungnya nasibnya sama seperti yang sudah-sudah; menjadi negara pengimpor! Lalu rakyatlah yang menanggung bebannya. Dolar naik harga bahan bakar ikut-ikutan naik.

Timah juga salah satu contoh lain. Menurut para ahli, cadangan timah di Indonesia akan habis kurang dari sepuluh tahun lagi. Sepuluh tahun lagi, kalau tak dijaga akan habis. Dijual murah tanah air, barang langka timah ini, sayang kalau dijual murah. Seharusnya yang diekspor barang jadi, tapi selama ini yang diekspor batangan. walaupun Indonesia mengekspor 90.000 ton timah batangan. Namun setiap tahunnya Indonesia juga harus mengimpor balik produk jadi dari timah sebanyak 130.000 ton.

Kita impor dari negara yang bukan penghasil timah seperti Jepang, Korea, Singapura, harganya sudah 5 kali lipat. selain Indonesia, saat ini negara yang masih menghasilkan timah di dunia adalah China, Amerika Latin termasuk Peru. Khusus China, Negeri Tirai Bambu tersebut memiliki cadangan timah 3,5 juta ton namun mereka hanya pergunakan untuk kebutuhan dalam negerinya. Kemudian negara Amerika Latin secara keseluruhan memiliki cadangan sebanyak 2,5 juta ton, termasuk Peru yang memiliki cadangan timah 1 juta ton.

Seperti halnya menceritakan kekayaan Indonesia yang tak ada habis-habisnya, kasus-kasus seperti di atas juga nampaknya tak ada habis-habisnya untuk diceritakan. Apakah itu artinya negara kita berubah dari negara kaya menjadi negara miskin?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar