Selasa, 29 Mei 2012

Keutamaan Berdakwah (1)

Keutamaan Pertama
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’” (QS. Fushshilat: 33).

Sebagian mufassir mengatakan, barangsiapa menyeru manusia ke jalan Allah dengan cara apapun, maka dia berhak mendapat kehormatan dari ayat di atas. Misalnya, para Nabi As. berdakwah dengan cara memperlihatkan mukjizat, para ulama berdakwah dengan hujjah dan dalil-dalil, para mujahid berdakwah dengan pedangnya, para muadzin berdakwah dengan adzannya, politisi berdakwah dengan kebijakan yang dibuatnya, penulis berdakwah dengan penanya. Pendek kata, barangsiapa menyeru manusia kepada kebaikan, maka dia berhak mendapatkan kehormatan seperti disebutkan ayat di atas.

Sebagian mufassir juga mengatakan, ayat “Wa qalla innani minal muslimin” (dan berkata: ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?’) maksudnya adalah, bahwa seorang muslim hendaknya merasa bangga dengan kehormatan yang dikaruniakan Allah kepadanya, dan hendaknya dia menunjukkan kehormatan ini dengan penuh kebanggaan.

Keutamaan Kedua
“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. adz-Dzariyat: 55).

Para mufassir mengatakan bahwa dengan dakwah berarti juga memberikan peringatan kepada orang-orang beriman dengan ayat-ayat al-Quran, karena hal ini akan bermanfaat bagi mereka. Bahkan akan bermanfaat juga bagi orang-orang kafir, karena dengan usaha ini, insya Allah mereka akan memeluk Islam. Rasulullah Saw. pernah bersabda, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya. Para da’i adalah orang-orang terbaik dan dakwah adalah profesi terbaik yang dapat memberikan manfaat bagi sesama.

Keutamaan Ketiga
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali Imran: 104).

Dalam ayat di atas, dengan jelas Allah Swt. menunjukkan sebab-sebab keberuntungan, yaitu dengan berdakwah; menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Artinya, barangsiapa yang ingin meraih keberuntungan, maka hidupnya harus di arahkan pada jalan dakwah.

Keutamaan Keempat
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110).

Kalimat, “Kuntum khaira ummah” artinya kalian akan senantiasa menjadi umat terbaik di antara umat-umat lainnya karena kalian mendakwahkan ajaran Islam, menyeru manusia kepada kebaikan, serta mencegah dari kemungkaran.

Para mufassir mengatakan, bahwa dalam ayat ini amar ma’ruf nahi munkar disebutkan lebih dahulu daripada sebutan iman kepada Allah, padahal iman adalah pangkal bagi segala amalan. Tanpa iman, amal kebaikan apa pun tidak akan bernilai di sisi Allah. Hal ini dikarenakan, iman sudah ada dan dimiliki oleh umat-umat terdahulu, namun ada suatu amalan yang membedakan umat Nabi Muhammad Saw. dengan umat-umat sebelumnya, yaitu tugas amar ma’ruf nahi munkar.

Jika maksud utama dari ayat di atas adalah menegaskan betapa pentingnya amar ma’ruf nahi munkar bagi kita, sehingga perintah ini disebutkan terlebih dahulu. Dengan demikian, syarat utama agar umat ini menjadi lebih mulia daripada umat lainnya, yaitu kita harus melaksanakan perintah tersebut. Jika tidak, maka kita tidak berhak memperoleh sebutan khaira ummah. Seperti pernah terjadi pada umat terdahulu ketika mereka melalaikan tugas ini, maka Allah Swt. berfirman, “Falamma nasuu maa dzukkiruubih…” (Ketika mereka lalai dari mengingatkan).

Peringatan seperti ini banyak disebutkan dalam ayat-ayat lain. Perlu di ingat, bahwa tugas amar ma’ruf nahi munkar tidak cukup diamalkan beberapa kali saja, tetapi harus diamalkan terus-menerus setiap saat, karena amar ma’ruf nahi munkar adalah tugas tetap, bukan tugas sementara.

Keutamaan Kelima
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar.” (QS. an-Nisa: 114).

Dalam ayat ini Allah Swt. menjanjikan balasan yang besar bagi mereka yang mendakwahkan kebenaran. Seberapa besarkah pahala yang dikatakan ‘besar’ oleh Allah itu? Dalam menafsirkan ayat ini, Rasulullah Saw. bersabda, “Kata-kata seseorang itu boleh jadi merupakan dosa baginya, kecuali kata-kata yang diucapkan itu memberi peringatan, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau berdzikir kepada Allah.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar