Minggu, 15 April 2012

Memeriksa Aib Diri Sendiri

Sahabatku, semoga Anda bukan termasuk orang-orang yang tidak bisa menjaga lisannya dari perkataan dusta, ghibah, dan fitnah. Semoga Anda dapat menjaga kemaluan dari hal-hal yang diharamkan Allah. Janganlah Anda berpaling dari peringatan ini. Selimutilah hati Anda terus-menerus dengan peringatan ini agar senantiasa teguh di jalan Allah.

Periksalah aib Anda sebelum memeriksa aib orang lain. Tiada guna bagi Anda memeriksa aib orang lain, sementara Anda melakukan kemaksiatan. Tiada guna memeriksa orang sehat, sementara Anda dalam keadaan sakit. Kesalahan terbesar adalah jika Anda berusaha meluruskan dan membenahi kehidupan yang ada di sekitar, tetapi Anda meninggalkan kekacauan dalam hati.

Tangisilah dosa-dosa Anda sebelum menangisi dosa orang lain. Jauhkanlah diri Anda dari orang-orang yang suka membicarakan orang lain, sementara akhlaknya tercela. Biarlah diri Anda bersama-sama aib-aib Anda sendiri. Sudah cukup kesalahan yang Anda perbuat terhadap Tuhan dan makhluk-Nya. Dari aib-aib, Anda akan mendapatkan pelajaran, hikmah, dan nasehat.

Rabi’ bin Hutsaim, seorang tabi’in yang terkenal memiliki sikap selalu membersihkan jiwa mengatakan, “Seandainya manusia itu tahu tentang aibnya sendiri niscaya tak ada orang yang mau mencela diri orang lain.” Suatu ketika ia pernah ditanya seorang sahabatnya, “Wahai Abu Yazid – panggilan Rabi’ – mengapa engkau tidak pernah mencela orang lain?” Ia menjawab, “Demi Allah, jiwaku saja belum tentu diridhai Allah, lalu untuk apa aku mencela orang lain? Sesungguhnya banyak manusia yang takut kepada Allah karena melihat dosa-dosa yang dilakukan orang lain. Tetapi tidak sedikit di antara mereka yang seperti tidak merasakan hal itu dengan dosa yang ia lakukan sendiri.”

Jika Allah menghendaki suatu kebaikan pada diri hamba-Nya, Dia membukakan pintu taubat, penyesalan, kehinaan, uluran pertolongan, kembali kepada-Nya, doa dan taqarub kepada-Nya, dengan mengerjakan berbagai macam kebaikan yang dapat menyingkirkan keburukan.

Seorang ulama salaf pernah berkata, “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar berbuat dosa lalu membuatnya masuk surga, dan seorang hamba melaksanakan kebaikan yang membuatnya justru masuk neraka.”

“Bagaimana itu bisa terjadi?” orang-orang bertanya. Ulama itu menjawab, “Dia mengerjakan dosa, tetapi dosa itu senantiasa membayanginya, membuatnya ketakutan, gemetar, menangis, menyesal, malu kepada Allah, merundukkan kepala dihadapan-Nya. Itu akan membuat hatinya hancur sehingga dosa itu jauh lebih bermanfaat baginya daripada berbagai macam ketaatan yang membuatnya seperti itu. Ini merupakan keberuntungan dan kebahagiaan seorang hamba. Dosa itulah yang membuatnya masuk surga.”

Seorang hamba yang melakukan suatu kebaikan, seringkali membuatnya merasa mendapatkan harapan dari Allah, membuatnya takabur, melihat dirinya hebat, ujub, riya, dan sombong, yang justru membuatnya merasa hancur, hina, dan terlecehkan. Jika Allah menghendaki selain itu, Dia membiarkannya dengan sifat-sifatnya itu, dan ini merupakan penyesalan baginya.

Orang-orang yang arif bijaksana sepakat bahwa yang disebut taufik itu ialah jika Allah tidak memandang sebelah mata. Orang yang terlantar ialah jika Allah memandang sebelah mata kepadanya. Siapa yang Allah kehendaki melakukan suatu kebaikan, Dia bukakan pintu kehinaan. Lalu, membuatnya senantiasa ingat kepada Allah, merasa membutuhkan-Nya, melihat aib dirinya dan kebodohannya, sekaligus melihat karunia Allah, kebaikan, kemurahan, dan rahmat-Nya. Imam Ibnu Taimiyah berkata, “Orang arif berjalan kepada Allah dengan cara melihat adanya harapan dan meneliti aib diri sendiri.”

Inilah makna sabda Rasulullah Saw. dalam sebuah hadits shahih, “Pemimpin istighfar karena ucapan seorang hamba, ‘Ya Allah, Engkau adalah Rabbku yang tiada Ilah selain Engkau. Engkau menciptakan aku dan aku adalah hamba-Mu. Aku berada dalam sumpah dan janji-Mu menurut kesanggupanku. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang kulakukan. Aku mengakui nikmat-Mu kepadaku dan aku mengakui dosaku maka ampunilah aku karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa selain Engkau’.”

Di dalam sabda beliau ini terhimpun dua hal: pengakuan terhadap nikmat Allah dan pengakuan terhadap dosa diri sendiri. Di sini terkandung harapan dan juga pengakuan terhadap aib diri sendiri serta kekurangan amalnya. Melihat harapan mengharuskannya untuk mencintai Allah, memuji, dan bersyukur kepada-Nya. Melihat diri sendiri dan kekurangan amalnya mengharuskannya untuk tunduk, patuh, bertaubat di setiap saat dan tidak melihat dirinya sendiri, kecuali seperti orang yang tidak mempunyai apa-apa lagi.

Sahabatku, berkumpullah dengan orang-orang saleh karena mereka akan menjaga aib-aib Anda dan mencukupkan diri mereka dengan aib-aib mereka sendiri. Cukupkanlah diri Anda dengan peringatan-peringatan Allah dan Rasul-Nya. Dengan izin Allah, syetan tidak akan berhasil mempengaruhi Anda, kecuali dengan cara yang licik saat Anda lalai. Namun, secepat itu pula Allah akan menyadarkan dan merengkuh Anda dengan rahmat-Nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar