Rabu, 11 April 2012

Antara Diskotik dan Kematian

Saya melihat dua iklan yang berbeda di sebuah surat kabar terkenal di Jawa Barat. Iklan yang pertama mempromosikan diskotik, sedangkan iklan pada halaman berikutnya berbicara tentang ucapan turut berduka cita atas wafatnya seseorang.

Ketika saya melihat iklan kedua terlebih dahulu, pandangan saya tidak bisa luput dari melihat iklan pertama. Setelah itu, saya mencoba melihat iklan pertama terlebih dahulu, pandangan saya juga tidak bisa luput dari iklan kedua. Karena, letak kedua iklan itu saling berdekatan. Pelajaran apa yang bisa saya ambil dari pemandangan ini?

Bagi orang yang sedang mencari iklan diskotik hendaknya menyadari bahwa disebelahnya ada kabar-kabar tentang kematian. Apa yang dia inginkan dari pergi ke diskotik? Tempat itu hanyalah sebuah sarana untuk melampiaskan nafsu syahwat. Yaitu dengan meninum-minuman keras dan diiringi oleh perempuan-perempuan penjaja seks. Diskotik selalu identik dengan dua hal tersebut, bahkan sebagiannya dijadikan tempat transaksi narkoba. Untuk mengetahui benar atau tidaknya, masyarakat tidak perlu masuk ke dalamnya, karena citra buruk dan tindak kriminalitas sudah melekat pada tempat yang namanya “diskotik”.

Bagaimana jika saat dia tengah asyik berbuat maksiat, kemudian malaikat maut datang menjemputnya? Dia mati dalam keadaan celaka dan rugi. Sesungguhnya malaikat maut tengah mengintai kita, menunggu saat yang tepat untuk mencabut nyawa kita. Hanya saja, kebanyakan dari kita tidak sadar karena hati mereka telah terbelenggu oleh kemaksiatan. Banyak sekali contohnya orang-orang yang mati saat berbuat maksiat. Beberapa waktu yang lalu, saya menyaksikan tayangan berita di sebuah stasiun televisi, seorang ilmuwan bergelar profesor doktor mati di tempat mesum sesudah menenggak obat kuat. Kemungkinan besar profesor tersebut mati terkena serangan jantung.

Orang yang menjelang kematiannya berbuat jahat, dia dicap sebagai penjahat biarpun di masa hidupnya ia rajin beribadah dan berbuat kebaikan. Kematiannya dikenal dengan istilah “su’ul khatimah”. Sedangkan orang yang menjelang kematiannya semakin dekat kepada Allah dan beramal saleh, dia dicap sebagai orang yang saleh biarpun di masa hidupnya ia banyak melakukan amal keburukan. Di akhir hayatnya ia bertaubat atas kekeliruannya tersebut dan banyak mendekatkan diri kepada Allah. Kematiannya adalah kematian yang baik atau “husnul khatimah”. Inilah yang menjadi patokan seseorang itu saleh atau tidak. Demikian menurut pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sebagaimana dikutip Dr. Aidh al-Qarni dalam buku Melampaui Batas.

Mungkin akan ada orang yang berkomentar, “Kalau begitu, saya berbuat maksiat saja di masa muda, nanti di masa tua saya bertaubat.” Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dia yakin jika hidupnya akan berlanjut hingga usia tua? Bukankah dia menyaksikan banyak orang yang mati di saat usia muda, bahkan yang mati di usia muda jauh lebih banyak? Jadi, lebih baik kita istiqomah berbuat kebaikan hingga akhir hayat kita. Jika kita berbuat kesalahan, segeralah memohon ampun kepada Allah. Kita berharap amal saleh yang kita kerjakan mengantarkan kita pada amal saleh berikutnya. Jika kita lengah sedikit saja, sedangkan setan adalah musuh yang nyata dan senantiasa membisiki kita ke jalan kesesatan, niscaya kita akan terjerumus pada kesesatan. Dan pada saat kita semakin lengah, hati kita semakin keras sehingga sudah tidak mau mendengarkan nasehat. Bukankah kita telah menyaksikan kaum-kaum yang telah di azab Allah setelah mereka membangkang terhadap perintah-Nya? Tidakkah kita memikirkan hal ini?

Mari kita berlindung diri kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk, nafsu yang tidak pernah merasa puas, dan wafat sebelum bertaubat. Mari kita beramal saleh dan menjauhi kemaksiatan pada saat ini juga dan setelahnya. Nabi Muhammad Saw. yang telah diampuni dosa-dosanya saja senantiasa memohon perlindungan kepada Allah dan beristighfar, apalagi kita sebagai hamba-Nya yang sering atau kadang berbuat dosa.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar