Senin, 16 April 2012

Bedah Buku Metode Menjemput Kematian

Judul : Metode Menjemput Kematian

Penulis : Imam Al-Ghazali

Tebal : X + 150 hlm.

Harga : Rp. 33.000

Ukuran : 15.5 x 24 cm

Cetakan : Kedua, 2012

Penerbit : JABAL

Website : http://penerbitbukujabal.com/

Sudah dua hari ini aku membaca buku “Metode Menjemput Kematian”-nya Imam al-Ghazali. Aku sangat kagum dengan karya beliau tersebut. Bagiku, buku itu begitu hidup. Sejak dari prolognya, buku itu membetotku masuk dalam lingkarannya; mengajakku merenungkan setiap kata-katanya. Simaklah kata-kata beliau ini baik-baik:

“Segala puji bagi Allah, yang dengan maut telah mematahkan leher para tiran, menghancurkan tulang punggung raja-raja Parsi, memupus ambisi para kaisar, yang hatinya telah lama jauh dari ingatan terhadap kematian, hingga tiba janji kebenaran itu kepada mereka dan menghempaskan mereka ke lubang kubur. Mereka tercampak dari istana-istana yang megah ke dalam liang-liang lahat yang paling dalam, dari cahaya buaian ke dalam gelapnya alam kubur, dari asyiknya bermain dengan dayang-dayang kepada serangga dan cacing pemangsa, dari kelezatan makanan dan minuman beralih menjadi tertelungkup di perut bumi; dari keramaian persahabatan kepada senyapnya penyendirian, dan dari singgasana yang empuk kepada nestapa yang menyengsarakan.”

Di sini Imam al-Ghazali berhasil membuka alinea pertama dengan sangat baik. Beliau telah menyedot perhatian pembaca sejak dari awal buku tersebut. Buku seperti inilah yang akan banyak dibaca orang. Simaklah lagi paragraf selanjutnya:

“Lihatlah, bisakah mereka mendapatkan kekuatan dan perlindungan dari maut, atau mampu membentengi diri darinya? Lihatlah apakah engkau bisa menyaksikan seorang dari mereka, atau mendengar dari mereka sedikit suara?

Oleh karena itu, segala puji adalah bagi-Nya, satu-satunya penggenggam kekuasaan dan kewenangan, yang telah mengklaim bagi diri-Nya kekekalan, merendahkan segala makhluk dengan kefanaan yang telah ditakdirkan-Nya atas mereka, lalu menetapkan maut sebagai ampunan bagi orang-orang yang bertakwa dan janji pertemuan bagi mereka. Kuburan dijadikan-Nya sebagai penjara yang akan membelenggu orang yang celaka sampai tibanya Hari Keputusan dan Pengadilan. Dialah pemilik kekuasaan untuk menganugerahkan rahmat atau melakukan pembalasan yang tak bisa ditolak. Dialah yang paling berhak dipuji di langit maupun di bumi; bagi-Nyalah segala puji di alam terdahulu dan di kemudian.

Adalah kewajiban orang yang memandang kematian sebagai kefanaannya, bumi sebagai tempat tidurnya, cacing sebagai karibnya, Munkar dan Nakir teman-temannya, kuburan tempat tinggalnya dan perut bumi tempat peristirahatannya, kebangkitan perjanjiannya, surga dan neraka sebagai peruntungannya, untuk tidak memikirkan apa pun selain kematian. Tak layak dia melakukan persiapan atau rencana selain untuk menyambutnya. Semua harapan, kepedulian, energi, penantian, dan antisipasi harus dikerahkan untuknya semata. Sangatlah benar jika dia menyadari dirinya termasuk di antara mereka yang telah mati dan sebagai salah seorang penghuni alam kubur, sebab semua yang akan datang adalah dekat; sedangkan yang jauh tidak akan pernah datang.

Nabi Saw. telah bersabda, ‘Orang yang cerdas adalah orang yang mengadili dirinya sendiri dan beramal baik untuk kehidupan akhirat.’ Mengadakan persiapan untuk menghadapi sesuatu tidak akan mudah kecuali jika ingatan tentang hal itu senantiasa diperbarui dalam hati, dan ini hanya bisa dilakukan melalui penyadaran diri sendiri dengan cara memperhatikan hal-hal ang membangkitkan ingatan terhadapnya dan dengan mencermati sumbu-sumbu yang bertutur tentangnya. Persoalan kematian, dengan sebab dan akibatnya, kondisi alam akhirat, kebangkitan, surga dan neraka, kami nyatakan harus terus diingat dan direnungkan oleh hamba Allah, agar menjadi motivasi untuk berbekal diri. Ini karena perjalanan menuju akhirat telah hampir tiba, dan usia hanya tinggal sedikit. Namun, manusia umumnya melalaikan hal ini.”

Apakah Anda tidak berkesan membacanya? Terus terang saya berkesan. Bagi seorang yang mengarahkan ruhaninya, maka tulisan itu membuat ruhaninya semakin bersinar. Jika seseorang membacanya hanya dari sudut pandang sastra, maka ia akan memberikan kepuasan sastrawi bagi orang tersebut. Bagiku, hal ini terjadi karena Imam al-Ghazali menulis bukunya dengan akal dan ruhaninya sekaligus. Tulisannya yang indah membius pembacanya yang bejat sekalipun.

Dari segi isi, aku sangat banyak belajar dari Imam al-Ghazali. Begitupun dari segi gaya bahasa yang beliau pergunakan, menunjukkan bahwa beliau adalah seorang intelek yang sudah tidak diragukan lagi keilmuannya. Ini bukan pekerjaan mudah, karena seorang penulis seperti beliau harus menyelaraskan antara logika dan perasaan, akal dan hati, dan antara ilmu dan amal. Apabila salah satu di antara keduanya tumpul atau tidak ada, maka hasil karyanya akan tumpul pula.

2 komentar:

  1. Bagaimana beli buku ini?, saya sudah email ke email mas chandra tetapi belum ada respon

    BalasHapus