Minggu, 01 April 2012

Semangat dalam Bekerja

“Orang-orang mengatakan aku orang jenius. Aku tidak tahu kejeniusanku. Yang kutahu, aku adalah orang yang bekerja keras.”

(Alexander Hamilton).

Lembaran alam dan tatanan ciptaan menjadi saksi bahwa keberhasilan setiap manusia bergantung pada kerja dan usahanya. Selama tidak terjadi persetubuhan antara seorang suami dan istri, maka tidak mungkin sesosok manusia lahir ke dunia. Setiap manusia memahami hakikat ini, kelangsungan kehidupan bergantung pada tindakan dan usaha.

Orang yang tidak sukses memiliki penyebab. Di antaranya, di dalam diri mereka tidak ada roh untuk berbuat, bekerja, dan beraktivitas. Kehidupan orang-orang sukses menyiratkan bahwa mereka adalah orang-orang yang berbuat dan bekerja keras.

Seorang pemuda miskin yang lapar, duduk menopang dagu di sebuah jembatan mengamati sekelompok pemancing. Menengok ke dalam keranjang dan melihat setumpuk ikan di dalamnya, pemuda itu bergumam, “Andaikata saja, aku punya ikan sebanyak itu, aku tidak akan kacau seperti ini. Aku akan menjualnya serta membeli pakaian dan makanan.”

“Hei, aku akan memberikanmu beberapa ikan bila kau mau melakukan hal kecil untukku,” jawab pemancing itu tiba-tiba.

“Yah, mengapa tidak?”

“Pegangkan kail ini untukku sebentar saja. Aku ada keperluan di jalan di dekat sini,” kata orang tua itu.

Pemuda itu dengan senang menerima tawarannya. Saat ia merentangkan kail orang tua itu, ada ikan yang menggigitnya, dan ia menangkap ikan demi ikan. Tak lama kemudian wajahnya terlihat tersenyum, menikmati kegiatannya. Ketika orang tua itu kembali, ia berkata, “Aku akan memberimu ikan yang kujanjikan. Nah, ambillah semua ikan yang telah kau tangkapkan untukku. Tetapi aku juga ingin memberimu sedikit nasihat. Lain kali, ketika kau membutuhkan sesuatu, jangan membuang waktu melamun dan berharap sesuatu akan terjadi. Gerakan dirimu, ambil kailmu sendiri, dan buatlah hal itu terjadi.”

Karya-karya yang menakjubkan adalah buah dari usaha-usaha para ilmuwan yang melelahkan dan tak terlampaui. Penemu radio terkadang bekerja hingga larut malam ketika penghuni rumah lelap dalam buaian tidur.

Mari kita lihat kesungguhan Thomas Alva Edison. Untuk menyempurnakan bagian dari penemuan-penemuannya, siang dan malam, ia berada di laboratorium. Seringkali ia tidak keluar dari ruang penelitiannya selama dua hari. Tidak jarang ia lupa makan, atau cukup dengan memakan beberapa potong roti kering.

Sang jenius Timur, Ibnu Sina, adalah seorang yang penuh dengan kerja dan penelitian. Selama delapan belas bulan ia sanggup menguasai ilmu kedokteran di zamannya, dengan sedikit makan dan tidur. Karya-karyanya yang beraneka warna adalah warisan dan bukti kerja kerasnya yang tak kenal lelah. Kitab asy-Syifa’ tentang filsafat dan al-Qanun fith Thib tentang kedokteran, merupakan dua peninggalan besarnya yang termasyhur di dunia.

Sebuah nasihat kuno mengatakan, “Di beberapa titik bumi terdapat harta karun, namun di atas setiap harta karun itu terdapat ular besar. Harta karun itu tidak bisa diraih sebelum kita berhasil melangkahi (membunuh) ular besar.”

Tentu saja kata-kata di atas hanya sebuah kiasan dari sebuah proses kerja dan usaha. Yang dimaksud harta karun adalah gagasan, ide, atau bakat yang terpendam yang dititipkan kepada manusia, atau ia merupakan anugerah-anugerah Allah yang diberikan kepada kita. Sedangkan yang dimaksud ular, sebagai kiasan terhadap kesulitan-kesulitan dan ujian-ujian yang mesti manusia hadapi untuk mendapatkan “harta karun” tersebut.

Edison berkata, “Tiada satupun dari temuan-temuan saya merupakan hasil dari kebetulan. Ketika saya yakin bahwa usaha dapat memberikan hasil, maka saya arahkan diri saya ke usaha itu dan saya terus melakukan penelitian hingga saya berhasil.”

Sebagian orang memiliki jiwa besar dan roh mereka bagaikan samudra yang bergejolak. Kesukaan dan kesenangan mereka pada usaha dan tujuan, menarik mereka untuk bangkit dan bergerak. Kendati dalam kesulitan-kesulitan hidup, mereka tidak pernah berhenti berkarya.

Suatu ketika Rasulullah Saw. melihat seorang pekerja yang tangannya kapalan. Beliau mengangkat tangan pekerja itu seraya berkata, “Api neraka tidak akan membakar tangan ini. Inilah tangan yang disukai Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa hidup dari jerih payahnya sendiri, niscaya Allah melihatnya dengan pandangan kasih sayang.”

Di masjid Kufah, Imam Ali Ra. melihat suatu kelompok yang hanya duduk di sebuah ruang (menyepi). Lalu beliau bertanya ihwal mereka. Orang-orang pun menjawab, “Mereka adalah Rijalul haq (orang-orang ahli kebenaran); bila ada orang yang memberi makanan kepada mereka, mereka memakannya. Namun bila tidak ada seorang pun yang memberikan makanan, mereka bersabar.”

Kemudian Imam Ali Ra. berkata, “Anjing-anjing di pasar Kufah juga melakukan hal yang sama. Jika ada tulang, mereka makan, dan jika tidak ada, mereka bersabar.” Setelah itu beliau meminta agar kelompok Rijalul haq bubar dan agar setiap orang dari mereka menyelesaikan urusannya masing-masing.

Orang-orang besar di dunia ini, untuk melangsungkan hidup, mereka tidak malu melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil. Sewaktu kecil Rasulullah hidup mandiri dengan mengembala kambing. Imam Ibnu al-Jauzy, Imam Abu Hanifah dan Imam al-Junaid adalah seorang pedagang. Imam al-Kharraz adalah seorang tukang pintal. Imam Hasan al-Banna adalah seorang tukang reparasi jam. Syaikh Abbas as-Sisi adalah seorang pedagang keju.

Amat disayangkan, kita sering mencela orang lain dengan kata-kata “Kuli”. Padahal pembawa barang adalah pekerjaan yang mulia. Jika satu hari saja para kuli pelabuhan melakukan pemogokan, atau para kuli satu kota mogok bekerja, maka roda kehidupan akan lumpuh.

Imam Ali Ra. menggarap kebun dengan tangan beliau sendiri, lalu beliau serahkan hasil dari perkebunan itu kepada orang-orang miskin. Dengan tenaganya sendiri beliau membuat banyak saluran air di lorong dan pinggir kota. Ketika bekerja, beliau sama sekali tidak peduli dengan peluh yang mengucur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar