Jumat, 24 Februari 2012

Keutamaan Pemimpin Adil dan Saleh

Ahmad, Ibnu Sa’d, dan al-Baihaqi meriwayatkan, bertepatan dengan saat kelahiran Nabi Saw., istana-istana di Syam bercahaya, sepuluh balkon istana Kisra runtuh, padamnya api yang biasa disembah orang-orang Majusi serta runtuhnya beberapa gereja di sekitar Buhairah setelah gereja-gereja itu amblas ke tanah.

Keberkahan hadirnya Rasulullah Saw. juga dirasakan oleh ibu susu-nya, Halimatus Sa’diyah. Domba-domba milik Halimah beranak pinak dengan sangat banyak dan mengeluarkan air susu yang sangat banyak pula. Tanah pertaniannya pun tumbuh subur. Dia tidak merasa berat apabila menggendong Muhammad. Anak-anaknya yang semula rewel dan susah tidur, menjadi tenang dan mudah tidur sejak Halimah menyusui Muhammad.

Tidak hanya berhenti di sini keberkahan itu. Setelah itu dan sejak pengangkatannya menjadi Rasul, keberkahan demi keberkahan memenuhi keluarganya, para sahabatnya, bahkan alam semesta. Peperangan demi peperangan selalu dilalui dengan kemenangan gemilang. Beliau dapat mendamaikan dan mempersatukan suku Aus dan Khazraj yang sudah berperang selama belasan tahun. Beliau juga mempersaudarakan kaum Anshar dan Muhajirin dalam ikatan iman, padahal sebelumnya kedua kaum itu belum saling mengenal. Keberkahan yang sangat besar pengaruhnya hingga kini adalah, turunnya ayat suci al-Quran.

Keberkahan juga dirasakan kaum muslimin saat dipimpin oleh khalifah-khalifah Rasulullah (khulafaur rasyidin). Abu Bakar yang dikenal dengan kelembutannya, Umar yang dikenal dengan ketegasannya, Utsman yang dikenal dengan kedermawanannya, dan Ali yang dikenal dengan keilmuannya, seolah memberi keberkahan tersendiri bagi sebuah pemerintahan yang baru “seumur jagung” itu. Wilayah kekuasaan Islam pada waktu itu membentang luas menyusuri Jazirah Arab dan Afrika. Jika Islam bukan agama yang benar turun dari Allah, sudah pasti ia sudah mati setelah kematian Muhammad Saw.

Kemudian hadirlah Umar bin Abdul Aziz ditengah kegelapan Bani Umayah. Para ulama memasukkannya pada jajaran Khulafaur Rasyidin dan dikenal dengan julukan “Umar II”. Tanda-tanda keberkahannya terlihat mulai sejak pengangkatannya menjadi khalifah. Selama rentang waktu yang sangat singkat, 2,5 tahun berkuasa, ia mampu memperbaiki perekonomian negaranya, memulihkan keamanan, menyusun undang-undang, mengatur struktur administrasi. Dalam waktu itu, hampir tidak ada yang namanya fakir miskin. Standar hidup masyarakat sudah sangat tinggi. Barang yang sebelumnya sangat mewah bagi fakir miskin, dapat dimiliki, karena jika belum memilikinya, pemerintah akan memberinya. Keadilan, ketegasan, dan ketakwaan yang terpancar dari sikapnya sangat dikagumi baik alim ulama maupun orang awam. Bahkan serigala-serigala tidak mau memangsa domba-domba milik peternak. Namun ketika Umar bin Abdul Aziz wafat, serigala-serigala itu kembali memangsa domba-domba itu.

Hampir disetiap zaman, ketika seorang pemimpin saleh dan adil memimpin sebuah negara, dipastikan keberkahan demi keberkahan akan menaungi negara itu. Namun, apabila yang hadir adalah pemimpin-pemimpin bermoral bejat dan zalim, kehancuran sebuah negara hanya menunggu waktunya.

“Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin yang membawamu pada kesesatan. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya). Betapa banyaknya negeri yang telah Kami binasakan, maka datanglah siksaan Kami (menimpa penduduk)nya di waktu mereka berada di malam hari, atau di waktu mereka beristirahat di tengah hari. Maka tidak ada keluhan mereka di waktu datang kepada mereka siksaan Kami, kecuali mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim’.” (QS. al-A’raf [7]: 3-5).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar