Kamis, 01 Maret 2012

Islam dan Laboratorium Pendidikan Anak

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel yang menceritakan tentang sejarah hidup Ibnu Khaldun. Dia adalah salah satu ilmuwan muslim ternama yang pernah dilahirkan Islam. Sejarawan baik timur maupun barat mengakui sumbangsih beliau dalam dunia ilmu pengetahuan, terutama dalam kajian ilmu-ilmu sosial.

Saya membaca, ternyata Ibnu Khaldun tidak hanya ahli ilmu sosial, tetapi beliau juga ahli ilmu-ilmu agama, astronomi, matematika, dan filsafat. Beliau telah melahirkan karya-karya di bidang-bidang itu. Ini sungguh luar biasa. Bandingkan saja dengan ilmuwan-ilmuwan zaman sekarang, cenderung lebih spesialis.

Apakah menjadi seorang spesialis salah? Tentu tidak. Tapi menjadi salah jika kita hanya berkutat pada satu bidang saja. Yang benar adalah, kita menguasai satu bidang, tapi jangan mengabaikan bidang yang lain. Menurutku, ilmu baik sosial, eksak, maupun agama memiliki kaitan integral antara satu dengan yang lain. Parailmuwan saat ini mulai mendiskusikan masalah ini. Kajian ekonofisika (gabungan dari ilmu ekonomi dan fisika), ekonometri (gabungan dari ilmu ekonomi dan matematika), bioetika (gabungan dari ilmu biologi dan etika), biopsikologi (gabungan dari ilmu biologi dan psikologi), dan sebagainya, mulai banyak dibicarakan dan didiskusikan.

Jika demikian, tentu para ilmuwan dan ulama kita telah mendahului pembahasan ini. Pemikiran mereka lebih jernih dan hasil kajian mereka lebih berbobot dan mendalam. Tidak heran jika karya-karya mereka telah menjadi rujukan selama berabad-abad lamanya. Menggabungkan kajian sosial, eksak, dan agama, adalah sebuah keniscayaan. Dan, tampaknya, pemikiran kita akan jauh lebih arif dan bijaksana jika kita mulai mempelajari banyak subjek ilmu pengetahuan. Saya pernah membaca bahwa Imam Abu Hanifah berkata, jika memperbaiki sandal adalah ilmu pengetahuan, maka saya akan mempelajarinya.

Ah, saya begitu iri dengan para ulama-ulama besar di zaman dulu. Imam Syafi’i selain dikenal ahli fikih, beliau menguasai bahasa Arab Badui (fushah) dengan sangat baik karena beliau mempelajarinya langsung dari orang-orang Arab Badui. Tidak heran, karya sastra beliau berupa syair-syair begitu sangat indah. Penguasaan bahasa Arab murni membuatnya mampu memahami dalil-dalil keagamaan dengan sempurna. Keterampilan berbahasa pulalah yang membuat karya-karya beliau banyak dibaca orang dari dulu hingga sekarang.

Imam Abu Hanifah adalah mujtahid dan pendiri mazhab Hanafi. Kedudukan beliau setara dengan Imam Syafi?i dalam mengeluarkan fatwa-fatwa seputar fikih. Apa yang menjadi kelebihan Imam Abu Hanifah dibanding dengan Imam-Imam yang lain? Dunia bisnis yang beliau jalani. Sehingga, beliau dikenal sebagai seorang pengusaha sukses, turut mewarnai pemikiran beliau dibidang ilmu ekonomi Islam. Muridnya seperti Imam Abu Yusuf dikenal sebagai penulis Kitab al-Kharaj, yang membahas seputar ekonomi Islam.

Imam Ibnu Taimiyah adalah ulama terkemuka yang mendalami banyak ilmu pengetahuan di zamannya. Beliau telah mempelajari ilmu-ilmu agama, filsafat, logika, sastra, dan ilmu-ilmu sosial dengan sempurna, sehingga beliau mampu membedah ke semua cabang ilmu pengetahuan itu dengan sangat baik. Beliau memilih ilmu-ilmu agama sebagai sandaran beliau dalam menimbang dan menilai sesuatu, sebagaimana juga dilakukan Imam al-Ghazali. Kritikan keduanya terhadap filsafat dikenal sangat tepat sasaran, sehingga pada gilirannya para ulama punya amunisi untuk menghantam kesesatan filsafat. Bagi keduanya, kita boleh mempelajari ilmu A, B, C, D, tapi jangan sampai ilmu itu menyelewengkan akidah kita. Kita harus punya basic keagamaan yang kuat baru kemudian mempelajari ilmu-ilmu yang lain. Oleh karena itulah, jika kita membaca buku-buku sejarah Islam klasik, akan kita temui bahwa pendidikan awal ilmuwan muslim adalah ilmu-ilmu agama, bukan langsung dijejali dengan ilmu-ilmu diluar itu. Pada akhirnya, mereka mampu memilah mana yang baik dan mana yang buruk dari ilmu-ilmu yang mereka pelajari.

Bagaimana dengan keadaan saat ini? Kita dan anak-anak kita yang notabene belum menguasai ilmu-ilmu keagamaan dengan baik, langsung disuruh untuk mempelajari ilmu pengetahuan yang mungkin saja jika diteliti bertentangan dengan agama kita. Kita menelannya begitu saja seperti halnya botol kosong yang kemudian terisi air.

Di dalam Islam, kita sangat didorong untuk terus belajar sampai maut memisahkan jiwa dari raga kita. Dalil-dalil tentang keutamaan ilmu sangat banyak. Dalil-dalil ini ibarat cambuk yang membuat orang yang terkena menjadi lebih “gila” dalam menuntut ilmu. Ini artinya, agama memberikan dorongan yang sangat besar agar kita lebih rajin mengeksplorasi ilmu pengetahuan dengan lebih mendalam.

Bagiku, adalah sangat beruntung punya orangtua yang mempunyai kesadaran menyekolahkan anak-anaknya — di awal masa pendidikannya — pada sekolah-sekolah keagamaan. Misalnya murid yang mampu menguasai bahasa Arab, menguasai tajwid, tahsin, dan hafal al-Quran 30 juz, kemudian menguasai dasar-dasar keagamaan dengan baik. Ilmu-ilmu itu akan menjadi bekal baginya kelak, agar hidup mereka tidak melenceng dari garis yang telah ditentukan-Nya.

Alhamdulillah, saat ini saya sudah mempunyai dua orang anak. Anak adalah amanah Allah yang harus saya didik dan besarkan dengan nilai-nilai yang Allah ridhai. Anak saya ini ibarat “laboratorium kimia” yang diolah, diperbaiki, dididik sehingga menghasilkan generasi rabbani.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar