Kamis, 01 Maret 2012

Mengapa Jodohku Tak Kunjung Datang?

Jodoh oh jodoh. Mengapa engkau tak kunjung datang menghampiri. Segenap usaha telah kulakukan. Ke sana kemari. Mengikuti banyak sekali biro jodoh. Tapi tetap tak ada yang berjodoh denganku. Mengapa orang sepertiku tak segera mendapatkannya. Padahal banyak yang lebih jelek dan lebih miskin dariku sudah mendapatkannya. Apa yang salah dalam diriku? Wahai jiwa berbicaralah padaku. Usia ini terus bertambah. Di sini aku gelisah, tak menentu arah. Bisikan padaku kata-katamu yang penuh kejujuran itu.

Sahabat, jodoh, kelahiran, rezeki, dan kematian merupakan wewenang Allah. Setiap hamba seharusnya berserah diri menerima takdir itu. Jika pun dia berusaha dan mendapatkan jodohnya, semua itu ada dalam wewenang Allah, bukan hasil usahanya sendiri. Imam Ibnu A’thaillah berkata, “Rehatkanlah dirimu dari mentadhbir (yakni bersusah payah dan merasa risau di dalam mengatur keperluan-keperluan hidup). Apabila sudah ada yang lain daripadamu yang mendirikannya bagimu (yakni ia sebenarnya telah diatur oleh Allah Ta’ala), janganlah engkau mendirikannya pula untuk dirimu sendiri.”

Mari kita introspeksi diri, apakah kita ikut-ikutan mengatur sesuatu yang bukan wewenang kita di dalamnya? Selama ini engkau sudah berusaha tapi kenyataannya belum berhasil kemudian tampaklah diwajahmu gurat kesedihan dan ketidaksabaran. Engkau merasa bahwa engkau mengandalkan usaha itu dan engkau yakin dengan usaha itu. Padahal usaha-usaha itu menjadi tidak berguna jika Allah tidak menghendakinya. Mengapa engkau yakin kepada usaha itu, tetapi tidak yakin kepada Allah? Mengapa engkau tidak yakin terhadap Allah terlebih dahulu sebelum engkau memulai usaha itu? Mengapa engkau melalaikan-Nya, walau sedikit saja, sementara engkau lebih berfokus diri pada usahamu? Bukankah hal ini artinya engkau telah berlaku syirik pada-Nya? Naudzubillahi minzalik.

Sebaik-baik hamba adalah yang segera menyadari kesalahannya, yang dengannya dia menapaki hidup baru, ibarat menanam bunga di bukit nan subur. Semerbak harum mewangi sekitarnya. Pesona akan terlihat dan terpancar. Alamlah yang akan menjadi saksinya. Mari bersabar, berserah diri kepada-Nya. Jangan mengatur apa yang bukan seharusnya engkau mengatur di dalamnya. Allah tahu mana yang terbaik bagi hamba-hamba-Nya. Maka, mulailah dari sini sebelum memulai yang lain.

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” (QS. ath-Thur: 48)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar