Sabtu, 31 Maret 2012

24 Jam Bersama Allah

Anggaplah usia kita hanya ada hari ini. Ya hari ini. Berarti esok kita menghadap Allah dengan amal-amal yang pernah kita perbuat selama hidup di dunia. Maka, dengan dasar pemikiran itu, kita akan bersemangat dalam berbuat kebaikan dan menjauhi segala kemungkaran. Tiada detik demi detik, jam demi jam dalam hari ini kecuali dalam ketaatan kepada Allah Swt.

24 Jam bersama Allah berarti 24 jam dalam kemuliaan, keselamatan, kekuatan, keberanian, dan kenikmatan yang melimpah. Jika kita masih diberi kesempatan untuk hidup di hari selanjutnya, maka 24 jam bersama Allah akan memberikan pengaruh positif bagi diri kita untuk kembali berbuat taat dan menjauhi maksiat.

Pada kesempatan ini, saya menuliskan beberapa amal prioritas yang sekiranya diisi dalam rentang waktu 24 jam. Amal-amal ini adalah amal-amal pilihan yang dicintai dan diridhai Allah. Amal-amal ini ada 24, sebagaimana sehari ada 24 jam. Kita bisa mengisi hari ini dengan amal itu. Kalaupun tidak semua bisa kita lakukan, tapi lakukanlah dengan maksimal dengan penuh semangat yang tinggi. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk senantiasa mengamalkannya.

Jam 1: Taubat dan membaca istighfar
Taubat artinya menyesal, tidak mengulangi perbuatan dosa, menjauhi dosa, dan beramal saleh agar kita senantiasa berada dalam ketaatan kepada-Nya. Taubat ini harus selalu ada dalam pikiran seorang mukmin. Meskipun dia telah beramal saleh, tetap saja dia harus bertaubat. Karena dia harus berpikir, bisa jadi amalnya tidak sempurna dilakukan atau amalnya tidak ikhlas karena Allah atau amalnya tidak sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Semuanya bisa saja terjadi, bahkan orang sekelas Rasulullah Saw., diperintahkan oleh Allah untuk bertasbih, bertahmid, beristighar dan bertaubat setelah berhasil mendapat suatu kenikmatan yaitu Fathu Makkah. Maka, taubat itu ada di antara sebelum dan sesudah mendapat kenikmatan, sebelum dan sesudah beramal saleh. Taubat itu tidak dimonopoli oleh para pendosa, tetapi juga dilakukan oleh para Nabi, para Wali, dan orang-orang beriman.

Amal yang dekat dengan terbukanya pintu maaf dari Allah bagi segala kesalahan kita adalah rajin-rajin membaca istighfar. Rasulullah meskipun maksum, memberikan contoh kepada kita, setiap hari beliau membaca istighfar 70-100 kali setiap hari. Orang-orang beriman juga demikian, bahkan mereka bisa lebih banyak lagi membaca istighfar karena mereka bukanlah orang yang maksum sebagaimana Rasulullah. Lalu, bagaimana dengan para pendosa yang dosanya sungguh banyak sehingga sering terpikir olehnya, apakah ada jalan keselamatan untuknya. Maka, dia harus lebih banyak lagi beristighfar. Istighfar harus lebih didahulukan ketimbang dzikir-dzikir yang lain seperti tasbih, tahmid, takbir, dan tahlil. Ibaratnya, baju yang kotor tidak mungkin dibersihkan kecuali dengan sabun cuci! Istighfar itu ibarat sabun cuci yang membersihkan diri kita dari noda dosa yang melekat dalam hati. Yang membuat hati kita kebal dari menerima kebenaran, yang membuat diri kita terus menerus tersandera dalam penjara dosa.


Mari kita memperbanyak membaca istighfar karena kita tidak tahu pada bilangan istighfar ke berapa, Allah mengampuni dosa-dosa kita. Demikian nasehat Imam Hasan Al-Bashri. Artinya, Allah akan melihat kesungguhan kita, disisi lain kita harus yakin bahwa Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, dan Maha Pengampun. Oleh karena itu, khauf (rasa takut akan tidak diampuni Allah) dan roja' (harapan akan diampuni Allah) harus seimbang, sehingga secara lahiriah istighfar banyak diucapkan, secara batiniah meyakini bahwa setiap istighfar dapat menggugurkan dosa-dosa kita.

Apa tanda Allah menerima taubat dan mengampuni kesalahan-kesalahan seorang pendosa? Yaitu, orang tersebut tidak kembali melakukan kesalahan-kesalahan tersebut. Maka, hari ini adalah kesempatan emas bagi kita. Ya, hari ini, penuhilah pikiran kita dengan taubat dan hati dan lisan kita dengan istighfar.

Bersambung....

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar